• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Ketuklah Pintu Itu, 2025, Kami Menunggu dan Siap Melanjutkan

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
24 Februari 2025
in Pelesiran
1.1k 11
0
Home Pelesiran
BagikanBagikanBagikanBagikan

Apa yang menumpuk dalam benak selain kenangan-kenangan? Barangkali, ingatan juga menyimpan berbagai momen-momen yang tak sanggup ditampung kenangan. Misalnya sesuatu yang terlupakan, butuh banyak narasi atau kisah untuk dapat memantik kembali kenangan itu. Tapi, apakah kenangan masih patut diingat—dibagikan dalam bentuk berbeda. Cerita misalnya. Atau malah memperbaharui kembali sesuatu yang telah tertinggal dalam almanak usang, atau sebaliknya; membiarkan ia hilang seiring berjalannya tahun-tahun muka.

Ada banyak kejadian-kejadian dari lingkup tahun ini, mulai dari teman menjadi “ajaib” serba bisa. Orang-orang berbondong menjelma seleb media sosial, orang-orang datang dan pergi, arsip dadakan, agama baru, sekte, bencana dari segala penjuru dan fenomena-fenomena tak masuk akal lainnya—yang mungkin saja, seorang ahli nujum tak sanggup menafsirkan. Inilah kenangan-kenangan yang tak mudah diingat itu.

Dua ribu dua empat sudah serupa tahun murung. Kampung-kampung dilanda merasai, meski sebagaimana dalam banyak catatan sejarah sudahlah pernah terjadi. Dikehidupan yang kelewat modren serupa tahun itu, bencana bisa datang dimana saja. Bagaimana caranya banjir datang di daerah ketinggian yang aliran sungainya berada di bawah. Monumen peringatan/sejarah tidak lagi semata untuk tokoh atau peringatan peristiwa bersejarah satu daerah, tapi juga bisa untuk kasus viral. Pencabulan tidak semata untuk melampiaskan nafsu binatang, melainkan eksperimen. Kesenian kebablasan komersil, seniman partikelir yang berteriak sebagai oposisi tapi masih menjelma siluman guna menusuk kawan agar dapat proyek pemerintah. Fenomena mahasiswa rebahan yang tidak pernah menyelesaikan satu buku bacaan apapun. Penulis pemalas, tapi mau mendapat nobel dan hal tak termakan akal pikiran lainnya. Waw.

Ingatan yang perlu dicatat pada tahun lampau agaknya semakin sedikit, dokumentasi berubah digital; potret diri, alam, binatang, benda-benda, semua peristiwa dirangkum dalam telepon genggam. Bila malang, ia dengan mudah hilang dan dilupakan. Bahkan kecanggihan teknologi tak sanggup mengembalikannya. Bagaimanapun juga, dokumentasi cetak masih berada diurutan pertama sebagai pengingat paling manjur. Kalau-kalau tahun panjang dan umur bertahan lama, ia dengan mudah dibagikan—diwariskan semacam mukjizat kepada generasi selanjutnya. Tapi siapa peduli?

Kota-kota menjelma urban, orang-orang berkumpul mengarsipkan kenangan kadang ingatan patah hati. Hanya lagak dan puak yang dipulangkan sebagaimana seorang prajurit menang perang. Memandang apa-apa yang berbau kampung halaman sekadar sejarah yang diusap-usap kaum lemah takut perantauan. Ia lihat kembali kenangan masa kecil sebagai penyesalan, ia abadikan sebagai pemenuh beranda media sosial, tapi ia tidak benar-benar berada di sana. 

Ini tahun murung itu, ketika orang-orang berlomba mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tengah malam, saat kantuk tak singgah. Saat kedua tanganya bersilang di kening sambil memandangi loteng rumah. Ia berdoa, mungkin suatu waktu ketika ditanya tentang doa, dia tidak lagi mengingat pernah berdoa untuk ibu dan sanak saudaranya. Tapi inilah tahun-tahun lalu itu, tak sanggup diraih, tak mampu diulang kembali.

Kadang hidup tidak lagi soal bernapas semata, tapi lebih dari itu. Sebagian memang terus melanjutkan tahun-tahun lalu, sebagian lagi menetap, sebagian lagi mengubahnya. Tidak ada yang benar-benar baru, semuanya sudah pernah terjadi atau dituliskan. Kira-kira begitu kata penulis bijak dalam tulisan ini. Mantap!

Kita perlu menanggalkan yang barangkali di tahun lampau tidak pernah kita tanggalkan. Kata-kata hari ini, lelaki tidak bercerita, dan segala macam semangat-semangat buatan dari kata-kata reel serta quote bermuatan sufistik bin filsafat penuh makna yang sudah dicoba tapi tak kunjung merubah apa-apa dalam hidup. Pada akhirnya kita akan sampai di jalan-jalan yang kalau tidak berjalan kau akan ditinggal.

Tahun muka akan lebih dari tahun sebelumnya, mungkin juga berkurang. Kurang dan lebih tidak semata untung dan rugi. Sebagaimana pepatah Minang berkata, “saketek kurang, banyak balabiah (sedikit kurang, banyak berlebih)”. Tahun-tahun berubah, tapi hanya Dia. Hari, bulan dan angka-angka menjadi tanggal penegas bahwa ia tidak pernah berubah. Sama halnya dengan media ini. Ketuklah pintu itu, 2025, Kami menunggu dan siap melanjutkan.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara - 23 Januari 2026
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
Tags: BudayaMarewaiPelesiranPunago RimbunSastra

Related Posts

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris

Oleh Redaksi Marewai
10 Januari 2026

            Tanggal 10 Juni Mbak Ruth Priscilia menghubungi saya, menyampaikan pesan bahwa novel Leiden (2020-1920) lolos dalam kurasi Ubud...

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Pelesiran: Arah Tutur | Abdullah Faqih

Oleh Redaksi Marewai
7 Desember 2025

Arah Tutur Padang dengan semua penghuninya larut bersama malam yang dingin dan lembap. Adam, yang masih bayi acap kali...

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

PELESIRAN: Lentera dari Lengayang di Hulu Subayang – Yossar

Oleh Redaksi Marewai
17 November 2025

Di tengah rimbunnya hutan lindung Rimbang Baling, di sebuah desa terpencil bernama Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten...

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra

Oleh Arif P. Putra
1 November 2025

Perjalanan-perjalanan satu dekade terakhir yang saya lakukan kerap menemukan keajaiban-keajaiban, barangkali sebelumnya belum pernah terpikirkan. Bahkan, sebagian dari tempat...

Next Post
Membincang “Kotak Kesenangan” di Gen Z Book House

Membincang “Kotak Kesenangan” di Gen Z Book House

Cerpen Ade Mulyono | NAK

Cerpen Ade Mulyono | NAK

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In