Saat air surut, perahu-perahu tergeletak di atas karang seolah lelaki yang sedang tidur siang. Baru pada sore hari ketika pasang naik, perahu-perahu itu dibangunkan para nelayan yang segera memacunya ke tengah laut. Ikan-ikan segar hasil tangkapan mereka banyak dijual di Pantai Kelapa Lima, pas di depan hotel tempat saya menginap dan mengisi sebuah acara.
Pantai Kelapa Lima memang ditata sebagai pusat kuliner serba ikan. Ada dua los pasar ikan berukuran besar dibuat menjorok ke laut, berarsitektur tradisional beratap alang-alang. Juga sejumlah gazebo dan bangku-bangku menyerupai protetipe alat musik sasando. Para pembeli tinggal pilih jenis ikan dan bilang mau disajikan dalam masakan apa. Bisa digoreng, rica-rica atau dibakar. Suatu malam saya memesan seekor ikan baronang bakar seharga Rp 75.000.
Kebalikan dengan Pantai Kelapa Lima, di Pantai Oesapa tak ada bangunan besar, kecuali kios-kios kecil di sepanjang tanggul pantai. Tanggul itu berfungsi ganda: penahan abrasi, pagar jalan raya dan pelataran bagi kios pedagang kaki lima. Tapi sama dengan Kelapa Lima, kios Pantai Oesapa juga buka sore sampai malam sehingga siang hari terasa lengang. Selain satu-dua orang pengunjung, hanya ada beberapa anak kampung bermain di bawah pohon lontar.
Ragil mendekati mereka dan bertanya apakah ada orang sekitar memasak nira. Seorang anak menjawab bahwa ayahnya baru saja turun pohon, sambil menunjuk sebuah rumah—lebih berupa gubuk—di kejauhan. Katanya, di rumahnya tersedia olahan nira, baik berupa minuman maupun gula. Kami putuskan mampir saat pulang saja karena masih lanjut ke pantai lain.
***
KINI kami meluncur ke Pantai Batu Nona yang hanya sepelemparan buah lontar saja dari Pantai Oesapa, melewati jalan lurus di pesisir teluk. Namun, meski terletak bersebelahan, suasana kedua pantai berbeda jauh. Jika bibir Pantai Oesapa memiliki tanggul buatan, maka Pantai Batu Nona penuh batu karang seakan tanggul alami yang tak kalah kokoh.

Nama Nona dinisbatkan pada seorang nona anonim dalam legenda setempat. Konon, dulu ada seorang Nona menceburkan diri ke laut karena perkara asmara dan ia menjadi batu di situ. Tapi batu jejadian itu tak lagi tampak karena ditelan ombak, bahkan patung imitasi yang pernah dibuat oleh Dinas Pariwisata, ikut tenggelam ke laut. Rupanya, pada waktu tertentu, Teluk Kupang bisa ganas juga.
Di Batu Nona ada penyewaan banana boat dan kano. Selain itu, di pantai yang masih ditumbuhi belukar perdu itu, ada tempat membuat kapal kayu. Sebuah kapal tampak hampir rampung dikerjakan, satu lagi masih dengan kayu-kayu baru dipasang.
Kami melanjutkan perjalanan ke timur. Hanya saja kami harus berbelok keluar pantai lebih dulu, karena jalan tepi pantai berakhir di Batu Nona. Maka kami kembali ke jalan Trans Timor yang menghubungkan Kupang-Kefamenanu-Atambua. Jalannya menurun landai diteduhi deretan pohon asam. Nona-nona kecil saya lihat memungut buah asam yang berjatuhan sambil bersenandung. Pohon asam Jawa tahan tumbuh di sabana, dan buah-buahnya menjadi sumber penghasilan tambahan bagi banyak keluarga di Pulau Timor.
Kami melewati tempat pemberhentian bus antar kota di tepi jalan, semacam terminal bayangan. Dari sini penumpang bisa naik bus sampai ke perbatasan Timor Leste. Jika saja saya punya waktu yang cukup leluasa, pasti saya sudah menumpang salah satu bus menuju Kefa, Atambua atau bahkan lanjut ke Dili.
Tapi begitulah, panitia acara di instansi pemerintah belakangan memperlakukan undangan dengan jadwal ketat ala birokrat. Jadwal tiket pulang dipesankan saat acara berakhir, sekalipun kita minta ditunda dengan tanpa tanggungan akomodasi lagi, tapi mereka tak mau tahu. Padahal dulu tidak begitu. Masih untung saya bisa melobi ketua panitia untuk menambah waktu sehari-dua, meski dengan waktu segitu hanya bisa untuk keliling tempat terdekat. Jangankan ke Dili, rencana saya ke Pulau Rote pun tak terlaksana.
Ah, tak apalah! Toh dengan waktu yang mepet membuat saya bisa lebih intens menghikmati perjalanan. Saya mencoba menghibur diri.
Selepas terminal bayangan itu, kami membelok kembali ke arah pantai. Tapi ternyata sedang ada perbaikan jalan sehingga kendaraan harus putar balik melewati jalan alternatif. Setelah bersusah-payah disergap macet, dibakar matahari dan disepuh debu, akhirnya kami sampai di Pantai Lasiana dengan karakternya yang lain lagi.
Jika Batu Nona terasa alami dengan batu karang dan semak pantainya, maka Pantai Lasiana serupa Pantai Kelapa Lima yang sudah ditata. Jika penataan Pantai Kelapa Lima lebih “formal” demi ruang publik kota, Pantai Lasiana memadukan pola modern dan tradisional. Ini terlihat dari keberadaan resort Lasiana Beach, lengkap dengan restoran dan kafe. Eksteriornya masih menyisakan pohon lontar, kelapa, kedondong dan pohon asam.
Sebagian pantai dibiarkan terbuka, menjadi semacam “pantai rakyat” yang dilengkapi panggung tempat acara. Kebetulan saat kami tiba, sedang ada acara dari sebuah kantor. Acara mereka semarak dengan tarian dan nyanyian khas Kupang.
Agak ke tengah laut, ada tanggul rendah memanjang, sehingga terbentuk kanal tempat kapal-kapal kecil berlabuh dan aman untuk berenang.
Di sini juga ada kafe-kafe kecil buat nongkrong. Salah satunya Soda Molek— “terima kasih” dalam bahasa Kupang—ternyata milik sahabat Ragil. Kami disambut pemiliknya dengan hidangan kelapa muda, lalu berlanjut dengan kopi Bajawa dan nasi goreng cumi kering. Di sekitar kafe ada beberapa bungalow kecil berarsitektur antik.
Menurut Ragil, dulu disewakan. Tapi belakangan jarang orang menginap, boleh jadi faktor kemudahan transportasi. Pengunjung bisa kembali ke kota kapan saja dengan kendaraan sendiri.
Menjelang sore, kami pun kembali ke kota sebab saya akan bicara tentang “Sastra dan Ekologi” di kantor Ragil. Untuk memantik diskusi, saya berniat menceritakan “silaturahmi” saya dengan pohon-pohon lontar di pantai sepanjang Teluk Kupang ini.
***
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post