• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
Selasa, Agustus 4, 2026
Redaksi Marewai
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Login
  • Daftar
  • Login
  • Daftar
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026
in Berita Seni Budaya
2k 61
0
Home Budaya Berita Seni Budaya
BagikanBagikanBagikanBagikan

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025

STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu Dari Neraka’ di akhir tahun 2025. Tahun ini, Stevunk makin menguatkan suara mereka melalui karya-karya terbaru. Awal tahun ini, merilis dua lagu baru, sekaligus sebagai bentuk komitmen pada skena musik yang mereka jalani.

Lagu pertama: Sudahi Menghancurkan

Lagu ‘Sudahi, Menghancurkan’ adalah bentuk protes penghancuran alam penyebab bencana Sumatera akhir tahun lalu.

Penindasan.

Perampasan.

Penangkapan.

Pembungkaman.

Empat kata itu menjadi energi awal lagu ‘Sudahi Menghancurkan’ ditulis. Lagu ini bentuk solidaritas pada kawan-kawan yang berjuang menjaga tanah, alam, laut, dan kehidupan yang terus diperjuangkan. Sekaligus bentuk kritik keras pada kongsi dagang raksasa yang seringkali tidak manusiawi.

Lirik ‘Sudahi Menghancurkan’ ditulis oleh Boy Candra setelah diskusi dengan Stevunk dan melihat fenomena-fenomena kekerasan yang terus dilakukan berulang pada kawan-kawan pejuang lingkungan. Stevunk menyadari betul bahwa manusia tidak akan bisa hidup lebih panjang di bumi yang makin rusak. Kegelisahan itu disuarakan melalui lagu.

Selain di berbagai daerah di Indonesia, di Sumatera Barat pun beberapa pejuang lingkungan juga dikriminalisasi. Ada banyak berita soal ini yang bisa dibaca gamblang di internet. Hal ini terjadi nyaris di semua daerah konflik lahan yang ironis selalu dikatakan atas nama kemajuan. Sayangnya, alasan itu seringkali mengorbankan orang-orang yang telah hidup turun temurun di satu wilayah dan harus disingkirkan. Stevunk tidak ingin menjadi generasi diam. Stevunk ingin menjadi bagian dari suara yang menolak bumi dihancurkan oleh mesin-mesin yang ditunggangi kongsi dagang raksasa.

Perusakan alam itu juga telah menyebabkan bencana ekologis di Sumatera baru-baru ini. Tiga provinsi—Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat—porak-poranda. Bencana ini juga membuktikan bahwa alam yang rusak telah muak dan menampilkan bukti kayu-kayu gelondongan di sepanjang jalur bencana. Awal tahun ini juga terjadi bencana serupa di beberapa daerah di Pulau Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya.

Lagu ini juga sekaligus menambah jumlah daftar lagu protes yang masih sedikit dari Sumatera Barat. Stevunk ini menjadi bagian dari generasi muda yang lantang bersuara melalui musik. Seperti ide awal nama Stevunk yang dibikin dari sebuah toko buku indie kecil bernama Steva, band ini akan terus bersuara dengan pemikiran-pemikiran yang menolak dibungkam. Pemikiran-pemikiran yang terus memperjuangkan kemerdekaan, termasuk kemerdekaan pejuang lingkungan hidup yang terus mendapat teror dan ancaman.

Suara vokal Ryand yang liar pada lagu ini sebagai bentuk amarah murni dan rasa muak pada penindasan dan teror yang terus dilayangkan pada kawan pejuang lingkungan. Drum yang menghentak tajam juga bagian dari rasa muak Faiz pada kenyataan yang seringkali menyakitkan. Serta amarah gitar dan vokal Andip yang menyempurnakan lagu ‘Sudahi Menghancurkan’ terasa begitu penuh perlawanan. Di bagian mixing, Harbi merapikan dengan marah yang makin tajam.

***

Lagu Dua: Balada Di Celah Kota

STEVUNK bersuara tentang kemerdekaan, egaliter, & persahabatan dalam lagu ‘Balada di Celah Kota’.

Stevunk adalah band punk dari kota Padang yang benar-benar mencoba menemukan kemerdekaan mereka dalam musik. Mereka terus bereksperimen dengan berbagai bentuk permainan musik punk. Stevunk meyakini musik adalah kemerdekaan berekspresi dan tidak ada tembok aturan baku yang mengikatnya.

‘Balada di Celah Kota’ mengusung isu kesetaraan dan persahabatan. Masa muda yang liar yang tidak boleh diremehkan oleh siapa pun. Meski mereka hidup di kota kecil yang seringkali terasa mati. Stevunk mengingatkan untuk terus bersenang-senang. Terus menikmati perjuangan dan merayakan masa muda yang egaliter.

Pada jelang akhir lagu, Balada di Celah Kota juga memberi renungan bahwa kita harus terus mengingat kawan-kawan yang berpulang lebih dulu. Lirik yang bermuatan untuk menjaga solidaritas bahkan setelah satu di antara kita telah tiada nanti.

Lirik lagu ini ditulis dan dinyanyikan oleh Andip sebagai vokal dan gitar. Beberapa bagian lirik dibantu rapikan oleh Boy Candra—yang dari awal membantu bagian lirik.

Pada pemilihan pengisi vokal (yang biasanya berdua), Stevunk kembali menunjukan bahwa bermusik seharusnya tetap dalam rasa bersenang-senang dan tidak membuat semua terasa makin ribet. Ryan yang di lagu ini fokus pada permainan gitarnya yang makin terasa hidup. Begitu pun Faiz yang telah bermain dengan beragam genre, pada lagu ini ia membuat ketukan drum yang lebih menggairahkan.

Balada di Celah Kota mungkin ditulis tentang perasaan mereka pada Kota Padang, tapi lagu ini bisa juga mewakili orang-orang di kota-kota yang masih kecil. Kota yang anak mudanya harus berjuang berkali lipat hanya untuk sekadar didengar. Kota yang seringkali terasa cuek dan tidak begitu memberi ruang yang cukup pada anak muda mereka.

Bagian akhir, lagu ini dipoles manis oleh mixingan Harbi—musik produser bertangan dingin di kota Padang. Harbi juga menjadi sosok yang menemani perjalanan Stevunk dari lagu pertama band ini dirilis. Lagu ‘Balada di Celah Kota’ menjadi nomor lagu ketiga yang dilancarkan Stevunk dan tahun depan album pertama ini akan diselesaikan. Tungguin dan rayakan terus suara-suara punk dari kota Padang. Sementara desain sampul album—artwork—dikerjakan oleh Oktaf Nardo, ia berangkat dari simbol dan kepingan dari lagu yang sudah rilis dan beberapa sampel demo—juga gagasan yang sedang dirakit jadi lagu-lagu yang akan hadir pada album pertama Stevunk bertajuk ‘Di mana Kau Berakhir Hari Esok’. Album penuh ini sedang dicicil rilis satu persatu.

***

Stevunk berdiri dari dengan personil:

Andip – Gitar, Vokal

Ryandy – Gitar, Vokal

Faiz –Drum

Semua lagu Stevunk dikerjakan di Padang. Album pertama yang sedang berjalan ini akan fokus pada isu-isu kemanusiaan, politik, sosial, kota-kota kecil, dan relasi antar manusia. Stevunk menawarkan suara-suara dari Sumatera Barat hari ini yang mungkin belum banyak didengarkan. Semua lagu Stevunk yang sudah dirilis sudah bisa dinikmati di platform musik digital.

Sosial Media:

Instagram @Stevunk, Email: [email protected]

Ponsel: +62822 6873 0075

***

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata - 4 Agustus 2026
  • Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata - 17 Juli 2026
  • Cerpen Risnandar Tjia – Pulang Kampung - 11 Juli 2026
Tags: Berita seni dan budaya

Related Posts

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA” di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
4 Agustus 2026

"Menyaring Trauma, Tafsir Teatrikal Tya Setyawati atas Cerpen Yetti A.KA" di Gedung Manti Menuik, Ladang Tari Nan Jombang.Oleh: Irawan...

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung Teater | Oleh: Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
17 Juli 2026

Penonton Kontemporer dengan Kutukan Panggung TeaterOleh: Irawan Winata Barangkali panggung memiliki ruhnya sendiri. Sedari awal ia dibentuk, dihiasi tata...

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Naskah Drama “Dalam Kurung”, Doa Puitis dan Warisan Khazanah Ilmu Muhammad Ibrahim Ilyas | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
10 Juli 2026

Kepergian seorang maestro teater selalu menyisakan kekosongan yang sunyi, sebuah luka mendalam yang menggetarkan panggung pertunjukan. Bagi dunia seni...

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Kilau Aksara: Kilaunya Menyilaukan Para Penulis Muda Pada Cerita Rakyat Minangkabau | Irawan Winata

Oleh Redaksi Marewai
22 Juni 2026

Marewai-Padang, pada era digital yang efek negatifnya memahat kedalaman berpikir, sebuah oase literasi hadir di Kota Padang. Bertempat di...

Next Post
Cakap Pilem – Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara

Cakap Pilem - Viduthalai Part 1: Potret Suram Orang-orang Miskin dan Kekejian Kapitalisme Bersenjata Aparat Negara

SERI – AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI - AJI MANTROLOT| Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Discussion about this post

https://www.youtube.com/watch?v=8ZXqj3JpED4&t=123s
https://www.youtube.com/watch?v=7U42C5AxPMw&t=39s

© 2026 Redaksi Marewai

  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • KATA RUANG
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran

© 2026 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
Sign In with Google
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In