• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Perfomance Art “Tanah Ibu, Tanah Rempah”: Rekam Jejak Tanah Ibu di Jalur Rempah | Muhamad Irfan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
8 Oktober 2021
in Budaya, Berita Seni Budaya, Esai
1.3k 97
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Sebagai Skenografer: Thendra BP

“Suara aroma rempah membuat petualang Eropa mencari asalnya. Rempah (pala, lada, kulit manis, dan cengkeh) digunakan tidak hanya sebagai bumbu masakan, obat, dan pengawet, tapi juga penambah vitalitas laki-laki Eropa abad pertengahan. Rempah yang bernilai tinggi menjadi ajang pertarungan, menyusun pelayaran dan jalur baru. Kolonialisme terbentang, tatanan dunia berubah.

Ibu merupakan sosok penting dalam sistim matrilineal di Minangkabau. Ia adalah ahli waris tanah dan memiliki kuasa. Di tanah ibu, tumbuh lada (rempah).

Dan bangsa Eropa pun menjejakkan kakinya di tanah ibu. Tapi mereka tidak melakukan perdagangan lada yang menguntungkan. Monopoli, eksploitasi, bahkan perperangan digunakan untuk mengeruk lada. VOC sebagai salah satu kongsi dagang Eropa (Belanda) menancapkan kukunya, seiring mulai membangun Benteng Muara pada tahun 1665 di tepi sebelah utara Sungai Batang Arau di kaki Gunung Padang. Dalam benteng itu terdapat gudang rempah, barang dagangan VOC, dan senjata. Di luar benteng berkembang pemukiman yang menjadi cikal bakal Kota Padang, dan juga jalur rempah yang diangkut dari daratan Minangkabau.

Performance art “Tanah Ibu, Tanah Rempah” ini meretrospeksikan lada yang seharusnya menguntungkan bagi penanamnya, malah menjadi bala di tanah ibu. Suara dan bau lada yang indah jadi kekacauan. Tanah ibu menjadi seperti sosok perempuan yang menjunjung muara dan membawa air dari hulu. Sarat beban, waktu berjalan lamban. Baban barek, singguluang batu. Hingga tanah ibu (tempayan) jatuh, pecah, dan kita mengingatnya—mungkin pula merawatnya—sebagai kehancuran pada suatu masa.”

Simbol-simbol yang dihadirkan dalam perform “Tanah Ibu, Tanah Rempah” ialah pasir yang menyimbolkan sebuah muara, yaitu tempat pertama kali jalur rempah—Muaro Padang, air yang menyimbolkan hulu, yaitu dari darek ke pesisiran. Hal tersebut merupakan metafor perempuan yang memiliki vital di Minang, menanggung beban muara di hulunya.

Thendra tidak bermain kepada sosok perempuan Minang sebagai “Bundo Kanduang”, tapi ia bermain kepada sosok perempuan Minang sebagai ahli waris dan memiliki kekuasaan atas tanah. Sementara nyiru, ketiding, dan tempayan merupakan simbol dari benda-benda yang akrab dengan perempuan atau masyarakat agraris, yaitu peragat dapur atau ruang kerja. Sedang kemenyan bukanlah persoalan mistik yang ingin dikedepankan oleh Thendra, baginya ialah sebuah simbol kepunyaan dari Sumatera, bagaimana ia ingin memberikan nuansa Sumatera lewat kemenyan yang dibakar.

Sebagai skenografer, Thendra mengatakan bahwa Aprililia telah mampu menampilkan gagasannya dari proses yang selama ini dilalui, dan usaha dengan maksimal. Ia menyerahkan seluruhnya kepada penonton, apapun tafsiran yang ditemukan oleh penonton, maka itulah yang didapatkan dari perform tersebut, karena sebagai skenografer, meskipun dengan waktu yang terbatas dalam penggarapan tersebut, tetapi tetap totalitas dalam pencapaian atas garapan tersebut.

Penonton sebagai Pembaca Sejarah: Yolanda Putri Yohanes

Sebelum pertunjukkan, sinopsis dibacakan terlebih dulu. Dari sinopsis tersebut, penonton dapat meraba-raba pertunjukkan yang akan dilangsungkan. Mulai dari simbol-simbol yang dihadirkan pada pertunjukkan tersebut, dapat merujuk kepada sinopsis yang dibacakan. Energi yang dikeluarkan oleh performer sampai kepada penonton dengan baik, sehingga penonton bisa merasakan emosi yang dirasakan oleh performer dengan fokus, meskipun pertunjukkan tersebut tanpa diiringi oleh musik. Pesan atau isu yang diangkat dari pertunjukkan tersebut sampai kepada penonton, karena keterkaitan antara simbol dan sinopsis yang memberikan penjelasan inti dari simbol itu sendiri.

Sehingga performance art ini tidak hanya menjadi sebuah pertunjukkan seni rupa, akan tetapi mengajak kita untuk membaca ulang sejarah terhadap jalur rempah di tanah ibu, atau mengenali sejarah dari tanah rempah itu sendiri, bagaimana besarnya dampak dari rempah terhadap perdagangan dunia. Pertunjukkan menjadi sebuah dokumentasi dari sejarah, atau adaptasi dari sejarah-sejarah pada masa lalu.

Pertunjukkan berjalan dengan hening, fokus penonton mengarah kepada performer, meskipun ada juga penonton yang merekam pertunjukkan tersebut dengan smartphone yang menandakan bahwa penonton tersebut tidak berada pada titik fokus sebuah pertunjukkan. Namun semua penonton terkejut saat performer menghempaskan tempayan dan pecah, itulah yang menjadi emosi pemikat kepada penonton yang bercabang fokusnya.

Padang, 2021


Penulis:
Muhamad Irfan lahir di Pariaman, 26 September. Sedang menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Indonesia Unand. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan elektronik. Bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Lab. Pauh9.


  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 3 Februari 2026
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
Page 2 of 2
Prev12
Tags: Berita seni dan budayaBudayaEsaiFestivalRempahSastraSumatra baratTaman budaya

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Puluhan Siswa SMP IT Al Hijrah ikuti Kemah Tahfiz di Area 55

Puluhan Siswa SMP IT Al Hijrah ikuti Kemah Tahfiz di Area 55

Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padangpanjang Laksanakan Tasmi’ Tahfizul Qur’an 5 Juz Sekali Duduk

Pondok Pesantren Kauman Muhammadiyah Padangpanjang Laksanakan Tasmi' Tahfizul Qur'an 5 Juz Sekali Duduk

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In