
Ada banyak tabir yang belum tersingkap dari masa lampau. Sejarah-sejarah ditulis kadang tak melulu dengan data yang konkrit, sebagian ditulis sesuai keinginan penulis, sebagian memori kolektif, sebagian lagi barangkali hasil dari kumpulan apa yang telah dibaca. Masa silam tak ayal hanya menjadi tumpukan cerita yang ditulis kemudian menjadi sejarah. Barangkali begitu bagi sebagian masyarakat yang memercayai bahwa sejarah harus ditulis sehingga ia menjadi satu pengetahuan untuk generasi sekarang. Tentu agak sulit menafsirkan benar dan salah hanya dengan pengetahuan serupa memori kolektif atau bahan bacaan yang minim. Di daerah Pesisir Selatan, bagian dari masa lampau pantai barat sumatra yang digadang-gadang dalam artikel-artikel ataupun penelitian angin lalu tak tanggung jayanya di masa lalu. Perdagangan bangsa Eropa dan Timur Tengah pernah hilir mudik di sana. Begitulah beberapa tulisan mencatatnya. Tapi, bahkan, perpustakaan di Pesisir Selatan tak ada yang benar-benar menyimpan arsip serupa yang banyak dicatat sepintas lalu oleh para peneliti atau penulis.
Tabir yang tersuruk itu barangkali tidak berlaku di Rumah Gadang Mande Rubiah. Salah satu situs cagar budaya Sumatra Barat yang terletak di Pesisir Selatan, Lunang. Rumah Gadang ini tidak terlihat mencolok dengan banyak ornamen bangunan seperti gonjong, ukiran, dan pernak pernik serupa yang banyak kita temukan di daerah Darek. Rumah Gadang Mande Rubiah seolah mengisyaratkan bahwa ia bukanlah Rumah Gadang seperti kebanyakan dipahami orang tentang Rumah Gadang di Minangkabau, tetapi memang rumah seorang Mande. Dimana tempat orang-orang berkumpul guna mengambil satu kesepakan ataupun hal lain menyangkut kemaslahatan orang banyak. Mande Rubiah, adalah gelar kehormatan yang terpandang untuk seorang wanita seperti juga gelar Bundo Kandung bagi seorang raja atau pemimpin wanita di Minangkabau pada masa dahulu. Bagi khalayak, sejarah Mande Rubiah dalam kaba Cindua Mato masih menjadi satu-satunya bahan pengetahuan mengenal lebih dekat sejarah Mande Rubiah. Bahkan, tulisan-tulisan tersebar membahas Mande Rubiah masih memakai referensi dari kaba tersebut. Sulit mencari kebaruan dari Sejarah Mande Rubiah. Tapi, untuk apa mencari kebaruan pada sesuatu yang telah usang. Masa lampau.

Beruntung sekali memang, sudah seperti perjalanan baik ketika kami sampai di rumah Mande Rubiah, beliau sedang berada di ruang tamu. Seakan tau kami akan datang. Beliau sedang tak ada tamu, acara seremonial yang baru saja dilangsungkan oleh orang-orang pemerintah baru usai. Agaknya memang tidak ditakdirkan kami berjumpa dengan mereka. Matahari belum sepenuhnya rebah, tapi keramaian serupa sengaja diusir tanpa menyuruh mereka pergi. Kami duduk, memandangi rumah Mande yang kokoh, cat berwarna kecoklatan masih mengkilap dan ornamen lama nampak terpajang gagah. Bagian dinding dan lantai nampaknya sudah diganti, mungkin karena yang lama termakan usia. Tidak banyak perbincangan kami dengan beliau, hanya obrolan selayaknya; kabar, aktivitas rumah Mande, dan benda pusaka. Keberuntungan kembali membersamai kedatangan kami. Setelah mengunjungi kawasan Makam tempat dimana Bundo Kanduang dan para pembesar masa lampau di semayamkan, rupanya terkunci. Kami tidak dapat masuk, namun kebaikan Mande mengiyakan niat kami ingin ziarah. Meski matahari nyaris sepenuhnya rebah, suara ngaji dari masjid telah terdengar, Mande yang baik memberi kami izin berziarah. Seorang anak beliau panggil untuk membukakan kunci dan menemani kami ziarah. Nampak betul sifat Mande beliau. Kami yang dari jauh tak beliau biarkan pulang dengan sesal karena datang begitu petang.

Kami menziarahi makam para pembesar terdahulu, dimana seorang penyebar islam terkemuka bersemayam di sana, beliau Syekh Maulana Malik Ibrahim. Beliau juga dipercayai sebagian orang sama dengan Syekh Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik. Tapi entahlah. Juga terdapat makam Bundo Kanduang yang merupakan Mande Rubiah pertama. Komplek Makam tidak terlalu jauh dari Rumah Gadang Mande Rubiah, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Kawasan cagar budaya ini beralamat di Jl. Bundo Kanduang, Jorong Lubuk Sitepung, Nagari Lunang, Kecamatan Lunang Silaut, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Jarak dari Kota Padang kurang lebih 230km (5 sampai 6 jam) jarak tempuh menggunakan motor/mobil. Akses jalan cukup baik. Bila hari biasa, wajib hati-hati dengan keberadaan jawi di tepi jalan. Jika sudah memasuki daerah Lunang, kalian wajib mengundurkan laju kendaraan, karena walaupun sudah menjadi cagar budaya tersohor, kawan Rumah Gadang Mande Rubiah masih memakai plang merek/penanda cukup kecil. Selayaknya plang merek jalan kampung. Kemudian, meski ini merupakan jalan lintas Padang-Bengkulu, hati-hati juga terhadap keberadaan hewan ternak yang kadang sudah terbiasa di jalan raya.

Kompleks makam ini dinamai Makam Bundo Kanduang karena tokoh yang dimakamkan diyakini bernama Bundo Kanduang yaitu tokoh legenda Minangkabau yang melarikan diri dari pagaruyung ke Lunang Silaut karena konflik. Tokoh-tokoh yang dimakamkan di dalam kompleks ini masih memiliki kaitan dengan Rumah Gadang Mande Rubiah. Jirat tersusun dari batu kali yang berbentuk berundak, dan nisan memiliki bentuk tipe Aceh. Kompleks Makam Bundo Kanduang terdiri dari dua bagian, yaitu bagian dalam dan bagian luar. Antara dua bagian ini dibatasi dengan pagar. Kompleks bagian dalam pada sisi timur, utara, dan barat dibatasi dengan pagar kawat berduri. Sedangkan di sisi selatan dibatasi dengan pagar tembok andesit. Tembok andesit yang berada di sisi selatan berukuran tinggi 90 cm dan lebar 60 cm. Pintu masuk ke kompleks bagian dalam terdapat di sisi selatan dan mempunyai ukuran lebar 1,5 m. Pada bagian dalam makam ini terdapat 9 buah makam kuno. Makam-makam tersebut umumnya dengan jirat berundak dari bahan pasir semen dan nisan batu andesit berbentuk lonjong tanpa pengerjaan. Pada bagian luar sisi barat laut di sebelah selatan kompleks Makam Bundo kanduang terdapat Makam-makam baru sebanyak 12 buah makam. Sedangkan di sisi ujung selatan terdapat sebidang tanah rata yang berfungsi untuk tempat mendoa dan kenduri pada setiap bulan Dzhulhijah. Kenduri ini diikuti oleh masyarakat sekitar Lunang. Menurut data yang diperoleh yang dimakamkan di kompleks Makam Bundo Kanduang yaitu Bundo Kanduang, Dang Tuangku, Puti Bungsu dan generasi penerus dari Bundo Kanduang dengan Gelar Mandehh Rubiah.
Sepulang dari sana, sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan ke sebuah surau lama yang ada di daerah Tapan dan Silaut, kabarnya masih melaksanakan kegiatan “basuluak”. Ditengah hiruk pikuk kemajuan Pesisir Selatan, yang angin-anginan masih ada rupanya yang melaksanakan kegiatan tersebut. Selain alasan klise tersebut, tentu kami punya tujuan yang tak kalah penting. Waw.

Tapi karena matahari telah pergantian sif dengan bulan, kami memilih melanjutkan lokasi lain, yaitu Inderapura. Tempat tujuan kami sebenarnya Muaro Sakai; gudang garam, pelabuhan, komplek makam raja-raja Inderapura dan tentu saja ke rumah Pucuk Adat Kampung Dalam Daulat Yang Dipertuan Sultan Inderapura. Lokasi-lokasi itu hanya menjadi daftar list saja, hanya lokasi terakhir dari list tersebut yang dapat kami kunjungi di malam hari. Lagi, bagai gayung bersambut, kebetulan pula tuan rumah, Sultan Youdhi Prayogo, sedang di rumah. Kami cukup antusias karena beliau juga menyambut kedatangan kami dengan hangat. Kami bicara banyak dengan beliau, mulai dari sejarah Kesultanan Inderapura, hubungan Kesultanan Inderapura dengan Mande Rubiah dan bagaimana peran kerajaan dulu dan sekarang. Berjumpa pula dengan seorang kawan yang aktif mengekspos sejarah Inderapura lewat visual: film dokumenter dan film fiksi. Tapi, bagian ini cukup panjang, lain kali akan saya tuliskan. Sip oke.
- Menziarahi Masa Lampau: Rumah Gadang Mande Rubiah, Komplek Makam Bundo Kanduang dan Kelindan di Inderapura - 3 April 2025
- Cakap Film – Bougainvillea: Sandiwara Psikopat dan Percintaan yang Kelam - 19 Maret 2025
- CPNS: Musikalitas Instrumen dari Album Terbaru Calon Pemusik Negeri Sipil, Titik Nadir di Episode Sunyi dalam Bunyi Sembunyi - 15 Maret 2025
Discussion about this post