
Gelandangan
sentak tidur gelandangan
roda empat lalu lalang
emperan toko pinggir jalan
ah, pagi kembali terulang
kardus coklat alas pantat
jaga tubuh tetap hangat
lapis sandang tiga kali lipat
melamun tunggu sisa donat
ah, pagi kembali terulang
gedung parkir tinggi menjulang
tempat rehat roda empat
butuh ruang untuk pulang
gelandangan hanya mengumpat
ah, kapan pagi tak lagi terulang
Gerombolan yang Mulia
macam mereka tak seberapa
hitungan jemari cuma cuma cuma
makhluk paling mulia
bergerombolan, baunya sama
gerombolan pertama pemegang kuasa
kecanduan ingin jadi maha
martabat disantap bahkan renggut nyawa
demi tujuh keturunannya
gerombolan kedua pemeluk nestapa
sabar nasehat para ulama
saat ambang telah sampai
lawan bukan lagi kata
puncaknya gelap mata
dansa di penjara
gerombolan ketiga mereka bukan sisa
dalih “bukan urusan gua”.
menonton fenomena mereka berdua
sementara matikan logika
bila terasa, rasa rasanya
yang mulia gerombolan yang mana?
Gelanggang
sejarah awal pembunuhan
apa yang diperebutkan?
atau hanya tumpukan perasaan
kita tak harus ke gelanggang
cukup siapkan pedang
culik yang mereka sayang
picu mereka baku hantam
resmikan angkatan untuk bertahan
kaki sepasang hilang
apa kami berlabel pejuang?
apa kami dikenang?
tetap yang menang, yang bikin “perang”
anggur dituang mereka bersulang
ibu juga anak tunggu menunggu ayah pulang
bu, buat apa medali kehormatan?
belum apa yang dijadikan jawaban
nak, ingin tidur nyenyak, butuh gulingkan?
Minor A.k.a Nico Farentinno seorang pelukis, aktif diberbagai kegiatan seni lukis. Salah satu karya terbarunya berkolaborasi dengan film dokumenter “Kajang yang Hilang”. Tulisan dan karya lukis Nico banyak bicara persoalan personal-empiris tentang sosial dan spiritualitas.
- Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang - 23 Februari 2026
- Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026
- Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026






Discussion about this post