• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Minggu, Maret 15, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026
in Sastra, Puisi
956 61
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

RANJANG

akhir-ahkir ini aku sering kali melihat laki-laki paruh baya

duduk depan jendela

sambil melantunkan nyanyian kecil

ninabobo, ninabobo berulang-ulang

anak-anak begitu riang mendengarnya

mereka cepat-cepat pulas di ranjang yang lucu

melihat malam menjelang matang

dengkur panjang nyaring sekali

laki-laki itu menangis sambil merengek

“kembalikan dengkur itu, kembalikan ranjang itu pada saya.”

“anak-anak masih ada, pak?”

demikian ibu setengah baya mengejeknya.

dan sambil tersenyum sendu, laki-laki itu merajuk, “aduh anak-anak saya hilang di bawah ranjang, setelah bermain petak umpet dua puluh tahun yang lalu!”

anak bukan sembarang anak, kecil manis dan lugu

kata-kata itu terus saja berulang

sudah sepekan laki-laki paruh baya tidak duduk depan jendela, kata seorang ibu yang diam-diam merindunya

sepertinya laki-laki itu sudah menemukan anak-anaknya

“rindu bukan sembarang rindu”ucap ibu setengah baya sambil menahan mata yang airnya sudah mengalir liar di atas ranjang

Marana, 19/03/25

RUMAH KHONG GUAN

sore itu, di rumah khong guan

dari jauh terlihat sunyi menyala-nyala

di halaman, celana tergantung lusuh dan kusut

seperti sudah lama tak dihiraukan

waktu mulai menyusut

rumah khong guan tertutup rapat

seperti sudah lama kehilangan tuan

persis depan jendela, baju bulan hangat tak bertuan

setelah beberapa saat saya melihat-lihat rumah khong guan

jam berhenti berdetak

terlihat senja mengendap-endap masuk lewat jendela

perlahan senja berhangat-hangat di ruang doa

sembari membaca ayat-ayat puisi yang sudah lama mati.

Marana, 02/03/26

PADA SUATU MALAM

kunang-kunang terbang bebas menyusuri bangku tanam

jarum-jarum jam tak hentinya meloncat, merapat ke sepi.

Barangkali saja malam sudah terjaga

tiba-tiba lampu taman menyusut di udara

sementara hujan menggodaku tidur

katanya kepada ranjang, “tidurlah dan pejamkan matamu” biar

kujaga resahmu dari hujan, langit, dan malam

dan pergilah!

barangkali hujan serba gaib

serba suara

menggodaku pulas, desahmu dari malam-malam panjang

lirih melebur hilang dalam ingatan

Palu, 29/07/25


Roy Andika lahir di Marana, Donggala, Sulawesi tengah. Seorang guru di sekolah menengah pertama. Aktif menulis sejak duduk di bangku kuliah. Bukunya yang telah terbit berjudul Ketika Puisi Bercerita (2020) dan karya-karyanya dimuat dibeberapa media seperti Redakasi Marewai, ompiompi.com serta dimuat dalam berbagai antologi nasional.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
  • Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata - 10 Maret 2026
Tags: Sastra

Related Posts

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal

Oleh Redaksi Marewai
14 Maret 2026

Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro...

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Puisi-puisi Son Lomri | Singaraja dalam Napas Tua

Oleh Redaksi Marewai
7 Maret 2026

Sambirenteng Desa Penyadap Tuak rumah kekasihku dibangun pagi hari. matahari jatuh di bukit sanghyang, setelah bukit ibu melukis langit...

Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia

Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia

Oleh Redaksi Marewai
8 Februari 2026

Kapiturunan                Marsiah menambahkan beberapa potong kayu ke dalam tungku, lalu memungut talang yang tergeletak di samping tungkahan yang...

Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram

Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram

Oleh Arif P. Putra
5 Februari 2026

Resensi Buku Ade Mulyono agaknya telah menjadikan buku ini satu kesatuan cerita yang tematik. Ia nampak minimalis, tetapi kompleks....

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In