
Sastra Pesisir Selatan Sumatera Barat memiliki kekayaan tradisi yang unik, berakar dari budaya maritim yang kuat serta pengaruh Islam dan Minangkabau. Tradisi lisan seperti pantun, kaba, dan dendang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat pesisir. Namun, di tengah arus globalisasi dan perkembangan teknologi digital, bagaimana nasib sastra daerah ini? Apakah ia mampu bertahan, bertransformasi, atau justru terancam punah?
Sastra Pesisir Selatan memiliki ciri khas yang membedakannya dari tradisi sastra Minangkabau secara umum. Jika daerah pedalaman Minangkabau lebih dikenal dengan tambo dan kaba yang kental dengan filosofi adat, sastra pesisir banyak mengambil inspirasi dari laut, perniagaan, serta interaksi dengan budaya luar. Pantun-pantun yang berkembang di wilayah ini sering kali berisi petuah, cerita rakyat, dan ekspresi perasaan yang terinspirasi dari kehidupan para nelayan serta pedagang.
Selain pantun, kaba, sejenis cerita rakyat yang disampaikan secara lisan dengan iringan musik, juga menjadi medium penting dalam menyampaikan nilai-nilai sosial dan sejarah. Namun, dengan semakin berkurangnya generasi yang mampu mempertahankan tradisi ini, kekhawatiran akan keberlangsungan sastra pesisir semakin meningkat.
Masuknya teknologi digital ke dalam kehidupan masyarakat membawa perubahan besar dalam cara sastra disebarluaskan dan dikonsumsi. Dulu, pantun dan kaba disampaikan secara lisan dalam acara adat atau pertemuan komunitas. Kini, media sosial dan platform digital seperti YouTube, TikTok, dan Instagram menjadi ruang baru bagi ekspresi budaya.
Beberapa seniman dan budayawan di Pesisir Selatan telah mencoba memanfaatkan platform ini untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali sastra daerah mereka. Misalnya, pertunjukan kaba mulai direkam dan diunggah ke YouTube, sedangkan pantun digunakan dalam konten-konten media sosial sebagai bentuk hiburan dan edukasi. Ini membuka peluang bagi generasi muda untuk mengenal dan mencintai kembali sastra daerah mereka dengan cara yang lebih relevan.
Namun, perubahan ini juga membawa tantangan tersendiri. Adaptasi ke media digital memerlukan pemahaman teknologi, kreativitas dalam mengemas konten, serta daya saing dengan konten-konten modern lainnya. Tidak semua pelaku sastra tradisional memiliki akses atau kemampuan untuk melakukan ini, sehingga masih ada kesenjangan antara generasi lama dan generasi baru dalam menjaga keberlanjutan sastra Pesisir Selatan.
Seiring perkembangan zaman, sastra Pesisir Selatan mulai bertransformasi dalam berbagai bentuk baru. Banyak generasi muda mulai menulis dan membagikan pantun dalam format digital. Beberapa akun media sosial bahkan secara khusus mengangkat tema pantun dan puisi tradisional untuk menarik perhatian audiens yang lebih luas. Jika dulu kaba hanya bisa dinikmati dalam pertunjukan langsung, kini cerita-cerita kaba bisa direkam dalam bentuk podcast atau video pendek di platform seperti YouTube dan Spotify.
Beberapa penulis daerah mulai mendokumentasikan cerita rakyat dan kisah-kisah lama dalam bentuk tulisan di blog dan e-book. Ini membuka kesempatan bagi cerita-cerita tradisional untuk tetap hidup dalam format yang lebih modern. Sastra pesisir juga mulai berkolaborasi dengan seni musik dan visual. Beberapa musisi lokal mengadaptasi pantun dan kaba ke dalam lagu-lagu modern, sementara seniman digital mengilustrasikan cerita rakyat untuk menarik perhatian generasi muda.
Meskipun digitalisasi membuka peluang baru, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi. Banyak cerita rakyat dan pantun belum terdokumentasi dengan baik, sehingga ada risiko hilangnya warisan ini. Tidak banyak generasi muda yang tertarik untuk mempelajari dan mengembangkan sastra daerah. Platform digital didominasi oleh konten-konten modern yang lebih menarik bagi generasi muda, sehingga sastra tradisional perlu dikemas dengan lebih inovatif.
Namun, di balik tantangan tersebut, masih ada harapan. Dengan kolaborasi antara budayawan, akademisi, dan komunitas kreatif, sastra Pesisir Selatan dapat terus berkembang. Program edukasi, workshop sastra digital, serta dukungan dari pemerintah dan institusi budaya dapat menjadi kunci untuk menjaga kelangsungan warisan ini.
Sastra Pesisir Selatan menghadapi tantangan besar di era globalisasi, tetapi juga memiliki peluang besar untuk berkembang melalui teknologi digital. Transformasi dari pantun lisan ke platform digital menunjukkan bahwa tradisi ini masih relevan dan dapat beradaptasi dengan perubahan zaman. Dengan upaya bersama, kita dapat memastikan bahwa warisan sastra ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dinikmati oleh generasi mendatang.
____________
Penulis, T.H. Hari Sucahyo, Pengagas Lingkar Studi Adiluhung dan Kelompok Studi AgroPol






Discussion about this post