• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, Januari 16, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
1 Januari 2026
in Sastra, Puisi
1k 64
0
Home Sastra
BagikanBagikanBagikanBagikan

Selalu ia gambar, si al-a’war selama

Tujuh ratus dua hari dan pikiranku

Telah seluruhnya khatam untuk

Masuk dan duduk-duduk di kepalamu.

Kutu-kan Hujan

Demi payung hitam yang mengucurkan hujan

Di tubuhmu, mataku masih menempel di jendela apartemen melihat cuaca terik dan seorang perempuan layaknya burung gagak diantara kawanan merpati. Orang-orang itu berkeringat, pori-pori nya terbuka seperti permukaan kue bika ambon.

Lalu kenapa kau berpegang sendiri pada jalan yang dingin, bergemuruh dan menggigil.

Demi payung hitam yang mengucurkan hujan di tubuhmu, hari ke hari intensitas hujan di payung hitam mu, di wilayah yang tak tersentuh, di tempat yang kau buat sendiri membuat bagian jiwaku yang kering seakan berlari terbirit-birit menujumu.

Saat seperti kusentuh satu inci wilayahmu, tubuhmu lenyap, suaramu senyap. Dan aku yakin kau ada didepanku.

Lalu tanganku dengan matanya mencari hujan itu, wajah cantik yang kuyup, baju maroonmu yang basah di tengah terik pandangan masyarakat. Kakiku bingung mencari kaki putihmu yang basah di aspal yang hitam yang mengkilat.

Demi payung hitam yang mengucurkan hujan di tubuhmu, apa yang kau perbuat pada bintang jatuh

Di belakang bukit rumahmu, Apakah kau mengubahnya menjadi logam agar selalu kau genggam pada gagang payung hitam, lalu mengabulkan segenap permintaan mu? Demi langit semesta dan seluruh bintang-bintangnya. Kau menghilang atau menghilangkanku.

Demi payung hitam yang mengucurkan hujan di tubuhmu, apakah kau menyamarkan tangismu dengan air terjun yang mengalir di dagumu. Demi apapun yang tumbuh di kering jiwaku, apapun yang ada diatas, tuhan dan semacamnya, mengutuk keabadian hujan di tubuhmu.

Tasikmalaya, Oktober 2025


Mengkaji yang Haram

Veil mutiara melingkupi memori kepalamu

Yang penuh dengan apa-apa tentang diriku.

Gaun pengantin lalu bunga putih hanyalah

Siloka yang kubuat-buat

Pertanda formalitas

Agar mite yang kutiupkan

Tampak benar dan berperadaban.

Bau kemenyan yang tajam

Bak jarum adalah syarat

Tiap malam agar aku mengkaji

Setiap lekuk tubuhmu.

Selalu ia gambar, si al-a’war selama

Tujuh ratus dua hari dan pikiranku

Telah seluruhnya khatam untuk

Masuk dan duduk-duduk di kepalamu.

Selalu kumandangkan namaku

Bagaikan dzikir kepada tuhan

Dan hanya kepadaku kau harus mencintaiku.

Maka dengan cara apa lagi,

Ku tak benar-benar tahu apakah memori

Internal di kepalamu akan menolak akses

Apapun tentang diriku, saat kesepakatanku

Jatuh tempo dan kau menjatuhkanku

Pada kefakiran yang sebenarnya kumiliki.

Bandung, Oktober 2025


Redi Aryanto, Lahir di Tasikmalaya, 29 April 2002. Ia adalah alumni jurusan Bahasa dan Sastra Arab UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ia suka literasi dan menulis, karyanya diterbitkan di majalah elipsis, tatkala.co, buku pertamanya antologi puisi berjudul “Berdoalah Sampai Tuhan Mengenal Suaramu (2025).”

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
  • Puisi-Puisi Redi Aryanto | Mengkaji yang Haram - 1 Januari 2026
Tags: Sastra

Related Posts

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Oleh Redaksi Marewai
8 Januari 2026

Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah Judul              : Apa yang Tak Kau Dengar dari...

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Oleh Redaksi Marewai
8 Desember 2025

            Gadis itu sudah memutuskan untuk membenci hujan. Senandung hujan di atap rumahnya tak lagi menjadi sesuatu yang ia...

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Cerpen: Matikau Elian – Ingik

Oleh Redaksi Marewai
25 Oktober 2025

Senja baru saja mulai menebar warna jingga di ufuk barat, seorang anak laki laki bernama Elian, usianya belum genap...

Puisi: Gelanggang – Nico Farentinno

Puisi: Gelanggang – Nico Farentinno

Oleh Redaksi Marewai
18 Oktober 2025

Gelandangan sentak tidur gelandanganroda empat lalu lalangemperan toko pinggir jalanah, pagi kembali terulang kardus coklat alas pantatjaga tubuh tetap...

Next Post
Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI - AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In