• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Mitologi Anjing Dewa dan Masa Silam yang Nyaris Hilang di Gunung Pangilun | Arif Purnama Putra

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
1 September 2023
in Pelesiran
1.5k 15
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Suatu masa, ketika zaman penjajahan Jepang, pernah terjadi peristiwa gaib di Puncak Tampat (Kuburan Angku Pangilun). Pada suatu siang yang lengang, ada sebuah pesawat Jepang yang rusak dan jika diperkira akan jatuh tepat di atas kuburan Angku Pangilun. Namun aneh, pesawat itu malah terpental jauh dari kuburan keramat tersebut. Jangankan ambruk, puing pesawat saja tak sampai ke makam tersebut. Dilain kesempatan, diceritakan juga bahwa Anjing Gunung Pangilun yang disebut-sebut sebagai siluman atau dewa anjing itu adalah buntut dari sumpah seorang pemburu pada suatu masa. “Kalau tidak mendapat celeng anjing-anjing ini, aku yang akan menangkap celeng itu sendiri.” Begitu kira-kira menurut tutur masyarakat sekitar.

Meski banyak versi yang menceritakan keberadaan Gunung Pangilun dimasa lampau, namun nyatanya ia telah tinggal menjadi seonggok tumpukan tanah di tengah pesatnya kota. Bukit yang tersadai layaknya pria tua renta yang pesakitan. Padang kelewat maju dalam pembangunan kawasan-kawasan perumahan, segala lahan kosong tumbuh menjadi lahan padat penduduk, tapi lupa cara menyapa satu sama lain. Gunung Pangilun sebagaimana dalam cerita masyarakat aslinya, menjadi sebuah masa lampau yang cukup diingat saja, tapi tidak untuk dirawat. Dibeberapa kesempatan, untuk kawasan Bungker Jepang memang sudah dilakukan pemugaran. Mulai dari kelompok masyarakat, komunitas-komunitas peduli sejarah, dan kelompok lain sebagainya. Nyatanya hanya bias semata, program ataupun kegiatan yang tak berkelanjutan meninggalkan plang-plang lapuk dan anak tangga yang pudar. Wow.

Ada baiknya kita melupakan narasi-narasi menakutkan masa lampau, dan membangun narasi-narasi baru sebagai memori kolektif. Tak semua masa silam patut dijaga dan dilestarikan, tidak pula semua tempat bersejarah harus dicatat sebagai bukti peradaban pernah ada. Kadangkala kita perlu membiarkannya jadi bias dan remang-remang dalam sepi dan keheningan. Paling tidak, kita bisa mengurangi penyakit mengusap-usap masa lalu. Mantap.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Page 2 of 2
Prev12
Tags: BudayaMarewaiPelesiranSejarah

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post

Puisi-puisi Burhanuddin Jamal | Tik Tok

Puisi-puisi Winarni Dwi Lestari | Menimang Bayi

Puisi-puisi Winarni Dwi Lestari | Menimang Bayi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In