
Payakumbuh, marewai.com – Pemenang Sayembara Manuskrip Puisi Payakumbuh Poetry Festival (PPF) 2025, mengikuti kelas mentoring yang penyelenggaraannya berkolaborasi dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya lewat inisiatif MTN Lab. Kelas yang berlangsung pada 1-15 November 2025 ini berfokus pada pengembangan naskah pemenang sayembara. Program ini menjadi ruang pendalaman karya sekaligus upaya memperkuat regenerasi penyair Indonesia.
Kelas mentoring ini merupakan bagian dari kerja sama PPF dengan MTN Seni Budaya bidang Sastra dalam format MTN Lab, ruang penciptaan dan pengembangan karya melalui residensi, inkubasi, lokakarya, dan masterclass yang mendukung proses kreatif secara menyeluruh.
MTN Seni Budaya adalah program prioritas nasional yang dikelola Kementerian Kebudayaan RI. Program ini dirancang untuk menjaring, mengembangkan, dan mempromosikan talenta seni budaya Indonesia secara terstruktur dan berkelanjutan, serta menghubungkan talenta dengan berbagai peluang pengembangan kapasitas dan akses pasar, baik nasional maupun global.
“Dalam kelas ini, lima mentor berpengalaman memfasilitasi sepuluh pemenang sayembara untuk mengembangkan manuskrip mereka masing-masing,” kata Direktur PPF, Roby Satria. Ia menambahkan dari kelas ini diharapkan penyair peserta dapat melahirkan karya yang lebih kuat, matang, dan segar.
Mentor-mentor tersebut ialah Gus TF Sakai, Inggit Putria Marga, Raudal Tanjung Banua, Dorothea Rosa Herliany, dan Kiki Sulistyo.
Salah seorang mentor, Inggit Putria Marga mengatakan materi yang diberikan mencakup pembahasan mendalam tentang kualitas manuskrip puisi, termasuk analisis unsur intrinsik seperti pemilihan diksi, kekuatan citraan, konsistensi gaya bahasa, serta pengolahan tema.
“Selain itu,” lanjut Inggit, “mentoring juga meninjau aspek ekstrinsik yang mempengaruhi penciptaan puisi, seperti nilai, konteks, dan pengalaman yang melatarbelakanginya.”
“Lewat proses ini para mentee selaku penerima pembelajaran memperoleh pengetahuan, pengalaman, dan mata lain dalam melihat kelemahan maupun kekuatan karya mereka, sehingga mereka dapat terus mengembangkan keterampilan serta meningkatkan kualitas karyanya,” tambah Inggit.
Sepuluh peserta kelas mentoring berasal dari berbagai wilayah di Indonesia. Mereka adalah penyair berusia muda yang dipandang memiliki bakat dan talenta besar oleh tim juri Sayembara Manuskrip Puisi PPF 2025.
Mereka adalah Adriansyah Subekti (Banyumas); Polanco Surya Achri (Yogyakarta); Badrul Munir Chair (Grobogan); Dandri Hendika (Solok Selatan); dan Arif Purnama Putra (Padang).
Selanjutnya ada Andreas Mazland (Riau); Galeh Pramudita Arianto (Tangerang Selatan); Mohammad Habibi (Sumenep); Wawan Kurniawan (Soppeng); dan Bima Yusra (Lampung).
Adriansyah Subekti mengatakan banyak manfaat yang didapat dalam kelas mentoring, terutama terkait metode untuk mematangkan karya.
“Kelas mentoring ini sangat membantu saya untuk menemukan kekurangan dan kelebihan di dalam manuskrip puisi saya. Kekurangan dan kelebihan yang bahkan sebelumnya tak saya pikirkan. Tapi dengan adanya kelas ini, mentor telah memberikan banyak perspektif baru dan masukan-masukan berharga sebagai pertimbangan saya untuk mengedit puisi sebelum diterbitkan,” jelas penyair asal Banyumas tersebut.
Andreas Mazland, peserta dari Riau, menggarisbawahi hal yang senada. Menurutnya kelas mentoring sangat berguna, terutama bagi penyair muda seperti dirinya.
“Menurutku, kelas mentoring ini sangat membantu penyair muda sepertiku mengenali naskah dan ragam ilmu lainnya dalam puisi. Dan di sana letak pentingnya kelas ini kurasa dibuat oleh PPF,” ujarnya.
Keduanya juga berharap program ini terus berlanjut di tahun-tahun selanjutnya dalam format luring.
PPF Masuk Sekolah
Di samping kelas mentoring MTN Lab, bentuk kolaborasi PPF dengan MTN Seni Budaya lainnya adalah PPF Masuk Sekolah yang akan berlangsung pada 27-29 November mendatang.
“Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, program ini bertujuan untuk mengenalkan dan mendekatkan siswa di sekolah-sekolah dengan sastrawan dan dunia sastra itu sendiri,” mengutip kembali Roby Satria. “Dengan cara ini, kita berharap munculnya bibit baru sastrawan yang akan berperan dalam pemajuan dunia sastra di masa datang”.
Dalam program ini, para pemenang Sayembara Manuskrip Puisi akan mengunjungi sekolah-sekolah menengah yang ada di Kota Payakumbuh dan Kabupaten Lima Puluh Kota untuk berbincang mengenai sastra, khususnya puisi. Tahun ini PPF bekerjasama dengan lima sekolah, yaitu SMAN 1 Kec. Suliki, SMAN 1 Kota Payakumbuh, SMAN 5 Kota Payakumbuh, SMAN 2 Kota Payakumbuh; dan SMAN 1 Kec. Lareh Sago Halaban.
PPF sendiri merupakan festival sastra yang khusus mengangkat khazanah puisi Indonesia sebagai titik berangkat perayaan. Tidak hanya puisi sebagai produk sastra tetapi juga puisi sebagai bahan alih wahana ke medium-medium seni lainnya.
Di tahun keenam pelaksanaannya, PPF 2025 mengusung tema “Antardunia dalam Puisi” dan akan berlangsung pada 27 sampai 29 November di Kota Payakumbuh, Sumatera Barat.






Discussion about this post