• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Permainan-permainan Tradisional Berusia Uzur dan Terlupakan.

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
10 Februari 2021
in Budaya
1.2k 77
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Indonesia memiliki ragam permainan tradisional, dari yang bisa dimainkan anak-anak sampai hanya kalangan tertentu saja. Permainan tradisional merupakan permainan yang terjadi karena sebuah kebiasaan, dulunya bertujuan untuk hiburan. Permainan tradisional acapkali dimainkan berramai-ramai pada waktu senggang, sehingga dapat turun temurun ke generasi selanjutnya. Tetapi perkembangan zaman ternyata bukan membuat generasi selanjutnya menerima kebiasaan turun temurun tersebut secara nyata, hanya berupa cerita. Padahal permainan tradisional sangat efektif dilakukan, selain tidak memakan biaya, permainan tradisional identik dengan pertemanan dan kebersamaan. Permainan tradisional bukan semata sebuah pertunjukan antar anak-anak saja, tapi lebih dari itu memiliki pesan-pesan tentang sosial dan kekompakan. Berikut beberapa permainan tradisional yang mulai hilang, nama permainan diambil dari sebutan di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mungkin di daerah lain (luar/dalam) Pesisir Selatan namanya ada yang berbeda. Begitu juga dengan cara mainnya.

Pantak Lele
Permainan ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang dengan menggunakan kayu; satu kayu pendek sebagai anak (sekitar dua jengkal) dan satu lagi untuk pemukul sekitar satu meter.
Cara mainnya, dibuat sebuah lubang kemudian kayu pendek tadi posisi melintang di atas lubang, lalu kemudian kayu panjang berguna untuk melontarkan anak kayu tadi sejauh mungkin. Dan kelompok lain akan berusaha menangkapnya, apabila anak kayu yang dilontarkan dapat ditangkap, maka tukang pukul keluar.

Dukuang Anak
Dukuang anak ini permainannya juga memakai sebuah lubang untuk meletakkan benda yang akan dipukul, yaitu sebuah batu bulat seukuran bola golf (dukuang anak/menggendong batu). Hanya saja permainan ini tidak berkelompok, tetapi permainan individu.
Satu orang manjadi (sebutan untuk orang yang bertugas menjaga batu kecil), kemudian anak lainnya tukang pukul batu bulat dalam lubang. Cara mainnya, batu bulat di masukan ke lubang, kemudian anak lainnya memukul batu tersebut bergiliran, jika batu tersebut dapat dipukul keluar oleh pemukul pertama, maka pemukul selanjutnya juga harus memukul batu tersebut menjauh dari lubang. Lalu anak yang manjadi tadi berusaha memasukkan batu bulat ke lubang.

Sipak Tekong
Permainan ini menggunakan sebuah bola, biasanya menggunakan bola plastik. Mainnya hampir sama dengan main petak umpat, satu anak akan bertugas menjaga bolanya dan kemudian mencari anak-anak lainnya yang bersembunyi. Lalu anak yang bertugas tadi mencari temannya, apabila menemukan temannya, maka ia segera menuju bola lalu menyebutkan nama teman yang ditemui “Andi, Sipak tekong”. Namun bila saat ia mencari teman, kemudian ada anak lain yang keluar menendang bolanya, maka semuanya kembali sembunyi. Tugas penjaga bola harus mencari semua anak dengan syarat tidak ada yang keluar dan menendang bola yang dijaga.

Gala
Main gala ini mungkin sudah diketahui banyak orang, sebab permainan ini masuk dalam salah satu bidang olahraga. Permainan ini juga dikenal dengan nama Cak Bur atau di India dikenal dengan Kabbadi, salah satu permainan yang khas sekali di India menjadikan timnas mereka dikenal. Permainan ini berkelompok, jumlahnya tergantung garis yang dibuat. Ada yang bertugas untuk menjaga, ada yang bertugas untuk meloloskan diri dengan melewati garis-garis/kotak tanpa tersentuh. Apabila saat melewati garis dia dapat ditangkap penjaga ataupun disentuh, maka orang tersebut keluar.

Main orok (sirapak atau trakoci)
Mungkin dibeberapa daerah di Minangkabau memakai gambar T dalam permainan ini dengan membuat kotak-kotak. Tapi di Pesisir Selatan permainan ini identik dengan gambar rok. Dimainkan oleh dua anak perempuan secara bergantian.

Main Kajai
Main kajai ini juga berbagai jenis, mulai dari berkelompok sampai individu. Nama-nama permainan kajai yang biasa dimainkan yaitu, jolak joli, pipis, yeye dan lainnya. Beberapa macam permainan kajai tersebut ada sebagian yang menggunakan lagu, sengaja dibuat oleh anak-anak (tidak tau entah darimana awal mula nyanyian tersebut). Seperti main jolak joli, jenis permainan kajai satu ini menggunakan nyanyian. Tiap tingkatannya melantunkan nyanyian yang berbeda, dari yang kesulitannya mudah, sedang, sampai paling susah.

Beberapa permainan di atas hanya segelintir saja, masih banyak lagi permainan tradisional yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia cukup populer pada masanya. Hanya saja permainan tersebut sudah jarang sekali dimainkan oleh anak-anak Nagari, semuanya telah digantikan oleh permainan aplikasi dari telepon pintar. Sendiri dan senyap!

Permainan yang membawa anak-anak pada kecanggihan tiada tara, kecanduan dan tak terbendung.
Mato cakuak dek batanggang, badan kurui bantuak kalangluang. Siang lalok, malam batanggang. Katiko ditanyo jaweknyo, ‘dima hati ka sanang’. Cilaka!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Punago Rimbun: Buah Dari Sungai Pagu (3) | Zera Permana

Punago Rimbun: Buah Dari Sungai Pagu (3) | Zera Permana

Puisi-puisi Mita Handayani | Catatan Sang Aktivis

Puisi-puisi Mita Handayani | Catatan Sang Aktivis

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In