
Resensi Buku
Ade Mulyono agaknya telah menjadikan buku ini satu kesatuan cerita yang tematik. Ia nampak minimalis, tetapi kompleks. Tidak neko-neko, tetapi pilin-berpilin. Nampak gampang, namun penuh perenungan. Ia tidak berusaha merumit-rumitkan cerita—cepat dan klimaks. Barangkali, inilah keuntungan Ade Mulyono yang juga seorang penyair. Sehingga cerita-ceritanya kaya bahasa.
Ada banyak khazanah sastra Indonesia mencatat sejarah masa lampau dalam bentuk buku; novel, cerpen, puisi, esai dan lainnya. Tidak sedikit pula yang berhasil secara komersil atau publikasi khalayak. Tetapi banyak juga yang sekadar menjadi sebuah buku penanda zaman (bagi penulisnya). Artinya tidak semua buku mendapatkan tempat di khazanah kesusastraan Indonesia, meski—barangkali penulisnya telah melewati berbagai fase untuk menghasilkan tulisan tersebut. Cerita Pendek adalah bentuk paling banyak digunakan penulis Indonesia menuangkan gagasannya dalam bentuk cerita sejarah atau katakanlah tulisan bermuatan kilas balik: masa lampau. Secara garis besar, tema sejarah ataupun masa lampau masih mendapat tempat dihati pembaca Indonesia. Ini bisa kita lihat dari tulisan-tulisan yang dimuat media massa; onlen dan cetak—lomba dan even. Tulisan-tulisan bertema serupa kerap dimuat, juara dan nominasi. Jadi secara luas, jika masih ada pernyataan—tulisan bermuatan lokalitas/sejarah/foklor dianggap ketinggalan, sudah terpatahkan. Walau secara keseluruhan, cerita-cerita tersebut memang tidak banyak bermain di ranah menukik seperti; sejarah pendekar, dunia persilatan, timeline ataupun kelindan romansa ala-ala bangsawan yang jujur dan terang. Buku kumpulan cerpen Ade Mulyono, Amangkurat Cinta Semerah Darah, barangkali hadir dengan berbagai upaya penanda/pengingat zaman yang terus melaju. Adil dan nyalang.
Buku dengan jumlah 194 halaman dan berisi 13 cerpen ini seakan mengantarkan kita kepada banyak momen masa silam. Pengarang memotret kelindan kehidupan kelas atas masa lampau. Amangkurat yang digambarkan sebagai sosok tegas tanpa ampun mengingatkanku pada tutur orang-orang tua di kampung halaman. Narasi Raja yang angkuh, bahkan terkesan pemberang itu tak lain selalu kalah tanpa harus ke medan perang. Tema ini sebenarnya tidak asing lagi. Di balik kejayaan Mataram, cinta adalah kutukan. Di tanah Jawa abad ke-17, di balik kemegahan Mataram ada banyak kisah cinta yang tidak banyak ditulis: tentang pengkhiatan dan pengorabanan Amangakarut maharaja di tanah Jawa tidak hanya hidup dalam ambisi, tetapi juga hasrat cinta yang tak terbendung. Dari dendam kesumat pada Tumenggung Wiroguno, hingga asmara terlarang dengan Roro Oyi dan Retno Gumilang yang berujung pembantaian. Kumpulan kisah pada buku ini menggali sisi-sisi paling gelap dari para tokoh besar Mataram dan Pajang. Disajikan dengan gaya puitis yang hidup, penuh atmosfir kelam, jalinan konflik batin yang mengguncanng, dan tragedi yang menghantam sampai ke relung terdalam. Buku ini bukan sekadar cerita sejarah—melainkan kisah tentang manusia yang dengan segala kerapuhannya di hadapan hasratnya sendiri.
Meski buku ini dilabeli Kumpulan Cerpen, namun secara runutan, agaknya buku ini layak juga disebut sebagai Novela ataupun novel. Mula-mula saya mengira ini memang novel, tetapi setelah sampai di beberapa bagian halaman, misalnya; di bagian tengah buku. Sebagaimana kebanyakan cerita-cerita asmara internal kerajaan, buku ini cukup banyak menguak misteri tersembunyi yang tidak banyak kita dapati secara umum. Banyak kisah runtuhnya kerajaan masa lampau diakibatkan penghianatan. Dalam buku ini pengarang lebih sering memotret kisah asmara, percintaan yang liar dan berdarah. Bila dilihat lebih jauh, tema serupa juga banyak diambil untuk dijadikan film. Ada banyak contoh kisah percintaan yang tragis dan prolematik kaum bangsawan kerajaan; Jodhaa Akbar, (India), Jan Dara, (Thailand) atau yang paling dramatik dan ironis The Return: Odysseus, (Amerika Serikat). Tapi pengarang tidak sedang mengisahkan personalnya, itu sebabnya cerita-cerita dalam buku ini akan membawamu kebanyak kisah yang mungkin kamu sendiri tidak menginginkan ceritanya demikian.
Amangkurat juga digambarkan demikian dalam buku ini, raja yang menghabiskan masa tuanya dengan hina—terusir akibat perangainya dalam kisah percintaanya. Wanita menjadi tokoh sentral dalam polemik politik kerajaan. Bila The Return: Odysseus mengambarkan kesetian tokoh wanita dalam menjaga cintanya, Amangkurat tidak sekalipun menghadirkan kesetiaan serupa. Dalam Amangkurat, cerita layaknya drama sandiwara yang dibalut sedemikian rupa. Hanya ada nafsu dan tubuh. Siapa saja bisa muncul sebagai seseorang yang merubah jalan cerita. Kelindan asmara ini lebih dulu dimulai oleh Roro Oyi sejak Amangkurat jatuh hati kepadanya pasca ditinggal sang istri. Roro Oyi yang belia tetap juga diboyong Amangkurat, semacam tanaman yang hendak dibesarkan untuk dapat dipetik. Pengarang juga menggambarkan asmara yang liar dan beradarah. Ia bahkan menghalalkan segala cara, walau tetap memegang teguh peraturan adat; perempuan yang belum cukup umur tidak ia persunting. Tetapi, selalu ada cara untuk memastikan si perempuan adalah miliknya dengan menitipkannya kepada orang kepercayaanya agar tetap bisa dipantau.
“Meski jatuh dengan gadis belia yang baru dilihatnya, sebagai seorang raja ia tahu diri, bahwa gadis di hadapannya terlalu muda untuk dijadikan istri. Maka ia pun menitipkan Roro Oyi ke Mantri Wirareja smapai usianya cukup untuk dijadikan pendamping hidupnya.” (Halaman: 19).
Pada halaman: 54, saya kira bagian yang menarik meski penulis tidak melebarkan cerita tersebut. “Perburuan berakhir pada 27 Desember 1679. Di tengah kabut dan medan yang terjal, Kapitan Jonker berhasil mengepung Trunojoyo. Pemberontak yang pernah menguasai separuh Jawa itu akhirnya tertangkap hidup-hidup, bukan dalam pertempuran epik, melainkan dalam kehinaan di tempat persembunyiannya.” Paragraf ini seolah menegaskan kisah tragis sang penguasa Trunojoyo, tak jauh berbeda dengan akhir cerita Amangkurat I yang murung dan menyedihkan.
Pengarang sebagaimana cerita-cerita pendek bermuatan sejarah atau kilas balik suatu kejadiaan, kebanyakan memakai gaya bahasa perumpaaan—metafora yang di beberapa bagian saya kira berlebihan. Perumpanaan yang diwujudkan dari satu cerita ke cerita lainnya nyaris senada. Sedangkan metafora yang disampaikan pengarang tidak begitu kentara sehingga kadang menghasilkan bagian yang bias, bahkan jamak. Jika ini adalah sebuah novel, mungkin saja kalimat perumpamaan dan metafora itu akan berulang dari halaman satu ke lainnya. Namun, gaya ungkap pengarang menunjukan bagaimana pembendaharaan kata yang ia miliki luas—meski tujuan gaya bahasa perbandingannya sama—diungkap dengan kalimat berbeda. Pujian.
Secara umum, cerita-cerita dalam Amangkurat Cinta Semerah Darah memang tampak runut dan kompleks. Bagian itulah yang menjadikan buku ini menarik pembaca ke dalam banyak dugaan. Misalnya, bagaimana cinta semerah darah yang dimaksud pada halaman: 35. Alih-alih mengharapkan kisah asmara Amangkurat berlanjut, pengarang malah melemparkan pembaca kepada kisah barunya dengan seorang sinden bernama Retno Gumilang. Pengarang agaknya sedang berusaha memainkan visual pembaca ke babak baru. Lagi. Pengarang menyelesaikan cerita ini dengan terang; tragis dan ironis. Ini akan membuat pembaca melanjutkan cerita dengan harapan baru, tentu saja runut dan penuh kejutan. Jika begitu, pembaca akan tetap dipatahkan oleh gaya bercerita pengarang yang lugas dan terang-terangan: apa yang kau tanam itu yang kau tuai.
Meski pengarang konsisten bermain di ranah drama internal kerajaan, buku Amangkurat ini secara terang memaparkan bagaimana peliknya kisah asmara orang-orang berdarah biru itu. Pengarang tetap berusaha menyelipkan babak lain di luar drama keluarga kerajaan. Kisah asmara yang menohok itu telah dimulai sejak babak awal. Sejak Amangkurat I dimunculkan hingga Amangkurat II. Keberadaan peristiwa dan tragedi seolah ingin meyakinkan pembaca bahwa semua kejadian problematik itu tak lain dan tak bukan hanya karena persoalan perempuan—kisah asmara yang kacau.
Secara linguistik, pengarang berusaha membeberkan bagian yang dinamakan “penyebutan sifat khas”. Dalam buku ini, secara terang-terangan pengarang membeberkan tabiat dan sifat pembesar. Pembesar yang digambarkan tidaklah satu atau dua; Amangkurat I, Amangkurat II, Sultan Hadiwijaya, Arya Penangsang, Pangeran Adipati Anom, Raden Trunojoyo, Randu Ijo, Kameswara dan Tumenggung Martoloyo. Penamaan berdasarkan penyebutan sifat khas ini terlihat dari bagaimana pengarang menggambarkan para pembesar: jika ia seorang raja/pangeran, selalu terlibat dalam kisah percintaan pelik. Jika ia pendekar, maka ia akan terlibat dalam pertempuran berdarah. Bila ia seorang penguasa, identiklah dia dengan sebuah keris pusaka dan jurus andalan. Pengunaan penamaan yang dimainkan oleh pengarang memang kentara, kalau tak hati-hati bisa memunculkan pemahaman bahwa pembesar (pejabat kerajaan) Jawa pada masa itu sangatlah problematik dalam kisah percintaan. Kisah asmara yang liar dan ugal-ugalan ini jelas tergambar, nyaris setengah dari 13 cerpen di dalam buku ini memuatnya.
Jika harus menerangkan isi buku ini apakah bisa dibaca masyarakat umum, saya akan menjawabnya bisa. Bagian yang cukup mudah ditangkap pembaca saat melakukan kegiatan membaca adalah bagian cerita: logis atau tidak logis. Kumpulan cerita dalam buku ini cukup logis dari cara penceritaannya, bahkan tanpa berusaha mengusap-usap pengarangnya—detail dan serius. Dalam ilmu Semantik, pengarang juga memakai gaya bercerita gramatika transformasi generatif, dimana pengarang telah melakukan kerjanya dalam penataan bahasa. Tatanan yang kemudian dengan pelan dapat dipahami pembaca, meski kalimat itu sebelumnya tidak pernah ia didengar. Hubungan antarunsur dalam struktur kalimat diuraikan atas abstraksi yang mencapai kaidah struktur frase dan kaidah transformasi. Bila harus semena-mena, kumpulan cerita Ade Mulyono ini telah selesai secara bahasa. Pembaca dengan mudah menemukan benang merah, meskipun ia hadir dalam bentuk cerita yang terpisah-pisah. Pembaca akan tetap dengan gampang menangkap yang sedang terjadi dalam cerita.
Berbeda dengan cerita pada rubrik “Aji Mantrolot” yang tayang di kanal www.marewai.com membahas kisah Adityawarman, pembesar dari Minangkabau itu. Rubrik tersebut lebih banyak memunculkan perjalanan seorang Adityawarman dan perseteruannya dengan banyak kelompok maupun individu. Gaya berceritanya juga terkesan kaku (terlalu tutur). Sedangkan buku Amangkurat hadir dengan gaya bercerita yang lugas dan romansa. Sebagai genre fiksi, tentu saja buku ini akan lebih mengutamakan cerita yang mengalir dengan dukungan fakta sejarah. Sedangkan Aji Mantrolot lebih mengutamakan unsur sejarah tutur paling utama. Amangkurat Cinta Semerah Darah tak hanya bermain narasi, ia juga menghadirkan deskriptif pendekar sehingga pembaca mendapatkan visual dari imajinasinya tentang situasi pada cerita. Bagian ini begitu mencolok pada gaya penceritaan Ade Mulyono dalam bukunya. Tetapi, bagian ini pula yang akan membawa pembaca untuk meneruskannya sampai selesai. Jika didekatkan dengan kisah, buku ini mungkin lebih dekat pada cerita Mahabarata.
Buku Amangkurat Cinta Semerah Darah karya Ade Mulyono ini memang tidak sedang menyanjung kisah percintaan pembesar Kerajaan Mataram atau membesar-besarkan sejarah kerajaan tersebut di masa lampau. Pengarang juga nampak tidak berusaha menjadi ahli nujum ataupun futuristik sebagaimana kebanyakan cerita-cerita berlabel fiksi sejarah. dia juga tidak sedang berusaha menjadi ahli sejarah dengan memaksakan banyak fakta-fakta seolah si pengarang telah melakukan riset penelusuran mendalam. Buku ini mengambil sisi lain dari sejarah kerajaan Mataram yang murung dan kelam hanya karena asmara. Bagian yang naif untuk diceritakan oleh masyarakatnya sekarang (pewaris). Meski Mataram terkenal dengan perkembangan agama Hindu dan Budha pada masa silam, pengarang malah tidak menyentuh bagian agama dalam cerita-ceritanya. Namun jika jeli, cerita di dalam buku telah menjelaskan bahwa agama Islam telah masuk ke wilayah Mataram. Kemudian ia diberi penanda “sunan dan wali—surau-azan” sebagai pendukung. Bagian itu agaknya sengaja diberi jarak oleh pengarang agar pembaca dengan mudah melupakan catatan sejarah tentang perkembangan Hindu-Budha. Sehingga cerita-cerita yang dihadirkan tetap lurus menayangkan keadaan-keadaan internal kerajaan, politik, penghianatan dan cinta. Bagian yang jarang dimunculkan dalam banyak catatan sejarah kerajaan Mataram (barangkali).
Problematiknya asmara pembesar dalam buku ini tak hanya dibuka oleh Amangkurat I di bagian cerita awal. Hingga bagian penutup pun, asmara yang murung dan berdarah itu dilanjutkan oleh Kameswara yang tak kalah tragis. Percintaan, hubungan asmara yang rumit. Terlepas dari problematik politik dan asmara, buku ini sungguh menambah pengetahuan pembaca tentang Mataram. Mulai dari silsilah, tradisi, rekam jejak politik dan posisinya semasa jaya.
Babak demi babak dalam cerita yang dirangkum pengarang, Ade Mulyono agaknya telah menjadikan buku ini satu kesatuan cerita yang tematik. Ia nampak minimalis, tetapi kompleks. Tidak neko-neko, tetapi pilin-berpilin. Nampak gampang, namun penuh perenungan. Ia tidak berusaha merumit-rumitkan cerita—cepat dan klimaks. Barangkali, inilah keuntungan Ade Mulyono yang juga seorang penyair. Sehingga cerita-ceritanya kaya bahasa.
- Amangkurat Cinta Semerah Darah: Kelindan Asmara dan Kekuasaan yang Berdarah Mataram - 5 Februari 2026
- Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
- Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025






Discussion about this post