• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Sabtu, Maret 21, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pawang Hujan: Sebuah Kebiasaan yang Berangkat Dari Kepercayaan dan Tradisi

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 November 2020
in Budaya
1.8k 37
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

“Bila doa yang disampaikan pawang dengan kita sama-sama meminta kepada Allah, mengapa kita tidak sama-sama berdoa saja kepada Allah untuk kelancaran dan mendapatkan cuaca baik?”

Marewai.com

Hampir dua minggu belakang cuaca tidak menentu, cuaca yang berubah-ubah membuat aktivitas di luar ruangan menjadi tersendat. Memang tidak dipungkuri pula, sejak wabah covid-19 melanda banyak aktivitas seperti biasa berganti dengan ruangan  virtual. Meski begitu, sebagian masyarakat masih melakukan aktivitas di luar rumah, seperti petani, nelayan, pedagang dan lainnya. Nah, bagi mereka yang bekerja di luar ruangan, tentu saja cuaca adalah hal utama yang selalu didoakan, terlebih lagi mereka yang berdagang: galeh takambang hari hujan (sebuah umpatan/mengeluh).

Namun, bukan hanya profesi di atas tadi saja yang kegiatannya bergantung pada cuaca. Orang yang mengadakan pesta juga demikian, seperti pesta pernikahan, even, dan lainnya. Sebuah pesta atau agenda yang mengundang orang banyak, pasti sangat menginginkan cuaca baik, apa lagi mereka yang mengadakan pesta pernikahan. Acara tersebut sejatinya tidak bisa ditunda karena memiliki nilai kesakralan, ditambah pula dengan hari yang sudah dimufakatkan oleh seluruh pemuka adat beserta keluarga.

Dibeberapa daerah di Minangkabau (Pesisir Selatan) ada sebuah kepercayaan yang diakui oleh masyarakat tentang memindahkan hujan/mengendalikan hujan/menurunkan hujan, yang disebut Pawang hujan. Pawang sendiri dalam arti luasnya adalah seseorang yang mempunyai kemampuan khusus dalam ilmu gaib, masyarakat mengkategorikan pawang kedalam kategori dukun. Tak sedikit orang-orang di Pesisir Selatan masih memercayai pawang hujan untuk membantu menahan atau memindahkan hujan. Menahan yang dimaksud bukan menahan hujan jatuh dari langit, tapi sama dengan arti  memindahkan hujan ke tempat lain. Di Pesisir Selatan, pawang hujan sering dipercaya sebagai penolak hujan saat adanya pesta pernikahan ataupun acara-acara besar seperti alek pemuda (lelang singgang ayam, orgen penyerahan hadiah, dan lainnya). Jatat memang!

Sedangkan dalam ajaran agama Islam, hujan adalah perkara gaib. Siapa yang mengklaim bisa menurunkan hujan atau menahan  hujan maka dikuatirkan jatuh kepada kesyirikan. Namun, kebiasaan masyarakat ternyata sangat sulit sekali ditinggalkan, apa lagi pada lingkungan masyarakat yang sejak lama memakai terbiasa dengan hal-hal gaib. Menggunakan pawang hujan adalah sebuah kebiasaan, misalnya, kalau hujan sedia payung, kalau sakit pasti berobat. Kebiasaan demikian juga terjadi sejak lama dikalangan masyarakat Pesisir Selatan, misalnya, kalau mengadakan pesta pernikahan, harus disiapkan segala sesuatunya; pawang hujan dan penolak bala (dalam aturan pernikahan tidak wajib). Di daerah Pesisir Selatan, hal demikian tidak rahasia umum lagi, meski tidak semua gelaran yang diadakan menggunakan jasa pawang.

Adapun alasan sementara dari pihak yang mengunakan jasa pawang hujan mengatakan bahwa pawang hujan hanya sebagai perantara, yang pada hakikatnya tetap juga meminta kepada Allah. Di Kabupaten Pesisir Selatan, kebiasaan ini juga sering diperdebatkan oleh sebagian orang.
“Bila doa yang disampaikan pawang dengan kita sama-sama meminta kepada Allah, mengapa kita tidak sama-sama berdoa saja kepada Allah untuk kelancaran dan mendapatkan cuaca baik?”

Tapi, walau sudah menggunakan pawang hujan, tak jarang pula masih turun hujan, tergantung seberapa hebat ritus-ritus atau keilmuannya dan berapa orang pawang yang dipakai.

Kepercayaan dan kebiasaan adalah sebuah watak yang sejalan, bila seseorang mempercayai suatu hal, maka itu akan diulang-ulang dan menjadikannya sebuah kebiasaan. Meski dibeberapa kesempatan,  mereka (para pawang) mengatakan sangat menjaga keyakinannya kepada Allah. Tak bisa tidak.

Terlepas dari peliknya dunia perpawangan dan kebiasaan-kebiasaan di atas, tidak pula satupun dapat menghakimi sebuah kejadian dengan cara sesumbar atau takabur, apalagi mengatakan mereka (pawang) sesat. Tentu saja kebiasaan atau kepercayaan tersebut sudah menjadi tradisi, bukan pula muncul secara tiba-tiba. Pasti sudah ada tolak ukur mereka yang memakai jasa pawang. Bila Tuhan mengizinkan, tidak ada yang tau apapun bisa Ia titipkan kepada manusia dengan keistimewaan-keistimewaan diluar nalar manusia normal.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Puisi-puisi Irawan Winata | Jumaat Agung - 16 Maret 2026
  • Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
  • Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
Tags: CaritoPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Maret 2026

Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai....

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari...

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

Next Post
Yuang Sewai: Jan Lansuang Dilulur | Rori Aroka Roesdji

Yuang Sewai: Jan Lansuang Dilulur | Rori Aroka Roesdji

Membaca Peta Teater Riau di Masa Pandemi

Membaca Peta Teater Riau di Masa Pandemi

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In