Sebagai Skenografer: Thendra BP
“Suara aroma rempah membuat petualang Eropa mencari asalnya. Rempah (pala, lada, kulit manis, dan cengkeh) digunakan tidak hanya sebagai bumbu masakan, obat, dan pengawet, tapi juga penambah vitalitas laki-laki Eropa abad pertengahan. Rempah yang bernilai tinggi menjadi ajang pertarungan, menyusun pelayaran dan jalur baru. Kolonialisme terbentang, tatanan dunia berubah.
Ibu merupakan sosok penting dalam sistim matrilineal di Minangkabau. Ia adalah ahli waris tanah dan memiliki kuasa. Di tanah ibu, tumbuh lada (rempah).
Dan bangsa Eropa pun menjejakkan kakinya di tanah ibu. Tapi mereka tidak melakukan perdagangan lada yang menguntungkan. Monopoli, eksploitasi, bahkan perperangan digunakan untuk mengeruk lada. VOC sebagai salah satu kongsi dagang Eropa (Belanda) menancapkan kukunya, seiring mulai membangun Benteng Muara pada tahun 1665 di tepi sebelah utara Sungai Batang Arau di kaki Gunung Padang. Dalam benteng itu terdapat gudang rempah, barang dagangan VOC, dan senjata. Di luar benteng berkembang pemukiman yang menjadi cikal bakal Kota Padang, dan juga jalur rempah yang diangkut dari daratan Minangkabau.
Performance art “Tanah Ibu, Tanah Rempah” ini meretrospeksikan lada yang seharusnya menguntungkan bagi penanamnya, malah menjadi bala di tanah ibu. Suara dan bau lada yang indah jadi kekacauan. Tanah ibu menjadi seperti sosok perempuan yang menjunjung muara dan membawa air dari hulu. Sarat beban, waktu berjalan lamban. Baban barek, singguluang batu. Hingga tanah ibu (tempayan) jatuh, pecah, dan kita mengingatnya—mungkin pula merawatnya—sebagai kehancuran pada suatu masa.”
Simbol-simbol yang dihadirkan dalam perform “Tanah Ibu, Tanah Rempah” ialah pasir yang menyimbolkan sebuah muara, yaitu tempat pertama kali jalur rempah—Muaro Padang, air yang menyimbolkan hulu, yaitu dari darek ke pesisiran. Hal tersebut merupakan metafor perempuan yang memiliki vital di Minang, menanggung beban muara di hulunya.
Thendra tidak bermain kepada sosok perempuan Minang sebagai “Bundo Kanduang”, tapi ia bermain kepada sosok perempuan Minang sebagai ahli waris dan memiliki kekuasaan atas tanah. Sementara nyiru, ketiding, dan tempayan merupakan simbol dari benda-benda yang akrab dengan perempuan atau masyarakat agraris, yaitu peragat dapur atau ruang kerja. Sedang kemenyan bukanlah persoalan mistik yang ingin dikedepankan oleh Thendra, baginya ialah sebuah simbol kepunyaan dari Sumatera, bagaimana ia ingin memberikan nuansa Sumatera lewat kemenyan yang dibakar.
Sebagai skenografer, Thendra mengatakan bahwa Aprililia telah mampu menampilkan gagasannya dari proses yang selama ini dilalui, dan usaha dengan maksimal. Ia menyerahkan seluruhnya kepada penonton, apapun tafsiran yang ditemukan oleh penonton, maka itulah yang didapatkan dari perform tersebut, karena sebagai skenografer, meskipun dengan waktu yang terbatas dalam penggarapan tersebut, tetapi tetap totalitas dalam pencapaian atas garapan tersebut.
Penonton sebagai Pembaca Sejarah: Yolanda Putri Yohanes
Sebelum pertunjukkan, sinopsis dibacakan terlebih dulu. Dari sinopsis tersebut, penonton dapat meraba-raba pertunjukkan yang akan dilangsungkan. Mulai dari simbol-simbol yang dihadirkan pada pertunjukkan tersebut, dapat merujuk kepada sinopsis yang dibacakan. Energi yang dikeluarkan oleh performer sampai kepada penonton dengan baik, sehingga penonton bisa merasakan emosi yang dirasakan oleh performer dengan fokus, meskipun pertunjukkan tersebut tanpa diiringi oleh musik. Pesan atau isu yang diangkat dari pertunjukkan tersebut sampai kepada penonton, karena keterkaitan antara simbol dan sinopsis yang memberikan penjelasan inti dari simbol itu sendiri.
Sehingga performance art ini tidak hanya menjadi sebuah pertunjukkan seni rupa, akan tetapi mengajak kita untuk membaca ulang sejarah terhadap jalur rempah di tanah ibu, atau mengenali sejarah dari tanah rempah itu sendiri, bagaimana besarnya dampak dari rempah terhadap perdagangan dunia. Pertunjukkan menjadi sebuah dokumentasi dari sejarah, atau adaptasi dari sejarah-sejarah pada masa lalu.
Pertunjukkan berjalan dengan hening, fokus penonton mengarah kepada performer, meskipun ada juga penonton yang merekam pertunjukkan tersebut dengan smartphone yang menandakan bahwa penonton tersebut tidak berada pada titik fokus sebuah pertunjukkan. Namun semua penonton terkejut saat performer menghempaskan tempayan dan pecah, itulah yang menjadi emosi pemikat kepada penonton yang bercabang fokusnya.
Padang, 2021

Penulis:
Muhamad Irfan lahir di Pariaman, 26 September. Sedang menyelesaikan studi di Jurusan Sastra Indonesia Unand. Aktif menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisannya tersebar di berbagai media cetak dan elektronik. Bergiat di Bengkel Seni Tradisional Minangkabau (BSTM), Labor Penulisan Kreatif (LPK), dan Lab. Pauh9.






Discussion about this post