
Arah Tutur
Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali terjaga bila popoknya basah, setelah kainnya diganti, Adam lelap kembali di pangkuan bundanya. Padang kembali didaulat suara bangsa kodok. Rintik hujan saban hari membuat Padang semakin waswas dan awas.
Matahari menyeruak. Panasnya mulai menyengat. Panas yang telah mengubah warna rambut orang-orang di pesisiran pantai barat Sumatra menjadi pirang. Padang tadi malam basah kuyup kini panas berdengkang. Namun, selamanya Padang menurut pada alam. Orang-orang mulai menyerok sisa-sisa material yang terbawa oleh ganasnya luapan Batang Kuranji.
Di bekas titik yang cukup parah, Seseorang tergopoh-gopoh muncul dari bibir sungai menunjuk ke arah timbunan, terhuyung setengah muntah. Bagian tubuh manusia menyembul di antara luluk dan dijepit berton ton gelondongan kayu.
Di pelosok, jembatan-jembatan putus, akses jalan terban, di Perkampungan, longsor meluluhlantakkan apa saja yang berada dilintasannya. Pada akhirnya setiap keluarga terlibat dalam hiruk pikuknya sendiri, kengeriannya sendiri. Tolong-menolong antar keluarga tak mungkin dilakukan. Sebab untuk bertahan saja sudah syukur.
Di tengah lumpur yang belum kering. Padang mulai terpicu emosinya oleh adegan-adegan yang membikin mual. Banjir bandang, tanah longsor, mayat yang belum dikenali menunggu dijemput sanak saudaranya. Semua itu seperti tempat adegan syuting bagi kunjungan sejumlah pejabat teras yang lebih sibuk memperbaiki citra daripada menemukan siapa dalang pengrusakan hutan pulau Sumatra.
Setiap kali langkah rombongan itu menapak, tanah becek memercik, mengotori celana mereka sebatas mata kaki. Sebagian warga masih mencari anggota keluarganya, mungkin terjebak di bawah puing, mungkin terbawa arus tak diperhatikan; lebih penting memastikan rombongan itu tak tajungkang, tidak kotor dan seterusnya. Pelbagai hujatan di kolom komentar media sosial tak terbendung layaknya terjangan banjir cemooh yang disusul oleh gelondongan umpatan yang berderak menghantam dirinya.
Telinga mereka tuli terhadap kasus pembalakan liar, terhadap ekologi, terhadap ketidakadilan sosial yang meluas. Tidak acuh terhadap kasus-kasus yang wajib respon. Proses pembodohan lewat jaringan depolitisasi didengung-dengungkan.
Caruik, mengundang sejumlah pemengaruh lokal berbondong-bondong mengampanyekan larangan/anticaruik kemudian telah memantik seorang kawan menodong saya dengan sejumlah pertanyaan.
“Apa hukumnya bacaruik?”
“Tergantung, dilihat dulu latar belakangnya, apa yang mendorongnya, kalau rumahmu atau kampungmu diterjang banjir bandang akibat akumulasi kebijakan publik hingga menyisakan puing-puingnya saja, ya silakan, setidaknya kalimat itu dapat dilepaskan hanya dengan satu tarikan napas, penekanan intonasi tenor sedikit agak melenting diujung kalimatnya, bagi sebagian orang dapat menggambarkan kekesalannya, tak perlu dengan kata-kata panjang lebar.”
“Jadi. . . “ ia tergagap, “hukum itu tergantung, ya?”
“Hukum itu, kalau kata Hans Kelsen dalam teori hukum murni, tidak bersifat parsial statis melainkan kontekstual dinamis. Barang siapa mengambil barang milik orang lain secara melawan hukum, dipidana … dst.”
Seharusnya menurut Teori hukum murni, sistem normanya baku, melepaskan hukum dari moral, politik, dan sosiologi.
“Tidak sesederhana itu. Menurut Hans Kelsen, hukum itu bukan urusan perasaan atau keadaan. Hukum berdiri sebagai sistem norma murni, pucuknya ialah grundnorm. Barang siapa mengambil barang milik orang lain secara melawan hukum, dipidana…dst. Mengapa ia mengambil? Karena lapar? Karena terpaksa? Itu bukan urusan keberlakuan norma. Norma itu berdiri tegak, netral”
“Hukum sekaku itu?”
“Tidak juga, Jeremy Bentham dalam teori Utilitarian mengatakan hukum harus diukur dengan utilitas terbesar bagi manusia, moral dan politik tidak dipisahkan dari hukum. Mencuri karena niat mencuri dengan mencuri karena terpaksa, lain nilai pertimbangannya.”
Ia bertanya dan terus bertanya. Semakin ia bertanya, semakin ia tergantung dan semakin tidak menentu.
Hutan digunduli, daerah aliran sungai terganggu, kesalahan itu menjalar ke banyak tangan. Dosa satu pihak terikat pada yang lain, itulah dosa struktural, yang lahir dari keputusan-keputusan lintas meja sebelum tubuh-tubuh itu terhanyut ke sungai.
Padang yang senyap ini: isi pikiran masyarakatnya begitu aktual, saban hari tidak terlepas dari isu-isu di permukaan pusat-pusat informasi yang diperoleh dari pewarta lokal hingga mancanegara. Air bersih sulit didapat, harga makanan pokok melonjak drastis.
Jadi apa yang saya kemukakan samasekali tidak baru bagi masyarakat Padang. Barangkali saya termasuk yang hanya sedikit mengetahui mengenai itu semua. Sedangkan, pemukiman diterjang banjir bandang, mengalami apa yang hanya saya ketahui itu. Maka, secara legal standing, masyarakat Padang yang seharusnya paling berhak bicara, dan kehadiran saya di tengah masyarakat Padang sungguh hanya sebagai keranjang sampah bagi batuk muntah sakit batin mereka yang terdampak.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post