• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Rabu, Agustus 12, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

KRITIK SENI PERTUNJUKAN RAPA’I DABOH OLEH Acara HUT Bhayangkara di Banda Aceh

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
23 April 2025
in Artikel, Berita Seni Budaya
2k 104
0
Home Budaya Artikel
BagikanBagikanBagikanBagikan

UKHTINISA, SYIFA RAHMITA, DAN SIMEHATE

Rapa’i Daboh merupakan salah satu kesenian tradisional Aceh Selatan yang menggabungkan unsur seni, agama, dan ilmu metafisik. Kesenian Rapa’i Daboh ditampilkan pada acara HUT Bhayangkara di Banda Aceh pada tanggal 8 Juli 2024. Pertunjukan ini diunggah oleh akun YouTube T7 Channel Asell. Kesenian ini telah menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Aceh yang unik dan bernilai tinggi. Pertunjukannya yang memukau kerap ditampilkan dalam berbagai acara seperti pesta pernikahan, sunatan, malam peringatan hari kemerdekaan, hingga pertunjukan resmi.

Menurut riwayat kaum sufi abad ke-7 Hijriyah, Rapa’i Daboh berasal dari tradisi doa dan zikir yang dilantunkan oleh para mursyid (pemimpin tarekat) dalam praktik tasawuf. Dalam prosesi tersebut, sang mursyid dan para murid membaca doa dan zikir secara merdu dan perlahan hingga mencapai kondisi fana billah, yakni keadaan spiritual di mana seseorang merasa lebur dalam kehadiran Allah SWT.

Untuk mendukung semangat pembacaan puisi doa, para murid menggunakan alat musik berupa rapa’I sejenis gendang yang terbuat dari kulit kambing. Dalam posisi melingkar, mereka berdiri mengelilingi sang mursyid sambil bergerak perlahan seiring irama doa dan tabuhan gendang. Irama gendang bisa cepat atau lambat mengikuti tempo zikir, namun tetap lembut karena zikir ini merupakan bentuk mujahadah kepada Sang Pencipta.

Pada awalnya, Rapa’i daboh adalah media zikir dan munajat untuk mendekatkan diri kepada allah SWT. Namun, memasuki abad ke-19 fungsi sakral ini mulai disalahgunakan. Kesenian yang sebelumnya bersifat spiritual dan dilakukan secara tertutup untuk menghindari riya dan takabur, kemudian dipertontonkan secara terbuka dan bahkan diperlombakan sebagai ajang unjuk kebolehan ilmu kebal.

Ilmu kebal yang menjadi bagian dari tradisi Rapa’i Daboh pernah digunakan oleh para pejuang Aceh dalam melawan penjajah Belanda. Pejuang seperti Teuku Cut Ali, Tengku Amir, dan Panglima Rajo Lelo dikenal memiliki ilmu kebal yang mereka gunakan dalam medan perang. Meski demikian, kesaktian tersebut tetap bergantung pada niat dan kerendahan hati. Bila disertai rasa riya dan kesombongan, ilmu tersebut bisa sirna dan justru membawa celaka.

Dalam Rapa’i Daboh, pemimpin kelompok disebut “khalifah”. Dalam konteks agama, sebutan khalifah merujuk pada pemimpin spiritual yang memikul warisan kenabian. Namun dalam kesenian ini, khalifah adalah sosok yang memahami seluk- beluk permainan daboh dan bertanggung jawab atas keselamatan para pemain, termasuk dalam hal penguasaan ilmu kebal.

Pada masa kejayaan Kesultanan Aceh di bawah Sultan Iskandar Muda (1607-1636), Rapa’i Daboh sempat dilarang. Syekh Abdurrauf as-Singkili (Syiah Kuala), penasihat Sultan, mengharamkan permainan ini karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Beberapa alasan pelarangan tersebut adalah:

  1. Sikap takabbur

Menunjukkan kesombongan yang jelas dilarang dalam Islam (QS. Al-Mukmin: 72).

  • Riya dan pamer kesaktian

Perbuatan riya dicela dalam Al-Qur’an (QS. Al-Ma’un: 6).

  • Sifat kompetitif dan curang

Berlomba untuk menjadi yang paling sakti bisa menimbulkan perselisihan.

  • Kurangnya sikap wara’ dan tawaduk

Ciri khas sufi sejati adalah rendah hati dan tidak menonjolkan kelebihan diri.

  • Munculnya permusuhan dan rasa ujub

Kebanggaan berlebihan terhadap diri sendiri dapat membawa malapetaka spiritual.

Pertunjukan Rapa’i Daboh melibatkan sekitar 20 hingga 30 orang yang duduk melingkar, masing-masing memegang rapa’i. Dalam atraksi ini digunakan berbagai alat tajam dan berat seperti:

  • Rencong, pedang, pisau belati, parang
    • Batu seberat 5–10 kg
    • Rantai besi
    • Gergaji rantai (chain-saw)
    • Besi per mobil

Sang pemain biasanya masuk ke dalam lingkaran dan menyalami semua anggota, lalu mulai menari sambil menikam tubuhnya sendiri paha, perut, kepala tanpa terluka. Bahkan ada yang menggorok leher, mencongkel mata, melilitkan rantai panas, hingga menggergaji perut, semuanya dilakukan dalam kondisi kebal. Namun, bila aturan spiritual dilanggar, kesaktian bisa hilang seketika dan berujung pada luka serius.

Di Aceh Selatan dikenal dua jenis Rapa’i Daboh:

  1. Rapa’i Ngadap

Ditampilkan di Meunasah pada malam Jumat, hanya menggunakan gendang tanpa zikir.

  • Rapa’i Biasa

Ditampilkan dalam berbagai perayaan dan acara hiburan masyarakat.

Ilmu kebal diyakini berasal dari pengetahuan tentang asal-usul benda dan nama- nama seperti yang diajarkan kepada Nabi Adam AS. Namun, sejatinya semua kekuatan berasal dari izin Allah SWT. Para pengamal ilmu kebal sejati adalah mereka yang rendah hati, tidak menyakiti sesama, dan selalu beristighfar jika merasa terjebak dalam ujub atau kesombongan.

Rapa’i Daboh merupakan kesenian yang tak hanya menampilkan keindahan seni dan irama, tetapi juga mencerminkan kedalaman spiritual masyarakat Aceh. Sayangnya, ketika nilai-nilai keislaman yang menjadi dasar kesenian ini dilupakan, maka Rapa’i Daboh berubah dari ibadah menjadi hiburan yang rawan disalahgunakan. Karenanya, penting bagi generasi sekarang untuk melestarikan Rapa’i Daboh dengan tetap menjaga esensi spiritual dan nilai-nilai religius yang terkandung di dalamnya.

MK : Apresiasi Seni Pertunjukan

Dosen Pangampu : Intan Rizki Junita Tri Utami, M.Sn 

Sumber : https://acehprov.go.id/berita/kategori/jelajah/mengenal-sekilas-tentang- seni-rapai-dabus-di-aceh-selatan

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: Berita seni dan budayaBudayaSastra

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Telah Tayang! Single kedua Andip berjudul ‘Aku Paham Itulah Jarak’

Telah Tayang! Single kedua Andip berjudul 'Aku Paham Itulah Jarak'

Pelesiran: Rayuan Pohonan Lontar di Kota Karang | Raudal Tanjung Banua

Pelesiran: Rayuan Pohonan Lontar di Kota Karang | Raudal Tanjung Banua

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In