• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Rabu, Februari 4, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Aji Mantrolot – Dewan Kara Sutowano: Kabau Gadang (Bagian I)

Dewang Kara Sutowano Oleh Dewang Kara Sutowano
6 November 2025
in Aji Mantrolot
1.1k 11
0
Home Aji Mantrolot
BagikanBagikanBagikanBagikan
  • About
  • Latest Posts
Dewang Kara Sutowano
Dewang Kara Sutowano
Dian Ihkwan S.IP, dengan nama pena Dewang Kara Sutowano, seorang penikmat sejarah Minangkabau. Hadirnya serial Cerita Pendek yang berbalut sejarah ini semata-mata bertujuan untuk melihat Maharaja Adityavarman dari sudut pandang yang berbeda, agar ada perimbangan sejarah yang adil atas sosok Raja Malayu tersebut.
Dewang Kara Sutowano
Latest posts by Dewang Kara Sutowano (see all)
  • SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026
  • Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII) - 24 November 2025
  • Aji Mantrolot: Penggalan VII – Kabau Gadang Bagian V - 30 Oktober 2025

AJI MANTROLOT
(Sebuah cerita panjang yang sengaja dicerai berai)

Penggalan III:
KABAU GADANG (Bagian I)
Oleh: Dewang Kara Sutowano

Malam itu Datuak Parapatiah Nan Sabatang sedang berpikir keras di ruang tengah Rumah Gadang Suku Dalimo Singkek bersama Mamaknya, Datuak Suri Dirajo. Diskusi setengah berbisik mereka yang sudah berlangsung sejak petang tadi membahas situasi rumit di Kedatuan Pasumayam Koto Batu, solusi yang dihasilkan dari diskusi panjang tersebut memang banyak, tapi tidak ada diantaranya yang merupakan sebuah solusi yang mudah, dan semua solusi yang ada berpotensi menimbulkan malapetaka yang lebih besar jika diperjalanannya nanti ada perubahan situasi dan kondisi yang memang belakangan tidak menentu.

Kedatuan Pasumayam Koto Batu, yang merupakan “Pusek Jalo Pumpunan Ikan di Bhumi Malayu”, baru saja menyelesaikan sebuah “sengketa rumit” di Kenagarian Batipuah. “Perang Basosoh” yang terjadi antara kelompok pendukung Kelarasan Bodi Chaniago yang didukung oleh Kedatuan Dusun Tuo terhadap kelompok pendukung Kelarasan Koto Piliang yang didukung Kedatuan Bungo Setangkai telah mengakibatkan Tampuak dan Tangkai Kenagarian Pariangan, Datuak Bandaro Kayo dan Datuak Maharajo Basa harus ikut turun tangan mendamaikan perang yang terjadi di Batipuh dengan cara meminta Datuak Tanbijo Dirajo turun ke Batipuah bersama seluruh anggota persukuan Sikumbang dari Nagari Pariangan Padang Panjang untuk mendamaikan situasi di sana.

Api baru saja akan padam, datang pula persoalan baru, yang lebih besar dan lebih dahsyat dari Perang antara pendukung Kelarasan di Batipuah. Persoalan itu datang dari arah Kenagarian Suravaca, yang datang adalah Aji Mantrolot bergelar Rajo Palokamo yang disebut sebagai “Anggang Dari Lawuik”.

***

Ya.., “Anggang Dari Lawuik” diberitakan akan datang ke Nagari Pariangan, Pusat Kedatuan Pasumayam Koto Batu. Rencana kedatangan Tuwan Suravaca baru yang bergelar Rajo Palokamo yang baru saja dinobatkan dalam sebuah prosesi adat yang semarak di Nagari Suravaca tersebut membuat buncah Bhumi Malayu. Aji Mantrolot baru saja menggantikan Mamak-nya, Raja Akarendravarman sebagai Tuwan Suravaca, pemimpin tertinggi di Kedatuan Suravaca. Dengan kedatangan beliau ke Nagari Pariangan, semua orang sedang menerka-nerka apa rencana dari Rajo Palokamo sebenarnya.

Laporan pemantau yang dikirim oleh Datuak Katumanggungan untuk memantau acara Penobatan Aji Mantrolot menjadi Tuwan Suravaca melaporkan bahwa saat penobatan, hadir pasukan militer besar di Kenagarian Suravaca, pasukan tersebut berasal dari pengikut beliau di Kerajaan Malayapura Dharma Seraya, pasukan dari pengikut beliau yang berasal dari Kerajaan dan Kedatuan yang tunduk kepada beliau dalam aksi kampanye militer beliau beberapa tahun belakangan ini ditambah lagi pasukan Bhayangkara yang dibawa langsung dari tanah Jawa. Jumlah totalnya lebih dari dua laksa. Sebagian besar dari pasukan ini saat ini bermarkas di ketinggian lereng bukit Kampung Mandailiang, persis di dekat perbatasan Kenagarian Saruaso dengan Kedatuan Bungo Setangkai.

***

“Menurut penglihatan Mamak, apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Rajo Palokamo..?”, Datuak Parapatiah Nan Sabatang memandang wajah Mamaknya yang sedari tadi menatap halaman Rumah Gadang tempat mereka berdiam saat ini tanpa suara.

“Mamak hanya bisa menduga-duga, Nakan. Beliau bukan sembarangan orang, Nakan tau persis hal itu. Lahir dari rahim seorang Maharani Kerajaan Malayapura, dibesarkan oleh Ayahnya di lingkungan Kerajaan Majapahit, waktu berselang lalu kemudian menjabat Mentri Majapahit menggantikan ayahnya, dua tahun yang lalu kembali ke Dharma Seraya namun tidak mendapatkan apa yang menurutnya merupakan haknya, dua tahun kemudian beliau menghabiskan hari-harinya menundukkan dan memporak porandakan daerah-daerah yang telah melepaskan diri dari Kemaharajaan Malayapura, sebut saja seperti Kerajaan Pannai di utara, Kedatuan 5 Koto Kampar dan menguasai Muaro Takus di timur, lalu menundukkan Kerajaan Mandailiang di Natal, menundukkan kedatuan-kedatuan yang ada di Sungai Hyang selingkar Gunung Kerinci di selatan dan banyak lagi. Semua dia lakukan untuk menunjukkan kepada rakyat di Bhumi Malayu bahwa dia adalah calon penguasa yang mampu merestorasi kebesaran Kerajaan Malayapura lama peninggalan kakeknya, Sri Tribhuvanaraja dengan cara mengangkat senjata..”, Datuak Suri Dirajo berkomentar.

“Ketika daerah-daerah rantau di sekitar Luhak Nan Tigo sudah tunduk kebawah tangannya, maka tak salah jika kita berprasangka buruk bahwa dia akan melanjutkan kampanye militernya ke dalam wilayah Luhak Nan Tigo, Mak..?”, tanya Datuak Parpatih Nan Sabatang.

“Kalau memang itu niat yang ada dalam hati beliau, siapa pula yang bisa mencegahnya, Nakan..? Pariangan adalah Pusat Peradaban di Pulau Paco, ‘Pusek Jalo Pumpunan Ikan’. Semua penguasa luar akan melihat Pariangan sebagai simbol legitimasi politik yang strategis dan diperhitungkan di Bhumi Malayu. Nakan sendiri juga sudah mengetahui betapa besar kekuatan pasukan yang beliau bawa hilir mudik dua tahun belakangan ini dan menaklukkan banyak Kedatuan dan Kerajaan, bukan..? Dan pasukan tersebut semakin membesar saja saban hari seiring menguatnya pengaruh beliau paska dinobatkan menjadi Tuwan Saruaso..”, ujar Datuak Suri Dirajo.

“Tapi Hamba tidak yakin, Mak. Bagaimanapun Rajo Palokamo masih sepupu jauh kami, masih hitungan kemenakan oleh Mamak, masa beliau akan tega melakukan cara-cara yang tidak terpuji seperti itu untuk mendapatkan pengaruh di Luhak Nan Tigo, khususnya di Kelarasan Nan Panjang Pariangan..?”, Datuak Parpatiah Nan Sabatang meragu.

“Mamak juga berpikiran hal yang sama, Nakan. Tapi ingatkah Nakan dengan peristiwa di janjang rumah gadang Datuak Bandaro Kuniang di V Kaum..? Apakah Rajo Palokamo tidak sedang menuntut kita atas kematian Mamaknya Rajo Akarendravarman yang tewas di Kedatuan Dusun Tuo..? Kedatuan Dusun Tuo adalah pendukung utama Kelarasan Bodi Chaniago yang Nakan proklamirkan di Pariangan”.

Kali ini Datuak Perpatih Nan Sabatang terdiam, tak bisa berbicara.
Datuak Suri Dirajo diam sebentar sambil memandang Kemenakannya, lalu berujar, “apapun motif Rajo Palokamo, semua bisa dibicarakan dengan jalan musyawarah mufakat, bukan kah cara demikian adalah cara yang leluhur kita sudah wariskan sejak lama di Bhumi Malayu..?”, Datuak Parapatiah Nan Sabatang mengaminkan pandangan Datuak Suri Dirajo.

“Tetapi Kakanda Sutan Paduko Basa Datuak Katumanggungan pasti tidak akan sepakat dengan pandangan kita berdua, Mak. Beliau nyata-nyata sinis dengan rencana kedatangan Rajo Palokamo ke Pariangan. Beliau bahkan sudah memulai ancang-ancang untuk menantang secara langsung kedatangan Raja Palokamo dengan aksi kekerasan jika tindak-tanduk Rajo Palokamo mencurigakan, Mak. Beliau adalah Pemimpin tertinggi Kedatuan Pasumayam Koto Batu bergelar Sri Maharaja Diraja, Mak. Keputusan ada ditangan beliau. Ditambah dukungan dari Kedatuan Bungo Setangkai yang merupakan loyalis beliau dan kebetulan Sungai Tarab pusat Kedatuan Bungo Setangkai ini berbatasan langsung dengan Kenagarian Suravaca, hal ini tentu menambah panas suasana di perbatasan antara kedua Kedatuan tersebut, Mak..”, ujar Datuak Parapatiah Nan Sabatang resah.

“Nakan tentu paham dengan prinsip yang dipegang saudara tiri Nakan tersebut, bahkan dalam peristiwa yang terjadi di Batipuah saja harus diakhiri beberapa hari yang lalu di V Kaum, di depan sebuah batu yang saling kalian tikam. Saudara tirimu itu memang keras hatinya, tapi ingatlah satu hal, Nakan, mekanisme pengambilan keputusan di Kedatuan Pasumayam Koto Batu itu harus melalui jalan musyawarah mufakat di Balairong Sari Balai Nan Panjang di Jorong Tabek. Di sana semua paparan dicurahkan, dibahas, dan diputuskan bersama. Dan semua pihak, termasuk Sutan Paduko Basa sendiri harus mengikuti keputusan tersebut..”, Datuak Suri Dirajo memberikan pencerahan.

“Lalu, saran Mamak bagaimana..?”, tanya Datuak Parapatiah Nan Sabatang.

“Intinya Nakan harus mengarahkan forum musyawarah di dalam Balairong Sari untuk memutuskan perkara dengan Dewang Palokamo dengan cara-cara yang damai dan bermartabat, dan hindari cara-cara kekerasan. Yakinkan forum tersebut nanti bahwa kedatangan Dewang Palokamo harus disambut dengan tangan terbuka dan bersama-sama mencari solusi yang sama-sama menguntungkan bagi kedua belah pihak, tanpa merendahkan kaidah Adat yang sudah kita sepakati selama ini..”, ujar Datuak Suri Dirajo.

“Ingat, Nakan, jangan sampai yang menang jadi arang, yang kalah jadi abu. Mamak tak ingin negeri ini kembali buncah akibat perang saudara yang sebenarnya tidak perlu terjadi..”.

***

Percakapan mereka berdua terpotong manakala seorang Dubalang Kedatuan masuk ke dalam Rumah Gadang dan memberikan sebuah kabar.

“Selamat malam Yang Mulia Patih Besar Datuak Parapatiah Nan Sabatang.., selamat malam Angku Datuak Suri Dirajo, hamba datang membawa kabar dari Suravaca..”, ujar si Hulubalang.

“Apa kabar yang tuan bawa untuk kami berdua, wahai tuan Dubalang..?”, tanya Datuak Parapatiah Nan Sabatang.

“Tabanglah Anggang Dari Lauik..,
Ditembak Datuak Nan Batigo…,
Badia Sadakak, Tigo Datuihnyo..,
Mambebek Kambiang Lari Ka Hutan..,
Manyalak Anjiang Dalam Kampuang..,
Bakukuak Ayam Dalam Talua..,
Jatuah Karumah Datuak Suri Dirajo..,
Iyolah di Pariangan Padang Panjang..”, sang Dubalang menyampaikan pesan dalam langgam yang didendangkan.

“Sampaikan balas kami kepada pihak Suravaca, tuan Dubalang..”, ujar Datuak Suri Dirajo.

“Apa balasannya Angku Datuak..?”, tanya si Dubalang.

“Anggang Nan Datang Dari Lauik..,
Tabang Sarato Jo Mangkuto.
Dek Bayiak Budi Nan Manyambuik..,
Pumpun Kuku Patah Pauahnyo..”.

“Baik angku Datuak, pesan akan disampaikan.”, tutup Dubalang sambil mendekap kedua telapak tangan sambil berlalu.

Datuak Suri Dirajo kemudian menatap Datuak Parapatiah Nan Sabatang, “Nakan, sampaikan kepada seluruh Penghulu di Kedatuan Pasumayam Koto Batu, dua hari lagi kita akan mengadakan sidang akbar di Balairung Sari untuk memutuskan bersama-sama perkara ini. Sampaikan juga hal ini kepada Sutan Paduko Basa”.

“Baik, Mak..”, Datuak Parapatih Nan Sabatang mengundurkan diri dari hadapan mamaknya.

BERSAMBUNG

Tags: BudayaSastra

Related Posts

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
3 Februari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII)

Oleh Dewang Kara Sutowano
25 November 2025

Manakala sidang pemilihan Datuk Indharma gelar Tuan Suravaca sudah memasuki hari ke lima… Sore itu di tepian Nagari Sitangkai...

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

AJI MANTROLOT: Penggalan VIII – Kabau Gadang (Bagian VI) Dewang Kara Sutowano

Oleh Redaksi Marewai
6 November 2025

Posisi bulan sudah cukup tinggi, malam itu sangat tenang, hampir tak ada angin, sebuah pasukan yang tak lebih besar...

Next Post
AJI MANTROLOT: Kabau Gang (Bagian II) – Dewang Kara Sutowano

AJI MANTROLOT: Kabau Gang (Bagian II) - Dewang Kara Sutowano

KOMUNITAS SENI NAN TUMPAH ADAKAN TIGA SERI TERAKHIR DISKUSI KELOMPOK TERPUMPUN PEKAN NAN TUMPAH

KOMUNITAS SENI NAN TUMPAH ADAKAN TIGA SERI TERAKHIR DISKUSI KELOMPOK TERPUMPUN PEKAN NAN TUMPAH

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In