
Drishyam 3: Daya Magis dan Aktor Flamboyan
Lima tahun setelah peristiwa Drishyam 2, kehidupan Georgekutty tampak stabil. Ia telah mengadaptasi kisah masa lalunya menjadi film yang sukses dan terus hidup bersama keluarganya sambil berusaha untuk melanjutkan hidup. Namun, jurnalis Yami dan Rony mulai menyelidiki kemungkinan inspirasi kehidupan nyata di balik film tersebut, khususnya keadaan seputar kematian Varun. Georgekutty membantah adanya hubungan antara film tersebut dan peristiwa nyata, meskipun pengawasan publik semakin meningkat.
•••••••••
Setelah Pulimurugan (2016) saya tonton, agaknya aktor ini cukup menarik. Gaya pendalaman karakter yang sederhana dan minimalis. Ia tidak bermain banyak dialog, bermain di ruang penceritaan; karakter yang sedikit bicara namun memiliki kehadiran atau aura yang sangat kuat dalam setiap alur cerita, babak yang dihadirkan tiap adegan begitu kentara, bahkan menimbulkan rasa penasaran penonton untuk betah. Karakter ini sering disebut sebagai karakter stoik (pendiam namun tangguh), berkarisma (badass silent type), atau karakter yang “bicaranya lewat aksi” (actions speak louder than words).Dalam penokohan, mereka umumnya sangat ekspresif secara non-verbal (melalui tatapan, gerak-gerik, atau ekspresi wajah). Karakter tipe ini biasanya menyimpan beban masa lalu atau sangat menguasai keahlian tertentu sehingga tidak perlu banyak bicara untuk membuktikan kemampuannya. Pulimurugan menjadi film pertama perkenalanku dengan aktor ini, Mohanial. Aktor yang mungkin secara perawakan ataupun penampilan acap kita temui dibanyak film Malayalam: sarungan, brewok, dan tambun.
Setelahnya, Drishyam menjadi film yang saya tamatkan. Sekuel yang di awal-awal film akan membuatmu bosan dan kehilangan selera melanjutkan. Tapi memang begitu gaya penceritaan film Bollywood secara umum, lebih menukik: India Selatan—Tamil (Kollywood), Telugu (Tollywood), Malayalam, Kannada, dan Tulu. Film yang jika semena-mena menilainnya hanya berisi tumpukan dialog dan drama kampungan. Tetapi disanalah kekuatan industri perfilman mereka. Mereka tidak buru-buru mencari setting bombastis atau cerita yang mengambil latar kelewatan. Sama halnya sekuel Drishyam yang barusana rilis bagian ke-3. Ini bukan serupa film bersambungan layaknya sinetron yang meninggalkan perasaan jengkel. Tiap sekuel dihabiskan dengan cerita yang selesai namun meninggalkan alur lain kepada penonton. Bukan penasaran, namun seolah memberikan jembatan untuk penonton melanjutkan cerita tersebut. Dan seperti sekuel 1 & 2. Alur cerita ataupun jembatan yang saya buat pada sekuel 1 & 2 tidak masuk sama sekali pada sekuel 3. Jika harus ditarik lebih jauh, film sekuel ini barangkali termasuk sekuel yang paling banyak di remake, paling tidak ada 6 versi: Film Drishyam sangat populer dan telah dibuat ulang dalam 6 bahasa regional India serta diadaptasi secara internasional ke dalam beberapa versi film asing.Secara keseluruhan, waralaba Drishyam memiliki berbagai versi adaptasi sebagai berikut:
Versi Bahasa India (Remake)
Bahasa Malayalam: Versi asli yang ditulis dan disutradarai oleh Jeethu Joseph (dibintangi oleh Mohanlal). Versi ini memiliki tiga film: Drishyam (2013), Drishyam 2 (2021), dan Drishyam 3 (2026). Bahasa Kannada: Drishya (2014) dan Drishya 2 (2021).
Bahasa Telugu: Drushyam (2014) dan Drushyam 2 (2021). Bahasa Tamil: Papanasam (2015).
Bahasa Hindi: Drishyam (2015) dan Drishyam 2 (2022). Bahasa Marathi: Drishyam (2017)
Sejauh ini saya baru menonton yang versi India, meski ada sumber menuliskan juga ada beberapa versi lain;
Versi Internasional (Adaptasi) Sinhala (Sri Lanka): Dharmayuddhaya (2017).
Mandarin (Tiongkok): Sheep Without a Shepherd (2019).
Bahasa Inggris: Direncanakan oleh Panorama Studios bersama Gulfstream Pictures dan JOAT Films.
Meski tidak bergelut betul di dunia perfilman, saya kira film masih menarik persoalan tentang selera. Ada yang penonton yang hanya menyukai film Hollywood, Korea Selatan: Chungmuro, Inggris: Pinewood Studios, Jepang: Toei Kyoto Studio Park dan lainnya. Tetapi industri perfilman India Selatan (bukan Bollywood) memainkan peran berbeda, jika diterka secara serampangan, mereka seolah tidak bergerak dalam pengembangan gaya penyajian film. Misalnya, sinematografi, karakter, watak, latar dan isu. Tapi yang menarik dari mereka adalah alur cerita, gaya penceritaan serta dialog yang begitu kaya. Mungkin agak berlebihan jika dikatakan kaya dialog. Nyaris tidak menemukan kalimat yang sama pada banyak film mereka, paling tidak yang sudah saya tonton. Tentu saja ini akan sulit menjelaskan perbandingannya dengan film-film lainnya diluar mereka. Sulit menebak pakem yang mereka gunakan saat membuat adegan dalam dialog. Misalnya: jika si A bertanya ini, maka jawabannya B. Jika babak ini menghadirkan POV gambar C maka selanjutnya D. Kemudian Over the Shoulder (OTS): Pengambilan gambar yang dilakukan dari belakang bahu satu karakter, menatap karakter lain yang sedang berinteraksi. Bisa saja mereka tidak memakai pakem umum demikian. Sehingga menghasilkan pengalaman menonton yang berbeda.
Sekuel Dhrishyam ini bisa menjadi salah satu dari sekian banyak film yang mereka hasilkan dengan alur cerita mengejutkan. Meski pada sekuel ke-3 ini terkesan agak longgar cara penceritaan dari babak ke babak, namun masih sangat logis. Baik itu sebagai latar, sudut pandang ataupun tokoh. Bagian ini lebih mengambang, tapi tetap masuk akal sebagai sebuah cerita sekuel. Sederhana dan begitu magis. Sosok Mohanlal sebagai Georgekutty masih kuat dan tenang. Dia masih sama dengan sekuel sebelumnya. Ia menonjol, tetapi tidak narsis. Ajay Devgan juga telah menghasilkan 2 sekuel dari judul yang sama. Juga tak kalah menarik dari yang diperankan Mohanlal. Tapi entah mengapa, kemagisan Ajay Devgan hanya sampai pada sisi kharismatik saja. Tapi Mohanlal, tampil begitu Flamboyan. Jika ingin menonton film ini, saya menyarankan nonton sekuel 1&2 terlebih dahulu. Jika punya banyak waktu luang, nonton juga versi Ajay Devgan dan lainnya.
India Selatan selalu memberi warna dalam film-filmnya yang unik, apalagi ditambah dengan pengetahuan lain diluar film itu sendiri. Tentang bagaimana mereka menghasilakan sebuah film, pendalaman karakter, penulisan cerita, dialog dan setting latar, tempat yang bahkan dengan sabar mau mereka kerjakan bertahun-tahun. Agaknya mereka tidak punya tradisi menulis cerita di tempat lokasi. Semuanya seperti disiapkan jauh-jauh hari sehingga kematangan film dapat diuji: kesabaran yang tak selesai dengan tepukan tangan dan jumlah penonton. Priper kalau kata orang. Waw





Discussion about this post