
Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025) di Ke Rumah Nan Tumpah #10 dengan tajuk “Zona Nyaman Seni.” Gelar karya ini berbarengan dengan pameran Silo Tigo, berlangsung selama sepekan, 7–14 Februari 2026, di Ruang Temu Nan Tumpah, Perumahan Kasai Permai, Korong Kasai, Nagari Kasang Kabupaten Padang Pariaman.
Melalui presentasi semester ini, Kelana Akhir Pekan merespons persoalan ekologis yang terjadi di lingkungan tempat tinggalnya. Anak-anak diajak membaca realitas sekitar sebagai bagian dari proses artistik—bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk berkarya, melainkan konteks yang dapat diolah menjadi gagasan serta keterpihakan.
Sebanyak 25 anak memamerkan karya seni rupa berupa kolase, sketsa, karya tiga dimensi, hingga lukisan media air. Material yang digunakan sebagian besar berasal dari limbah sekitar, seperti serbuk kayu dan bata, stik es krim, serta kardus styrofoam. Turut dipamerkan pula karya tiga dimensi mix media dari Kelas Seni Rupa Kelana tahun sebelumnya yang pernah tampil dalam Kidz Biennale Indonesia 2025 di Galeri Nasional Indonesia.
Selain itu, para siswa juga membuat dan memajang karya tiga dimensi dari kaleng cat bekas sebagai bentuk dukungan dan doa bagi salah satu siswa Kelana yang mengalami kecelakaan pada pekan lalu. Karya tersebut menjadi penanda bahwa ruang belajar ini tidak hanya tentang proses artistik, tetapi juga tentang solidaritas dan kebersamaan.
Dari kelas tari, 37 anak menampilkan Tari Kelana dan Tari Boneka. Sementara itu, sembilan siswa kelas remaja membawakan karya berjudul Ruang Tamu Swarnadwipa, yang merespons karya seni rupa Olim Syafputra dari kelompok Silo Tigo.
“Karya ini bercerita soal banjir dan galodo yang mengubah hidup banyak warga, terutama tentang kehilangan keluarga. Kami menampilkan kesedihan sekaligus semangat bangkit dari keterpurukan,” ujar Desvy Sagita R, wali kelas sekaligus pengampu kelas tari (13/2).
Sebanyak 29 anak di kelas teater menampilkan pertunjukan berjudul Halaman Rumah. Karya ini berkisah tentang kehidupan anak-anak di tengah persoalan lingkungan seperti sampah dan banjir. Melalui kegiatan seni, mereka diajak lebih sadar dan peduli terhadap kondisi sekitar.
Di kelas musik, 24 anak menampilkan pertunjukan yang memanfaatkan limbah tutup botol plastik dan memadukannya dengan alat musik tradisi Minangkabau seperti gandang, rebana, saluang, dan talempong. Sementara itu, siswa kelas menulis kreatif meluncurkan buku kumpulan puisi dan cerpen sebagai bagian dari capaian semester.
Pembukaan pameran berlangsung pada 7 Februari 2026 dan dibuka oleh Gemala Ranti, Yusrizal KW, David (Kepala Taman Budaya Sumatera Barat), serta Sudirman Baron, tokoh masyarakat Kasai. Gelar karya pertunjukan dijadwalkan pada 13–14 Februari 2026.
“Kami bangga menyaksikan karya anak-anak Korong Kasai. Sejak ada Kelana Akhir Pekan, mereka memiliki kegiatan yang bermanfaat untuk masa depan,” ungkap Sudirman Baron saat pembukaan (7/2). Menurutnya, program ini juga menjawab kekhawatiran banyak orang tua terkait penggunaan gawai yang membatasi ruang interaksi anak. Ia mewakili masyarakat menyatakan dukungan terhadap aktivitas positif tersebut.
Memasuki hari kelima, hujan lebat membuat air kembali naik setinggi semata kaki dan merendam lokasi pameran. Sejumlah karya yang dipajang ikut tergenang. Ada sisi ironis ketika karya tentang banjir justru dikelilingi genangan yang nyata. Namun di saat yang sama, situasi itu memperlihatkan ketegaran yang sunyi—bukan karena ingin terlihat kuat, melainkan karena hidup memang harus terus berjalan.
Bagi warga Korong Kasai, Perumahan Bumi Kasai Permai, Nagari Kasang, Batang Anai, Padang Pariaman, banjir telah menjadi peristiwa yang nyaris biasa. Sejak kawasan ini dibangun sekitar 30 tahun lalu, persoalan genangan tak benar-benar terselesaikan. Tata ruang dan perkembangan wilayah tampak belum sepenuhnya mengarah pada pemulihan persoalan yang sudah lama terjadi. Sebagian warga memilih pindah, tetapi sebagian lainnya tetap tinggal—bukan semata karena ingin, melainkan karena tak banyak pilihan. Di tengah kenyataan itulah pameran ini berlangsung.
Sejak dibuka secara reguler pada awal 2025, minat terhadap Kelana Akhir Pekan terus meningkat. Pada semester pertama, tercatat 69 pendaftar dengan 52 siswa yang tampil dalam gelar karya. Semester kedua mencatat 113 pendaftar, namun hanya 61 siswa yang memenuhi syarat untuk tampil. Hal ini karena pada semester II diterapkan sistem absensi: siswa yang absen empat kali tanpa keterangan belum berkesempatan mengikuti gelar karya, tetapi dapat mengulang pada semester berikutnya.
“Sistem absensi ini bukan hukuman, melainkan cara menanamkan penghargaan dan tanggung jawab terhadap pilihan serta proses. Bukan hanya menghargai mentor, tetapi juga menghargai diri sendiri yang sudah berkomitmen untuk belajar,” ujar Fajry Chaniago, Manajer Program Komunitas Seni Nan Tumpah (13/2).
Pada semester ini, kelas yang dibuka semakin beragam. Jika semester pertama hanya terdiri dari kelas tari, musik, teater, dan seni rupa, kini ditambah kelas vokal, silek, dan menulis kreatif, menyesuaikan minat dan kebutuhan siswa. Kegiatan belajar dilaksanakan setiap Kamis hingga Minggu dengan mentor: Kiki Nofrijum (silek), Tenku Raja dan Desi Fitriana (musik), Olimsyaf Putra Asmara dan Yusuf Fadly Aser (seni rupa), Fajry Chaniago (teater), Mahatma Muhammad dan Karta Kusumah (menulis kreatif), Desvy Sagita R (tari), serta Srikandi Putri (wali kelas).
Mahatma Muhammad menegaskan bahwa presentasi Kelana bukanlah ajang untuk mencari siapa yang paling unggul. “Presentasi ini adalah ruang temu agar anak-anak merasa aman menunjukkan prosesnya. Kelas silek, tari, musik, teater, menulis, dan seni rupa menjadi cara mereka menyapa orang tua, masyarakat Korong Kasai, serta kawan-kawan yang selama ini singgah di Sekretariat Nan Tumpah,” jelasnya.
Kelas Nan Tumpah (Kelana) Akhir Pekan
Bagi Mahatma Muhammad, Kelana merupakan temuan penting karena di sanalah regenerasi komunitas berlangsung secara alami, tanpa terasa digurui. Kelana Akhir Pekan tumbuh perlahan seperti halaman rumah yang setiap minggu makin ramai oleh suara anak-anak. Ia tidak dirancang untuk terlihat besar, melainkan dijaga agar tetap terbuka dan hangat. Di ruang ini, seni tidak dipisahkan dari keseharian dan tidak diperlakukan sebagai keterampilan yang harus segera mahir, melainkan sebagai cara membaca diri dan lingkungan.
Kelana lahir dari proses panjang sejak 2016, ketika anak-anak sekitar ruang latihan Nan Tumpah mulai datang, menonton, dan ingin terlibat dalam aktivitas teater, randai, hingga produksi seni. Dari pertemuan-pertemuan spontan itu berkembang kegiatan akhir pekan yang kemudian, pada 2025, dibentuk menjadi kelas rutin dan terstruktur.
Nama “Kelana” bisa dimaknai sebagai perjalanan yang terbuka. Kelas ini bukan tujuan akhir, melainkan titik berangkat agar anak-anak dapat menemukan minat dan arah mereka sendiri. Nilai utama yang ditanamkan adalah tanggung jawab, disiplin, dan pengembangan diri. Peserta belajar konsisten terhadap pilihan mereka, sementara pendekatan dilakukan secara personal sesuai latar belakang masing-masing. Aktivitas Kelana Akhir Pekan tidak memungut biaya apapun dari siswa. Semua dilakukan oleh Nan Tumpah maupun mentor yang terlibat secara sukarela.
Kelana memulai pembelajaran dari praktik, dengan teori yang disisipkan secara sederhana dan kontekstual. Struktur tetap dijaga melalui silabus, indikator capaian, dan target semester, namun tanpa orientasi kompetisi. Dalam prosesnya, anak-anak belajar tentang kerja kolektif, menerima seleksi peran, mengelola rasa kecewa, serta memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari pembelajaran.
Tujuan jangka panjang Kelana bukan untuk mencetak seniman, melainkan membentuk karakter, kepekaan sosial, dan kemampuan beradaptasi. “Anak-anak tumbuh bersama, dan kami yang mendampingi ikut belajar. Yang ingin kami jaga sederhana: ruang yang setara, hangat, dan bisa dimasuki siapa pun tanpa takut dihakimi,” ujar Mahatma.
Cp: Srikandi Putri (Komunitas Seni Nan Tumpah) – 082171305857
- Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026
- Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026
- Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan - 5 Februari 2026




Discussion about this post