
Selalu ia gambar, si al-a’war selama
Tujuh ratus dua hari dan pikiranku
Telah seluruhnya khatam untuk
Masuk dan duduk-duduk di kepalamu.
Kutu-kan Hujan
Demi payung hitam yang mengucurkan hujan
Di tubuhmu, mataku masih menempel di jendela apartemen melihat cuaca terik dan seorang perempuan layaknya burung gagak diantara kawanan merpati. Orang-orang itu berkeringat, pori-pori nya terbuka seperti permukaan kue bika ambon.
Lalu kenapa kau berpegang sendiri pada jalan yang dingin, bergemuruh dan menggigil.
Demi payung hitam yang mengucurkan hujan di tubuhmu, hari ke hari intensitas hujan di payung hitam mu, di wilayah yang tak tersentuh, di tempat yang kau buat sendiri membuat bagian jiwaku yang kering seakan berlari terbirit-birit menujumu.
Saat seperti kusentuh satu inci wilayahmu, tubuhmu lenyap, suaramu senyap. Dan aku yakin kau ada didepanku.
Lalu tanganku dengan matanya mencari hujan itu, wajah cantik yang kuyup, baju maroonmu yang basah di tengah terik pandangan masyarakat. Kakiku bingung mencari kaki putihmu yang basah di aspal yang hitam yang mengkilat.
Demi payung hitam yang mengucurkan hujan di tubuhmu, apa yang kau perbuat pada bintang jatuh
Di belakang bukit rumahmu, Apakah kau mengubahnya menjadi logam agar selalu kau genggam pada gagang payung hitam, lalu mengabulkan segenap permintaan mu? Demi langit semesta dan seluruh bintang-bintangnya. Kau menghilang atau menghilangkanku.
Demi payung hitam yang mengucurkan hujan di tubuhmu, apakah kau menyamarkan tangismu dengan air terjun yang mengalir di dagumu. Demi apapun yang tumbuh di kering jiwaku, apapun yang ada diatas, tuhan dan semacamnya, mengutuk keabadian hujan di tubuhmu.
Tasikmalaya, Oktober 2025
Mengkaji yang Haram
Veil mutiara melingkupi memori kepalamu
Yang penuh dengan apa-apa tentang diriku.
Gaun pengantin lalu bunga putih hanyalah
Siloka yang kubuat-buat
Pertanda formalitas
Agar mite yang kutiupkan
Tampak benar dan berperadaban.
Bau kemenyan yang tajam
Bak jarum adalah syarat
Tiap malam agar aku mengkaji
Setiap lekuk tubuhmu.
Selalu ia gambar, si al-a’war selama
Tujuh ratus dua hari dan pikiranku
Telah seluruhnya khatam untuk
Masuk dan duduk-duduk di kepalamu.
Selalu kumandangkan namaku
Bagaikan dzikir kepada tuhan
Dan hanya kepadaku kau harus mencintaiku.
Maka dengan cara apa lagi,
Ku tak benar-benar tahu apakah memori
Internal di kepalamu akan menolak akses
Apapun tentang diriku, saat kesepakatanku
Jatuh tempo dan kau menjatuhkanku
Pada kefakiran yang sebenarnya kumiliki.
Bandung, Oktober 2025
Redi Aryanto, Lahir di Tasikmalaya, 29 April 2002. Ia adalah alumni jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia suka literasi dan menulis, karyanya diterbitkan di majalah elipsis, tatkala.co, buku pertamanya antologi puisi berjudul “Berdoalah Sampai Tuhan Mengenal Suaramu (2025).”






Discussion about this post