• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Senin, Agustus 3, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Permainan-permainan Tradisional Berusia Uzur dan Terlupakan.

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
10 Februari 2021
in Budaya
2.2k 137
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Indonesia memiliki ragam permainan tradisional, dari yang bisa dimainkan anak-anak sampai hanya kalangan tertentu saja. Permainan tradisional merupakan permainan yang terjadi karena sebuah kebiasaan, dulunya bertujuan untuk hiburan. Permainan tradisional acapkali dimainkan berramai-ramai pada waktu senggang, sehingga dapat turun temurun ke generasi selanjutnya. Tetapi perkembangan zaman ternyata bukan membuat generasi selanjutnya menerima kebiasaan turun temurun tersebut secara nyata, hanya berupa cerita. Padahal permainan tradisional sangat efektif dilakukan, selain tidak memakan biaya, permainan tradisional identik dengan pertemanan dan kebersamaan. Permainan tradisional bukan semata sebuah pertunjukan antar anak-anak saja, tapi lebih dari itu memiliki pesan-pesan tentang sosial dan kekompakan. Berikut beberapa permainan tradisional yang mulai hilang, nama permainan diambil dari sebutan di Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Mungkin di daerah lain (luar/dalam) Pesisir Selatan namanya ada yang berbeda. Begitu juga dengan cara mainnya.

Pantak Lele
Permainan ini biasanya dimainkan oleh beberapa orang dengan menggunakan kayu; satu kayu pendek sebagai anak (sekitar dua jengkal) dan satu lagi untuk pemukul sekitar satu meter.
Cara mainnya, dibuat sebuah lubang kemudian kayu pendek tadi posisi melintang di atas lubang, lalu kemudian kayu panjang berguna untuk melontarkan anak kayu tadi sejauh mungkin. Dan kelompok lain akan berusaha menangkapnya, apabila anak kayu yang dilontarkan dapat ditangkap, maka tukang pukul keluar.

Dukuang Anak
Dukuang anak ini permainannya juga memakai sebuah lubang untuk meletakkan benda yang akan dipukul, yaitu sebuah batu bulat seukuran bola golf (dukuang anak/menggendong batu). Hanya saja permainan ini tidak berkelompok, tetapi permainan individu.
Satu orang manjadi (sebutan untuk orang yang bertugas menjaga batu kecil), kemudian anak lainnya tukang pukul batu bulat dalam lubang. Cara mainnya, batu bulat di masukan ke lubang, kemudian anak lainnya memukul batu tersebut bergiliran, jika batu tersebut dapat dipukul keluar oleh pemukul pertama, maka pemukul selanjutnya juga harus memukul batu tersebut menjauh dari lubang. Lalu anak yang manjadi tadi berusaha memasukkan batu bulat ke lubang.

Sipak Tekong
Permainan ini menggunakan sebuah bola, biasanya menggunakan bola plastik. Mainnya hampir sama dengan main petak umpat, satu anak akan bertugas menjaga bolanya dan kemudian mencari anak-anak lainnya yang bersembunyi. Lalu anak yang bertugas tadi mencari temannya, apabila menemukan temannya, maka ia segera menuju bola lalu menyebutkan nama teman yang ditemui “Andi, Sipak tekong”. Namun bila saat ia mencari teman, kemudian ada anak lain yang keluar menendang bolanya, maka semuanya kembali sembunyi. Tugas penjaga bola harus mencari semua anak dengan syarat tidak ada yang keluar dan menendang bola yang dijaga.

Gala
Main gala ini mungkin sudah diketahui banyak orang, sebab permainan ini masuk dalam salah satu bidang olahraga. Permainan ini juga dikenal dengan nama Cak Bur atau di India dikenal dengan Kabbadi, salah satu permainan yang khas sekali di India menjadikan timnas mereka dikenal. Permainan ini berkelompok, jumlahnya tergantung garis yang dibuat. Ada yang bertugas untuk menjaga, ada yang bertugas untuk meloloskan diri dengan melewati garis-garis/kotak tanpa tersentuh. Apabila saat melewati garis dia dapat ditangkap penjaga ataupun disentuh, maka orang tersebut keluar.

Main orok (sirapak atau trakoci)
Mungkin dibeberapa daerah di Minangkabau memakai gambar T dalam permainan ini dengan membuat kotak-kotak. Tapi di Pesisir Selatan permainan ini identik dengan gambar rok. Dimainkan oleh dua anak perempuan secara bergantian.

Main Kajai
Main kajai ini juga berbagai jenis, mulai dari berkelompok sampai individu. Nama-nama permainan kajai yang biasa dimainkan yaitu, jolak joli, pipis, yeye dan lainnya. Beberapa macam permainan kajai tersebut ada sebagian yang menggunakan lagu, sengaja dibuat oleh anak-anak (tidak tau entah darimana awal mula nyanyian tersebut). Seperti main jolak joli, jenis permainan kajai satu ini menggunakan nyanyian. Tiap tingkatannya melantunkan nyanyian yang berbeda, dari yang kesulitannya mudah, sedang, sampai paling susah.

Beberapa permainan di atas hanya segelintir saja, masih banyak lagi permainan tradisional yang berasal dari daerah-daerah di Indonesia cukup populer pada masanya. Hanya saja permainan tersebut sudah jarang sekali dimainkan oleh anak-anak Nagari, semuanya telah digantikan oleh permainan aplikasi dari telepon pintar. Sendiri dan senyap!

Permainan yang membawa anak-anak pada kecanggihan tiada tara, kecanduan dan tak terbendung.
Mato cakuak dek batanggang, badan kurui bantuak kalangluang. Siang lalok, malam batanggang. Katiko ditanyo jaweknyo, ‘dima hati ka sanang’. Cilaka!

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Film: Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan | Arif P. Putra - 26 Juni 2026
  • Cakap Film – KARA: Karakteristik Film Tamil dan Isu Terdekat Mereka - 2 Juni 2026
  • The Bluff: Priyanka Chopra dan Peran Keterasingannya dalam Cerita, Dendam dan Pembalasan Masa Lalu - 27 Maret 2026
Tags: BudayaPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Dari Ruang Temu ke Simpul: Kumpul IV Memperluas Percakapan Seni Rupa Sumatera

Oleh Redaksi Marewai
14 Juni 2026

Padang, 14 Juni 2026 — Rangkaian Kumpul IV telah berlangsung pada 5–7 Juni 2026 di Medan. Tiga kegiatan utama...

Next Post
Punago Rimbun: Buah Dari Sungai Pagu (3) | Zera Permana

Punago Rimbun: Buah Dari Sungai Pagu (3) | Zera Permana

Puisi-puisi Mita Handayani | Catatan Sang Aktivis

Puisi-puisi Mita Handayani | Catatan Sang Aktivis

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In