
Irisan wortel yang merupakan sayuran kesukaanku dicampur dengan irisan kentang kesukaan suamiku, dengan tambahan brokoli yang mungkin akan menjadi sayuran kesukaan anak-anakku kelak, dan tambahan bumbu resep rahasia lainnya teraduk dalam satu wadah panci.
Proses masakku tertunda ketika Nunung -tetangga sebelah menggedor pintu dan masuk ke area dapurku tanpa permisi, aku sudah tahu akan ada kabar buruk darinya. Raut wajahnya begitu menggambarkan ekspresi yang mudah ditebak.
“Suamimu meninggal,” begitu katanya, yang masih memegang handuk menutupi sebagian tubuhnya.
Siapa yang keasyikan dengan hobinya di dapur? Siapa yang tidak ingin diganggu saat memasak? Siapa yang terlalu obsesi dengan masakan sempurna tanpa ada kekurangan rasa sedikit pun? Itulah aku. Halini. Meski begitu, suamiku selalu memuji setiap masakanku tanpa mencemooh hobiku yang berlebihan.
Terkadang lelaki itu memang suka cemberut kala panggilan teleponnya tak diangkat atau pesannya tak dibalas. Tetapi dia tidak terlalu mempermasalahkannya. Dia lelaki yang manis dan selalu menyenangkan hatiku.
Suatu hari aku tengah membakar ayam di halaman belakang rumah. Matahari begitu terik hingga aku tidak kesusahan mengipas ayam-ayam itu. Tiba-tiba lelaki itu masuk ke rumah dan menemuiku dimana aku berada. Raut wajahnya cemberut dan dia berkacak pinggang sambil berkata, “Kenapa ponselmu tidak kau bawa saat memasak, Sayang?”
Suaranya begitu merdu meskipun aku tahu dia kesal. “Maaf, aku lupa pesanmu yang satu itu. Tapi sebagai gantinya, sebentar lagi kamu akan memakan ayam bakar terenak di rumah ini,” jawabku sambil terkekeh geli.
Raut kesalnya langsung hilang. Dia menghampiriku dan menggelitik perutku yang sebenarnya tidak berusaha menghindar darinya. Akhirnya dia membantu mengangkat ayam-ayam itu dan mengolesinya kembali sampai kami duduk berdua di meja makan.
“Padahal aku hanya ingin tanya, apa kamu sudah beli bukunya Akiyoshi Rikako yang terbaru? Aku ragu kamu sudah membelinya,” ucapnya di sela makan siang kami.
“Belum, aku belum membelinya. Tidak masalah kalau kamu nggak beli, yang penting kamu sempat berhenti di depan toko buku karena aku,” balasku seraya menatapnya dengan senyuman yang langsung dibalas cubitan pipi darinya. Meskipun lelaki itu tidak suka membaca buku, tapi dia tidak pernah terlewat perihal buku-buku favoritku, dan itu sangat mengagumkan.
Dia pernah bilang, rumah yang kami tinggali saat ini sangat jauh berbeda dengan rumah yang sebelumnya ditinggali bersama orangtuanya. Dimana rumah lamanya itu penuh dengan perabotan ayahnya yang memiliki hobi mendesain kayu-kayu. Terlebih lagi ayahnya itu juga pengkoleksi kayu. Sementara ibunya hanyalah perempuan biasa yang tidak memiliki hobi. Itulah kenapa dia sangat senang denganku yang memiliki banyak hobi.
Lelaki itu menyerahkan segala urusan rumah padaku sewaktu kami memutuskan untuk membelinya. Termasuk desain interior, warna, dan juga tata letak barang-barang rumah kami. Dia bilang seleraku sangat bagus dibandingnya. Mungkin itulah yang membuatku jatuh cinta berkali-kali padanya; dia sangat memercayaiku dalam segala hal.
“Halini! Suamimu meninggal!” kata Nunung lagi membuyarkan lamunanku.
Nunung berupaya mengencangkan ikatan handuknya agar tidak terlepas dari tubuhnya. Aku melihatnya sangat bersusah payah melakukan itu, jadi aku menyuruhnya untuk pergi dari rumahku dengan menggiringnya ke teras rumah.
Setelah pintu kututup dan terkunci, aku bergegas ke kamar dan melihat ponselku yang sedang mengisi baterai. Kucopot kabel putih itu dan kulihat beberapa panggilan tak terjawab dan pesan yang masuk.
Ternyata benar. Lelaki yang amat kucintai meninggal karena kecelakaan kapal. Dia adalah seorang Coxswain di salah satu Perusahaan Tur Pariwisata Laut. Dari pesan yang kubaca dari salah satu rekannya, tangannya terkilir saat memperbaiki mesin kapal yang hendak dijalankannya. Dia sempat kritis dan meminta rekannya untuk menghubungiku.
Namun naasnya semuanya terlambat. Aku tidak bisa lagi mendengar suara lelaki itu untuk yang terakhir kalinya. Air mata mulai membanjiri pipiku sehingga kepalaku mulai terasa pusing. Seketika tubuhku lunglai dan mulai kehilangan kesadaran.
#
Di hari pemakaman suamiku, aku tidak kuasa melihat jenazahnya. Meskipun orangtuaku memaksaku untuk mencium suamiku untuk yang terakhir kalinya, aku benar-benar tidak melakukannya.
Rasanya begitu aneh. Sampai waktu dimana lelaki itu dikebumikan dan semua orang perlahan pergi, aku masih menatap papan nisan yang bertuliskan nama suamiku.
Sekembalinya di rumah, aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa.
“Lin, sayur yang di dapur itu sudah matang atau belum?” tanya Ibuku.
Seketika aku teringat hari kemarin. Dimana aku begitu fokus dengan masakanku siang itu di ruang dapur tercintaku. Masakan yang seharusnya selesai semalam untuk disantap oleh kami berdua.
“Belum, Bu. Buang saja,” jawabku.
“Ih, jangan dibuang. Sayang. Biar Ibu lanjutkan saja ya!”
“Eh, jangan, Bu!” Aku memegang bahunya yang hendak kembali ke dapur.
“Kenapa?” tanya Ibu menghadapku.
Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung mengajaknya ke dapur. Mataku mengitari ke sekeliling. Memastikan tidak ada orang selain kami berdua.
“Ada racun di sayur itu,” kataku tanpa rasa bersalah.
Ibuku terkejut hingga kedua telapak tangannya menutup mulut secara bersamaan. “Kau gila?!” bentaknya.
Tubuhku mematung beberapa saat. Mataku menatap sayur itu dengan tatapan yang kosong. “Mas Hendri selingkuh.”
“Hush! Jangan ngomong sembarang, Nak!” Ibu yang berdiri di samping menghadapku. “Hendri itu ‘kan sangat mencintai kamu. Kamu sendiri ‘kan yang bilang kalau kamu bahagia menikah dengannya sampai 4 tahun ini meski kalian belum punya anak?”
“Aku tahu Mas Hendri mencintaiku, tapi dia juga mencintai wanita lain, Bu. Aku melihatnya dengan kepala mataku sendiri.”
“Sudah, Nak. Itu hanya pikiranmu saja karena Hendri baru meninggal kemarin. Ibu tahu kamu-”
“Mas Hendri sama aku memang saling mencintai. Tetapi wanita itu menggodanya hingga Mas Hendri juga mulai menyukainya. Itulah kenapa aku ingin mati bersamanya semalam dengan membuat sayur itu. Sebuah masakan yang kubuat dengan resep rahasia, resep pengkhianat. Tapi… ternyata dia mati duluan.”
BIODATA PENULIS
Putri Oktaviani lahir di Tangerang pada Tahun 2000. Penggemar fiksi thriller dan misteri ini senang mendengarkan radio dan cerita horor. Cerpen-Cerpennya tersiar di beberapa media seperti: Majalah Harmoni, Majalah Kandaga, Majalah Elipsis, Koran Solopos, Koran Kedaulatan Rakyat, Koran Radar Madura, Magrib Id, dll. Novel-Novelnya juga tayang di platform Fizzo (Five Eternal Rings & Replaceable Love) dan Novel Life (Violette Scarlette & Lady in Red of Magnolia). Karya cerpennya yang berjudul Setelah Ledakan juara 1 dalam Lomba Cerpen Loka Media.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post