
Cakap Film
Film dapat menentukan seberapa berkembangnya suatu negara. Semakin berkembang negara tersebut, maka semakin berkualitas pilem-pilem yang dihasilkan. Holywood barangkali berada diurutan teratas soal kecanggihan pembuatan pilem. Cerita-ceritanya juga beragam, seakan tak pernah habis mengundang ketakjuban. Genre yang menonjol tentu saja pilem aksi heroik, sebut saja Marvel, pilem kepahlawanan, superhero ala-ala tentara penyelamat dan berbagai genre lainnya. Tentu saja mereka juga jago membuat pilem biografi–sejarah. Di muka bumi ini, barangkali hanya India yang sanggup menyaingi produksi pilem Holywood (Amerika Serikat) itu.
Pilem Karan Arjun adalam pilem pertama yang ada dalam ingatanku, kemudian menyusul kuch hota hai, dan lainnya. Pilem-pilem tersebut kutonton periode 2000-an awal. Lalu 2010 akhir aku mulai ugal-ugalan menonton pilem India, mungkin itu Telugu, Malayalam, Tollywood, Kannada, Bollywood. Sampai hari ini, pilem Marco adalah pilem paling brutal yang pernah kutonton dalam perpileman India. Ini sudah serupa pilem psikopat, tidak lagi menonjolkan alur cerita dan dialog. Marco adalah film thriller aksi neo-noir berbahasa Malayalam India tahun 2024 yang ditulis dan disutradarai oleh Haneef Adeni. Film ini dibintangi oleh Unni Mukundan dalam peran utama, bersama Siddique, Jagadish, Abimanyu Shammi Thilakan, Kabir Duhan Singh, Anson Paul, Ishan Shoukath, dan Yukti Thareja dalam peran pendukung. Musiknya disusun oleh Ravi Basrur, sedangkan sinematografi dan penyuntingannya masing-masing ditangani oleh Chandru Selvaraj dan Shameer Muhammed . Plotnya mengikuti Marco, seorang anggota mafia kejahatan, yang berusaha membalas dendam atas pembunuhan brutal saudara tirinya yang buta, Victor.
Ini terasa janggal, ketika produksi Malayalam terkesan mengikuti trend pilem-pilem aksi yang menayangkan kengerian, baik itu hanya permainan sinematografi ataupun dialog. Tetapi Marco benar-benar membuat kengerian itu seolah nyata, kebrutalan kelompok gangster dan pembalasan yang terkesan menohok. Meski pesan yang disampaikan nyaris seragam dengan kebanyakan pilem gangster lainnya: apa yang kau tanam itu yang kau tuai. Marco masih saja merasa agak aneh bagiku, mengapa pilem ini begitu menyajikan kesadisan pembataian anak-anak bahkan wanita. Itu dibuat terang-terangan tanpa sinematografi yang bias/kias. Adegan-adegan sadis itu diperlihatkan dalam bagian penyiksaan. Bukan ketika adegan pertarungan ataupun aksi beladiri. Koreografi aksi jadi tertutup akibat satu bagian penyandraan, ketika mereka dihabisi satu persatu. Ini seakan kelewat berlebihan.
Dengan membawa genre neo -noir, pilem yang menunjukkan cerita-cerita menyeramkan sering disajikan dalam gaya sinematografi yang gelap. Neo-noir memiliki gaya yang serupa tetapi dengan tema, konten, gaya, dan elemen visual yang diperbarui. Hanya saja, Marco kelewat berlebihan, pilem ini menjadi terkesan pilem sekelompok psikopat. Mungkin juga sebagai penonton aku terlalu berlebihan memandang pilem ini. Tentu saja jika merujuk kepada pengertian genrenya, Marco masih saja terkesan berlebihan. Tapi entahlah, mungkin saja aku yang berlebihan.
Victor, seorang pria buta, menyaksikan pembunuhan sahabatnya Wasim. Meskipun buta, Victor mengenali pembunuhnya dengan mengenali aroma khas parfum pembunuh dan mobil Defender yang digunakannya. Identifikasi Victor membuat polisi menduga bahwa pembunuhnya adalah Russell, yang bersekongkol dengan kakak laki-laki Wasim, Tariq, untuk melakukan pembunuhan tersebut. Tragisnya, Victor ditangkap oleh Russell, yang melemparkannya ke dalam tong asam hidrofluorida, mengakibatkan kematiannya yang menyakitkan. Saudara Victor, George Peter, kepala keluarga Adattu, sangat terpukul atas kehilangan tersebut. Marco, saudara angkat Peter yang telah dikirim ke Italia demi keselamatan, kembali setelah mengetahui tentang kematian Victor. Pada upacara peringatan Victor di gereja setempat, Marco bersumpah untuk membalas kematian Victor, menyatakan niatnya untuk melenyapkan semua orang yang terlibat dalam tindakan keji itu, termasuk Russell, yang hadir di tempat kejadian. Meskipun Peter berusaha mencegahnya melakukan kekerasan, Marco tetap teguh.
Sementara itu, Tony Issac, ayah Russell dan pemimpin sindikat penyelundupan emas, memanipulasi situasi untuk keuntungannya sendiri dan membuat kesepakatan dengan Peter yang melibatkan biskuit emas dan tebusan, sambil merencanakan pengkhianatan lebih lanjut. Selama Peter kembali dari kesepakatan, antek Isaac, Dev, menyergapnya di mobilnya, mengungkap konspirasi dan menikamnya hingga tewas. Peter selamat, tetapi dirawat di rumah sakit, yang membuat Marco semakin marah. Peter memberi tahu Marco bahwa Tony dan Russell bertanggung jawab atas kematian Victor. Saat Marco bersiap untuk membalas dendam, Russell mengungkapkan sifat aslinya dengan melukai Marco dengan parah dan menggunakan gergaji mesin untuk memutilasi lengan Anwar, tangan kanan Marco. Marco yang marah membalas, membunuh anak buah Russell dengan gergaji mesin. Saat bersiap untuk membunuh Russell, Marco mengetahui bahwa istri Victor yang sedang hamil, Isha, ditawan oleh Tony. Sebagai imbalan atas pembebasannya, Tony menuntut seluruh operasi bisnis emas keluarga Adattu untuk dialihkan atas namanya.
Marco menangkap dan menyiksa Dev menggunakan gas fosgen , yang mengaku bahwa Isha ada di wisma Tony, sebelum tewas dalam sebuah ledakan. Marco menyerbu tempat itu, membantai antek-antek Tony secara brutal untuk menyelamatkan Isha. Namun, Tony menipu Marco, mengungkapkan bahwa Isha terkunci di bagasi mobil Russell. Marco dan Anwar melacak Tony ke rumah pertaniannya, di mana Tony mengungkapkan bahwa dia biseksual dan mencoba merayu mereka tetapi Marco memotong tangan Tony menggunakan katana dan mengirimkannya ke Russell, yang menyamar sebagai koper berisi dokumen perusahaan. Dalam jebakan terakhir, Marco memasang detonator di kursi Tony, yang akan meledak saat Tony diangkat dari kursi. Saat detonator hampir meledak, Tony terangkat ke udara, yang memicu detonator dan membuatnya terluka parah. Russell berdiri tak berdaya di luar gudang dan tidak dapat melakukan apa pun kecuali menyaksikan Tony menyerah pada luka-lukanya. Peter membunuh Tariq dengan menggantungnya.
Putus asa untuk membalas dendam, Russell mencari bantuan dari kakak laki-lakinya Cyrus, seorang tukang daging yang kejam. Mereka melancarkan serangan ke rumah besar Adattu, selama persalinan Isha, dan mulai membantai keluarga itu. Meskipun Peter berusaha keras, Cyrus dan Russell membunuh semua anggota keluarga, termasuk anak-anak, tunangan Marco dan Isha, menculik anak yang baru lahir dan pergi. Terluka parah, Marco dan Peter dibiarkan berduka atas kematian keluarga mereka. Peter mendesak Marco untuk membalas dendam tidak hanya pada Victor, tetapi seluruh keluarga. Marco mengadopsi penampilan yang mencolok dan menakutkan dan menghadapi Cyrus dan Russell di pabrik mereka. Marco bertarung melalui antek-antek mereka dalam pertarungan berdarah, di mana dia membunuh Russell dengan menusuknya dan mencabik jantungnya. Dalam pertemuan klimaks dengan Cyrus, yang memegang anak yang baru lahir di atas tong asam, Marco memenggal kepalanya dan menyelamatkan anak itu sebelum mendorongnya ke dalam asam.
Marco menuntaskan dendamnya dan meninggalkan pabrik bersama anak itu, sambil membayar harga tertinggi berupa penderitaan dan kehilangan keluarganya. Setelah kejadian itu, Marco menghabiskan waktu bersama putra Victor hingga konvoi mobil datang dan membawa pergi anak itu saat layar berubah menjadi hitam.
Dalam adegan yang dihapus, Marco membalas dendam atas serangan Maria, yang diperas dan dilecehkan, dengan mengambil tindakan sendiri setelah petugas korup Imraan Malik menolak tuduhannya. Marah dengan ejekan dan hinaan itu, Marco menyerang polisi, menyerbu sel, dan menghukum para pelaku dengan brutal, yang berpuncak pada pencungkilan mata pelaku utama.
- Menziarahi Masa Lampau: Rumah Gadang Mande Rubiah, Komplek Makam Bundo Kanduang dan Kelindan di Inderapura - 3 April 2025
- Cakap Film – Bougainvillea: Sandiwara Psikopat dan Percintaan yang Kelam - 19 Maret 2025
- CPNS: Musikalitas Instrumen dari Album Terbaru Calon Pemusik Negeri Sipil, Titik Nadir di Episode Sunyi dalam Bunyi Sembunyi - 15 Maret 2025
Discussion about this post