• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Rayuan Pohonan Lontar di Kota Karang | Raudal Tanjung Banua

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
27 Juni 2025
in Pelesiran
1.1k 22
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

KEESOKAN hari, saya menikmati kopi pagi di halaman rumah Ragil yang teduh di Oebobo—tak jauh dari kantor gubernur NTT. Kali ini Ragil menyeduh kopi robusta Brasil, Padre Coffe, oleh-oleh kekasihnya yang baru pulang dari Rio de Jenairo. Ada juga sebotol sopi.       

“Apa beda sopi dan moke?” Tanya saya kepada Ragil setelah mencicipi seteguk sopi.

“Sekarang orang anggap sama, Bang, padahal punya perbedaan mendasar,” jawab laki-laki “blasteran” Malang-Rote itu.

Orang Rote, kata Ragil, juga orang Helong di Pulau Semau, mengenal laru merah dan laru putih. Laru merah dilarutkan dengan air, kemudian ditambahi beberapa rempah dan akar-akaran sebagai pemicu fermentasi dan sekaligus mendapatkan rasa yang khas. Begitu juga laru putih, prosesnya sama. Hanya hasilnya beda. Laru merah jadi sopi, dan laru putih jadi moke.

“Sopi lebih keras dengan aroma menyengat, sedangkan moke lebih soft, kadang ada masam dan legitnya, dan sayup-sayup membawa aroma nira mentah,” jelasnya lebih lanju.  “Karena itu, orang mengira sopi lebih tinggi kadar alkoholnya.”

            Saat asyik berbincang, Ibu Ragil memanggil kami untuk sarapan. Perempuan anggun asli Pulau Rote itu sengaja memasakkan saya sop kepala ikan kakap merah. Sop kaya rempah itu makin terasa maknyus berkat cabe rawit yang dibiarkan utuh di dalamnya; dan saat digigit, rasa pedas terasa padan dengan gurihnya ikan laut Timor.

Selesai makan, Ibu Ragil memberi saya dua helai kain tenun khas Rote dan miniatur sasando. “Buat kenang-kenangan, Nak,” kata beliau tulus.

Saya peluk perempuan yang sudah ditinggal meninggal oleh suaminya itu, ayah Ragil, seorang pensiunan Angkatan Udara dari Malang.

Setelah itu kami kembali touring keliling kota. Kali ini Ragil ingin mengajak saya ke Pantai Pasir Panjang di kawasan Kota Lama. Berkunjung ke sana, katanya, ibarat sekali dayung dua tujuan tercapai: menikmati pantai sekaligus menyusuri kota tua. Wah, siplah!

            Di depan Kantor Perhubungan NTT, Ragil berhenti. Ia memperkenalkan sebatang pohon cendana yang ditanam di halaman kantor tersebut kepada saya. Tingginya sekitar dua meter, tapi batangnya kurus kecil. “Inilah pohon cendana yang terkenal itu,” katanya. Saya menyentuh dan menghidunya. Aromanya belum terlalu muncul, sebab aroma cendana berdasarkan usia pohon.

Saya bersyukur menyaksikan langsung pohon cendana (santalum album). Dalam literatur disebut endemik pulau sabana, Timor dan Sumba, meski kenyataannya sudah sulit dijumpai. Saya terbayang pohon kayu putih yang masih banyak di Pulau Buru, dan mungkin begitulah dulu keadaan pohon cendana saat masih belum punah di daratan berjuluk Nusa Cendana ini.

Saya juga beruntung karena masih menyimpan sebuah kipas kayu cendana asli, hadiah lomba menulis cerpen waktu saya di Denpasar. Bila pikiran buntu, saya akan keluarkan dari kotaknya dan kuhirup aromanya dalam-dalam. Aroma terapi alami yang menenteramkan.

***

KOTA Lama merupakan sebuah kecamatan di Kota Kupang. Kawasan seluas 3,22 km persegi itu, terdiri dari 10 kelurahan dengan jumlah penduduk 32.993 jiwa. Sejak abad ke-15, cikal bakal Kupang ini sudah diramaikan perdagangan antar pulau dengan komoditas utama kayu cendana.

Pedagang Makassar, Buton, Banjar dan Jawa berlayar ke sini. Baru abad ke-17 Portugis dan VOC bersaing berebut pengaruh. Portugis terusir ke timur pulau yang kini menjadi Timor Lorosae. VOC membuat kolonialisasi di sepanjang dataran barat pulau Timor dan pulau-pulau sekitarnya yang kini dikenal sebagai Flobamora (Flores, Sumba, Timor dan Adonara). Dan tentu juga Pulau Rote, Semau dan Sabu Raijua.

Ada dua destinasi utama di kawasan Kota Lama. Pertama, Pantai Pasir Panjang di mana pusat kota lama itu pernah tumbuh, dan sekarang ditata sebagai ruang publik kota. Kedua, kawasan kota lama itu sendiri yang masih menyisakan bangunan-bangunan tua (heritage) peninggalan kolonial serta jejak perdagangan Nusantara. 

Kami langsung ke pantai dan bersua suasana kekinian dengan vibes masa lalu. Penataan Pantai Pasir Panjang sama dengan Pantai Kelapa Lima. Ada bangku-bangku beton berarsitektur model sasando, dengan pola daun lontar mengembang sebagai tempat berteduh. Cukup artistik, meski lumayan banyak mengambil ruang.

Saya berpikir, kuat juga alat musik tradisional ini memberi jejak pada arsitektur NTT, bahkan kantor gubernurnya pun dibuat menyerupai lengkung sasando. Tapi saya pikir-pikir lagi, daun lontarlah yang justru paling berpengaruh, sebab lengkungan khas pada sasando itu dibuat dari jalinan daun lontar!

Pedesterian Pantai Pasir Panjang sangat lapang, sebagian ditata buat pedagang lesehan, sebagian lagi untuk kafe semi permanen. Di bawah jalur pedesterian, masih tersisa hamparan pasir tempat anak-anak dan remaja bermain bola. Di laut surut, bekas tiang-tiang dermaga lama muncul mencuat berupa besi-besi bersilangan. Di sampingnya, terdapat dermaga baru yang dipenuhi pengunjung sampai ke ujung. Kapal-kapal pesiar kecil mengapung di situ, dan Kota Karang tampak menghampar sejauh mata memandang.

Dari dermaga, mercu suar Benteng Concordia terlihat dari dekat. Tingginya 13meter dan diameter 25 meter, memiliki dua serambi pandang. Jendelanya berupa kotak-kotak yang tersebar secara acak. Benteng itu tegak di atas tebing karang, seolah sebatang lontar yang kokoh. Tebing itu sendiri terletak di muara sungai Air Mata—sebuah nama yang sugestif!

Sungai itu mengalir dari kampung tua bernama sama, Kampung Air Mata, di bagian atas Kota Lama. Ke sanalah Pahlawan Nasional asal Bangka, Depati Amir, dibuang Belanda bersama keluarganya pada tahun 1851. Makamnya berada di TPU Batukadera.

Matahari petang menyemburatkan warna senja ke menara putih mercu suar. Sinar merah kekuningan memercik amat indah. Bersamaan dengan itu suara azan bergema dari Masjid Baitul Qodim, masjid tempat berkhidmat Depati Amir saat hidup di pembuangan. Kami pun bergegas ke sana, melalui jalan di tepi sungai. Masjid bersejarah ini telah dirombak sehingga tak lagi kelihatan sisa-sisa ketuaannya. Tapi itu membuatnya lebih lapang dan gerak jemaah jadi leluasa.

Selesai solat magrib, kami susuri ruas jalan yang di kiri-kanannya dipenuhi bangunan tua. Umumnya jadi toko dan tempat tinggal, termasuk toko oleh-oleh dan cindera mata. Laju motor sengaja dipelankan sehingga atmosfir kota lama merasuk secara slow-motion. Kadang kami berhenti menyaksikan detail bangunan penting yang tersisa. Ada rumah jabatan Asisten Residen Kupang dan Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) di Lai Lai Besi Kopan.

Ada pula bekas bioskop Soen Lie, yang berganti nama jadi Bioskop Royal, milik pengusaha lawas Kupang, Tjion Koen Siong. Pengusaha ini juga punya pabrik es balok pertama di Timor bernama Minerva. Baik bioskop maupun pabrik es, masih kokoh dengan arsitektur art deco. Konon keduanya dirancang oleh Ir. Sukarno dalam pembuangannya di Ende.

Hebatnya lagi, tahun 1937 ketika di Kepulauan Sunda Kecil, termasuk Bali, belum ada pembangkit listrik, Tjion Koen sudah punya pembangkit listrik sendiri. Situs web merekamkota (2020) mencatat, pembangkit listrik itu bernama Elektrische Centrale te Koepang atau EMTO. Lewat pembangkit sentral inilah pabrik esnya beroperasi dan film di biskopnya diputar.

Situs merekamkota juga menyebut bahwa gedung bioskop Soen Lie pernah dijadikan tempat berkumpul orang-orang pergerakan. Misalnya saat berlangsung Kongres Timorsch Verbond tahun 1932 dan pertemuan pemuda tahun 1938 

Bekas pabrik es Minerva masih tegak bersebelahan dengan bekas gedung bioskop Soen Lie, meski kurang terawat. Bekas pembangkit listrik hanya menyisakan ruang terbuka antara kedua gedung tua itu. Ruang terbuka itulah yang dijadikan pusat kuliner ikan segar.

Kami pun singgah memesan ikan bakar. Sambil menunggu hidangan, iseng-iseng saya cari sebuah lagu kenangan di YouTube. Saya ingat, dulu ada lagu yang liriknya menyebut nama sebuah kota di pulau ini. Tak lama muncullah lagu yang saya cari. Memang betul bercerita tentang kota di Pulau Timor, tetapi bukan tentang Kupang, melainkan Dili! Itulah lagu Rita Effendy, “Januari di Kota Dili”.

Ah, saya tak peduli, lagu itu tetap saya putar! Bagaimana pun, Dili dan Kupang dua saudara kandung yang dipisahkan oleh jalan sejarah. Meski sejatinya warga kedua kota ini tak pernah benar-benar terpisahkan. Saya masih gampang bertemu orang yang lahir di Dili tapi kini tinggal di Kupang, atau sebaliknya, mereka lahir di Kupang tapi keluarga besarnya ada di Dili.

Jadi saya nikmatilah suara renyah Rita Effendy sambil menyantap ikan bakar yang sudah terhidang. Lamat-lamat membayang pula prosa Seno Gumira Ajidarma, Saksi Mata dan Jaz, Parfum dan Insiden, serta yang terbaru, Orang-Orang Oetimu karya Felix Nessi. Entah kenapa semua membaur bagai terhantar angin santer yang menderu-deru di kepalaku. Dan di dalam hati, semua itu berubah menjadi haru-biru.  

Keharuan itu kian mengental, ketika saya lanjut berkunjung ke sekretariat Komunitas Dusun Flobamora di SMP Katolik St. Yosep Naikoten, Kota Raja. Kepala sekolahnya, Pastor Amanche Franck, bersama sastrawan muda Kupang seperti Mario F. Lawi dan Saddam HP, mendirikan komunitas ini demi mewadahi gairah bersastra anak-anak muda Kota Karang.

Saya disambut setengah formal di gerbang sekolah. Pastor Amanche mengalungkan kain tenun warna merah coklat ke leher saya, sebagai ucapan persahabatan dan selamat datang. Mario F. Lawi, yang buku puisinya, Ekaristi, menjadi Buku Puisi Pilihan Majalah Tempo 2014, menghadiahi saya buku esei terbarunya, Menemukan Priamel di Bulan.

Kemudian kami makan malam bersama. Ada ikan bakar bersambal dabu-dabu dan sayur kangkung. Karena sudah kenyang makan di Kota Lama, saya makan sedikit saja dan memilih menikmati kopi Arabica Timor. Sementara lagu-lagu populer terdengar memecah keheningan malam, digeber oleh anggota polisi dari asrama yang terletak di samping sekolah St. Yosep.

“Sudah biasa, biarlah mereka bernyanyi dan kita bercerita,” kata Pastor Amanche tersenyum ramah. Maka kami pun bercerita hingga larut.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Page 3 of 3
Prev123
Tags: BudayaMarewaiPelesiran

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
DISKUSI KELOMPOK TERPUMPUN PEKAN NAN TUMPAH SERI KEEMPAT USAI DIGELAR

DISKUSI KELOMPOK TERPUMPUN PEKAN NAN TUMPAH SERI KEEMPAT USAI DIGELAR

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Syekh Yahya Al Khalidi, Mursyid Tareqat Naqsabandiyah Al Khalidiyah dari Nagari Panjua Anak (1857 – 1943)

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In