
Ekosistem teater di Sumatera Barat, khususnya pada Maret 2025 ini, tampak seperti panggung yang lampunya padam sebelum pertunjukan dimulai. Ramadhan kali ini terasa sunyi! minim karya, sepi pamflet di media sosial, dan atmosfer kreatif diam ditempat. Pertanyaannya, apakah kreativitas hanya bernapas jika ada dukungan anggaran, ataukah kreativitas tak tentu akan perform dipanggung mana?
Kondisi ini melahirkan kemuakan bagi penikmat teater. Mereka kehilangan arah, tak lagi tahu ke mana harus menikmat kehidupan di atas panggung. Padahal, secara teoretis, teater adalah mimesis, sebagaimana gagasan Aristoteles tentang sebuah imitasi kehidupan yang seharusnya mampu berbicara dan memantulkan realitas kepada penontonnya.
Alienasi penonton saat ini, muncul karena kecenderungan seniman terlalu asyik dengan eksplorasi bentuk kontemporer yang “kekinian”. Fenomena teater mini kata atau teater tubuh, performance art dan lain sebagainya yang lebih menonjolkan gerak memang sah sebagai eksperimen. Namun, sering kali seniman melupakan tanggung jawabnya terhadap penonton.
Dalam sosiologi seni, penonton bukan sekadar objek pasif, melainkan elemen vital dalam segitiga estetika yakni karya, seniman, dan penonton. Tanpa penonton, sebuah karya hanya akan menjadi monolog egoistik. Ketika penonton pulang dengan rasa bingung yang tak terjawab, itulah kegagalan komunikasi seni. Penonton mengalami apa yang disebut Bertolt Brecht sebagai Verfremdungseffekt (efek alienasi) namun dalam konteks yang negatif mereka merasa asing dan tidak terhubung dengan peristiwa di panggung karena kaburnya pesan.
Antara bahasa gerak dan bahasa peristiwa senimana harus berani mendefinisikan secara detail batasan ontologis antara teater dan tari yang kian kabur. Teater pada hakikatnya adalah seni peristiwa yang berpijak pada drama (aksi). Meskipun teater bersifat kolektif, ruh utamanya adalah Logos atau kata sebagai penggerak alur.
Tari menggunakan tubuh sebagai medium ungkap utama dengan fokus pada estetika gerak, ritme, dan abstraksi emosi. Sementara itu, teater menggunakan tubuh dan suara untuk menyampaikan informasi sosiologis dan psikologis yang spesifik. Dalam teater, gerak bukan sekadar indah (estetik), melainkan harus memiliki motivasi dramatik yang mendorong plot maju.
Jika sebuah pertunjukan didominasi 90% unsur tari dan hanya menyisakan sedikit ruang bagi dialog, kita perlu bertanya: di mana letak kekuatan dramatiknya? Dialog dalam teater bukan sekadar deretan kata, melainkan jembatan intelektual bagi penonton untuk menginterpretasikan tokoh dan peristiwa. Teater adalah seni bicara baik lewat lisan maupun laku. Ketika elemen tari mendominasi tanpa narasi yang jelas, seniman sebenarnya sedang melakukan reduksi seni dan memotong hak intelektual penonton untuk memahami isi cerita.
Bangun kembali ekosistem, seniman yang baik adalah mereka yang sadar bahwa penonton memiliki hak untuk menikmati khazanah ilmu di atas panggung. Kemerosotan minat penonton hari ini akan berimbas fatal pada kurangnya minat pendidikan seni di perguruan tinggi dan minat sastra. Publik tak lagi melihat teater sebagai pertunjukan yang memiliki “ilmu tinggi”, melainkan sekadar tontonan yang sulit dicerna, tontonan ajakan basa-basi, tontonan ceremonial dan tontonan pelengkap RAB.
Kita perlu melakukan re-edukasi, salah satu strateginya adalah kembali ke akar literasi. Menghidupkan kembali kegiatan sastra seperti baca puisi, dramatisasi puisi, dan musikalisasi puisi di lingkungan, cafe, dan tingkat sekolah adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan basis penonton yang kritis.
Pada akhirnya, teater bukan sekadar persoalan teknis tata cahaya atau kelihaian tubuh meliuk di atas panggung, teater hanya sebuah ruang perjumpaan eksistensial antara manusia dengan bayang-bayang nasibnya sendiri. Jika panggung hanya diisi oleh kebisuan yang tidak bermakna, maka ia kehilangan daya magisnya sebagai “guru kehidupan”.
Seni yang besar bukan saja seni yang mengunci diri dalam menara estetika visual saja melainkanjuga seni yang berani “turun” menjemput pemahaman publiknya. Penonton yang kehilangan arah panggung sesungguhnya adalah potret dari seniman yang kehilangan arah makna. Kita harus sadar bahwa di setiap kursi penonton yang kosong, ada sebuah pesan moral yang gagal tersampaikan dan ada sebuah dialektika kemanusiaan yang terputus.
Mari kita kembalikan teater pada khitahnya sebagai ruang dialogis. Sebab, ketika kata-kata (logos) dipadamkan dan peristiwa kehilangan narasi, teater hanyalah sebuah ruang hampa yang dihuni oleh raga-raga tanpa jiwa. Panggung harus kembali menjadi tempat di mana penonton menemukan jalan pulang, bukan tempat di mana mereka merasa kian tersesat dalam kebingungan yang tak berujung.
Irawan Winata, penulis dan Pendiri KS Teater Bunga Padi Official. Karya-karyanya telah dimuat berbagai media di Sumatra Barat dan telah terbit dalam buku kumpulan puisi penggiat literasi Kabupaten Sumedang “Aku dan Sumedang” (Penerbit Panti Baca Ceria, 2021) dan Buku Kumpulan Puisi Irawan Winata “Kaum Lorong” (Penerbit Panti Baca Ceria, 2022). Selain itu, Irawan Winata juga aktif menulis naskah teater dan sudah pentas diberbagai panggung baik reggional maupun nasional.




Discussion about this post