
AJI MANTROLOT
(Sebuah Cerita Panjang Yang Sengaja Dicerai-berai)
Penggalan V:
KABAU GADANG (Bagian III)
Oleh: Dewang Kara Sutowano
—
Suasana Balairung Sari kembali gaduh, Datuak Bandaro Kayo yang melihat kondisi sidang semakin tidak kondusif buru-buru menenangkan peserta sidang, “Tenang.., tenang dulu angku-angku sekalian, kita sama bingungnya saat ini dengan keterangan Datuak Bandaro Kuniang persoalan Datuak Indharma alias Raja Akarendravarman ini, tapi tenang dulu semua…”, ujar beliau.
“Jadi angku datuak Bandaro Kuniang, apakah benar keterangan tuan datuak tersebut..? Bahwa Raja Akarendravarman wafat dengan cara dibunuh..? Kami beberapa waktu yang lalu mendengar kabar Datuak Indharma meninggal dunia karena sakit tua dan dikuburkan di Nagari Suravaca. Kenapa angku mengatakan bahwa dia mati dibunuh di V kaum, Apa sebenarnya yang terjadi, angku…?”, pertanyaan Datuak Bandaro Kayo bertubi-tubi seperti tak ada sudahnya menghujam ruang sidang.
Setelah diam sebentar sambil mencerna dengan saksama pertanyaan Datuak Bandaro Kayo, maka Datuak Bandaro Kuniang menjawab, “Datuak Indharma, penguasa Kedatuan Suravaca mati dibunuh oleh para dubalang kami di jenjang Rumah Gadang kami di V Kaum. Mayat yang dikremasi oleh mereka pada saat itu bukanlah mayat Datuak Indharma, informasi yang kami dapatkan menyebutkan bahwa yang dianggap mayat itu adalah sebuah batang pisang yang ditutup kayu bakar lantas dikremasi didepan sejumlah saksi dari pihak keluarga yang terbatas jumlahnya. Mayat asli Datuk Indharma sendiri sudah kami kubur diperbatasan Nagari V Kaum saat ini, tidak bertanda, tidak bernisan”.
Datuak Bandaro Kayo termanggu. Semua termanggu memandang keterangan Datuak Bandaro Kuniang. “Bagaimana bisa..?”, pikir Datuak Bandaro Kayo dalam kebingungannya.
Genggaman tangan kiri datuak Bandaro Kuniang pada gagang tombak Buluh Jonggi semakin menguat. Tangan kanannya sendiri menggenggam ganggang keris dipinggangnya. Semua melihat postur Datuak Bandaro Kuniang. “Ijinkan saya menjelaskan kepada angku-angku sekalian apa yang terjadi malam itu..”. Tak ada yang menyahut, tidak juga Datuak Bandaro Kayo. Semua memperhatikan.
“Persoalan kaum kami dengan Datuak Indharma sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Sudah kami tahan selama ini dengan harapan dia takkan mengganggu kami khususnya keluarga kami lagi. Semuanya berawal dari sebuah acara adat yang kami laksanakan di Rumah Gadang kami di V Kaum beberapa bulan yang lalu yang mengundang beliau. Pada saat acara beliau memperhatikan anak gadis kami bernama Puti Reno Jongah yang sedang melaksanakan acara. Tak tau dari mana, gelap matanya, mendesir hasratnya, tertarik dia sama anak hamba..”. Seisi ruangan masih hening.
Datuak Bandaro Kuniang melanjutkan, “Sebanarnya kami dari keluarga tidak masalah, jika anak kami menikah dengan dia yang merupakan seorang pemimpin Kedatuan Suravaca, istilah menyebut Tapiak Dalam Tapian . Siapa pula yang tak mengenal beliau, seorang Datuak bergelar Raja yang kaya raya dari Nagari penghasil emas di Suravaca, negeri emas bak kata orang..”, datuak Bandaro Kuniang berhenti sebentar, lalu melanjutkan. “Yang jadi masalah adalah cara dia memperlakukan kami sebagai keluarga besar di V Kaum..”.
“Lanjutkan angku Datuak Bandaro Kuniang..”, ujar Datuak Bandaro Kayo sambil menyimak.
“Puncaknya terjadi sekitar 2 minggu yang lalu. Beliau mengirimkan Dubalangnya berserta orang suruhannya datang ke Rumah Gadang kami untuk melamar anak kami. Menyampaikan maksudnya untuk menjadikan anak kami sebagai selir kesekian bagi dirinya, saya tanya sama yang melamar selain karena kesukaanya, apa motif lainnya dia ingin melamar anak kami, si pelamar tidak menjawab malah mengancam jika tidak diberikan restu maka Rajo Palokamo sendiri yang akan datang dan menjemput anak kami secara paksa dalam dua hari kedepannya dengan cara apapun, terus terang kami sebagai urang babangso merasa tersinggung dan tertantang.
Datuak Bandaro Kuniang kemudian melanjutkan, “malamnya saya berdiskusi dengan pihak limpapeh rumah nan gadang kami terkait persoalan ini. Semua menyatakan penolakannya, termasuk anak saya sendiri menolak dikawinkan hanya untuk dijadikan selir saja oleh beliau. Namun ancaman nyata dari perwakilan beliau yang jelas-jelas menantang dan menghina keluarga besar kami harus kami balaskan. Kami juga menaruh kecurigaan besar dengan motif lain dari Datuak Indharma ini menikahi anak saya..”.
“Motif lain bagaimana maksudnya Angku Datuak?”, Datuak Bandaro Kayo bertanya.
“Seperti yang Angku Datuak Bandaro Kayo dan seluruh Angku-Angku Panghulu yang hadir disini ketahui, Kedatuan Dusun Tuo berserta Nagari-Nagari yang beraliansi adalah pendukung utama dari Kelarasan Bodi-Chaniago pimpinan Datuak Parpatih Nan Sabatang. Adaik yang kami pegang adalah Bulek Aia dek Pambuluah, Bulek Kato dek Mufakaik. Kami ini Duduk Samo Randah, Tagak Samo Tinggi dan hanya Barajo ka Kato Mufakaik, tidak beraja ke yang lain, apalagi merajakan ke orang bersifat Maharajo Lelo macam datuak Indharma itu, pantang bagi kami. Cara orang suruhan Datuak Indharma ini terus terang bertendensi memaksa kami untuk patuh dan tunduk pada keinginan tunggal tanpa kesepakatan dari kedua belah pihak”. Datuak Bandaro Kuniang lalu melanjutkan, “Kami tau dia seorang Datuak bergelar Raja, dia punya ladang emas di nagari yang dikuasainya, keangkuhan dan ambisinya ingin melakukan perluasan ladang emasnya dan pengaruhnya di seluruh Luhak Tanah Datar ini, hingga ujung-ujungnya suatu saat dia ingin menguasai Pariangan sebagai Pusek Jalo Pumpunan Ikan di Pulau Paco. Selain tentu saja, memuaskan hasrat beliau sebagai “Tukang Kawin”. Sifat Gadang Malendo Datuak Indharma Raja Akarendra ini menyinggung kami dan menurut kami juga mengancam kedamaian Luhak Tanah Datar ini harus dibalas.
“Dan dengan apa Angku membalasnya?”, Datuak Katumanggungan sejurus bertanya.
“Dengan Tubo”, jawab Datuak Bandaro Kuniang singkat.
Seisi Balairung Sati bergumam pelan, berbisik diantara mereka, sejurus kemudian hening sambil kembali memandang Datuak Bandaro Kuniang.
Datuak Bandaro Kuniang diam sebentar memperhatikan sekelilingnya. Lalu melanjutkan keterangannya, “Kami mempersiapkan diri, Dubalang kami sebar disekeliling rumah gadang bahkan di batas-batas nagari untuk berjaga-jaga jika kami harus bentrok melawan orang-orang suruhan Datuak Indharma. Tapi tak ada orang lain diluar pihak Rumah Gadang yang tahu, ini urusan keluarga kami, cukup kami saja yang tau. Tubo Kalimayia kami persiapkan melalui secangkir kopi yang dihidangkan bersama hidangan lain. Dan empat orang Dubalang dari suku Chaniago yang disiap-siagakan di teras Rumah Gadang kami, salah satunya memegang Tombak Buluah Jonggi ini sebagai senjatanya”.
*
Alam pemandangan peserta sidang di Balairung Sari dibawa kembali pada detik-detik kejadian oleh Datuak Bandaro Kuniang.
“Datuak Indharma datang sekitar pukul sepuluh malam, sendiri dan hanya ditemani oleh dua orang Dubalang dari Suravaca. Entah kenapa dia yang sudah mengancam satu nagari memilih datang sendiri malam ini, konon kabarnya dia datang dalam keadaan mabuk tuak, separoh sadar dan sudah hampir kehilangan akal sehatnya. Kami tidak menghalangi beliau naik keatas rumah gadang, kami menunggu beliau datang dengan hidangan terhidang sambil mempersilakan dia duduk”, Datuak Bandaro Kuniang menceritakan.
“Jadi, bagaimana jawaban Angku atas lamaran hamba kemarin..?”, Datuak Indharma bertanya tanpa lagi berbasa basi.
“Apakah tidak sebaiknya Angku duduk dulu sambil mencicipi hidangan yang sudah kami persiapkan ini, Tuanku Rajo?”, Datuak Bandaro Kayo mencoba bersikap wajar.
Datuak Indharma yang kelihatan sempoyongan karena pengaruh tuak, lantas berusaha untuk duduk bersila dan memandangi hidangan diatas lantas Rumah Gadang.
“Puti…, bawakan air Nira untuk Angku Datuak…”, Datuak Bandaro Kuniang memanggil Puti Reno Jongah yang sedang berada didapur.
Puti Reno Jongah kemudian muncul dari balik tirai dapur membawakan secangkir air Nira yang sudah dibubuhi racun tubo untuk dihidangkan kehadapan Datuak Indharma. Munculnya sosok Puti yang berparas ayu yang diidam-idamkan oleh Datuak Indharma ditambah kondisi mabuk beliau membuat pertahanan batin beliau lengah.
Gelas air Nira menyentuh lantai Rumah Gadang. Mata Datuak Indharma tak berkedip memandang wajah Puti yang umpama cahaya bulan. Jemari Datuak Indharma memegang gagang cangkir, mengangkat dan meminum air Nira yang terhidang.
“Kok indak lalu dek Angin, jo Aia kito titipkan…”, gumam Datuak Bandaro Kuniang menutup bacaan Manto untuk racun Tubo yang dipasang.
Datuak Indharma bukanlah orang yang “kosong”, beliau adalah orang yang berilmu tinggi, ahli bela diri dan memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi. Sejurus dia meneguk tegukan pertama dari gelas air Nira, tubuhnya langsung berontak. Sadar bahwa dia sedang diracun, Datuak Indharma lantas menghentikan meminum, melempar gelas kearah samping dan meludahkan sisa-sisa air Nira didalam mulutnya. Wajahnya memerah, emosinya memuncak, namun tubuhnya sempoyongan. Efek mabuk membuat racun yang masuk kedalam tubuh Datuak Indharma semakin cepat bereaksi, Datuak Indharma merasakan sakit luar biasa pada perutnya.
“Kurang ajar!, Angku mencoba meracuni hamba?!”, teriak Datuak Indharma kepada Datuak Bandaro Kuniang yang secara hati-hati dan penuh waspada berangsur tegak dari duduknya.
“Imbalan yang sudah pantas bagi kepongahan dan kesombongan Angku terhadap keluarga hamba!, jangan angku sangka hamba tidak tau maksud sebenarnya Angku mengawini anak hamba, dan jangan pula Angku beranggapan Angku bisa semena-mena dengan kami!”, jawab Datuak Bandaro Kuniang sambil memegang hulu keris, memutar gagang nya ke arah kanan, siap-siap untuk mencabutnya.
Datuak Indharma tidak kehilangan akal.
Melihat posisi Puti Reno Jongah yang histeris dan lengah, maka secepat kilat tangannya menarik tangan Puti dan menariknya kearah beliau untuk dijadikan tameng.
Dua orang Dubalang Suravaca yang sadar telah terjadi keributan didalam Rumah Gadang, lantas berlarian naik dari jenjang kearah teras dimana empat orang Dubalang Rumah Gadang sudah berdiri dan menghadang.
Perkelahian tidak terhindarkan.
Ditengah perkelahian antara Datuak Indharma dan Datuak Bandaro Kuniang di ruang tengah Rumah Gadang dan Dua Dubalang Suravaca melawan Empat Dubalang Rumah Gadang, datuak Indharma berupaya untuk melarikan diri dari Rumah Gadang sambil membawa Puti Reno Jongah. Seharusnya mudah, mengingat beliau mempunyai ilmu silat yang tinggi. Namun keadaan beliau yang sedang mabuk ditambah efek racun yang membuat perut beliau seperti terbakar hebat mengakibatkan beliau kesulitan untuk melayani serangan dari Datuak Bandaro Kuniang, dan saat ini beliau terdesak dipintu utama rumah gadang. Datuak Bandaro Kuniang sendiri tidak bisa menyerang bebas Datuak Indharma karena dia menggunakan anaknya sebagai tameng.
Diteras rumah, dua orang Dubalang Suravaca pun kewalahan menghadapi empat Dubalang Rumah Gadang. Yang satu terdesak ke arah kiri teras sementara yang satu terdesak kekanan, masing-masing harus melawan dua orang.
Namun terdesaknya Dubalang Suravaca kesamping membuat jalan dari pintu rumah gadang ke jenjang menjadi terbuka. Datuak Indharma melihat kesempatan untuk kabur. Sambil perlahan menarik Puti Reno Jongah kebelakang, Datuak Indharma terus menggeser tubuhnya ke arah luar menuju jenjang, berharap bisa turun dari jenjang Rumah Gadang dan melarikan diri.
Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kaki Datuak Indharma tersandung kayu pembatas pintu Rumah Gadang, beliau roboh bersama Puti Reno Jongah dan terhimpit tubuh perempuan pujaan hatinya. Dubalang Suravaca yang terjebak di bagian kiri teras mendengar bunyi gedubrak dibelakangnya lantas menoleh melihat ke arah Datuak Indharma, Dubalang Rumah Gadang yang menjadi lawannya melihat kelengahan Dubalang Suravaca lantas memanfaatkannya dengan melakukan sabetan Kerambit Kuku Harimun kearah perut Dubalang Suravaca, memelintirnya kemudian menariknya sehingga terburailah isi perut sang Dubalang.
Datuak Indharma yang melihat satu Dubalangnya tumbang, mencoba bangkit. Melepaskan himpitan tubuh Puti Reno Jongah dan mencoba kabur meninggalkan Rumah Gadang. Baru satu kaki beliau menginjak anak jenjang pertama, sebuah tombak yang berasal dari Hulubalang Rumah Gadang yang tadinya berjibaku di teras bagian kiri yang rekannya berhasil menumbangkan Hulubalang Suravaca melesat kearah punggung Datuak Indharma..
“Bleessshh…!”, tombak beracun yang konon berasal dari pemberian adat dari seorang penghulu besar dari negeri timur jauh (kemungkinan dari negeri Banjar di Kalimantan) kepada Nagari V Kaum, melesat menembus punggung Datuak Indharma, menghujam jantungnya.
Dubalang Suravaca yang sedang berjibaku di sisi kanan teras kemudian meloncat ke bawah melintasi teras Rumah Gadang, lalu langsung mendekap Datuak Indharma.
Diantara nafas Datuak Indharma yang tersengal-sengal, Datuak Indharma mengucapkan kalimat terakhirnya, “Lari kau segera, sampaikan kepada keluargaku di Suravaca, biarkan penggantiku yang akan membalaskan dendamku”. Datuak Indharma kemudian tewas seketika. Si Dubalang tak berpikir panjang langsung lari ambil langkah seribu dari lokasi, menghilang dalam gelap, menuju Suravaca.
“Hei.., jangan lari kau..!”, teriak Dubalang Rumah Gadang sejurus mengejar satu-satunya Dubalang Suravaca yang tersisa. Namun beliau gagal dihentikan, sudah menghilang dibalik semak tinggi di seberang Rumah Gadang.
*
Pertempuran telah usai.
Datuak Bandaro Kuniang, sambil mendekap anak gadisnya Puti Reno Jongah tertegun di atas jenjang Rumah Gadang memandang ke bawah, ke arah jasad Datuak Indharma yang tertelungkup dengan tombak menancap dipunggung.
Beliau kemudian memanggil semua Dubalang, “Kalian panggil Ampanglimo Nagari yang saat ini sedang berjaga di perbatasan Nagari V Kaum, kita harus mendiskusikan di mana mayat Datuak Indharma ini akan kita kuburkan, dan kita harus menguburkannya malam ini juga…!”
“Baik Angku!”, jawab para Dubalang singkat.
———————————————-
BERSAMBUNG






Discussion about this post