• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Susi Pagar, Susi Jalan; Pola Asuh, Pengekangan dan Anak Perempuan di Minangkabau Antara Anak Laki-Laki dan Anak Perempuan | Dandri Hendika

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
16 Januari 2025
in Esai
1.1k 47
0
Home Budaya Esai
BagikanBagikanBagikanBagikan

Seorang ibu, pasien dari Louann Brizendine—dokter dan psikiater Amerika Serikat—menceritakan pengalaman bersama putrinya yang berusia 3,5 tahun. Ibu membelikan beberapa mainan termasuk truk pemadam kebakaran dan bukan boneka. Suatu sore, dia masuk ke kamar putrinya dan mendapati anak perempuannya itu sedang menimang truk, yang terbalut selimut bayi. Putrinya mengayunkan truk itu ke depan dan belakang sambil berkata, “Jangan khawatir, Truckie kecil, semuanya akan baik-baik saja.”1 Brezendine menjelaskan bahwa perilaku perempuan dan laki-laki pada dasarnya sangat jauh berbeda. Hal itu juga yang membedakan pola asuh yang signifikan antara anak laki dengan anak perempuan.

Di Minangkabau, anak perempuan adalah pewaris mutlak dari semua harta-benda keluarga. Anak-anak perempuan sedari kecil dididik dalam batasan norma yang tidak tertulis di kaumnya. Mereka lebih mendapat perlakuan khusus karena penyambung tali matrilineal dan pemilik semua harta benda tak bergerak. Berbanding terbalik dengan perlakuan pada anak laki-laki. Anak-anak laki sudah tidak mendapatkan tempatnya lagi di rumah ketika beranjak dewasa. Mereka dibebaskan mencari rimbanya sendiri, entah itu ke surau ataupun lepau bahkan berkirap menuju rantau.

Pola Asuh Anak Perempuan di Minangkabau

Pola Asuh anak perempuan ini dapat dilihat pada puisi Gus TF yang berjudul “Susi Pagar, Susi Jalan”2 pada buku puisi Susi (Kabarita, 2015)3. Pada abad ke-19, orang-orang kampung di Sumatra Barat bertumbuh dengan gagasan-gagasan berbeda-beda tentang rumah dan keluarga4. Namun, kebanyakan  keluarga di Minangkabau, mendidik anak perempuannya agar tidak “palenjang” dan “palala”. Sehingga teritorial bermainnya tidak  jauh dari rumah bahkan hanya di rumah saja.

/Awalnya susi mengira jarak terjauh dari rumah adalah pagar/

Pada bait pembuka, Susi akan mengenal dunia yang baru, dunia yang lebih luas dibanding halaman rumahnya. kata “mengira” menandai bahwa adanya semacam hal yang selama ini tidak pernah Susi ketahui karena hanya terkungkung sekitar rumah. Pola asuh seperti ini dipandang baik bagi anak perempuan—walaupun cenderung otoriter—karena dapat meminimalisir segala kemungkinan buruk misalnya pemerkosaan, penganiayaan, serta hal-hal (dibaca: ketakutan) yang tak diinginkan orang tua lainnya. Disisi lain, anak perempuan akan buta dan gamang saat beranjak dewasa ketika mengetahui dunia begitu keras dan membabibuta sebab mereka tak pernah dikenalkan pada rupa kehidupan yang sebenarnya. Dampaknya mereka akan menjadi pribadi yang cengeng, lemah, lalu menjual kesedihannya pada orang-orang.

Garis pemisah antara halaman rumah dengan dunia luar disebut Gus TF “pagar”. Pagar itu /Pagar berlapis dua: Puding emas di bagian dalam, puding perak di bagian luar/.

Anak Perempuan ibarat emas berkilau yang harus ditempatkan pada ruang aman dan bagus. Maka tempat bagi anak perempuan adalah brankas kokoh berwarna perak yang diartikan sebagai rumahnya sendiri. Selain itu, /puding emas di bagian dalam/juga menggambarkan sesuatu yang lebih baik di lingkungan rumah dibanding kehidupan di luar rumah yang hanya /puding perak di bagian luar/. Hal ini juga sebagai bujukan kepada anak-anak agar tetap bermain di sekeliling rumah. Namun orang tua di Minangkabau harus melawan tegangan antara pola asuh otoriter dengan anaknya yang makin dewasa, yang tidak bisa terkungkung terus di rumah. Anak-anak perempuan akan /berayun, meluncur di tulang daun. Tak penat tak lelah-lelah. Tak henti tak sudah-sudah/. Maka yang dapat orang tua laku hanya memberi peringatan.

/Setelah memanggil, mencari-cari sekeling rumah, ibu menyerah,“pergilah. Tak betina melenggang jantan. Tak lelaki melenggok perempuan.”/

/Pergilah/berarti suatu keputusasaan hingga mencapai titik muak sehingga berpasrah dan tidak peduli lagi terhadap hal yang akan terjadi pada anak gadisnya. Namun setidak-tidak pedulinya orang tua tetap mengingatkan,  /Tak betina melenggang jantan. Tak lelaki melenggok perempuan/. Pepatah ini adalah laku dasar seorang anak di Minang. Perempuan tak akan berkunjung dan bertamu pada laki-laki dan laki-laki tidak pula yang tebar pesona (mantiak) pada perempuan. Kedua hal tersebut tidak patut dilakukan karena pada hakikatnya laki adalah pemburu dan perempuan adalah buruan.

Pada akhirnya orang tua hanya mampu mengingatkan karena ketika anak perempuan telah dewasa, ia akan punya kehidupan sendiri. Maka mereka hanya bisa memberi wejangan pada anak gadisnya

/kayu pulai di Koto Alam, batangnya sendi-bersendi. Berpandai-pandai dalam alam, Susi tumbuh Susi berganti/

Dalam menghadapi kehidupan, seorang anak perempuan harus “berpandai-pandai” karena ia semakin dewasa, akan berkembang seiring aman, akan tumbuh dan berganti. Bermacam pula yang akan anak temui karena/hadapan Susi, jalan membentang/.

Kehidupan yang akan dijalani pun tak akan mudah karena akan menemui /Jalan tanah jalan batu/, /Jalan licin mendaki/, /Jalan akal jalan nalar/, dan orang-orang tidak akan peduli /melangkah dalam bisu/ karena orang-orang juga sama-sama melewati hidup yang susah /orang menangis orang-orang terkapar/, dan  /orang-orang tergelincir sebelum Susi/.

Wejangan “kamano ka pai, pai lah. Tapi sawah sepetak tu tolong dijago (Kemanapun kau pergi, pergilah. Tapi Sawah Sepatak itu tolong dijaga)” harus menjadi pegangan anak perempuan dan menjadi peringatan terakhir dari orang tua kemana pun anak gadisnya akan pergi ketika dewasa. Anak perempuan hendaknya menjaga harga diri dan marwah keluarga. Sebagai pewaris harta-benda, pelanjut matrilineal, anak perempuan juga representasi wajah keluarga dan kaumnya. Jika anak perempuan menampilkan perangai yang baik, maka masyarakat akan menyanjung dan menjunjung tinggi keluarganya. Sebaliknya, jika anak perempuan bertingkah semena-mena seolah tak mengenal adab dan adat, maka keluarganya akan dihina dan dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, para orang tua di Minangkabau amat-amat menjaga anak perempuannya sedari anak-anak berdasarkan pola asuhnya.

.


Referensi

  1. Brizendine, Louann. 2010. Female Brain. Jakarta: Phoenix Publishing Project
  2. Susi Pagar, Susi Jalan

Awalnya Susi mengira jarak terjauh dari rumah adalah pagar. Pagar berlapis dua: puding emas di bagian dalam, puding perak di bagian luar. Bersama Susi, pagar itu tumbuh dengan ulat-ulat dan serangga, dengan kumbang-kumbang dan rerama. Tapi setiap bulan, setelah memilah mengira-ngira padi dalam rangkiang, Ibu selalu bilang, “Pangkaslah. Tak puding menjelma dinding, tak benalu mengular menjalar.”

Susi suka dinding, cecelah rumit rerimbun puding. Lelorong menjalar lelorong men- jalin. Susi suka dirinya merucut, mengecil jadi semut. Ciluk-ba dengan ulat ciluk-ba dengan ngengat. Di sulur akar Susi berayun, mendarat meluncur di tulang daun Tak penat tak lelah-lelah. Tak henti tak sudah-sudah. Setelah memanggil mencari- cari ke sekeliling rumah, Ibu menyerah, “Pergilah. Tak betina melenggang jantan. Tak lelaki melenggok perempuan.”

Berhari-hari Susi menjalar, berbulan-bulan Susi menjalin. Bertahun-tahun Susi berayun, melenting meluncur ke luar dinding. Di luar dinding: langit masih langit yang sama, angkasa juga tak beda. Dari balik dinding, suara Ibu menggema, “Kayu pulai di Koto Alam, batangnya sendi-bersendi. Berpandai-pandai dalam alam, Susi tumbuh Susi berganti.” Di belakang Susi, pagar menjulang. Di hadapan Susi, jalan menbentang.

Jalan tanah jalan batu, orang-orang melangkah dalam bisu. Jalan licin jalan mendaki orang-orang tergelincir sebelum Susi. Jalan akal jalan nalar, orang-orang menangis orang terkapar. Jalan Susi, Ibu bilang, “Hanya jalan tali. Tegang berjela-jela orang-orang kendor berdenting-denting.” Adakah tali yang karena sangat tegang berjela-jela Adakah tali yang karena sangat kendor berdenting-denting?

Di jalan, Susi suka mengembang: ciluk-ba dan ciluk-ba dengan rumah gadang

2012

  • Sakai, Gus tf. 2015. Susi: Sajak 2008-2013. Padang: Kabarita
  • Hadler, Jefrey. 2010. Sengketa Tiada Putus: Matriarkat, Reformisme Agama, dan Kolonialisme di Minangkabau. Terjemahan oleh Samsudin Berlian. Jakarta: Freedom Institute

Dandri Hendika, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Andalas. Bergiat di UKMF Labor Penulisan Kreatif. Menulis Puisi, cerpen, dan Esai. Puisi-puisinya dapat dibaca di media seperti Tempo.co, Haluan, Singgalang, Padang Ekspres, Marewai.com dan lain-lain. Puisinya juga tergabung dalam “Distopia” (Antologi Pemenang Sayembara puisi Payakumbuh Poetry Festival 2023).

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Tags: EsaiSastra

Related Posts

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby Wahyu Riyodi

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Literasi yang Tak Masuk Akal, tapi Masuk Anggaran & Literasi yang Masuk Akal, tapi Tak Masuk Anggaran | Robby...

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Oleh Redaksi Marewai
11 Mei 2025

Oleh Al Fikri Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Imam Bonjol Padang Di balik megahnya Nagari Magek hari ini, tersimpan...

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak Muda | Muhammad Nasir

Oleh Redaksi Marewai
20 April 2025

Gairah Literasi dan Dunia Baca Anak MudaOleh: Muhammad Nasir (Penyuka Buku/Dosen UIN Imam Bonjol Padang) Di Ranah Minang, tradisi...

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Esai – Punkdikbud | Wallcracks

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2025

Terlebih dahulu sedikit penerangan dalam lembaran pendek ini, bahwa PUNKDIKBUD tidak bermaksud untuk menimbulkan perdebatan-kusir mengenai topik usang tentang...

Next Post
Pertunjukan Memeluk Gunung José Saramago | Fatah Anshori

Pertunjukan Memeluk Gunung José Saramago | Fatah Anshori

Puisi-puisi Anggi Oktavia | Galanggang Segala Ruang

Puisi-puisi Anggi Oktavia | Galanggang Segala Ruang

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In