• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Asam Kumbang Bayang: Sebuah Kenangan akan Kampung Halaman di Pesisir Selatan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
18 Oktober 2021
in Pelesiran
1.6k 49
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Sulit untuk tidak bersikap sentimental saat menemukan buku perihal kampung halaman, sebab akan langsung terbayang rumah tua di sana, foto masa lalu dan ingatan akan orang-orangnya, ibu bapak, kakek nenek, saudara dan karib kerabat lainnya, serta aktivitas saat pulang kampung semacam mandi di sungai, bermain di sawah atau ladang, mencari buah-buahan, atau sekadar bertandang dari satu rumah saudara ke rumah saudara lainnya.

Saya lahir di ibukota propinsi, tapi keluarga besar kedua orang tua berasal dari sana, walau ibunda numpang lahir di Mersam saat kakek kami bertugas sebagai pegawai kolonial belanda di wilayah Jambi. Minimal 2 kali setahun atau jika ada hari libur panjang, kami sekeluarga akan selalu pulang kampung, yang berjarak 2 jam perjalanan dari Kota Padang. Tepatnya bernama Kampung Asam Kumbang, Kenagarian Puluik-puluik, sekarang masuk Kecamatan Bayang Utara (dahulunya hanya Kec. Bayang), Kab. Pesisir Selatan Sumatera Barat.

Kenagarian dan kampung kami ini sekarang lebih dikenal karena banyaknya obyek wisata dan pemandangan alam yang bagus, diantaranya Air Terjun Bayang Sani, satu diantara banyak air terjun yang ada di sana, Negri Atas Awan, Puncak Bendera dan Jembatan Aka, yang sudah berumur lebih dari 100 tahun, terbentang melintasi sungai Batang Bayang, terbentuk dari jalinan akar 2 pohon beringin yang berada di kedua sisi sungai dan air yang mengalir di bawahnya berasal dari Danau Diatas Kabupaten Solok. Menurut tutur masyarakat setempat, konon jembatan tersebut hasil dari inisiatif seorang ulama di Bayang, lantaran saat itu susahnya akses untuk menyebrangi sungai, terutama saat hendak pergi mengaji ke surau.

Salah satu surau tuo di Jorong Koto Baru, Koto Berapak, Bayang, Pesisir Selatan Prov. Sumatera Barat, Masjid Syekh Muhammad Jamil (Sumber: Calvin Pratama Putra)

Dahulunya kampung kami ini, sejak zaman Belanda dan Jepang justru dikenal sebagai penghasil para ulama, tentara dan polisi, jaksa dan hakim, selain tentunya banyak pedagang dan saudagar yang ulet. Bahkan pahlawan nasional Indonesia Ilyas Yacoeb juga berasal dari kampung ini, dan sampai saat ini satu-satunya pahlawan nasional asal Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar. Kemunculan banyak tokoh dan saudagar ini tidak terlepas dari adanya sekolah Belanda di kampung ini, serta Surau Buyung Mudo Puluik-puluik sebagai sentra pendidikan Islam yang terkenal di wilayah selatan Sumbar sejak dahulu. Kakek saya dari pihak Ibu menamatkan pendidikan dasarnya di sekolah Belanda ini, kemudian melanjutkan ke pendidikan berikutnya sampai menjadi pegawai Belanda, dilanjutkan masa Jepang dan kemudian menjadi kepala polisi di pelbagai wilayah di Sumatera Tengah tempo itu.

Kawasan Makam Pahlawan Ilyas Yacoub

Adanya sekolah Belanda di kampung ini menandakan pentingnya wilayah ini bagi Belanda, karena secara geografis dan jarak, kampung kami ini jauh dari pusat pemerintahan Belanda di Kota Padang, cukup jauh juga dari Ibukota Kabupaten Pesisir Selatan, agak menjorok ke dalam naik ke perbukitan, serta tidak berada di jalur utama jalan raya yang menghubungkan kota-kota utama di wilayah Sumatera Barat saat itu, bahkan ujung jalan kampung kami ke arah bukit malah buntu tidak bisa dilalui kendaraan, hanya bisa ditempuh berjalan kaki untuk sampai ke Kabupaten Solok di balik bukit (saat ini akses jalan sudah ada, jalan tembus ke Alahanpanjang).

Selain pemandangan alam yang bagus dari dulu wilayah Bayang ini secara umum dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, terutama merica, lada, pala, dan kayu manis. Bahkan ada lelucon yang dilontarkan Deddy Arsya, pengajar di IAIN Bukittinggi, sejarahwan cum sastrawan asal Bayang, orang-orang tua di sana dulu pernah menyebut bahwa saat jaya-jayanya dan masa panen, penduduk di Bayang, saat akan dan selesai makan di lapau atau kedai akan mencuci tangannya dengan limun, semacam minuman sirup dalam botol, sebagai sebuah perlambang kemewahan dan kemakmuran penduduk kampung zaman itu.

Bayang selain sebagai sentra pendidikan Islam yang kuat, sejak abad ke 17 dan 18 juga terkenal sebagai wilayah yang tidak mau takluk kepada kekuasaan Kesultanan Aceh, penguasa VOC dan kaum pendatang lainnya yang berniat menjajah atau menguasai wilayah penghasil rempah-rempah tersebut. Digerakkan oleh pemuka adat dan ulama, pernah terjadi pergolakan dan Perang Bayang 100 tahun sejak awal abad 17 untuk menolak kehadiran kekuatan asing, baik kerajaan Aceh dan VOC di wilayah pesisir Sumatera saat itu. Bahkan tercatat ada suatu tipu muslihat yang diluncurkan, yang dikenal dengan “Sandiwara Batangkapeh” untuk mengusir Aceh dan VOC sekaligus dari wilayah tersebut. Perlawanan para pemuka adat dan ulama asal Bayang tersebut yang menjadi pembeda dengan para pemuka-pemuka adat wilayah pesisir lainnya yang sebagian menyatakan takluk dan bersedia dibawa ke Batavia oleh VOC, sehingga menghasilkan Perjanjian Painan tahun 1663. Perlawanan penduduk Bayang masih berlangsung sampai permulaan abad 18.

PRRI menjadi titik balik yang mengubah wajah kampung halaman kami, Asam Kumbang Kenagarian Puluik-puluik dan Bayang secara umum. Banyak tokoh masyarakat dan ulama yang menjadi korban tentara pusat saat berlangsungnya peristiwa PRRI mulai tahun 1957 sd 1961.

Dokumentasi Pribadi: Aldo Zirzov (poto keluarga)

Perubahan itu tidak kunjung membaik, bahkan saat Soekarno jatuh, dan berlanjut era zaman Orde Baru. Bayang kemudian mundur perlahan sebagai wilayah kaya yang pernah terkenal sebagai penghasil rempah, para pedagang dan tokoh masyarakat. Sarana dan prasarana kampung dan nagari sempat menjadi yang terburuk di era 1970an dan 1980an, jalan kampung rusak jarang diperbaiki, transportasi tidak memadai menuju ke sana, gairah menjadi petani dan pedagang padam, anak-anak muda di kampung tidak lagi tertarik melanjutkan ke pendidikan tinggi, atau menekuni profesi yang dulu dijabat kakek nenek atau ayah ibu mereka. Keinginan kaum muda setamat sekolah hanya secepatnya merantau meninggalkan kampung halaman, menjadi pedagang kaki lima atau pekerjaan kecil apapun yang cepat menghasilkan uang buat penyambung hidup, atau merantau tanpa terpikir pulang kampung.

Jika anda berkunjung ke Bayang dan kampung halaman kami saat ini, selain memang masih menyisakan pemandangan alam yang bagus, waktu akhir pekan biasanya diramaikan suara motor dan mobil wisatawan dari kota lain yang terdengar melintas menuju obyek wisata, tapi yang anda akan temukan dan lihat adalah rumah-rumah tua yang sudah (menunggu) roboh, dihuni oleh orang-orang tua yang menunggu kabar anak kemenakan dari rantau, penduduk yang mengusahakan sawah dan ladang untuk sekadar ada yang dihasilkan untuk bertahan hidup, sambil berharap kiriman uang datang dari rantau, pasar (pekan) mingguan yang tidak lagi ramai, wajah pelajar yang ingin cepat tamat sekolah, yang ingin bergegas pergi, terbayang rantau nan jauh dalam pikirannya, suasana pagi dan gelap malam yang lebih didominasi hening dan sepi. Ya, kampung kami sepi dan lengang di hari-hari biasa.

Sumber: Chalvin Pratama Putra

Ibarat roda pedati berputar, sesekali di atas, sekali di bawah, dan saat ini kami berharap roda itu berputar ke atas kembali, entah kapan.

Pepatah Minangkabau

“Sakali aia gadang, sakali tapian barubah”.

Ditayangkan ulang dari postingan FB Aldo Zirzov. Disunting oleh Arif P Putra

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BayangBerita seni dan budayaBudayaPelesiranPesisir selatanSejarah

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Kehidupan Penuh Tragedi Sastrawan Amerika Mark Twain | Hidayatul Husna & Ferdinal (Civitas Academica Unand)

Kehidupan Penuh Tragedi Sastrawan Amerika Mark Twain | Hidayatul Husna & Ferdinal (Civitas Academica Unand)

Peringati Hari Santri Nasional, Dr. Derliana, M.A: Khittah Perjuangan Muhammadiyah dalam Keutuhan NKRI

Peringati Hari Santri Nasional, Dr. Derliana, M.A: Khittah Perjuangan Muhammadiyah dalam Keutuhan NKRI

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In