• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025
in Pelesiran
1k 54
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Arah Tutur

Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali terjaga bila popoknya basah, setelah kainnya diganti, Adam lelap kembali di pangkuan bundanya. Padang kembali didaulat suara bangsa kodok. Rintik hujan saban hari membuat Padang semakin waswas dan awas.

Matahari menyeruak. Panasnya mulai menyengat. Panas yang telah mengubah warna rambut orang-orang di pesisiran pantai barat Sumatra menjadi pirang. Padang tadi malam basah kuyup kini panas berdengkang. Namun, selamanya Padang menurut pada alam. Orang-orang mulai menyerok sisa-sisa material yang terbawa oleh ganasnya luapan Batang Kuranji.

Di bekas titik yang cukup parah, Seseorang tergopoh-gopoh muncul dari bibir sungai menunjuk ke arah timbunan, terhuyung setengah muntah. Bagian tubuh manusia menyembul di antara luluk dan dijepit berton ton gelondongan kayu.

Di pelosok, jembatan-jembatan putus, akses jalan terban, di Perkampungan, longsor meluluhlantakkan apa saja yang berada dilintasannya. Pada akhirnya setiap keluarga terlibat dalam hiruk pikuknya sendiri, kengeriannya sendiri. Tolong-menolong antar keluarga tak mungkin dilakukan. Sebab untuk bertahan saja sudah syukur.

Di tengah lumpur yang belum kering. Padang mulai terpicu emosinya oleh adegan-adegan yang membikin mual. Banjir bandang, tanah longsor, mayat yang belum dikenali menunggu dijemput sanak saudaranya. Semua itu seperti tempat adegan syuting bagi kunjungan sejumlah pejabat teras yang lebih sibuk memperbaiki citra daripada menemukan siapa dalang pengrusakan hutan pulau Sumatra.

Setiap kali langkah rombongan itu menapak, tanah becek memercik, mengotori celana mereka sebatas mata kaki. Sebagian warga masih mencari anggota keluarganya, mungkin terjebak di bawah puing, mungkin terbawa arus tak diperhatikan; lebih penting memastikan rombongan itu tak tajungkang, tidak kotor dan seterusnya. Pelbagai hujatan di kolom komentar media sosial tak terbendung layaknya terjangan banjir cemooh yang disusul oleh gelondongan umpatan yang berderak menghantam dirinya.

Telinga mereka tuli terhadap kasus pembalakan liar, terhadap ekologi, terhadap ketidakadilan sosial yang meluas. Tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon. Proses pembodohan lewat jaringan depolitisasi didengung-dengungkan.

Caruik, mengundang sejumlah pemengaruh lokal berbondong-bondong mengampanyekan larangan/anticaruik kemudian telah memantik seorang kawan menodong saya dengan sejumlah pertanyaan.

“Apa hukumnya bacaruik?”

“Tergantung, dilihat dulu latar belakangnya, apa yang mendorongnya, kalau rumahmu atau kampungmu diterjang banjir bandang akibat akumulasi kebijakan publik hingga menyisakan puing-puingnya saja, ya silakan, setidaknya kalimat itu dapat dilepaskan hanya dengan satu tarikan napas, penekanan intonasi tenor sedikit agak melenting diujung kalimatnya, bagi sebagian orang dapat menggambarkan kekesalannya, tak perlu dengan kata-kata panjang lebar.”

“Jadi. . . “ ia tergagap, “hukum itu tergantung, ya?”

“Hukum itu, kalau kata Hans Kelsen dalam teori hukum murni, tidak bersifat parsial statis melainkan kontekstual dinamis. Barang siapa mengambil barang milik orang lain secara melawan hukum, dipidana … dst.”

Seharusnya menurut Teori hukum murni, sistem normanya baku, melepaskan hukum dari moral, politik, dan sosiologi.

“Tidak sesederhana itu. Menurut Hans Kelsen, hukum itu bukan urusan perasaan atau keadaan. Hukum berdiri sebagai sistem norma murni, pucuknya ialah grundnorm. Barang siapa mengambil barang milik orang lain secara melawan hukum, dipidana…dst. Mengapa ia mengambil? Karena lapar? Karena terpaksa? Itu bukan urusan keberlakuan norma. Norma itu berdiri tegak, netral”

“Hukum sekaku itu?”

“Tidak juga, Jeremy Bentham dalam teori Utilitarian mengatakan hukum harus diukur dengan utilitas terbesar bagi manusia, moral dan politik tidak dipisahkan dari hukum. Mencuri karena niat mencuri dengan mencuri karena terpaksa, lain nilai pertimbangannya.”

Ia bertanya dan terus bertanya. Semakin ia bertanya, semakin ia tergantung dan semakin tidak menentu.

Hutan digunduli, daerah aliran sungai terganggu, kesalahan itu menjalar ke banyak tangan. Dosa satu pihak terikat pada yang lain, itulah dosa struktural, yang lahir dari keputusan-keputusan lintas meja sebelum tubuh-tubuh itu terhanyut ke sungai.

Padang yang senyap ini: isi pikiran masyarakatnya begitu aktual, saban hari tidak terlepas dari isu-isu di permukaan pusat-pusat informasi yang diperoleh dari pewarta lokal hingga mancanegara. Air bersih sulit didapat, harga makanan pokok melonjak drastis.

Jadi apa yang saya kemukakan samasekali tidak baru bagi masyarakat Padang. Barangkali saya termasuk yang hanya sedikit mengetahui mengenai itu semua. Sedangkan, pemukiman diterjang banjir bandang, mengalami apa yang hanya saya ketahui itu. Maka, secara legal standing, masyarakat Padang yang seharusnya paling berhak bicara, dan kehadiran saya di tengah masyarakat Padang sungguh hanya sebagai keranjang sampah bagi batuk muntah sakit batin mereka yang terdampak.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Pelesiran: Rayuan Pohonan Lontar di Kota Karang | Raudal Tanjung Banua

Pelesiran: Rayuan Pohonan Lontar di Kota Karang | Raudal Tanjung Banua

Oleh Redaksi Marewai
27 Juni 2025

sastrawan dan penikmat perjalanan, tinggal di Yogyakarta TAK sebagaimana umumnya pantai di Indonesia dengan rayuan pohon kelapa atau nyiur...

Next Post
Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan – Ade Faulina

Cerpen: Aralyn dan Simfoni Hujan - Ade Faulina

Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan

Festival Akhir Tahun Steva 2025 : Membaca, Melihat, Merasakan, Mempelajari dan Merayakan

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In