
Ia duduk seharian di salon kecantikan.
Melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin.
Menyusuri langit putih biru jingga
dan selalu pada akhirnya: terjebak di cakrawala.
Pada saat membaca bait awal dari puisi “Di Salon Kecantikan” yang ditulis oleh Joko Pinurbo, saya sempat berpikir sementara dan bertanya kepada diri saya terkait apa makna dari puisi yang ditulis oleh Joko Pinurbo. Kenapa dia duduk di salon kecantikan? kenapa ia terjebak pada cakrawala dan apa itu makna cakrawala pada puisi ini?
Namun, setelah membaca dengan keseluruhan bagian puisi ini, saya dibuat terkesima dengan gambaran yang diberikan dari puisi ini. Makna yang saya tangkap terhadap puisi ini yaitu mengenai seorang wanita yang ketakutan karena kecantikan yang dia miliki telah memudar, hal yang sebelumnya dia banggakan telah sirna karena termakan usia.
Bait awal dari puisi ini menjelaskan mengenai seorang wanita yang duduk seharian di salon kecantikan, dan makna “melancong ke negeri-negeri jauh di balik cermin” merupakan gambaran bahwa si wanita itu kembali teringat masa lalunya, dan berakhir pada memori masa lalu yang membuatnya tidak bisa keluar dari dalamnya. Bayangan masa lalu yang mendatanginya dan membuat ia terjebak mengakibatkan si wanita tidak ingin diganggu untuk waktu sendirinya.
Pada sajak “senja semakin senja” menggambarkan usia si wanita tersebut terus menerus bertambah dan membuat kecantikannya semakin memudar yang ditandai dengan sajak “jarinya meraba kerut di pelupuk mata”. Pada puisi ini si wanita tersebut tahu atau sadar bahwa kecantikan yang dia miliki hanya sementara dan tidak bisa bertahan selamanya, namun si wanita tetap mencoba mempertahankan kecantikannya tetapi akhirnya tetap akan tampak juga, bagian ini tergambar pada bait:
Tahu bahwa kecantikan hanya perjalanan sekejap
yang ingin diulur-ulur terus
namun toh luput juga.
Si wanita terus mencoba untuk menerima kondisi dirinya yang tidak cantik lagi, karena si wanita tersebut sadar bahwa gairah dan gelora yang dia miliki sebelumnya harus diserahkan kapada usia yang terus bertambah. Namun, si wanita tidak dapat memungkiri bahwa rasa tegar yang ia coba berikan berkahir menjadi kecamuk sepi yang menyerang dirinya.
Kecantikan yang sebelumnya ia miliki, membuat dirinya terus terbayang akan memori masa lalunya. Hal itu membuat dirinya tertawa, dikarenakan dirinya sadar bahwa ia tidak cantik lagi. Namun, hatinya dibuat bimbang, apakah dia harus tetap terjebak dengan kenangan yang kini menjadi fantasi baginya, atau dia harus mencoba menerima realita yang terjadi padanya saat ini. Si wanita mencoba berpikir bahwa kecantikan itu bukanlah hal yang kekal atau abadi, lantas mengapa dia harus menyesal tentang apa yang terjadi. Karena si wanita tersebut sadar, bahwa kecantikan dan kematian merupakan dua hal yang sama.
Usia yang bertambah tua dengan kondisi tubuh dan kulit yang mulai berubah, si wanita tetap mencoba untuk tetap menjadi cantik dengan merias dirinya, hal itu tergambarkan pada sajak “melihat wajah yang diobrak-abrik tata-warna” Di sela-sela itu ia menyelami berbagai kenangan yang pernah singgah pada dirinya, kenangan yang sangat ia rindukan, yaitu saat menjadi cantik. Namun si wanita juga takut bahwa memori indah yang lalu itu juga akan bosan padanya, karena ia tidak lagi cantik.
Pada bait berikutnya, dijelaskan bahwa si wanita mencoba meminta waktu untuk menerima dirinya yang kini tidak cantik lagi, karena si wanita sadar bahwa usianya semakin tua, dan dia tidak akan lama lagi untuk hidup, yang ditandai pada sajak “malam sudah hendak menjemputku di depan pintu.”
Usia semakin tua, si wanita sadar bahwa tubuhnya sekarang tidak seindah tubuh yang dia miliki di masa lalu. Dan si wanita mulai tabah, namun cermin tempat ia berfantasi justru ingin tetap mengurung tubuhnya pada masa lalu. Pada akhirnya si wanita sadar bahwa dirinya tetap cantik, walaupun bayangan masa lalu yang menghantuinya mulai hilang dan berbeda dengan kondisi dirinya sekarang, dia tetap cantik. Dan rasa penerimaan diri itu yang membuat dia semakin dekat dengan hal-hal yang akan terjadi di masa depan.

Sabina Yonandar, kelahiran 19 Januari 2004. Merupakan Mahasiswi jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas.






Discussion about this post