• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Manampuang Sabateh Tapak Tangan, Mambantang Saleba Nagari : Geliat Negeri Sejuta Pesona | Sulthan Indra

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
2 November 2020
in Budaya
1.2k 61
0
Home Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Menurut saya begini. Negeri sejuta pesona ini secara alamnya memang sudah sangat mempesona.

Sulthan Indra
Poto dari Penulis

Menarik jika kita amati tulisan I Love Painan tepat di alun-alun taman terbuka hijau kota Painan, tepatnya di depan masjid raya Painan. Kata ‘love’ diganti dengan gambar hati berwarna merah. Jika malam tiba, menyalalah lampu-lampunya yang menjadikan tulisan itu berwarna cerah.

Painan, tepatnya Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar. Saat ini disebut-sebut sebagai ‘Negeri Sejuta Pesona’. Jika dari struktur negerinya, tidak berlebihan memang. Mengingat masih banyak potensi wisata yang masih belum terbuka di negeri itu. Entah di bagian perbukitannya yang menyimpan beragam ‘Timbulun’ atau air terjun, maupun di wilayah sepanjang pesisir pantainya. Belum lagi objek wisata sejarah, baik itu sejarah kebudayaannya maupun sejarah penjajahan yang menyimpan rapi beberapa puing peninggalan.

Lalu, apakah berlebihan dengan tulisan di atas? Menurut saya tidak, hanya saja kurang tepat. Mengingat Pesisir Selatan memiliki kultur, bahasa dan budaya lokalnya sendiri. Alangkah arifnya jika cara mempromosikan itu dengan menggunakan kedaerahan; semisal bahasa, mungkin. Sebagai penyambutan selamat datang kepada pengunjung yang datang atau kepada perantau yang pulang kampung.

Wisata sebenarnya bukan saja bentuk alamnya yang bisa dipromosikan, menurut saya kurang tepat juga tanpa mengekspos kultur dan budaya lokal. Malah hal itu bisa menjadi sebagai penunjang utama wisata itu sendiri. Tentu termasuk juga di dalamnya kuliner dan kesenian. Kita sama mengetahui, bagaimana melekatnya ‘randang lokan’ di balik nama Painan atau Pesisir Selatan sebagai kekayaan lokal yang tak pernah bisa dihindari selera siapa saja.

Pariwisata sebenarnya mengundang pengunjung; baik itu turis asing maupun lokal untuk datang, menginap dan berbelanja kemudian pulang membawa oleh-oleh khas suatu daerah kunjungan dan ketika mereka sampai di tempat masing-masing, ada kerinduan sebagai oleh-oleh yang tak pernah diperjual-belikan di mana pun. Bukannya datang pagi, berkunjung keliling objek wisata lalu pulang dengan segala keletihan yang dibawa. Itu namanya kunjungan, bukan berwisata. Karena, tidak berdampak kepada pemasukan daerah terlebih lagi kepada masyarakat lokal.

Mengundang pengunjung khususnya turis asing sebagai pemasukan utama dari promosi daerah, tidak melulu dengan menggunakan bahasa Inggris, yang dengan serta merta mereka dari luar akan datang. Sebab, yang dicari dari pengunjung masuk ke suatu daerah adalah keunikan yang terdapat di daerah itu sendiri. Selain bentuk alamnya, bisa jadi budayanya, bahasa, kuliner, keramah-tamahan penduduk setempat, souvenir dan lain-lain yang berhubungan dengan daerah tersebut sebagai daya pikat yang tidak bisa didapat selain dari daerah yang mereka kunjungi. Imbasnya, hal itu mampu mendongkrak penghasilan daerah, tentunya keuntungan tersendiri bagi penduduk setempat.

Menurut saya begini. Negeri sejuta pesona ini secara alamnya memang sudah sangat mempesona. Sayangnya tidak dari soal pengelolaan wisatanya. Apakah dengan menggunakan bahasa Inggris itu turis asing sering berwisata di Pesisir Selatan? Maksud saya bukan turis asing yang bekerja di Pesisir Selatan lalu ketika libur kerja, mereka berkunjung. Tidak jauh beda dengan penduduk lokal yang menghabiskan senja di daerah wisata sekedar melepas penat.

Mempromosikan daerah atau keindahan suatu alam terkadang juga bisa melalui budaya lokal. Berkaca kepada Bali misalnya, ketika kita baru saja mendaratkan kaki di bandara Ngurah Rai, kita akan disuguhi dengan nuansa Bali. Baik itu dari segi pelayanan sambutan, list daerah wisata, budaya, bahasa bahkan sampai kepada musiknya. Semua betul-betul membuat kita memasuki Bali.

Apakah kita harus seperti Bali? Tentu tidak. Bali tetaplah Bali dengan segala lokalitas dan keindahan budaya yang dimilikinya, setiap daerah memiliki khas dan kelebihan masing-masing. Saya pernah membawa pengunjung dari Bali ke Pesisir Selatan. Menurut mereka, keindahan Pesisir Selatan tidak kalah dengan Bali. Apa salahnya jika sedikit berkaca kepada Bali lalu mencoba mengkolaborasikan cara promosi daerah itu dengan lokalitas Pesisir Selatan. Toh, begitu seringnya pejabat bahkan anggota dewan berkunjung ke Bali. Entah itu dalam kapasitas kunjungan kerja atau studi banding. Setidaknya ada oleh-oleh yang dibawa dari kunjungan itu untuk meningkatkan geliat pariwisata Pesisir Selatan.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Selain cara promosi, tentu juga dengan memberikan pelatihan pengelolaan wisata daerah. Baik itu kepada pihak pemerintah maupun kepada masyarakat sekitar objek wisata. Mulai pengelolaan tata wisata, manajemen, pelayanan, garansi keamanan dan kenyamanan sampai kepada soal kebersihan yang nantinya akan membuat pengunjung mampu berlama-lama di Pesisir Selatan. Setidaknya menginap. Dengan mereka menginap, tentu bukan saja pengusaha penginapan yang diuntungkan, masyarakat pedagang pun akan terkena imbas keuntungan.

Kembali kepada tulisan I Love Painan, yang kata ‘love’ diganti gambar berbentuk hati. Apakah anggaran yang digunakan untuk membuat itu sudah mampu memberi dampak signifikan untuk mendatangkan pengunjung berlama-lama, berbelanja dan menginap di Pesisir Selatan? Selain tempat selfie warga Pesisir Selatan itu sendiri setelah mereka berolahraga, masyarakat yang sejenak beristirahat dari perjalanan jauh atau bahkan keluarga pasien yang melepas penat ketika sehabis berkunjung ke rumah sakit.


Biodata :
Sulthan Indra, Ketua komunitas sastra Rabuang Gadiang, aktivis lingkungan, penulis, pemerhati budaya dan kesenian asal Pesisir Selatan.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Tags: BudayaCaritoPelesiranPunago Rimbun

Related Posts

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025

Ia duduk seharian di salon kecantikan. Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin. Menyusuri langit putih biru jingga dan...

Next Post
Esai: Pandemi dan Laju Koperasi di Indonesia | Chalvin Pratama Putra

Esai: Pandemi dan Laju Koperasi di Indonesia | Chalvin Pratama Putra

Punago Rimbun: Kuala Kinari | Zera Permana

Punago Rimbun: Kuala Kinari | Zera Permana

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In