- SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano - 9 Januari 2026
- Aji Mantrolot: Penggalan XI – KABAU GADANG (Bagian VII) - 24 November 2025
- Aji Mantrolot: Penggalan VII – Kabau Gadang Bagian V - 30 Oktober 2025

(Sebuah Cerita Panjang Yang Sengaja Dicerai Berai)
PENGGALAN I:
DUA DARA YANG SALING MENGGENGGAM TANGAN
Oleh: Dewang Kara Sutowano
“Beberapa menit lagi kita akan sampai di gerbang Trowulan, Dinda…”, ujar Dara Jingga saat memandang Dara Petak yang termenung memandang keluar jendela kereta kencana yang mereka tumpangi.
“Jika ada yang ingin kau sampaikan ke hadapan kakakmu ini, sampaikanlah dihadapanku sekarang, sebelum kita memasuki gerbang Majapahit itu, karena jika kita sudah memasuki dan berada di pelataran Istana Trowulan, maka kau bukan lagi adik ku, kau adalah seorang calon Ratu Kerajaan Majapahit, semua isi kepala dan isi hatimu harus kau kunyah sendiri,” ucap Dara Jingga ambil menunduk memandangi lentik jari jarinya yang saling bergenggaman dengan jemari adiknya.
Dara Petak memandang Dara Jingga sebentar, lalu kembali melempar pandangan keluar jendela Kereta Kencana. “Kita berangkat dari Dharmasraya sekitar enam bulan yang lalu Kanda, banyak hal yang sudah kita bicarakan, serasa aku belajar kembali dari awal bagaimana rasanya mempunyai seorang kakak yang penyayang seperti dirimu. Pertanyaanmu barusan membuat aku justru bertanya-tanya, apakah masih ada yang mengganjal dihatimu, Kak?” Dara Petak tidak mengalihkan pandangannya.
“Kau benar dinda, mungkin pertanyaanku adalah sebuah hal yang tidak patut. Perjalanan kita adalah sebuah keniscayaan sejarah. Setelah bertahun-tahun kedua kerajaan, Malayapura dan Singhasari berperang melawan Kekaisaran Mongol di muara-muara sungai Svarnabhumi, mungkin sudah menjadi nasib kita berdua akan menjadi perajut hubungan antara dua kerajaan. Tenanglah dinda, kau akan menjadi seorang Permaisuri yang sempurna nanti bagi Maharaja Kertarajasa, Kerajaan Wilwatikta akan dikaruniai seorang Raja dari rahim mu,” Dara Jingga berkata dengan maksud menenangkan hati adiknya.
*
Lama mereka berdiam diri tanpa sepatah kata yang keluar. Dari kejauhan tembok Istana Trowulan yang menjulang tinggi mulai terlihat samar, Dara Petak tiba-tiba menggenggam tangan Dara Jingga, menggeser posisi duduknya lebih dekat ke kakaknya dan mendekatkan bibirnya ke arah telinga sang kakak, sambil berbisik, “Kakak, kau tau persis keadaan dibalik tembok itu. Majapahit adalah kerajaan yang baru, yang masih rawan dengan perselisihan-perselisihan antar anggota Wangsa Rajasa yang terjadi dibalik tirai-tirai istana itu. Kau tentu masih ingat beberapa bulan yang lalu ketika kita baru sampai di Javadvipa dalam perjalanan yang panjang dan berbahaya dari Svarnadvipa, kau dan aku harus menyaksikan dari jauh kebakaran hebat yang melanda negeri Kadiri, tujuan awal keberangkatan kita. Kita semua kemudian tahu kekacauan tersebut merupakan akibat pemberontakan Jayakatwang terhadap Kertanegara yang kemudian menyebabkan keruntuhkan Singhasari bukan?
Setelah berbulan-bulan lamanya, sekarang kita terdampar di sini, di Trowulan, menghadapi situasi yang benar-benar berbeda dari situasi awal yang telah kita rencanakan saat berangkat dari Dharma Seraya.” Suara Dara Petak tercekat, “maksudku, kita berdua akan menjadi ibu-ibu yang hebat nanti, kau sudah menikah dengan tuan Advayavarman dan kini sedang mengandung anak pertamamu dan Aku akan menikah dengan Kertarajasa, aku yakin akan hal tersebut kanda. Tapi apakah anak-anak kita nanti akan mendapatkan tempat yang layak di dalam sana?
Apakah mereka, para petinggi Wangsa Rajasa yang baru saja dipersatukan kembali oleh Kertarajasa dibawah panji kerajaan baru bernama Majapahit bersedia menerima calon Raja mereka nanti adalah keturunan campuran dari Wangsa Mauli?” Dara Jingga terdiam sesaat, lalu kembali berkata, “Apakah nanti anak kita akan bernasib seperti Balaputra Deva dulu?!”
Dara Jingga menoleh kearah wajah adiknya, mereka berdua lantas saling memandang dalam diam. Dara Jingga tak bersuara sepatah kata, pertanyaan-pertanyaan Dara Petak benar-benar mengusik pikirannya.
“Sudah terlambat untuk bertanya, dinda. Sekarang kita hanya menjalani apa kata karma saja..”, tutup Dara Jingga menutup percakapan mereka.
*
Ringkikan kuda menghentikan laju rombongan kereta kencana mereka. Kusir Kereta didatangi dua orang berpakaian militer yang bersenjatakan pedang panjang sambil memandang tajam keseluruh dinding kereta sambil bertanya kepada sang Kusir, “selamat siang tuan Kusir, apakah penumpang yang didalam kereta kencana ini adalah sepasang putri tamu dari Dharma Seraya?”
“Benar, tuan Penjaga, mereka adalah undangan khusus Maharaja Kertarajasa,” jawab sang Kusir.
Petugas jaga lalu berlari kecil kearah seorang pria yang berperawakan kekar berkumis lentik yang sedari tadi berdiri didepan gerbang sambil membisikkan sesuatu.
Pria tersebut lantas tersenyum dan mendekati kereta kencana, mencondongkan kepala beliau kearah jendela yang tertutup tirai dari sutra, sambil tersenyum beliau berkata, “selamat datang di Trowulan, tuan putri. Saya harap perjalanan puan-puan sekalian menyenangkan. Kedatangan puan puan sekalian sudah ditunggu oleh Maharaja Kertarajasa. Silakan puan-puan beristirahat terlebih dahulu di dalam kamar yang sudah disediakan oleh pelayan kami didalam istana, nanti malam saat mentari sepenuhnya moksa, Maharaja akan menemui puan-puan sekalian.”
Tanpa menunggu jawaban dari penghuni kereta kencana, si Pria berkumis lentik tadi berteriak kepada petugas jaga, “Bukakan Gerbang, Tamu Yang Mulia sudah sampai…!”
*
Di antara barisan kereta rombongan pengiring yang berjejer dibelakang kereta kencana, seorang pemuda kurus kekar berpedang panjang dipinggang mendongakkan kepalanya kearah menara gerbang sambil bergumam, “Disini aku akan memulai petualanganku….”.
Kemudian, hanya deru roda kereta yang terdengar riuh.
BERSAMBUNG
———————————————-
Insert Foto:
Dara Petak alias Permaisuri Indeswari, ibu dari Maharaja II Majapahit, Raden Kalagemet alias Maharaja Jayanegara. Lokasi Arca: Museum Nasional (Museum Gajah), Jakarta






Discussion about this post