
Posisi bulan sudah cukup tinggi, malam itu sangat tenang, hampir tak ada angin, sebuah pasukan yang tak lebih besar dari sebuah kompi kira-kira 80 orang berjalan dengan persenjataan lengkap menembus malam. Penerangan hanya dari obor-obor dalam genggaman tangan prajurit, cukup terang dengan bantuan kilauan pantulan api di baju-baju zirah infantri yang berjumlah sekitar 60 orang, selebihnya pasukan kavaleri berkuda. Tak ada pasukan Artileri meriam yang biasanya selalu mengiringi pasukan menuju medan perang, alasannya sederhana, meriam hanya akan menghambat laju barisan.
Di barisan depan, dengan menunggang seekor kuda berwarna hitam legam, Aji Mantrolot tidak banyak bicara, dia hanya diam sambil fokus memikirkan rencana-rencana apa yang akan dilakukannya setibanya di Suravaca nanti. Dia yakin bahwa pasukan Suravaca yang selama ini dipimpin oleh Mamaknya akan membantunya menyerang Dusun Tuo, asalkan dia sampai di Suravaca dan meminta bantuan mereka, Aji Mantrolot yakin dia akan mendapatkan setidaknya dua Batalion tambahan untuk menyerang Dusun Tuo. Gerakan dia saat ini dengan pasukan hanya sekitar 80 orang adalah tindakan nekat, tapi itu tidak menghalanginya untuk membalaskan dendamnya kepada Datuk Bandaro Kuniang.
“Mpu Arya, kapan kita akan sampai di Lintau?”, tanya Aji kepada seorang perwira tinggi pasukan Bhayangkara yang berada disebelah kiri beliau. Mpu Arya Mega adalah seorang perwira tinggi yang sangat dipercayai oleh Aji Mantrolot semenjak beliau di Majapahit hingga saat ini tetap menjadi pilihan beliau karena kecerdikan dan pemahaman taktik militernya yang sangat baik.
“Menurut penelusuran saya dan peta yang kita punya saat ini, seharusnya kita akan memasuki wilayah Lintau sekitar menjelang pagi ini tuan pangeran..”, jawab Mpu Arya ringkas. Beliau menambahkan, “setelah dari Lintau, kita akan menyeberang Batang Sinamar di Sitangkai, lalu kita akan sampai di Padang Gantiang, tuan”.
Aji hanya diam mendengarkan, tapi otaknya berhitung cepat. Memasuki Kedatuan Lintau dan Kedatuan Padang Gantiang berarti memasuki jantung Luhak Tanah Datar, kehadirannya belum tentu dikehendaki penguasa Kedatuan-Kedatuan besar tersebut. Dia berpikir keras bagaimana caranya pasukannya tetap utuh memasuki Suravaca tanpa harus dihabisi oleh pasukan Lintau dan Padang Gantiang.
Aji Mantrolot menghabiskan waktu hingga menjelang pagi menunggang kuda dalam diam, tanpa bicara sepatah katapun. Pasukannya bergerak memasuki wilayah Luhak Tanah Datar dalam senyap tanpa menimbulkan kegaduhan apapun di tanah wilayah Raja Buo.
*
Informasi mengenai Aji Mantrolot dan kompi kecilnya yang melintasi Kedatuan Lintau cepat sampai ditelinga Raja Buo, Tuanku Lintau.
Malam itu di ibukota terasa lebih terang dan ramai dari biasanya, diatas Rumah Gadang Raja Buo, Tuanku Lintau berhitung cermat dengan para pembesar kedatuan soal tindakan yang akan mereka lakukan kepada pasukan Aji Mantrolot jika mereka menimbulkan keributan di Lintau.
“Hamba tau betul tujuan Rajo Palokamo, Panglima Perang Kerajaan Malayapura saat ini, mereka menuju Dusun Tuo V Kaum untuk membalaskan dendamnya atas kematian Raja Akarendravarman. Tapi mengingat jumlah pasukannya yang sangat kecil, yang bahkan tidak cukup besar untuk berperang terbuka, hamba menjadi bingung dengan jalan pikiran beliau..”, ujar Tuanku Lintau.
“Sebaiknya kita tidak usah ikut campur, tuanku. Biarkan mereka menuju tujuannya. Kita tidak punya kesepakatan apapun dengan pihak Dusun Tuo V Kaum sehingga kita harus repot-repot menjaga mereka dari serangan orang lain..”, ujar Datuak Bandaharo.
“Betul tuanku, kalau kita menganggu dan menghambat perjalanan mereka, apalagi kalau sampai Aji Mantrolot terluka atau tewas, kita hanya akan mendapat lawan dan permusuhan dari Kerajaan Malayapura dan juga Kedatuan Suravaca, kita tidak akan mampu menghadapi peperangan kembali saat ini, mereka baru meruntuhkan Kedatuan Kuntu di Kampar Kiri beberapa hari yang lalu tuanku, mereka sangat kuat dan Raja Palokamo cukup punya alasan untuk murka atas kematian Mamaknya, Datuk Indharma..”, Datuk Maharajo ikut menimpali.
“Lalu apa tindakan kita sebaiknya angku-angku sekalian..?”, tanya Tuanku Lintau resah.
“Kita kirim beberapa orang untuk mencegat mereka di jalan dan minta mereka tidak mengganggu warga Lintau. Itu saja, kita tidak perlu ikut campur urusan mereka sampai mereka menyeberangi Batang Sinamar kearah Padang Gatiang. Biarlah Tuan Kadi Padang Gantiang memutuskan sendiri sikap mereka nanti terhadap pasukan Raja Palokamo yang memasuki wilayah mereka..”, datuk Bandaharo memberikan pendapat.
Setelah cukup lama berdiam, tuanku Lintau akhirnya memberikan titah. “Hamba terima masukan dan pendapat para angku-angku datuk sekalian. Tapi hamba punya satu cacatan yang harus angku-angku semua pahami. Beberapa bulan yang lalu, Kelarasan Koto Piliang yang mana Kedatuan Lintau adalah salag satu pemdukung utama baru saja menyepakati sebuah kesepakatan damai dengan pihak Bodi Chaniago yang dipelopori oleh Kedatuan Dusun Tuo, paska peperangan panjang antar kedua Mahzab di Kedatuan Batipuh, Perjanjian Batu Batikam. Kesepakatan damai ini sudah dicanangkan dan diakui sebagai standar Adat Tanah Malayu oleh Pusek Jalo Pumpunan Ikan di Pariangan. Jika kita membiarkan pihak Kerajaan Malayapura sewenang-wenang merusak suasana damai yang kita sudah susah payah bangun belakangan ini, hamba tidak mau nanti disalahkan oleh pihak se Luhak Tanah Datar karena bagaimanapun di Luhak, kita semua mempunyai Lembaga Rajo Duo Selo, Basa Ampek Balai dan Langgam Nan Tujuah…”. Terang Tuanku Lintau.
Semua Datuk menyimak, tak ada yang menimpali.
Tuanku Lintau lantas melanjutkan, “Tapi disatu sisi, kita saat ini tak punya daya upaya apapun untuk menghadang Raja Palokamo. Mereka sudah berada didalam wilayah kita, tindakan ceroboh apapun akan merugikan Kedatuan kita sendiri, jangan sampai terjadi perang besar antara Luhak Tanah Datar dengan Kerajaan Malayapura di Lintau. Akibatnya akan sangat mengerikan!”, tandas beliau.
“Lalu apa titah dari tuanku untuk kami..?”, tuan Maharajo bertanya.
“Kita mengulur waktu. Biarkan Pasukan Aji Mantrolot sampai di Sitangkai, kemungkinan besar mereka akan berkemah ditepian Batang Sinamar sebelum menyeberanginya pada pagi besok. Disisi lain kirimkan dubalang kita untuk memperingati kedatuan-kedatuan sekitar terutama Tuan Kadi di Padang Gantiang, Tuan Titah di Sungai Tarok dan Tuan Gadang Panglima Perang Luak Tanah Datar di Batipuh soal kedatangan pasukan Rajo Palokamo ini. Biarkan mereka memutuskan apa yang mereka akan lalukan terhadap pasukan Rajo Palokamo di tepian Batang Sinamar, jika perlu kita akan ikut gerakan mereka nanti, tapi jika kita bergerak sendiri saat ini, itu sebuah keputusan yang konyol..!”, tuanku Lintau memberikan penjelasan.
*
Dengan demikian dikirimlah dua utusan Dubalang ke dua arah, satu utusan menuju ke arah pasukan Aji Mantrolot sedangkan satunya lagi ke arah Padang Gantiang.
Dubalang yang menuju pasukan Aji Mantrolot tiba sekitar jam tiga pagi ketika pasukan itu hampir tiba di tepi sungai Batang Sinamar.
“Apa pesan dari Rajo Buo kepadaku, Dubalang?”, ujar Aji Mantrolot yang baru saja duduk di kursi sambil memandang tajam si Dubalang yang berdiri didepannya.
“Ijin menyampaikan tuan Rajo Mudo, pertama, Tuanku Lintau meminta agar tuan Raja Muda tidak melakukan tindakan apapun kepada rakyat Lintau karena kami tidak punya masalah atau kepentingan apapun terhadap tujuan tuan Raja Muda saat ini..”. Dubalang kemudian diam sejenak.
“Lalu apalagi?”, jawab Aji singkat.
“Tuanku Lintau keberatan dengan kedatangan Tuan Rajo Mudo ke wilayah Lintau, terlepas dari apapun tujuan tuan saat ini, dan meminta tuan segera meninggalkan wilayah Kedatuan Lintau karena kedatangan tuan dengan membawa pasukan kedalam wilayah Kedatuan Lintau tanpa ijin telah mengganggu ketenangan Lintau..”, dubalang menyampaikan dengan nada tegas.
Aji Mantrolot tertawa lepas didepan Dubalang yang berdiri didepannya. Lalu dia memandang tajam Dubalang tersebut. “Kau pikir aku melintasi Lintau ini dengan rasa khawatir, dubalang?. Tak sedikitpun aku gentar dengan Lintau. Urat gentar ku sudah lama putus!”, ujar Aji enteng.
*
Sementara dialog berlangsung antara Aji Mantrolot dan Dubalang Lintau di Sitangkai, Dubalang lainnya yang diutus ke Padang Gantiang berhasil sampai dan menemui Tuan Kadi. Dubalang tergopoh-gopoh menghadap Tuan Kadi yang baru saja selesai melaksanakan ibadah sembayang subuh dikamarnya.
“Assalamualaikum, Tuan Kadi”, sapa si Dubalang, “Walaikumsalam, balas Tuan Kadi..”.
Dubalang lantas menceritakan situasi detail saat ini, tetang keberadaan pasukan Aji Mantrolot yang sudah sampai di tepi Batang Sinamar dan penyebab serta tujuan Aji Mantrolot masuk ke wilayah Luhak Tanah Datar.
Tuan Kadi menyimak dengan sungguh-sungguh cerita si Dubalang, sepertinya keadaan sungguh genting.
“Lalu apa pesan dari Tuanku Lintau untuk hamba, dubalang?”, Tuan Kadi lantas bertanya.
“Tuanku Lintau meminta Tuan Kadi untuk tidak membiarkan pasukan Aji Mantrolot menyeberang Batang Sinamar menuju Suravaca, Tuanku”, dubalag menyampaikan. “Jika Aji Mantrolot sampai ke Suravaca dan melakukan penggabungan pasukan nya saat ini dengan bala pasukan Suravaca, maka akan pecah perang besar di Luhak Tanah Datar. Dan jika kita terlalu lama berperang dengan mereka, maka akibatnya akan lebih parah lagi karena Aji Mantrolot punya pasukan besar di perbatasan Luhak sekitar Kampar yang siap dipanggil dan dikerahkan mengepung dan menghancurkan Luhak..”, dubalang berbicara sampai tercekat.
“Lalu tujuan kita apa saat ini jika Rajo di Buo meminta Padang Gantiang menahan laju pasukan Aji Matrolot..?, tanya Tuan Kadi selanjutnya.
“Pasukan Aji Mantrolot hanya berjumlah delapan puluh orang. Kita hanya perlu menahan mereka dari menyeberangi Batang Sinamar dan menangkap Aji Mantrolot, melakukan negosiasi dan kemudian memaksa dia mundur dari Luhak Tanah Datar sebelum dia berhasil sampai di Suravaca. Itu saja tuanku..”, jawab Dubalang.
“Keadaan di Suravaca saat ini bagaimana? Apakah mereka sudah tau bahwa Aji Mantrolot sedang menuju kearah mereka? Lalu bagaimana dengan Datuk Bandaro Kuning di Dusun Tuo, apakah beliau sudah tau Aji Mantrolot berniat balas dendam..?”, Tuan Kadi kembali bertanya.
“Di Suravaca saat ini sedang berlangsung sidang pemilihan Datuk Indharma Tuan Suravaca yang baru pengganti Raja Akarendravarman. Mereka sepertinya belum tau kedatangan Aji Mantrolot ke Suravaca saat ini, dan sepertinya rakyat Suravaca belum tau kebenaran sebenarnya dari wafatnya Tuan Suravaca yang dibunuh oleh Datuk Bandaro Kuning, peristiwa ini saat ini diketahui hanya oleh anggota keluarga Tuan Suravaca dan beberapa Datuk Pucuk di Kedatuan Suravaca. Mereka sendiri sebenarnya sedang berusaha agar prosesi pemilihan Tuan Suravaca dapat berlangsung lancar cepat dan singkat, agar berita sebenarnya atas kematian Raja Akarendravarman tidak bocor keluar dikalangan rakyat Suravaca terutama dilakangan pasukan militer beliau yang besar itu. Dan jika Aji Mantrolot sampai tiba di Suravaca dan memprovokasi rakyat Suravaca denga mengungkap kebenaran soal kematian Tuan Suravaca sebenarnya kepada rakyat dan pasukan militer Suravaca, bisa dipastikan Aji Mantrolot akan mendapat dukungan penuh dari rakyat Suravaca untuk menyerang Kedatuan Dusun Tuo, dan perang besar akan pecah, kita semua akan terseret dengan paksa kedalam perang tersebut, Tuanku!”, dubalang menjelaskan dengan panjang lebar.
Bergidik bulu kuduk Tuan Kadi mendengar keterangan dubalang Lintau soal ini. Beliau berpikir dalam diam beberapa saat lalu memberikan titah. “Silakan kau kembali ke Lintau untuk menyampaikan hal-hal berikut kepada Rajo di Buo.”, ujar beliau. “Padang Gantiang akan berusaha menghambat perjalanan Aji Mantrolot dengan tidak membiarkan mereka menyebrangi Batang Sinamar menuju Padang Gantiang. Lalu saya akan mengirim utusan kepada seluruh tuanku Basa IV Balai di Luhak Tanah Datar untuk mengirimkan pasukan ke Padang Gantiang dan menangkap Aji Mantrolot untuk memaksa beliau bernegosiasi dengan pihak Luhak dan memaksa Aji Mantrolot keluar dari Luhak. Semoga upaya kita berhasil, dubalang. Sampaikan salam saya kepada Raja di Buo Tuanku Lintau..”, tutup Tuan Kadi.
*
Tuan Kadi lantas memanggil empat orang Hulubalang Utama yang sedari tadi bersiaga di teras Rumah Gadang.
“Dengarkan perintahku baik-baik kepada kalian para Dubalang Padang Ganting. Yang pertama, kumpulkan satu pleton Dubalang Padang Gantiang, kerahkan mereka menghambat pasukan Aji Mantrolot besok pagi akan menyeberangi sungai Batang Sinamar, jangan sampai mereka berhasil menyeberang, tahan mereka diseberang Batang Sinamar selama mungkin. Kedua, kirimkan pesan kepada Tuan Titah agar mengirimkan pasukannya sebanyak satu pleton ke Batang Sinamar untuk membantu pasukan Padang Gantiang. Ketiga kirimkan pesan kepada Panglima Perang Luhak Tanah Datar, Tuan Gadang di Batipuh untuk mengirimkan Hulubalang terbaiknya beserta dirinya untuk memimpin seluruh pasukan penyergapan Aji Mantrolot. Keempat, kirimkan Hulubalang untuk menjadi mata-mata memantau jalannya sidang pemilihan Datuk Indharma di Suravaca dan melaporkan perkembangannya langsung kepada saya..”, titah Tuan Kadi kepada empat Hulubalangnya.
“Ingat, apapun pergerakan kalian dalam upaya-upaya kita tersebut, jangan sampai pihak Suravaca maupun Dusun Tuo V Kaum tau soal keberadaan pasukan Aji Mantrolot maupun rencana kita saat ini. Jika sampai bocor, akan menyebabkan situasi Luhak memanas dengan cepat! Camkan hal tersebut..”. Tandas Tuan Kadi.
“Siap laksanakan tuanku!”, jawaban serentak dari empat hulubalang menggema didalam bilik Tuan Kadi subuh itu.
*
Jam sudah menunjukkan jam delapan pagi.
Rakit kayu sudah berjejer di tepi Batang Sinamar siap untuk digunakan oleh pasukan Aji Mantrolot menyeberang dari Sitangkai ke wilayah Padang Gantiang.
Kayuhan pertama membelah arus sungai.
“Bleesh…!”, puluhan anak panah melesat dari seberang sungai Batang Sinamar kearah rakit-rakit pasukan Aji Mantrolot memecah keheningan pagi itu. Anak panah tersebut melesat dan mengenai prajurit yang berjejer rapi diatas rakit. “Tuanku…! Kita diserang dari seberang..!” Teriak Mpu Arya Mega ke arah Aji Mantrolot.
Aji mantrolot keluar dari tendanya sambil memegang pedang ditangan. “Segera kalian berlindung..!, Seberangi sungai ini bagamanapun caranya..!!”, teriak Aji dari tepian sungai.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post