• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, Januari 16, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
24 Desember 2025
in Artikel
970 73
0
Home Budaya Artikel
BagikanBagikanBagikanBagikan

Ia duduk seharian di salon kecantikan.

Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin.

Menyusuri langit putih biru jingga

dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala.

Pada saat membaca bait awal dari puisi “Di Salon Kecantikan” yang ditulis oleh Joko Pinurbo, saya sempat berpikir sementara dan bertanya kepada diri saya terkait apa makna dari puisi yang ditulis oleh Joko Pinurbo. Kenapa dia duduk di salon kecantikan? kenapa ia terjebak pada cakrawala dan apa itu makna cakrawala pada puisi ini?

Namun, setelah membaca dengan keseluruhan bagian puisi ini, saya dibuat terkesima dengan gambaran yang diberikan dari puisi ini. Makna yang saya tangkap terhadap puisi ini yaitu mengenai seorang wanita yang ketakutan karena kecantikan yang dia miliki telah memudar, hal yang sebelumnya dia banggakan telah sirna karena termakan usia.

Bait awal dari puisi ini menjelaskan mengenai seorang wanita yang duduk seharian di salon kecantikan, dan makna “melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin” merupakan gambaran bahwa si wanita itu kembali teringat masa lalunya, dan berakhir pada memori masa lalu yang membuatnya tidak bisa keluar dari dalamnya. Bayangan masa lalu yang mendatanginya dan membuat ia terjebak mengakibatkan si wanita tidak ingin diganggu untuk waktu sendirinya.

Pada sajak “senja semakin senja” menggambarkan usia si wanita tersebut terus menerus bertambah dan membuat kecantikannya semakin memudar yang ditandai dengan sajak “jarinya meraba kerut di pelupuk mata”. Pada puisi ini si wanita tersebut tahu atau sadar bahwa kecantikan yang dia miliki hanya sementara dan tidak bisa bertahan selamanya, namun si wanita tetap mencoba mempertahankan kecantikannya tetapi akhirnya tetap akan tampak juga, bagian ini tergambar pada bait:

Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap

yang ingin diulur-ulur terus

namun toh luput juga.

Si wanita terus mencoba untuk menerima kondisi dirinya yang tidak cantik lagi, karena si wanita tersebut sadar bahwa gairah dan gelora yang dia miliki sebelumnya harus diserahkan kapada usia yang terus bertambah. Namun, si wanita tidak dapat memungkiri bahwa rasa tegar yang ia coba berikan berkahir menjadi kecamuk sepi yang menyerang dirinya.

Kecantikan yang sebelumnya ia miliki, membuat dirinya terus terbayang akan memori masa lalunya. Hal itu membuat dirinya tertawa, dikarenakan dirinya sadar bahwa ia tidak cantik lagi. Namun, hatinya dibuat bimbang, apakah dia harus tetap terjebak dengan kenangan yang kini menjadi fantasi baginya, atau dia harus mencoba menerima realita yang terjadi padanya saat ini. Si wanita mencoba berpikir bahwa kecantikan itu bukanlah hal yang kekal atau abadi, lantas mengapa dia harus menyesal tentang apa yang terjadi. Karena si wanita tersebut sadar, bahwa kecantikan dan kematian merupakan dua hal yang sama.

Usia yang bertambah tua dengan kondisi tubuh dan kulit yang mulai berubah, si wanita tetap mencoba untuk tetap menjadi cantik dengan merias dirinya, hal itu tergambarkan pada sajak “melihat wajah yang diobrak-abrik tata-warna” Di sela-sela itu ia menyelami berbagai kenangan yang pernah singgah pada dirinya, kenangan yang sangat ia rindukan, yaitu saat menjadi cantik. Namun si wanita juga takut bahwa memori indah yang lalu itu juga akan bosan padanya, karena ia tidak lagi cantik.

Pada bait berikutnya, dijelaskan bahwa si wanita mencoba meminta waktu untuk menerima dirinya yang kini tidak cantik lagi, karena si wanita sadar bahwa usianya semakin tua, dan dia tidak akan lama lagi untuk hidup, yang ditandai pada sajak “malam sudah hendak menjemputku di depan pintu.”

Usia semakin tua, si wanita sadar bahwa tubuhnya sekarang tidak seindah tubuh yang dia miliki di masa lalu. Dan si wanita mulai tabah, namun cermin tempat ia berfantasi justru ingin tetap mengurung tubuhnya pada masa lalu. Pada akhirnya si wanita sadar bahwa dirinya tetap cantik, walaupun bayangan masa lalu yang menghantuinya mulai hilang dan berbeda dengan kondisi dirinya sekarang, dia tetap cantik. Dan rasa penerimaan diri itu yang membuat dia semakin dekat dengan hal-hal yang akan terjadi di masa depan.

Sabina Yonandar, kelahiran 19 Januari 2004. Merupakan Mahasiswi jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
  • Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram - 1 Januari 2026
Tags: Berita seni dan budayaSastra

Related Posts

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Oleh Redaksi Marewai
27 Desember 2025

Banjir bandang (galodo) yang terjadi di tiga provinsi pada November lalu menyisakan luka menganga bagi banyak orang, kehilangan keluarga,...

Dari Praduga Tak Bersalah ke Praduga Pantas Dihajar? | Abdullah Faqih, S.H., M.H

Dari Praduga Tak Bersalah ke Praduga Pantas Dihajar? | Abdullah Faqih, S.H., M.H

Oleh Redaksi Marewai
16 September 2025

Penulis geleng-geleng kepala. Seorang terduga pelaku pencurian dipukul, diintimidasi, bahkan direkam lalu videonya disebar. Sontak layar hitam muncul, Kata...

UWRF 2025: Hasbunallah Haris Bakal Launching Novel Leiden (2020-1920) di Ubud, Bali

UWRF 2025: Hasbunallah Haris Bakal Launching Novel Leiden (2020-1920) di Ubud, Bali

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Padang, Marewai – Nama Hasbunallah Haris mulai dikenal publik sejak ia menjadi salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian...

Artikel – Perbandingan Perawatan Naskah di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dengan Naskah Koleksi Pribadi | Mayang Puti Ifanny

Artikel – Perbandingan Perawatan Naskah di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat dengan Naskah Koleksi Pribadi | Mayang Puti Ifanny

Oleh Redaksi Marewai
26 Juli 2025

Berbicara mengenai naskah kuno pada saat ini, tidak dapat ditemui di sembarangan tempat saja, tetapi berada di tempat-tempat yang...

Next Post
PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In