• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Aji Mantrolot – Penggalan II: MADA

Dewang Kara Sutowano Oleh Dewang Kara Sutowano
6 November 2025
in Aji Mantrolot
1k 55
0
Home Aji Mantrolot
BagikanBagikanBagikanBagikan
  • About
  • Latest Posts
Dewang Kara Sutowano
Dewang Kara Sutowano
Dian Ihkwan S.IP, dengan nama pena Dewang Kara Sutowano, seorang penikmat sejarah Minangkabau. Hadirnya serial Cerita Pendek yang berbalut sejarah ini semata-mata bertujuan untuk melihat Maharaja Adityavarman dari sudut pandang yang berbeda, agar ada perimbangan sejarah yang adil atas sosok Raja Malayu tersebut.
Dewang Kara Sutowano
Latest posts by Dewang Kara Sutowano (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026
  • Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII) - 24 November 2025
  • Aji Mantrolot: Penggalan VII – Kabau Gadang Bagian V - 30 Oktober 2025

PENGGALAN II: MADA…!

Oleh: Dewang Kara Sutowano

“Yuang…”, suara ringkih perempuan tua yang berasal dari bilik dapur memecah lamunan pemuda yang baru saja selesai menyusun beberapa helai baju dalam sebuah bungkusan kain. Beliau lantas menyapu pandangan ke ruang tengah rumah gadang tempat beliau bersimpuh saat ini lantas berguman dalam hati, “semoga keputusan ku meninggalkan kampung halaman hari ini sudah benar, wahai Sang Hyang Widhi yang Maha Mengetahui”. Beliau lantas bangkit dan merapikan ikatan sabuk pinggang dan kembali mendengar panggilan lirih dari Mandeh-nya didapur, “Iya, Mandeh, tunggu sebentar…”.

“Pukul berapa rombongan dari Sungai Lansek akan berangkat ke Dharma Seraya, Nak…?”, tanya Mande ke pemuda tersebut. “Tak berapa lama lagi, Mandeh. Aku harus menemui dulu Angku Guru di Surau Koto Tuo untuk berpamitan kepada beliau sebelum berangkat”. Si Pemuda hanya diam membisu sambil memandang ibunya yang sedang menyiapkan bekal untuk Pemuda tersebut yang dibungkus dengan sehelai daun pisang muda yang sudah diasapi.

“Yakin Ang akan berangkat ke Dharma Seraya, Yuang, Ang kan tahu bahwa ibukota Kerajaan Malayu itu baru saja dilanda serangkaian peperangan dan sekarang dalam keadaan yang porak poranda?, Negeri kita ini belum aman nak, masih banyak ancaman-ancaman yang datang dari armada tentara Kekaisaran Mongol yang masih terus menyerang kapal-kapal yang berlayar disepanjang Batang Hari. Apa sebenarnya yang Ang cari disana, yuang?”, ibu si Pemuda tiba-tiba menatap wajah anaknya penuh kecemasan.

“Aku ingin merantau, Mandeh. Bertahun-tahun aku belajar macam-macam ilmu, dan beberapa malam yang lalu di Surau aku dinyatakan sudah Putuih Kaji oleh Angku Guru. Lalu apalagi yang mesti aku lakukan selain dari merantau..?”, si Pemuda menatap pintu dapur, pintu yang akan menjadi pemisah antara dia dengan Ibunya beberapa saat lagi.

“Tetapi bukankah ilmumu bisa kau pakai untuk menjaga Kampung, menjaga Nagari? Bukankah kepandaianmu bisa kau gunakan untuk menjaga Rumah Gadang Kita?”, sang Ibu beranjak mengambil air putih dan menuangnya perlahan kedalam buluh air.

“Tapi aku ingin melihat dunia luar, Mande. Beberapa hari lagi akan ada sayembara kerajaan yang akan memilih Dubalang-Dubalang terbaik di seantero Kerajaan Malayu untuk membangun kembali resimen-resimen militer baru paska tercerai berainya kekuatan kerajaan setelah perang yang berlangsung lebih dari satu dekade lamanya. Banyak diantara kawan-kawan seperguruanku di Surau Koto Tuo Sungai Lansek yang akan mengikuti sayembara tersebut. Apa gunanya aku belajar silat dan memutus kaji jika aku tidak bisa mengabdi kepada Kerajaan, Mandeh?”.

*

“Terserah Ang saja lah buyuang, Mande hanya khawatir. Maafkan ibumu ini, Nak, tapi sebagai perempuan yang membesarkanmu, Mandeh hanya khawatir…”, suara Ibu terdengar melemah dalam pasrah mengetahui kekerasan hati si Pemuda.

“Jangan khawatir, Mandeh. Aku akan baik-baik saja. Doakan usaha ku saat ini akan mengangkat derajat keluarga kita. Keluarga kita adalah keluarga pendekar dan aku ingin berkarir di Militer Kerajaan, tidak sekedar jadi Dubalang Kampung. Aku ingin menjadi pejabat, Mandeh. Aku ingin punya harta dan kuasa, aku melakukan itu semua untuk keluarga kita, untuk Mandeh. Tak ada gunanya aku di kampung ini jika aku harus menghabiskan hidupku membajak sawah seperti kerbau, aku bukan kerbau Mandeh, aku ini Gajah, Gajah yang berwibawa dan disegani kemanapun dia melangkah…”, tatapan pemuda terlihat berbinar-binar dalam angan-angannya.

“Ang memang Gajah, tapi Gajah yang Mada, keras hati dan tak mau diberi pengertian. Terserah kau lah yuang, Mandeh selalu mendoakanmu..”, tutup ibu sambil merapikan rimah-rimah di atas meja.

*

“Yuang, sudah siap Ang..?!”, terdengar seruan seorang pemuda berbaju pendekar dari luar rumah yang memotong pembicaraan si Pemuda dengan ibunya. Setelah serangkaian persiapan kecil dilakukan, maka keberangkatan Pemuda dilepas dengan sebuah upacara sederhana di halaman rumah, si Pemuda berbaring di atas tanah di depan pintu masuk Rumah Gadang, lalu sang Ibu melangkahi tubuh anaknya bolak balik sebanyak 3 kali. Tradisi leluhur ini punya makna simbolis bahwa orang tua sudah merelakan kepergian sang anak dan berharap anaknya tetap ingat dengan kampung halaman dan orang tuanya ketika nanti sudah sukses di rantau.

“Jadi, kira-kira akan jadi apa kita kelak diperantauan yuang?, kawan pemuda tadi bertanya sambil mereka melangkah kan kaki mereka menuju Surau menemui Angku Guru untuk meminta restu memulai perjalanan panjang mereka ke Padang Roco, Dharma Seraya.

“Soal menjadi apa kita nanti itu pilihan, sanak. Kau bisa menjadi gagak, monyet, harimau atau bahkan serigala, tergantung dari niat awal kau merantau”, jawab si Pemuda Pendek.

“Ang sendiri mau jadi apa, Yuang?”, teman si Pemuda kembali bertanya. Pemuda tersebut tersenyum sebentar lalu berkata, “Aku ingin menjadi Gajah, sanak. Gajah Mada, gelar yang diberikan oleh Mandeh ku tadi pagi. Kawan si Pemuda tergelak, “cocoklah dengan angan-angan Ang yang sebesar Gajah itu, yuang!”.

*

Angin masih sepoi-sepoi membelai rumpun betung menuju Surau.

“Oh, iya, yuang…”, kawan pemuda tadi memecah lamunan dalam perjalanan mereka. “Aku dapat kabar bahwa Kerajaan Malayu telah mengikat janji dengan Kerajaan Singhasari dan akan melakukan perkawinan antar bangsawan Malayu dan Javadvipa sebentar lagi, putri kerajaan Dara Petak beserta rombongan akan berangkat ke tanah Java dalam waktu 6 bulan kedepan, dan rekrutmen yang rencananya akan kita ikuti beberapa hari kedepan ini bertujuan untuk memilih para pengawal yang akan menjadi pasukan pengantar Putri Kerajaan ke Singhasari”.

Mata si Pemuda berbinar, “Wah! Kalau kita lulus karir kita akan segera melejit, kawan. Dalam 6 bulan saja kita akan langsung menjadi bagian dari militer resmi diplomasi antar kerajaan, lho..”, ujar si pemuda dengan wajah sumringah.

“Semoga impianmu itu memang menjadi kenyataan, yuang. Tinggi betul itu..!”, timpal si kawan.

“Hahaha…! Umpama ucapan mantra lama: Om Pim Pa Alayum Gambreng!, Dari Tuhan semua berasal dan Kepada Tuhan semua berpulang!, mari kita mulai saja petualangan ini, kawan.”, Buyuang berbisik sambil tersenyum kepada kawannya.

BERSAMBUNG.

—————————————

Tags: Budaya

Related Posts

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
3 Februari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Oleh Dewang Kara Sutowano
25 November 2025

Manakala sidang pemilihan Datuk Indharma gelar Tuan Suravaca sudah memasuki hari ke lima… Sore itu di tepian Nagari Sitangkai...

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Posisi bulan sudah cukup tinggi, malam itu sangat tenang, hampir tak ada angin, sebuah pasukan yang tak lebih besar...

Next Post
NAN TUMPAH MASUK SEKOLAH 2025 SELESAI, KSNT SIAPKAN PROGRAM PRAFESTIVAL PEKAN NAN TUMPAH 2025 YANG LAIN

NAN TUMPAH MASUK SEKOLAH 2025 SELESAI, KSNT SIAPKAN PROGRAM PRAFESTIVAL PEKAN NAN TUMPAH 2025 YANG LAIN

Aji Mantrolot – Dewan Kara Sutowano: Kabau Gadang (Bagian I)

Aji Mantrolot - Dewan Kara Sutowano: Kabau Gadang (Bagian I)

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In