Darso memeluk tas sekolah putranya. Semakin erat pelukannya, semakin keras Darso menangis.
“Sudahlah, itu hanya sebuah tas. Kamu tidak tertarik dengan sepatu yang ia gunakan?” Istrinya mulai berjalan ke sudut kamar dan mengambil sepatu milik mendiang putranya. “Lihat! Sudah menguning dan sedikit sobek di bagian samping kiri. Aku sudah membelikannya yang baru, tapi dia tidak mau memakainya. Dia bilang, sepatu ini hadiah darimu.”
Darso melirik sepatu yang menurutnya sudah jelek. Bahkan dia lupa kapan membeli sepatu itu. Langkah kakinya gontai mendekat dan mengambil benda sepasang berwarna hitam itu.
Perlahan, rasa sesak di dadanya muncul. Seperti ada yang menekan dadanya kuat-kuat. Wajah Darso yang sudah memerah mulai menggeleng-geleng.
“Bagaimana cara dia mengakhiri hidupnya?” Darso mulai bertanya hal yang sebenarnya dia sudah tahu. Bekas lidah menjulur di jenazah putranya sangat tampak jelas.
Istri Darso mulai berjalan melewati Darso, dan berhenti di pinggir jendela. Tangan putih dan halusnya memegang teralis besi yang dibuat sebagai penyanggah gorden.
“Ini, dia menggantungkan diri dengan kain di sini!” jelas Istri Darso. Kedua mata lentiknya menatap tajam ke arah Darso. “Aku tidak tahu bagaimana dia mendapat ide seperti itu.”
Dipandang dengan tatapan seperti itu, Darso mulai naik pitam. “Kamu yang salah! Sebagai seorang Ibu, seharusnya kamu memerhatikan anak semata wayang kita. Aku sudah mencari nafkah untuk keluarga kita, apa salahnya kamu memberi perhatian lebih padanya!”
Perempuan bermata sipit itu mulai emosi juga. “Aku?! Kamu cuma salahin aku?! Kamu pikir sebagai seorang Ayah kamu sudah sempurna? Enak-enakan pergi keluar kota, tanpa mikirin atau peduliin aku dan anak kita, kamu bilang cuma aku yang salah?!
PLAK!
Darso tak bisa menahan amarahnya lagi. Sepanjang pernikahannya dengan perempuan itu, dia tidak pernah main tangan. Tetapi sekarang dia melakukan hal yang sangat diperingati oleh mendiang ayahnya; jangan ada kekerasana dalam rumah tangga.
Istri Darso mulai berjalan keluar kamar. Meninggalkan Darso dengan kesendirian yang paling ia benci. Rumah tangganya mulai berantakan. Anak semata wayangnya meninggal dan kini istrinya marah padanya. Dia menatap telapak tangannya yang mulai memerah.
Rasa penyesalan lagi-lagi menghinggapi dadanya. Darso berteriak keras di kamar anaknya.
Dua minggu setelah kejadian itu, istri Darso tak kunjung pulang sehingga membuatnya kelimpungan mencarinya. Ditambah urusan pekerjaannya di Pemerintahan yang membuat ia harus mendelegasikan beberapa tugas pada asistennya.
Malam itu, Darso ingat malam Sabtu paling kelabu sepanjang hidupnya. Dia tinggal di rumah mewah dengan segala barang yang ada di dalam, juga kendaraan mewah terparkir di garasinya.
Darso berbaring di sofa panjang yang menghadap ke kolam renang. Hanya suara air mengalir dan jam dinding yang terus berdetak pada lingkarannya. Dalam keheningan itu, bel rumah Darso tiba-tiba berbunyi. Seharusnya dia tidak perlu repot-repot membuka pintu besar rumahnya itu, tapi dia memulangkan beberapa pekerja demi kenyamanannya dalam masa pemulihan.
Mata bengkak Darso menatap empat petugas berseragam dengan heran.
“Selamat malam, Bapak Darso Ajikusumo! Kami dari Penyidik POLRI mendapat tugas untuk penangkapan Bapak atas kasus pindana korupsi pencucian uang.”
“Apa?! Saya tidak melakukan apa-apa, dan saya dalam masa pemulihan karena baru ditinggal mati oleh anak semata wayang saya!” Darso berusaha membela diri.
“Mohon maaf, Pak Darso. Hal itu diluar wewenang kami, tugas kami hanya melakukan penangkapan Bapak. Mohon kerjasamanya ya, Pak!”
Sekuat apapun Darso menolak penangkapan itu, dia pasti akan tetap diborgol dan dimasukkan ke dalam mobil POLRI yang membawanya pada kehidupan dunia yang lebih mengerikan.
Sekali lagi. Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung.
Namun semuanya tidak pernah tewujud. Darso sudah kehilangan anaknya, dan juga jabatan yang sudah menguras hidupnya selama bertahun-tahun karirnya di Politik. Darso dijebak oleh rekan Politiknya. Darso dijadikan kambing hitam dengan menandatangani beberapa dokumen yang tidak sempat ia baca sepenuhnya saat petugas memberitahunya, bahwa anaknya meninggal karena bunuh diri.
PENULIS
Putri Oktaviani lahir di Tangerang pada Tahun 2000. Penggemar fiksi thriller dan misteri ini senang mendengarkan radio dan cerita horor. Cerpen-Cerpennya tersiar di beberapa media seperti: Majalah Harmoni, Majalah Kandaga, Majalah Elipsis, Koran Solopos, Koran Kedaulatan Rakyat, Koran Radar Madura, Magrib Id, dll. Novel-Novelnya juga tayang di platform Fizzo (Five Eternal Rings & Replaceable Love) dan Novel Life (Violette Scarlette & Lady in Red of Magnolia). Karya cerpennya yang berjudul Setelah Ledakan juara 1 dalam Lomba Cerpen Loka Media. Bisa disapa di IG @putri.oktavn.
- Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
- Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
- Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata - 10 Maret 2026





Discussion about this post