
Salah satu keberhasilan Bala Bhumi, karya sutradara Afrizal Harun, terletak pada bagaimana pertunjukan ini mengembangkan tubuh para aktornya. Tubuh-tubuh itu bergerak sangat luwes dengan berbagai pola. Kadang saya melihat mereka seperti orang hutan, gorila, monyet, burung, mungkin juga kupu-kupu. Saya tidak terlalu ingin memastikan satu per satu satwa apa yang sedang mereka hadirkan, sebab yang lebih terasa bagi saya adalah mereka sedang menjadi makhluk-makhluk yang hidup di dalam hutan, kemudian kehilangan tempat tinggalnya. Gerak para aktor menjadi sangat penting karena dari sanalah saya pertama-tama membaca penderitaan satwa dalam pertunjukan ini. Mereka tidak sekadar memainkan binatang, tetapi mengeksplorasi kemungkinan tubuh manusia ketika berhadapan dengan dunia nonmanusia. Ada gerak yang liar, lentur, patah, berkelompok, berpencar, seolah-olah tubuh-tubuh itu terus mencari ruang untuk bertahan. Ketika hutan dibakar dan dibabat habis-habisan, satwa tidak hanya kehilangan pohon sebagai tempat tinggal. Mereka kehilangan seluruh ruang hidupnya.
Eksplorasi semacam ini memang menjadi bagian dari proses penciptaan Bala Bhumi. Afrizal menggunakan animal movement atau animal body, dengan mengambil karakteristik gerak orang utan, gorila, simpanse, harimau, hingga burung. Hal ini tidak hadir sekadar sebagai tempelan tradisi, tetapi dipakai sebagai bagian dari pencarian bentuk tubuh dan simbol perlawanan terhadap kerusakan alam. Maka menjadi masuk akal ketika melihat bagaimana Afrizal membangun pertunjukannya. Bala Bhumi tidak bertumpu pada teks dramatik sebagai partitur yang harus diikuti secara kaku. Teks justru menjadi panduan bagi performer untuk mengeksplorasi ketubuhan, cara mengungkapkan narasi, properti, musik, dan visual. Pendekatan pascadramatik tersebut memberi tubuh ruang yang cukup besar untuk berbicara dengan caranya sendiri.
Mungkin karena itu saya merasa persoalan hutan dalam Bala Bhumi tidak berhenti sebagai persoalan yang diceritakan. Ia masuk ke tubuh. Satwa kehilangan tempat tinggal. Tumbuhan kehilangan tempat tumbuh. Manusia kehilangan ruang hidup. Semua seperti bergerak menuju satu persoalan yang sama: bumi yang semakin tidak bisa ditinggali. Dari sana saya menangkap adanya semacam ritual tulak bala. Para pemain seperti sedang melakukan sebuah usaha untuk menghindarkan bumi dari malapetaka yang sudah terlanjur datang. Ada sesuatu yang sangat manusiawi dalam usaha itu: ketika segala sesuatu sudah rusak, manusia masih mencoba meminta pertolongan. Mereka menyiram bola berbentuk bumi, seperti sedang meminta air kembali kepada bumi, seperti berharap hujan masih dapat menyelamatkan sesuatu yang tersisa.
Hujan kemudian turun. Tetapi hujan tidak bisa menyelamatkan bumi dari kehangusan dan kegersangan. Saya justru merasa bagian ini semakin memperjelas persoalannya. Hujan ada, tetapi tidak semua kerusakan dapat dibatalkan oleh hujan. Ada sesuatu yang sudah terlanjur hilang. Hutan tidak serta-merta kembali hanya karena air turun. Satwa yang kehilangan habitatnya tidak serta-merta memiliki rumah kembali. Bumi yang terus dieksploitasi tidak serta-merta pulih hanya karena manusia akhirnya meminta keselamatan. Oleh karena itu sosok Mother of Earth terasa semakin menyedihkan. Ia seperti bumi yang sudah tidak mampu berbuat apa-apa lagi. Seorang ibu yang kehilangan daya, kehilangan cahaya, dan hanya bisa melihat apa yang dilakukan manusia terhadap dirinya. Bumi yang selama ini kita bayangkan sebagai sesuatu yang selalu menyediakan, pada akhirnya juga memiliki batas.
Afrizal mengatakan bahwa Bala Bhumi berangkat dari kegelisahannya melihat persoalan lingkungan yang semakin kompleks. Kerusakan hutan, pencemaran laut dan udara, eksploitasi alam, dan keserakahan manusia ditempatkan sebagai persoalan yang tidak lagi hanya menyangkut ekosistem, tetapi sudah menjadi persoalan kemanusiaan. Yang menarik, proses penggarapan karya ini sudah berlangsung sejak Agustus 2025, sehingga kegelisahan tersebut bukan respons yang muncul tiba-tiba setelah berbagai bencana ekologis yang terjadi belakangan. Ia sudah lebih dulu menjadi persoalan yang ingin dibicarakan Afrizal. Mungkin itu pula yang membuat pertunjukan ini tidak terasa seperti kampanye lingkungan yang sekadar menyuruh penonton untuk mencintai bumi. Yang ditunjukkan justru hubungan yang sudah telanjur rusak antara manusia dan makhluk lain.
Pada bagian ketika para ensemble bergerak dengan menggunakan masker pernapasan, kemudian runtuh satu per satu, saya seperti menyaksikan film-film dystopia Hollywood. Dunia yang tidak lagi menyediakan tempat aman bagi makhluk hidup mana pun untuk bernapas. Udara menjadi sesuatu yang harus dilawan. Tubuh tidak lagi cukup hanya dengan memiliki paru-paru; ia membutuhkan alat agar tetap bisa bertahan. Tentu saja ini bukan gambaran yang sepenuhnya asing. Kebakaran hutan menghasilkan asap yang membawa berbagai polutan, termasuk partikel halus PM2.5, karbon monoksida, nitrogen oksida, senyawa organik volatil, dan polutan lainnya. PM2.5 terutama mengkhawatirkan karena ukurannya sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Tetapi yang membuat adegan itu terasa mengganggu bukan hanya soal polusi udara. Kalau manusia masih bisa memakai masker, bagaimana dengan makhluk lain? Rumah mereka adalah hutan itu sendiri. Ketika hutan dibakar, yang dihancurkan bukan sekadar pepohonan, tetapi seluruh kemungkinan hidup yang ada di dalamnya. Maka ketika tubuh-tubuh dengan masker itu kemudian runtuh satu per satu, saya merasa adegan tersebut seperti kelanjutan dari satwa-satwa yang sebelumnya bergerak di atas panggung. Yang satu kehilangan habitat. Yang lain kehilangan udara. Pada akhirnya keduanya menuju hal yang sama, tubuh yang tidak lagi memiliki ruang untuk hidup. Saya merinding.
Saya bahkan hampir menangis mendengar teriakan satwa yang seperti memohon agar tempat tinggal mereka tidak dihanguskan. Ada sesuatu yang sangat menyakitkan dari suara itu karena mereka tidak mampu membahasakan kata. Mereka tidak bisa mengatakan kepada kita apa yang mereka rasakan. Mereka tidak bisa menuntut siapa pun. Mereka tidak bisa mendatangi para penguasa dan meminta agar hutan mereka diselamatkan. Sedangkan kita manusia bisa. Kita punya bahasa. Kita bisa berbicara. Kita bisa menulis. Kita bisa mengkritik. Kita bisa berteriak. Tetapi kita yang memiliki bahasa saja belum tentu mampu menggapai para penguasa. Pikiran saya tiba-tiba membawa saya kepada Planet of the Apes. Bukan karena saya menganggap Bala Bhumi sedang merujuk film tersebut, tetapi karena tubuh-tubuh monyet yang saya lihat di panggung membuat saya membayangkan suatu dunia yang terbalik. Bagaimana jika suatu hari monyet justru menjadi makhluk yang lebih berakal daripada manusia?
Mereka mampu berbicara dengan fasih. Mereka mampu memahami sejarah. Mereka mampu membangun peradaban. Sedangkan manusia kehilangan bahasanya sendiri karena terlalu lama dibungkam sejak dini, terlalu lama terbiasa diam, terlalu lama tidak mampu mengatakan apa yang sebenarnya ingin dikatakan. Saya membayangkan mereka menjadi makhluk modern, sementara manusia justru jauh lebih kerdil dan primitif. Saya tahu, ini mungkin hanya lompatan pikiran saya sendiri. Tetapi justru di situlah saya merasa pengalaman menonton Bala Bhumi bekerja. Setelah pertunjukan selesai, saya mendapati diri saya tidak lagi hanya memikirkan satwa. Saya mulai memikirkan manusia dan kedudukannya sendiri di bumi. Selama ini kita begitu mudah menyebut manusia sebagai makhluk yang paling berakal. Tapi hutan dibakar, tanah dikeruk, laut dicemari, udara diracuni dan satwa kehilangan rumah.
Di titik ini, judul Bala Bhumi terasa semakin mengganggu bagi saya. Bala bukan lagi sekadar malapetaka yang datang menimpa manusia. Ia bisa dibaca sebagai sesuatu yang kita hasilkan sendiri. Tiba-tiba sampai pada satu pikiran yang sedikit kasar. Mungkin terlalu kasar. Bahwa ternyata Tuhan menciptakan manusia ke muka bumi bukan sebagai khalifah, tapi pembuat bala.
Penulis, Zura W Zulkarnain.
- Bala Bhumi: Membaca Kegelisahan Menolak Segala Bala | Zura W Zulkarnain - 3 September 2026
- Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
- Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026




Discussion about this post