
Sebelum diborgol, Darso teringat permintaan putra semata wayangnya yang ingin sekali pergi piknik di kaki gunung. Darso berpikir, boro-boro ke kaki gunung, Ragunan yang berada di kotanya saja dia tak punya waktu. Pekerjaannya begitu menyibukkannya hingga ia lupa.
Tiap kali putranya itu mengajak pergi, Darso selalu menolak. Sebab ia pikir urusan pekerjaannya lebih penting dibanding keinginan putranya. Dia menggunakan sepenuh waktunya untuk melayani rakyat. Darso sangat mengabdi dengan tugas yang dibebani padanya.
Sampai suatu hari, ketika Darso disibukkan dengan beberapa dokumen yang harus ditandatanganinya, petugas yang berjaga di depan ruangannya mengetuk pintu dan berkata, “Anak Bapak meninggal karena bunuh diri.”
Darso terkejut bukan main. Dia mematung setelah mendengar ucapan lelaki berkumis tebal itu. Dokumen yang diberikan asistennya langsung ditandatanganinya agar perkara itu selesai.
Sesaat memori ingatan tentang putranya yang selalu mengajak ke sana-sini terputar di kepalanya.
“Pa, ayo kita piknik ke kaki gunung!”
“Teman-temanku sudah pernah pergi ke Jogja, masa aku belum?”
“Pa, kapan ada waktu buat liburan ke Batam?”
“Aku pengin ke rumah kakek nenek saja, Pa. Ayo kita kunjungi mereka!”
Semuanya sirna, seperti api melahap kayu. Hanya abu yang tersisa dan semua ocehan putranya yang masih terus terngiang di gendang telinga Darso.
Saat Darso pulang menggunakan pesawat, air matanya tidak keluar sedikit pun. Dia seperti sedang bermimpi, tetapi dia juga sadar ini adalah kenyataannya. Istrinya berulang kali menghubungi ponselnya, dia tidak angkat. Sengaja. Sebab dia tahu kalau perempuan yang dia nikahi 11 tahun silam itu akan memberitahunya bahwa putra semata wayang mereka telah meninggal dunia.
Ketika Darso sudah tiba di rumahnya, dia meyakini seratus persen bahwa ini adalah kenyataan. Bukan lagi mimpi. Matanya menyorot bendera kuning berkibar di pagar putihnya. Dengkulnya mulai lemas hingga tak bisa menahan tubuh kekarnya. Darso terjatuh dan mulai menangis keras.
“Kau tahu apa yang membuatku begitu menyesal?” tanya istri Darso ketika tengah memandikan mayat putra mereka.
Darso hanya terdiam, sibuk membersihkan tubuh yang pernah ia bersihkan juga sewaktu bayi.
“Aku tidak pernah masuk ke kamarnya dan membacakan dongeng lagi sebelum tidur. Aku pikir itu tugasmu sebagai Ayah, kenapa harus aku terus?” Istirnya mengoceh tanpa menatap Darso.
“Maafkan aku.”
“Jangan minta maaf padaku. Minta maaf pada anak ini. Anak kita,” kata istrinya lagi sembari menyisir rambut lelaki mungil dan kurus itu.
“Dia terlihat lebih kurus dari yang kuduga.” Darso mulai memerhatikan tulang kaki putranya.
“Dia jarang makan sebulan belakangan ini. Aku tidak tahu kenapa dia sering mengurung diri setelah pulang sekolah.” Istrinya mulai membasuh pipi putranya.
“Kenapa kamu tidak bertanya padanya?” Darso mulai melirik istrinya.
“Aku sudah sering mengajaknya bicara, tapi dia lebih ingin mengobrol denganmu, Ayahnya!” Istrinya mulai naik pitam.
Mendengar kegaduhan terjadi kala memandikan jenazah, warga sekitar mulai menegur mereka.
Setelah pulang dari pemakaman, Darso dan istrinya kembali ke rumah. Melihat suasana kediamannya yang perlahan mulai sepi. Darso memutuskan untuk memeriksa kamar putranya.
Istrinya mengikuti Darso dengan kedua tangan menyilang di depan dada. “Aku tidak menyangka kita kehilangan anak semata wayang kita.”
Darso terdiam. Matanya memindai ruang kamar anaknya. Sementara istrinya menatap punggung Darso dalam keheningan yang cukup lama. Ada sesuatu yang ingin ia ceritakan, tapi sedikit ragu.
“Sebenarnya seminggu lalu dia pulang sekolah dengan kondisi mengenaskan, seperti bekas menangis. Tetapi saat kutanya dia diam saja. Ya sudah, aku pergi keluar rumah bersama teman-temanku.”
Darso memutar badan, melirik istrinya tanpa berkata apapun.
“Setelah aku pulang dari belanja, aku mendengar kabar bahwa anak kita diejek oleh teman-temannya karena dia punya Ayah seorang pejabat sepertimu.”
“Sepertiku?” Alis Darso menaik. Sekarang dia mulai tertarik dengan perkataan istrinya.
“Ya, siapa yang tidak kenal kamu di kota ini? Terlebih keluarga kita sering menyumbang untuk yayasan di sekolah anak kita.”
“Bukannya itu bagus?”
“Tapi teman-temannya tidak suka. Anak kita sering dibanggakan di depan kelas hanya karena kamu sering menyumbang.”
“Kenapa begitu?”
Istri Darso memutar bola matanya, kesal. “Jelas mereka iri pada anak kita. Aku pernah dipanggil sampai tiga kali oleh pihak sekolah. Terakhir kali, aku melihat wajah anak kita sedikit lebam.”
“Kenapa kamu tidak bicara padaku?” tanya Darso yang mulai kesal dengan sikap istrinya.
“Waktu itu kamu sedang ada dinas ke Purwokerto. Jadi aku tidak mau mengganggumu. Kamu sendiri yang bilang kalau sulit dihubungi saat dinas luar kota ‘kan?”
Darso tidak bertanya lagi. Dia memang pernah berpesan begitu kepada istrinya.
“Tapi saat itu aku menasihatinya di rumah, dan mencoba untuk mendengar penjelasannya. Sebenarnya sepele. Dia hanya tidak suka teman-temannya itu mengejek kamu sebagai pejabat korupsi.”
“Pejabat korupsi? Aku tidak melakukan korupsi!”
“Tapi berita yang menyebar mengatakan seperti itu. Kamu ini kuno, punya Instagram tapi bahkan kamu tidak mengelolanya sendiri.”
“Berita miring dari mana itu? Aku benar-benar tidak melakukannya.”
Istri Darso berdecak kesal. “Aku tahu kamu tidak melakukannya, tapi media sekarang ini lebih cepat menyebarkan berita palsu dibanding fakta. Mereka tidak tahu dalamnya seperti apa.”
Darso mengusap rambutnya dengan kasar, dan mulai berjalan mengitari kasur putranya. Dilihatnya tas sekolah milik anaknya bergambar Ultraman. Dia ingat betul tas itu dibelikannya sewaktu dinas ke luar kota, tapi lupa kota yang mana. Seingat Darso, sudah 2 atau 3 tahun yang lalu, dan dia mulai menangis karena putranya itu masih menggunakan tas lama itu.
“Sekarang kamu mulai menangis,” ejek istrinya itu.
- Puisi-puisi Roy Andika | Pada Suatu Malam - 14 Maret 2026
- Cerpen Putri Oktaviani | Bagaimana Darso Menyesal - 14 Maret 2026
- Alienasi: Ketika Penonton Teater Kehilangan Arah Panggung | Irawan Winata - 10 Maret 2026





Discussion about this post