
Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, berdiri sebuah sekolah sederhana yang menjadi saksi bisu perjuangan seorang guru muda bernama Yossar. Saya bukan berasal dari kota besar, bukan pula lulusan luar negeri. Saya lahir dan dibesarkan di Desa Lubuk Sarik, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat—sebuah kampung kecil yang namanya saja sudah menggambarkan kerasnya hidup.

Namun dari desa kecil itulah, saya memulai langkahnya sebagai pendidik. Sejak Maret 2019, semenjak saya lulus CPNS 2018 Kabupaten Kampar, saya menerima penempatan sebagai guru matematika di SMPN 2 Kampar Kiri Hulu, sebuah sekolah yang berada jauh di pedalaman yang lebih dikenal dengan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal), di tengah belantara, di tempat yang bahkan sinyal pun enggan singgah.
Perjalanan yang Tak Sekadar Fisik, Tapi Juga Batin
Untuk sampai ke sekolah tempat saya mengajar, saya harus menempuh perjalanan panjang dan melelahkan. Dimulai dari kampung halaman, saya naik travel selama 12 jam menuju Provinsi Riau tepatnya di Kota Pekanbaru. Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan dengan sepeda motor selama 3–4 jam menuju ibu kota Kecamatan Kampar Kiri Hulu, yaitu Gema. Dari kota Pekanbaru saya melewati beberapa kecamatan. Dimulai dengan kecamatan Siak Hulu, Perhentian Raja, Kampar Kiri Hilir, Kampar Kiri Tengah, Gunung Sahilan, dan terkahir Kampar Kiri. Namun perjalanan belum selesai. Dari Gema, saya harus menaiki perahu selama 2 jam menyusuri hulu Sungai Subayang, melewati desa-desa seperti Tanjung Belit, Muaro Bio, Batu Sanggan, Tanjung Beringin (Miriang), dan Gajah Bertalut, sebelum akhirnya tiba di Desa Aur Kuning.

“Setiap kilometer yang kutempuh bukan sekadar jarak, tapi bukti bahwa harapan bisa dijangkau.”
Di atas Desa Aur Kuning, masih ada tiga desa lain yang lebih terpencil. Namun di sinilah saya memilih untuk menetap dan mengabdi. Tidak ada jalan darat, tidak ada listrik, tidak ada sinyal. Satu-satunya akses adalah perahu yang menyusuri sungai. Di malam hari, cahaya pelita menjadi penerang. Di siang hari, suara alam menggantikan dering notifikasi. Pemerintah sudah mengusahan untuk membuat akses jalan namun terkendala oleh perizinan. Pihak kehutanan tak bersedia memberi izin alat berat untuk membuka jalan tersebut karena akan mengganggu kawasan hutan lindung. Pada tahun 2019, PLN pun sudah mulai menampakkan geliatnya, namun saya terkendala oleh Covid -19 dan akhinya proyek ini gagal.
Di Aur Kuning, dunia seakan berhenti. Tidak ada sinyal telepon yang menembus rimba, tidak ada jaringan listrik yang mengalir stabil, dan jalan aspal adalah sebuah kemewahan. Akses kehidupan modern terputus. Satu-satunya penghubung dengan dunia luar adalah perahu yang menjadi tumpuan hidupnya.
Mengajar di Tengah Sunyi dan Keterbatasan
SMPN 2 Kampar Kiri Hulu adalah satu dari tiga SMP yang berada di sepanjang aliran Sungai Subayang, bersama SMP Satap Batu Sanggan dan SMP Satap Subayang Jaya (SMP Salo). Di sekolah ini, saya mengajar matematika dengan segala keterbatasan. Tanpa proyektor, tanpa internet, tanpa fasilitas modern. Awal kedatangan saya kesini hanya ada 1 PNS yakni kepala sekolah selebihnya adalah honorer. Namun seiringnya berjalan waktu dengan adanya program PPPK dari pemerintah sekarang sudah ada 5 PNS, 6 PPPK dan 2 honorer. Saya menulis rencana pembelajaran dengan tangan, menyampaikan materi dengan papan tulis, dan membimbing siswa dengan kesabaran yang luar biasa.

“Jika teknologi tak bisa menjangkau, biarlah ketulusan yang menjadi jembatan ilmu.”
Saya percaya bahwa matematika bukan hanya soal angka, tetapi tentang cara berpikir, tentang ketekunan, dan tentang harapan. Ia mengajarkan anak-anak untuk tidak takut pada soal sulit, karena hidup pun adalah soal yang harus dipecahkan. Ia mengajarkan bahwa meski tinggal di pedalaman, mereka punya hak yang sama untuk bermimpi besar.
Antara Pengabdian dan Kerinduan
Di balik dedikasi itu, saya juga menjalani kehidupan yang tak mudah. Saya harus menjalani hubungan jarak jauh (LDR) dengan keluarga di Sumatera Barat. Setiap bulan, saya menyempatkan diri untuk pulang, menempuh perjalanan panjang demi melepas rindu dan mengisi kembali energi batin. Namun, saya selalu kembali ke Aur Kuning. Karena saya tahu, di balik sungai yang berliku dan hutan yang lebat, ada anak-anak yang menunggunya. Anak-anak yang ingin belajar, ingin maju, dan ingin mengubah nasib. Nmaun ada satu ucapan yang bikin saya terpukul yakni ketika saya naik perahu dan di antar langsung oleh peserta didik mereka berkata ”Cepat balik ya pak?”. Rasanya saya menjadi guru yang sangat berdosa namun apalah daya.

“Jarak bukanlah pemisah, selama hati tetap terpaut pada niat yang mulia.”
saya tidak hanya menjadi guru, tetapi juga menjadi kakak, sahabat, dan motivator bagi pesrta didik saya di sana. Saya mendengarkan cerita mereka, membimbing mereka, dan menanamkan semangat bahwa pendidikan adalah jalan keluar dari keterbatasan.
Penutup: Lentera dari Hulu Negeri
Kisah saya adalah potret nyata dari semangat pendidikan di daerah 3T—Tertinggal, Terdepan, dan Terluar. Saya bukan hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi. Saya bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga menanamkan harapan. Saya membuktikan bahwa guru bukan hanya profesi, tetapi panggilan jiwa.

“Guru bukan hanya pengajar, dia adalah penjaga harapan dan penuntun masa depan.”
Di tengah keterbatasan, saya membuktikan bahwa pendidikan adalah jalan menuju perubahan. Dan bahwa seorang anak dari Desa Lubuk Sarik bisa menjadi lentera peradaban di ujung negeri.
Pasar Kambang, 06 November 2025
Profil Penulis
Yossar dilahirkan di desa kecil bernama Lubuk Sarik, pada tanggal 5 Juli 1987. Merupakan anak ke 5 dari 6 bersaudara. Penulis sekarang aktif sebagai guru matematika di SMPN 2 Kampar Kiri Hulu dan juga sebagai Mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat (UMSB) Padang, Program Doktor Studi Islam. Kecintaannya pada dunia tulis menulis ini telah melahirkan banyak karya, mulai dari Novel, Kumpulan Cerpen, Antologi Puisi, bahkan buku Pelajaran pun pernah dirilisnya. Penulis memilki nama pena “Yossar Jambak”. Untuk mengenal penulis secara lebih lanjut dan melihat hasil karyanya silahkan hubungi di [email protected], FB “Udha Yhose Jambak”, IG yossar_pasisia, Tik Tok @pak_guru_3t (Ocu Djambak) serta WA 08131795263.






Discussion about this post