- SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026
- Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII) - 24 November 2025
- Aji Mantrolot: Penggalan VII – Kabau Gadang Bagian V - 30 Oktober 2025

Manakala sidang pemilihan Datuk Indharma gelar Tuan Suravaca sudah memasuki hari ke lima…
Sore itu di tepian Nagari Sitangkai kedatuan Lintau, Rajo Mudo Aji Mantrolot dihinggapi rasa frustasi yang teramat sangat. Sudah dua hari berlalu, namun pasukannya masih gagal menyeberangi Batang Sinamar. Dia mondar mandir tak tentu arah di dalam tendanya sambil berceloteh memaki-maki keadaan pihaknya saat ini.
“Aku tak habis pikir! Pasukan yang aku andalkan selama ini kali ini tidak kunjung berhasil menyeberangi sungai ini!, Mpu Arya, apa penjelasanmu?!”. Sergah Aji kepada Mpu Arya Mega selaku perwira yang memimpin penyeberangan pasukan Aji Mantrolot.
“Pasukan kita kalah segala-galanya, tuan Pangeran. Jumlah kita hanya delapan puluh orang, dan pasukan yang kita bawa tidak siap dengan cara bertarung saat ini. Sebagian besar pasukan kita hanya terdiri dari pasukan berpedang dan bertombak dan sedikit sekali pasukan berkuda, kita tidak punya pasukan pemanah dan pasukan meriam sama sekali yang bisa kita gunakan untuk membalas serangan jarak jauh mereka, Pangeran. Sedangkan mereka berjumlah ratusan, mungkin ribuan! terlihat dari jumlah anak panah yang meluncur kearah kita saban kali kita mencoba menyeberang”. Aji hanya diam mendengar penjelasan Mpu Arya.
“Tak satupun rakit kita yang berhasil menyeberang Batang Sinamar. Pasukan kita hanya bisa berlindung pasrah di balik tameng, bahkan untuk mencoba mengayuh rakit pun pasukan kita tidak mampu karena serangan bertubi-tubi pasukan seberang..”. Tambah Mpu Arya.
“Aaaahh…!, alasan saja itu. Ekspedisi kita selama ini tidak pernah gagal mencapai tujuan!, tapi sekali ini kita justru terhambat dua hari berturut-turut hanya karena pasukan pemanah mereka!”, umpat Aji didepan para perwiranya.
“Kita bisa menunggu pasukan yang sedang pulang dari Barumun tuan Pangeran, mereka dikabarkan berhasil mengalahkan para pemberontak di Barumun dengan mudah dan meyakinkan dan sekarang sudah dalam perjalanan balik menuju Kuntu. Pasukan kita yang pulang dari Barumun punya Kompi Pemanah dan Meriam yang lengkap. Kita bisa memobilisasi mereka ke sini dalam waktu lima hari kedepan…”, ujar Mpu Arya.
“Terlalu lama! Kita akan kehilangan kesempatan!”, Aji Mantrolot yang sudah kehilangan kesabaran dan gelap mata tidak lagi mengindahkan saran Mpu Arya. Dalam benak beliau hanya ada satu tujuan, balas dendam, sesegera mungkin!.
“Ada satu hal yang saya heran dua hari ini Pangeran. Dua hari ini kita mencoba menyeberang namun tetap gagal. Tetapi pasukan seberang anehnya tidak pernah mencoba menyeberang ke arah kita, tuan Pangeran, mereka sepertinya hanya ingin menghalangi kita tanpa bermaksud untuk menyerang balik..”, ucap Mpu Arya.
Aji Mantrolot berpikir sejenak. “Benar juga, mereka hanya mencegah pasukan kita menyeberang tapi tidak menyerang balik, kenapa..?”, rasa penasaran menyelimuti Aji Mantrolot.
*
Di seberang Batang Sinamar, di Nagari Padang Gantiang..
Dua hari ini Tuan Kadi sangat sibuk berkordinasi dengan para hulubalang yang memimpin pasukan penghadangan. Kompi tambahan kiriman Tuan Titah dari Sungai Tarok baru saja sampai tanpa kehadiran Tuan Titah yang katanya akan menyusul dibelakang, tapi Tuan Kadi tidak menugaskan mereka selain memata-matai pasukan Aji Mantrolot di seberang Batang Sinamar sekaligus ikut membantu pasukan Padang Gantiang mencegah pasukan Aji Mantrolot menyeberang. Beliau masih menunggu kedatangan Tuan Gadang dan pasukannya dari Batipuh serta Tuan Makhudum dari Sumanik, perkara dengan Raja Palokamo yang merupakan panglima perang Kerajaan Malayapura hanya bisa dihadapi dan diselesaikan oleh Panglima Perang Luhak Tanah Datar, begitu pikirnya. Tugasnya hanya menahan Raja Palokamo, beliau tidak berani menyerang balik, apalagi menangkap dan menghukumnya.
Sore hari itu memang agak mendung, tapi Tuan Kadi baru saja mendapat berita yang menenangkan hatinya dari dubalang pengawal pribadinya. “Tuan Gadang dari Batipuah, Datuak Pamuncak Alam Sati sudah datang, tuanku!, teriak dubalang tuan Kadi dari halaman rumah.
Kompi Hulubalang asal Batipuh beserta Panglima Perang Luhak Tanah Datar, Tuan Gadang akhirnya tiba di Padang Gantiang. Tuan Kadi lantas langsung mengajak Tuan Gadang naik keatas rumah gadang dan berbicara mengenai kondisi terbaru di Batang Sinamar.
“Apa yang harus saya ketahui saat ini terhadap upaya penghadangan kita, tuanku?” Tanya Tuan Gadang kepada Tuan Kadi.
Tuan Kadi lantas membuka peta Batang Sinamar, menunjukkan semua posisi pasukan, baik sebaran pasukan Aji Mantrolot, upaya mereka menyeberangi Batang Sinamar selama dua hari belakangan ini, maupun posisi pasukan penghadangan dan upaya-upaya mereka selama ini menghadang pasukan Aji Mantrolot menyeberang. Tuan Gadang mengangguk-anggukkan kepalanya sambil fokus mempelajari peta dan keterangan Tuan Kadi tersebut.
Setelah keduanya berpikir sejenak, Tuan Kadi lantas berkata, “Seperti yang tuanku ketahui, tugas kami di Padang Gantiang hanya berupaya menghambat pasukan Aji Mantrolot menyeberangi Batang Sinamar menuju Suravaca. Persoalan bagaimana tuanku akan menyelesaikan persoalan ini secara keseluruhan dengan resiko serendah mungkin bagi Luhak Tanah Datar, hamba serahkan bulat-bulat kepada tuanku sebagai Panglima Perang Luhak Tanah Datar..”, terang Tuan Kadi.
Tuan Gadang lantas menjawab, “Cara terbaik adalah dengan menangkap Aji Mantrolot, memaksanya untuk menyepakati hal-hal yang bisa memuaskan semua pihak dan membuatnya dengan suka rela keluar dari Luhak, tuanku. Tak ada cara lain, dan dia tidak boleh dilukai apalagi dibunuh!”.
“Kenapa begitu tuanku? Bukan kah saat ini adalah waktu dan tempat yang tepat untuk melumpuhkan Aji Mantrolot, toh dia sudah mengganggu ketenangan dan kedamaian Luhak Tanah Datar..?, kita punya alasan yang kuat untuk menyingkirkannya..!”, Tuan Kadi kembali bertanya.
“Saya kemarin berangkat dari Batipuh menuju Padang Gantiang melewati perbatasan Suravaca, tuanku. Apakah tuanku tau siapa yang saya temui dijalan saat saya memasuki kedatuan Padang Gantiang tadi pagi…?, Tuan Gadang lantas bertanya sambil mengulas senyum kepada Tuan Kadi.
“Siapa yang tuanku temukan di perbatasan Padang Gantiang – Suravaca..? Tuan Kadi yang penasaran dengan senyuman Tuan Gadang balik bertanya dengan cepat.
Tuan Gadang tidak menjawab, beliau seketika bangkit dari duduk bersila lantas memegang pundak Tuan Kadi sambil berbisik pelan, “Sebaiknya Tuanku ikut serta dengan saya ketempat pasukan saya sedang beristirahat, didepan Rumah ini..”, ujarnya. Tuan Kadi yang penasaran dengan ajakan Tuan Gadang lantas ikut berdiri dan mengikuti langkah Tuan Gadang ke arah pintu luar Rumah Gadang Tuan Kadi.
Sesampai mereka dipintu, Tuan Gadang dengan pelan mengajak Tuan Kadi, sambil memegang tangan beliau menuruni jenjang Rumah Gadang ke arah pasukan Hulubalang yang sedang berkumpul sambil beristirahat. Mereka berjalan sambil membelah gerombolan hulubalang lantas menuju sebuah dangau sederhana ditepi sawah didepan Rumah Gadang Tuan Kadi, disana terlihat tiga orang Pendeta yang sedang duduk beristirahat. Tuan Kadi kebingungan dengan sosok mereka ditengah Hulubalang Batipuh, “Siapa mereka Tuanku?”, bisik Tuan Kadi pelan kepada Tuan Gadang. “Mereka adalah tiga orang perwakilan Dharma Seraya utusan Puti Reno Marak Janggo Maharani Malayapura yang sedianya akan mengikuti rapat pemilihan Tuan Suravaca, Tuanku. Berkah kebaikan Tan Allah yang maha kuasa, saya secara tak sengaja berpapasan dengan mereka dan meyakinkan mereka agar membantu kita mencegah Aji Mantrolot masuk ke Suravaca dengan cara kekerasan, dan mereka bersedia” , ucap Tuan Gadang pelan.
“Oh Tuhan….”, jawab Tuan Kadi sambil tersenyum.
*
Kedua Tuanku bersama tiga Biarawan utusan Kerajaan Malayapura lantas naik keatas Rumah Gadang Tuan Kadi. Setelah saling bersilaturahmi sebentar, mereka kembali ke topik yang menjadi alasan utama mereka berkumpul saat ini.
“Namo Budhayya.., perkenalkan nama hamba Mpu Dharmma Dwaja. Hamba bersama kedua rekan hamba merupakan perwakilan dari pihak Bako mendiang Raja Akarendravarman dalam pemilihan Datuak Indharma gelar Tuan Suravaca di Kedatuan Suravaca. Maharani Puti Reno sangat sedih sekali dengan mangkatnya sepupu beliau Raja Akarendra dan mendengar saat ini sedang dilaksanakan pemilihan Tuan Suravaca yang baru beliau lantas mengirim kami untuk ikut dalam pemilihan tersebut dengan merekomendasikan pilihan kami agar bisa disepakati bersama dengan pihak Ninik Mamak di Suravaca”. Jelas kepala rombongan biarawan.
“Dan siapakah sosok pilihan Dharma Seraya selaku pihak Bako dalam pemilihan Tuan Suravaca?”, tanya Tuan Kadi kepada Mpu Dharmma.
“Jelas tuanku, pilihan kami jelas tuan Aji Mantrolot gelar Raja Palokamo, Rajo Mudo Kerajaan Malayapura, kemenakan mendiang Raja Akarendravarman, beliau yang paling berhak dan paling pantas menggantikan mamaknya baik dari jalur Ibu dan Ayah.”, jawab Pendeta Pendek.
Tuan Kadi terdiam. Beliau kemudian memandang Tuan Gadang, berharap ada tanggapan apapun dari beliau, namun Tuan Gadang hanya diam membisu membalas balik tatapan Tuan Kadi.
Seisi ruangan lantas diam. Tanpa suara apapun diantara mereka.
Biarawan melanjutkan, “Sejatinya Rajo Palokamo sendiri yang seharusnya hadir mengikuti pemilihan karena beliau adalah kandidat tunggal dari kami keluarga Bako mendiang, tetapi mengingat beliau pada saat kami diberangkatkan oleh Maharani masih berada di Kampar dan surat Maharani Puti Reno tidak kunjung mendapatkan respon dari Rajo Palokamo, maka Maharani Puti Reno meminta kami agar berangkat duluan ke Suravaca sambil menunggu Rajo Palokamo pulang menghadap Maharani Puti Reno di Dharma Seraya.”, Mpu Dharmma diam sebentar, “Tapi kami yang saat ini dalam perjalanan ke Suravaca tidak menyangka sama sekali bahwa Rajo Palokamo sudah melangkah sejauh ini kedalam Luhak, pantas saja dia tidak menjawab surat dari Maharani Puti Reno, ternyata beliau sedang dilanda amarah dan mencoba menyelesaikan perkara ini dengan caranya sendiri..”, tutup Mpu Dharmma dengan wajah sedikit kecewa.
Kembali hening.
“Apakah tuanku tidak melihat solusi dari persoalan kita saat ini dari keterangan tuan biarawan tadi?”, giliran Tuan Gadang bertanya dengan maksud memecahkan keheningan yang sudah cukup lama di baleh Rumah Gadang Tuan Kadi.
“Jika pilihan kita saat ini hanya bisa menangkap dan menghalau Aji Mantrolot dari Luhak Tanah Datar, hamba pikir tentu Lintau yang paling bisa melaksanakannya mengingat Aji Mantrolot dan pasukannya saat ini berada di wilayah Kedatuan Lintau…”, Tuan Kadi memberikan usulan.
“Tidak bisa tuanku, Lintau harus netral dalam hal ini. Tuanku tentu paham bahwa Rajo di Buo adalah salah satu perangkat Rajo Duo Selo di Luhak Tanah Datar selain Rajo di Sumpur. Lembaga Rajo Duo Selo berhubung kait dengan kelembagaan Kerajaan Malayapura, mereka masih satu keluarga besar dalam buku tali Wangsa Mauli. Rajo di Buo tak mungkin mau terlibat, makanya hamba bisa mengerti kenapa beliau membiarkan Aji Mantrolot berkemah di wilayahnya, walaupun beliau tidak mau membantu tujuan Aji Mantrolot saat ini, beliau pasti punya pertimbangan yang sama dengan kita saat ini. Kita tidak ingin perang saudara meletus di Luhak Tanah Datar..”, Tuan Gadang menerangkan.
Tuan Kadi hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
“Lantas bagaimana kita bisa menangkapnya, manakala dia selalu dijaga pengawal-pengawalnya yang dari Majapahit itu?”, tanya Tuan Kadi setelah sekian lama berpikir.
“Itu biarlah menjadi urusan saya, Tuanku. Kita hanya perlu memberi sedikit jalan dan membiarkan dia dan pengawalnya menyeberang, lalu hamba dan pasukan hamba akan menyergapnya setibanya dia di seberang. Tugas tuanku nanti bersama Tuan Titah dan Tuan Makhudum, para pemangku Limbago Basa IV Balai Luhak Tanah Datar dan dibantu oleh para Biarawan Dharma Seraya yang saat ini mengerti dengan keadaan kita dan mendukung upaya kita nanti adalah bernegosiasi dengan beliau, membujuk beliau dan menenangkan beliau agar beliau mau mengalah dan menghentikan tindakan cerobohnya tentunya Tuanku sekalian lebih paham cara menghadapi persoalan ini dibanding hamba..”, jawab Tuan Gadang sambil tersenyum.
“Yang jelas…”, Tuan Gadang mengambil nafas, “Kita harus menghormati proses adat yang berlangsung di Suravaca saat ini. Jika Aji Mantrolot benar-benar ditakdirkan terpilih menjadi Tuan Suravaca, maka hamba minta kelembagaan Basa IV Balai bisa menerima kedatangan Aji Mantrolot dengan tangan terbuka sebagai salah satu dari Basa Nan Ampek di Luhak Tanah Datar..”, ucap Tuan Gadang Datar.
Tuan Kadi terdiam. Semua pikiran berkecamuk didalam pikirannya, beliau tak mampu berkata-kata.
Yang terjadi selanjutnya adalah bisikan-bisikan pelan antar Tuan Kadi, Tuan Gadang dan rombongan Biarawan Dharma Seraya terkait persoalan materi negosiasi nantinya dengan Aji Mantrolot, sementara di tepian Batang Sinamar tembakan panah masih riuh meluncur deras di udara.
*
Hari sudah menjelang gelap.
Sudah berkali-kali percobaan menyeberang yang gagal.
“Malam…! Malam ini kita akan menyeberang dalam gelap!”, ujar Aji Mantrolot kepada para perwiranya sambil memandang cahaya bulan yang saat ini tertutup awan mendung.
“Seluruh pasukan yang ada saat ini upayakan kembali menyeberang sebentar lagi saat sudah benar-benar gelap, sementara aku dan sepuluh orang, termasuk kau Mpu Arya, akan menggunakan jalur lain sedikit ke hilir untuk menyeberang, tanpa cahaya. Setibanya nanti diseberang kita akan menyisir pelan dan melarikan diri dalam senyap kearah Suravaca dalam kelompok kecil sahaja..”, ujar Aji. “Aku butuh segera sampai di Suravaca untuk mengkonsolidasikan pasukan mendiang Mamak ku untuk menyerang Kedatuan Dusun Tuo, aku bersumpah akan menggorok leher Datuak Bandaro Kuniang yang telah berani membunuh Mamakku..”, Aji bertitah dengan mimik serius.
Maka terjadilah..
Sebagian besar pasukan tetap mencoba menyeberang sungai dengan posisi kelihatan untuk mengecoh pasukan pemanah Tuan Kadi agar fokus menyerang mereka. Sementara Aji Mantrolot dengan pasukan kecil, tanpa cahaya menggunakan rakit lainnya sedikit kearah hilir ikut menyeberang dalam pekat malam.
Yang Aji Mantrolot tidak ketahui, bahwa pergerakan mereka sudah dipantau oleh pasukan khusus Tuan Gadang yang memang sudah paham medan dan taktik perang. Mereka bergeser mengikuti arah pasukan “gelap” Aji Mantrolot juga tanpa penerangan.
Lokasi pendaratan sudah diperkirakan.
Tuan Gadang dan sekitar tiga puluh orang Hulubalang terbaik Nagari Batipuh mengendap-ngendap dan menunggu dalam diam, bersiap sedia menyergap rombongan Aji Mantrolot yang mulai melakukan penyeberangan.
*
Gemericik arus sungai yang riuh menyulitkan pendengaran. Tapi Aji bersama rombongan sudah melihat tepian seberang dengan jelas dari pantulan cahaya lemah nan temaram dari bulan yang sedikit menerangi arus sungai malam itu. Setelah beberapa kayuhan pelan nan senyap mereka akhirnya sampai ditepian seberang Batang Sinamar. Rombongan Aji mengintai sebentar lalu mulai melangkah pelan menyusuri tepian sungai untuk mencari jalan masuk, menjauh dari tepi sungai.
“Hentikan langkahmu Rajo Palokamo!”, teriak seseorang dari balik rerimbunan alang arah depan rombongan. Seketika saja tempat mereka lantas diterangi cahaya obor yang seketika itu dihidupkan oleh pasukan Tuan Gadang.
Aji Mantrolot dan rombongan terkejut dan segera menarik pedang dari sarung mereka masing-masing. Saling berhadapan dalam posisi waspada, kedua rombongan saling mengukur lawan masing-masing. Aji lantas memandang ketengah rombongan yang menghadang, melihat sosok berpakaian Hulubalang serba hitam dengan les berwarna kuning serta tanjak harimau dikepala, “Tuan Gadang dari Batipuh!”, ucapnya setengah berteriak sambil memandang sosok didepannya.
“Jangan teruskan upaya Tuan menuju Suravaca!”, teriak Tuan Gadang.
“Perkara itu bukan Tuan yang berhak memutuskan!”, jawab Aji sambil mengayunkan pedang ke arah Tuan Gadang.
Perkelahian pun terjadi, sepuluh orang rombongan Aji melawan tiga puluh orang rombongan Tuan Gadang. Dentang besi tajam yang saling beradu memecah kesunyian malam. Dubalang terbaik Batipuh melawan pasukan Bayangkara terbaik yang dibawa Aji Mantrolot. Pertarungan berlangsung sengit, satu persatu korban tumbang mencium tanah dari kedua belah pihak.
Pasukan Aji Mantrolot tentu saja kewalahan. Walau imbang secara kemampuan, mereka kalah jumlah. Pasukan Aji Mantrolot saat ini hanya tersisa tiga orang bebanding belasan pasukan tuan Gadang yang masih berdiri mengayunkan pedang.
Sedangkan dirinya sendiri saat ini masih jual beli tebasan pedang dengan Tuan Gadang. Saling tebas, saling mengelak, saling menangkis. Keduanya tak sedikitpun mundur dari pijakan kakinya. Keduanya ngotot.
“Cukup! Rajo Palokamo!”, teriak Tuan Gadang menggelegar.
Aji Mentrolot melihat disekelilingnya, mereka tinggal empat orang, sisanya sudah terluka berat, terkapar bersimbah darah di sepetak lahan yang mereka jadikan arena adu pedang saat ini.
Tuan Gadang yang melihat Aji Mantrolot kehilangan sebagian besar dari rombongannya lantas berkata, “Apakah Tuan akan tetap mengayunkan pedang tuan itu sampai tak satupun dari kita sanggup berdiri lagi, atau Tuan memilih kita membicarakan ini baik-baik ditempat yang lebih pantas?”.
“Aku takkan sudi menyarungkan pedangku dihadapan musuh!”, jawab Aji Mantrolot sinis.
“Hamba saat ini sedang berbicara dan meminta kepada anak kemenakan Kedatuan Suravaca!, bukan kepada Panglima Perang Kerajaan Malayapura!”, jawab Tuan Gadang berang.
Mendengar hal tersebut, Aji Mantrolot lantas terdiam, menyurutkan langkah dengan perlahan, menghitung kemungkinan-kemungkinan. Kalau dia memutuskan melanjutkan pertarungan, jelas dia akan kalah dan pupuslah peluangnya mencapai Suravaca. Aji sadar betul bahwa dia tidak punya pilihan lain selain menyerah. Dia kemudian lantas menyarungkan kembali pedangnya dengan perlahan, pasukannya yang tersisa tiga orang memandang pilihan pimpinannya lantas melakukan hal yang sama. Mpu Arya Mega tangan kanan Aji, tetap waspada kearah pasukan lawan, matanya liar memantau semua gerakan sekecil apapun.
“Ke mana Tuan akan membawa kami?”, tanya Aji Mantrolot kepada Tuan Gadang.
“Ke Bukit Atar Padang Gantiang. Kita akan berbicara baik-baik disana. Tuan Kadi,Tuan Titah dan Tuan Makhudum, pemangku Limbago Basa IV Balai Luhak Tanah Datar serta beberapa orang lainnya sudah menunggu kehadiran Tuan Suravaca disana..”, tandas Tuan Gadang.
Aji tersentak kaget bulan kepalang, “Tuan Suravaca..? Maksudnya apa..!, Tuan Suravaca sudah Mati dibunuh oleh Datuak Bandaro Kuniang dari Dusun Tuo! Aku kesini untuk membalaskan kematian mamakku!”, teriak Aji Mantrolot yang tiba-tiba terbayang sosok mendiang Mamaknya, Raja Akarendravarman. Kepalan tangannya mengeras, hampir saja dia membatalkan tindakan menyerahnya gara-gara ucapan Tuan Gadang yang dianggapnya sebagai bentuk cemooh kepada nya.
“Di sana saja nanti kita bicarakan, Tuan, tahan dulu amarahmu. Kecerobohan tuan saat ini tidak lebih tidak kurang adalah akibat dari kemarahan Tuan yang kerap meletup-letup itu..”, jawab Tuan Gadang, pendek dan sinis.
Tatapan Aji kepada Tuan Gadang mengeras, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.






Discussion about this post