
Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud Writers & Readers Festival, Bali. Ini tentu saja kabar yang sangat menggembirakan sekaligus menggetarkan. Momen saat novel ini harus menunggu dua tahun di tangan editor akhirnya mulai dapat saya terima. Perlahan, saya membayangkan betapa asyiknya launching buku di event sastra paling bergengsi di Asia Tenggara itu. Ubud, benarkan saya akan ke sana?
Hari-hari berlalu seperti saat kita melongokkan kepala melihat pepohonan yang berlari kencang dari balik kaca kereta api. Saya benar-benar menapak di Ubud pada awal November, menyesap udara segarnya, menyaksikan orang-orangnya, pun menenggak airnya. Saya sampai di Ubud pukul satu dini hari lantaran pesawat delay karena cuaca, sopir yang menjemput ke bandara mengatakan sudah tiga jam menanti kedatangan saya. Karena kami sama-sama belum makan, saya berinisiatif untuk meminta makan setelah bertanya berapa lama waktu yang akan kami habiskan dari Denpasar ke Ubud.
“Masnya mau makan apa malam-malam begini? Saya ngikut masnya aja.”
“Masakan Minang saja, Pak, kalau boleh dan masih ada yang buka.”
Pak Safria Winamun mengangguk, kami akhirnya makan di Rumah Makan ACC Minang, di Jalan Tuban no 3, tak berapa jauh dari bandara. Saya memesan ayam gulai karena gerah dan ingin makan berkuah, dan benar, saya merasakan santan yang begitu nikmat walau kini sangat jauh dari rumah.
“Masnya suka lagu Bali atau tidak, saya akan putar lagu Bali kalau mas mau,” tawar Pak Safria pada saya ketika kami sudah kembali di dalam mobil. Saya mengangguk dan mencari lagu Bali di tv mini mobil, sementara beliau fokus pada stir. Kami cepat akrab, bertanya ini-itu dan kondisi di wilayah kami masing-masing. Dari Denpasar ke Ubud kata beliau bisa satu setengah jam, atau bahkan dua jam, tapi karena ini sudah sangat larut mungkin bisa dicapai hanya dalam durasi satu jam saja.
MaxOne, hotel itu menengadah dan kelihatan congkak, saya diturunkan di halamannya yang sempit dan berkali-kali meminta maaf atas keterlambatan kedatangan. Tapi Pak Safria menjawab, “Jangan cemaskan itu, memang sudah menjadi tugas saya menjemput mas, semoga besok acaranya lancar dan betah di Ubud.”
Saya mengangguk dan berlalu.
Ubud ternyata seperti Padang Panjang; adem, asri, tidak sumpek disesaki gedung. Saya datang ke Festival lepas zuhur, ditemani Mas Hafizh, editor fiksi di Penerbit Mizan Pustaka. Kami memang sudah membuat janji temu sebelum ke Ubud, beberapa minggu sebelum keberangkatan. Kami, ya, seperti kebanyakan saat saya berjumpa dengan penulis, sangat dekat dan seperti sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Kami bicara apa saja, sebebas-bebasnya, termasuk apakah saya suka minum alkohol atau tidak, apakah saya merokok atau tidak, atau mengapa pesawat saya delay enam jam di bandara.
Saat datang ke lokasi venue utama Ubud Writers & Readers Festival, saya benar-benar merasa betapa sastra begitu mempengaruhi banyak kepala. Ini adalah Festival Sastra ketiga saya, setelah Balige Writers Festival dan Borobudur Writer & Cultural Festival di tahun sebelumnya. Kami dengan santainya malah mencari makan, lalu mencari tempat duduk di pelataran sambil melihat Bang Hamzah Muhammad mendengarkan curhatan pengunjung dan kemudian menuliskannya jadi puisi.
Kinasih, teman saya yang kuliah di Universitas Udayana, yang beberapa bulan lalu datang ke Padang Panjang dalam agenda Manajemen Talenta Nasional (MTN) Belajar Bersama Maestro muncul tak lama kemudian, saya menandatangani novel Leiden (2020-1920) yang dia bawa sambil berkata, “Aku saiki yo, Mas, nanti kamu sibuk ttd bukumu sama yang lain.”
Benar. Acara launching hanya berlangsung satu jam. Pas. Tidak lebih tidak kurang. Dr. Judith E. Bosnak, seorang perempuan Belanda paruh baya yang hadir di acara launching bertanya dari mana saya mendapatkan nama Alex van Deer Meer? Dan betapa dia menyukai ide yang saya tuturkan dalam Leiden (2020-1920) tentang menuskrip kuno Nusantara yang jauh lebih banyak disimpan di Perpustakaan Leiden alih-alih di Indonesia.
“… Dosen Filologi saya, Ibu Yulfira Riza, beliau sangat luar biasa. Dari beliau saya mendapat banyak sekali informasi mengenai manuskrip kuno. Selain itu, Alex van Deer Meer, itu adalah nama yang diberikan editor saya, setelah sebelumnya saya beri nama Alex van Helsing.”
Sesi foto dan tanda tangan buku ternyata jauh lebih menyenangkan, saya menyalami hadirin yang datang pada saya dan kami mengobrol sebentar. Beberapa orang yang baru membaca bab awal berkata menyukai Sumatra dan sangat ingin datang, beberapa yang lain berkata suka sekali dengan gaya penutup saya di tiap bab yang tetap menyisakan aroma misteri sehingga pembaca dapat bertahan untuk tetap melanjutkan bacaannya.
“Saya penasaran bagaimana masa kecil Mas Haris di Sumatra sana …” atau, “Bagaimana cara Mas Haris memisahkan antara fakta dan fiksi, serta cara menakar tiap catatan yang ditemukan? Apakah keseluruhan faktanya dimasukkan begitu saja atau ada tahap penyaringan juga?” atau, “Saya akan menyelesaikan naskah ini dan kembali mengontak, sejauh ini saya sangat menikmati perjalanan Syamil.” Dan beberapa pertanyaan dan pernyataan lain. Hari itu saya senyum sepanjang hari, seperti mempelai yang menunggu tamu datang dan meminta foto setelah mengucapkan selamat berkali-kali. Orang-orang menyalami saya seperti mertua yang sedang menjabat tangan menantunya, beberapa yang lain menepuk pundak saya sambil menggeleng, mungkin dalam hatinya, “Anak ingusan ini tiba-tiba muncul macam setan di dunia sastra.”
Di sesi terakhir, barulah saya dapat leluasa bercerita dengan editor saya, berfoto bersama, berkeliling, dan beberapa kali bertemu dengan orang baru yang mengajak saya bersalaman dan berkata sangat menyukai Leiden (2020-1920) yang tentu saja membuat perasaan senang saya melambung tinggi. Mbak Ruth mengajak saya makan, dan kami (Saya, Mbak Ruth Priscilia, Mas Hafizh Pragitya, Mbak Didiet Prihastuti, Kak Maria Pankratia) bercerita dua jam tanpa jeda.
“Ayo pesen apapun di sini, hari ini harimu, Haris.” Mbak Ruth menyogohkan daftar menu pada saya, yang tentu saja saya terima seperti anak kecil yang baru dibelikan mainan. Saya memesan iga sapi bakar yang tentu saja tidak habis karena porsinya yang besar, jadi makanan itu saya minta bungkus saja untuk dilanjutkan di hotel.
Dalam perjalanan pulang kembali ke MaxOne, Mbak Ruth berterima kasih saya benar-benar bagus dalam menjawab dan presentasi, pun meminta maaf jika ada yang kurang dalam acara, lalu berdoa semoga Leiden (2020-1920) bisa diterima lebih banyak lagi pembaca. Malam itu, saya bermenung seorang diri di dalam kamar, apakah saya berubah? Apakah saya benar-benar memberikan manfaat pada pembaca saya? Apakah Ubud akan mengubah cara pandang saya terhadap dunia sastra? Apakah saya dengan usia setungkul jagung ini sudah berhak memperoleh begini banyak pujian?
Pagi harinya, saya putuskan untuk mengemasi barang-barang dan menjadi seperti sedia kala, lalu saya minta pada sopir yang mengantar ke Bandara, Pak Suwitra, mengantarkan saya ke Krisna terlebih dahulu, membeli oleh-oleh dan kami makan bareng sambil membicarakan Bali yang beberapa hari lalu banjir.
“Kalau sudah nikah bulan madunya ke sini ya, Mas, akan saya carikan hotel yang hot.”
Saya mengangguk, melambaikan tangan dan merindukan bareh Solok.
Biodata Penulis
Hasbunallah Haris,mahasiswa sejarah UIN Imam Bonjol Padang. Tertarik pada sastra perjalanan dan kisah-kisah heroik Minangkabau. Penelitiannya tentang Sungai Pagu dimuat menjadi buku historical fiction berjudul Mandulang Cinto, satu dari sedikit buku berbahsa Minangkabau yang dikoleksi oleh Leiden University Library.




Discussion about this post