
Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni teater, khususnya di Sumatera Barat, berpulangnya Muhammad Ibrahim Ilyas bukan sekadar kehilangan seorang tokoh, melainkan hilangnya salah satu lentera panggung yang selama ini konsisten merawat khazanah ilmu seni peran. Namun, seorang sastrawan dan dramawan tidak pernah benar-benar pergi, ia meninggalkan jejak abadi dalam teks-teks yang terus hidup, dibaca, dan dipentaskan.
Salah satu warisan emas yang ditinggalkannya adalah naskah drama “Dalam Kurung”. Artikel ini hadir sebagai bentuk ulasan, bedah karya, sekaligus doa puitis untuk beliau yang semasa hidupnya juga dikenal sebagai seorang sastrawan dengan bait-bait puisi yang tajam lagi kontemplatif.
Sekilas biografi dan mahakarya Muhammad Ibrahim Ilyas, beliau adalah sosok penting dalam peta teater modern Indonesia, khususnya Sumatera Barat. Totalitasnya dalam menyutradarai, menulis naskah, dan mengedukasi generasi muda teater menjadikannya figur mentor yang sangat dihormati. Gaya kepenulisannya yang puitis namun tetap tajam dalam memotret psikologi manusia dan realitas sosial menjadi ciri khas yang sulit dicari persamaannya.
Sepanjang karier kepenulisannya, beliau telah melahirkan berbagai karya masterpiece yang menjadi acuan penting dalam studi teater, di antaranya naskah drama “Dalam Kurung”, sebuah naskah absurditas psikologis eksistensial manusia.
Naskah Dalam Kurung sendiri ditulis dalam rentang waktu 1994-1997 di Yogyakarta. Kualitas tekstual dan dramaturgi yang kuat membawa naskah ini keluar sebagai Pemenang Peksiminas 1997 di Bandung, sebuah pengakuan bergengsi di tingkat nasional.
Di ranah lokal Sumatera Barat, naskah ini memiliki kedekatan emosional yang erat dengan para akademisi dan praktisi teater setempat. Dalam Kurung tercatat pernah tampil di atas panggung UPGRISBA (Universitas PGRI Sumatera Barat), 2024. Dipentaskan secara memukau oleh Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang di mentoring oleh Zura Wenda selaku ketua Komunitas Seni Bunga Padi Official. Pementasan tersebut menjadi bukti nyata bagaimana ilmu dan visi artistik beliau mengakar kuat serta terus dirawat oleh generasi penerusnya.
*
Analisis Naskah “Dalam Kurung”
- Panorama dan Setting Simbolisme Keterjebakkan
Secara tekstual, naskah ini dibuka dengan gambaran panorama sebuah lembah sempit di dekat pantai, diapit perbukitan di sebelah kiri dan jalan setapak di kanan belakang. Di sela-sela itu, bunyi ombak yang menghempas pasir dan berbalik menjadi latar auditori yang repetitif.
Setting ini bukan sekadar ruang fisik, melainkan ruang psikologis. Lembah yang “sempit” dan suara ombak yang “datang-pergi” adalah metafora dari kurungan baru. Meski ketiga tokoh; Lelaki Tua, Separo Baya, dan Pemuda merasa telah berhasil melarikan diri dan menghirup udara bebas, mereka sebenarnya hanya berpindah dari kurungan jeruji besi ke kurungan eksistensial alam semesta.
- Karakter dan Konflik Tiga Generasi
Bram secara cerdas menampilkan tiga tokoh tanpa nama personal, melainkan representasi fase usia:
Lelaki Tua (50−60 tahun): Mewakili masa lalu, rasa bersalah yang akut, dan spiritualitas yang terlambat (dicitrakan melalui adegan zikir dalam kondisi trans)
Separo Baya (35−45 tahun): Mewakili logika, teori-teori sosial, sikap sok rasional, dan kebarat-baratan (“Londo”).
Pemuda (20−25 tahun): Mewakili generasi baru yang sinis, apatis, kehilangan orientasi tujuan, namun jujur apa adanya.
Konflik mencuat ketika mereka mulai mempertanyakan tujuan setelah pelarian. Ironisnya, sang Pemuda mengaku ikut berlari tanpa tahu arah tujuan. Di sinilah Ilyas melakukan kritik eksistensial manusia sering kali berambisi melepaskan diri dari sebuah kungkungan, tetapi kebingungan mencari makna kebebasan itu sendiri setelah meraihnya.
- Dimensi Kriminal dan Beban Masa Lalu
Melalui dialog-dialog yang menegang, Bram mengupas lapis demi lapis alasan ketiga tokoh berada di penjara. Terjadi paralelisasi mengejutkan antara tokoh Pemuda dan Lelaki Tua:
Pemuda mengakui bahwa ia telah membunuh seluruh keluarganya karena menganggap hubungan sosial dan ekspektasi orang lain adalah beban yang memberatkan eksistensinya.
Lelaki Tua dihantui oleh arwah kekasihnya yang ia bunuh di masa lalu dalam sebuah kesepakatan mati bersama yang kemudian ia batalkan secara sepihak karena menyadari hidup itu berharga.
Kedua tokoh ini sama-sama melarikan diri dari “manusia lain”. Namun pada akhirnya, di ujung pelarian, mereka menyadari bahwa waktu dan tempat tidak pernah bisa membebaskan manusia dari buruan rasa bersalahnya sendiri.
- Ending Yang Absurd
Struktur naskah Dalam Kurung memiliki pola sirkular yang sangat kuat (bahkan teks instruksi panggung di halaman awal berulang kembali di halaman-halaman akhir). Di akhir cerita, setelah sempat berdinamika ingin berpisah egois, ketiganya kembali berkumpul dan tertidur di tempat yang sama.
Adegan pamungkas ditandai dengan datangnya cahaya terang benderang yang menerpa disertai suara perintah-perintah. Alih-alih takut karena (kemungkinan besar) terkepung oleh aparat penegak hukum, ketiganya justru tertawa terbahak-bahak dalam kegembiraan yang ganjil, sebelum akhirnya tawa itu lenyap ditelan kegelapan bersamaan dengan mengecilnya lingkar cahaya yang mengurung mereka. Kematian atau penangkapan kembali dipandang bukan sebagai kekalahan, melainkan akhir dari sebuah permainan absurditas melelahkan di dunia luar.
*
Doa puitis untuk sang maestro panggung, membaca dan membedah Dalam Kurung karya Muhammad Ibrahim Ilyas layaknya membaca sebuah puisi panjang tentang kepasrahan, keterbatasan manusia, dan pencarian kemerdekaan jiwa. Bait-bait dialog yang ia susun tidak meledak-ledak tanpa arah, melainkan mengetuk pintu kesadaran kita tentang hakikat diri sebagai makhluk sosial yang “dikurung” oleh takdir, hukum, dan rasa bersalah.
Kepergian beliau boleh saja meninggalkan duka yang nganga bagi pegiat teater Sumatera Barat. Namun, lewat naskah yang pernah berjaya di Peksiminas dan dihidupkan oleh Komunitas Seni Bunga Padi Official di UPGRISBA ini, ilmu beliau akan terus mengalir dan diperbincangkan.
Selamat jalan figur ilmu kami Muhammad Ibrahim Ilyas. Panggung dunia telah usai kau sutradarai dengan indah. Kini, beristirahatlah di balik keabadian. Tuhan telah menuntaskan rinduNya memelukmu, Doa-doa kami beralun puitis, mengiringi kepergianmu menuju cahaya yang tak akan pernah padam dan kau menemukan kedamaian abadi di sisinya, amin.
Irawan Winata, penulis dan Pendiri KS Teater Bunga Padi Official. Karya-karyanya telah dimuat berbagai media di Sumatra Barat dan telah terbit dalam buku kumpulan puisi penggiat literasi Kabupaten Sumedang “Aku dan Sumedang” (Penerbit Panti Baca Ceria, 2021), Buku Puisi Tunggal Irawan Winata “Kaum Lorong” Van EGYPT Andalas, 2022) dan “Kearifan Budaya Lokal Sumatra Barat” (Diterbitkan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat, 2025), Dan sellain itu, Irawan Winata juga aktif menulis naskah teater dan sudah pentas diberbagai panggung baik regional maupun nasional.
- Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
- Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata - 10 Juli 2026
- Puisi-puisi Anugrah Gio Pratama | Kepada Shei - 26 Juni 2026





Discussion about this post