
Jam 02.00.
Tejo belum juga bisa memejamkan matanya. Istrinya, yang sedang hamil delapan bulan tidur pulas di sampingnya. Tejo sesekali menatap kosong tepi ranjang, sesekali memandangi wajah istrinya yang tampak berseri dan damai. Wajah istrinya memang semakin cantik sejak mengandung anak pertama mereka.
Delapan tahun lamanya, Tejo dan istrinya berdoa agar mereka dikaruniai anak. Entah kepada siapa saja Tejo dan istrinya memohon. Entah berapa banyak cara yang dilakukan Tejo dan istrinya agar mendapat momongan. Segala daya dan upaya telah mereka tempuh dan waktu telah menjawabnya.
Ketika mereka telah memperoleh apa yang mereka inginkan, justru ada rasa penyesalan di dalam hati Tejo. Dia, selama dua tahun ini telah dipecat dari pabriknya. Tepat dua tahun lalu pabrik tekstil itu mengalami kebangkrutan, sehingga harus melakukan PHK besar-besaran. Tejo adalah salah satu karyawan yang di-PHK itu. Kini untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari Tejo berprofesi sebagai tukang ojek online.
Kehamilan istrinya telah berusia delapan bulan, artinya tidak lama lagi istrinya akan melahirkan. Tejo memikirkan biaya persalinan itu, sebab ia tak memiliki sepeser pun tabungan. Selama berminggu-minggu ini ia tidak bisa tidur karena bayang-bayang masa depan yang baginya memberinya harapan. Tejo memikirkan biaya merawat anak, membeli susu dan bahkan biaya sekolah dan masa depan anaknya kelak.
Tejo tak ingin anaknya bernasib seperti dirinya. Sejak kecil harus mencari uang demi memenuhi kehihupan dirinya dan ibunya. Ayah Tejo yang gemar judi dan mabuk-mabukan itu dengan tega meninggalkannya dan ibunya demi perempuan lain. Tejo tak ingin menjadi ayah seperti ayahnya. Ia ingin menjadi sosok ayah yang penyayang dan bertanggung jawab terhadap masa depan anaknya kelak.
Di luar, suara ayam jago terdengar sahut menyahut dengan keras. Waktu telah menunjukkan pukul tiga pagi. Tejo masih dengan tatapannya yang kosong dan belum beranjak dari tempatnya. Tejo benar-benar menyesal dan kecewa dengan dirinya sendiri. Menjelang kelahiran anak pertamanya, ia justru tidak memiliki pekerjaan yang jelas.
Suara ayam jago makin jelas terdegar disusul suara adzan subuh yang menentramkan jiwa. Tejo beranjak dari tempat tidurnya untuk shalat namun ia tak tega untuk membangunkan istrinya. Ia pandangi wajah istrinya yang masih pulas dan damai itu. Tejo tersenyum bahagia. Setelah shalat, Tejo lalu bersiap-siap berangkat mencari penumpang di sekitar terminal.
***
Siang itu matahari bersinar begitu terik. Kepulan debu bercampur asap kendaraan menambah panas suasana di sekitar terminal siang itu. Tejo sedang menyesap es teh yang dibelinya, ketika Pak RT menelfonnya.
“Mas, pulang sekarang! Istrimu mau melahirkan.” Perintah suara di ujung telfon itu.
Dengan sigap, Tejo mengegas motornya menuju rumah. Di rumah kontrakan sempit itu, Pak RT terlihat berada di dekat pintu. Sementara para tetangga yang semuanya ibu-ibu telah memenuhi ruangan.
“Dipesankan ambulan saja mas!” Usul Pak RT. “Ini saya punya kontaknya.”
“Tapi… Pak RT…” Kalimat Tejo terputus ketika mendengar erangan istrinya dari dalam ruangan.
“Udahlah, masalah biaya kita pikirkan nanti.” Begitu kata Pak RT sambil menelfon ambulan yang biasa melayani warganya.
Sesampainya di rumah sakit, untungnya istri Tejo segera mendapat pelayanan. Perawat mengabarkan bahwa istrinya akan menjalani operasi sesar karena bayinya bisa dibilang lahir prematur. Tejo hanya mengangguk setuju. Apa pun, yang penting istri dan anaknya selamat.
Tejo lalu duduk menunggu di kursi panjang berwarna biru. Ia melihat di ujung lorong rumah sakit, Pak RT masih berada di sana. Tejo kemudian menghampiri Pak RT dan menceritakan tentang masalah keuangannya kepada Pak RT itu.
“Pak RT, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan bapak kepada keluarga kami hari ini.” Kata Tejo tulus.
“Sudah menjadi kewajiban saya sebagai RT mas.” Jawab Pak RT ramah.
Tejo menceritakan masalah yang dihadapinya kepada Pak RT. Tentang kekhawatiran-kekhawatirannya khususnya biaya persalinan dan merawat anak pertamanya itu. Tejo berniat meminjam uang kepada Pak RT namun tidak membuahkan hasil.
“Maaf Mas, saya belum bisa bantu. Anak sulung saya yang kuliah di kota sedang membutuhkan banyak biaya bulan ini.” Kata Pak RT.
“Saya rela melakukan apa saja demi istri dan anak saya Pak RT. Seandainya saya harus kehilangan separuh nyawa saya demi mereka, pasti akan saya berikan.” Mata Tejo berkaca-kaca ketika selesai mengucapkan kalimat itu. Keputusasaan terlihat jelas di wajahnya. Kesedihan dan kecemasan yang ia pendam selama ini pun seolah tumpah di hadapan Pak RT yang bijaksana itu.
“Begini Mas,” bisik Pak RT kepada Tejo. “Kemarin malam saya ditelfon Pak Lurah. Anaknya, si Bayu itu habis menabrak orang sampai meninggal. Kejadiannya malam hari sehingga tidak ada saksi. Di kantor polisi, Bayu berbohong. Ia mengaku kalau dia hanya dibonceng seseorang. Singkatnya, Pak Lurah meminta saya untuk mencari orang yang mau mengaku bahwa ia yang membonceng si Bayu itu.”
“Maksudnya gimana Pak?” Tanya Tejo yang masih kebingungan.
“Intinya Pak Lurah mencari orang untuk dikorbankan menggantikan Bayu menjalani hukuman penjara.” Jawab Pak RT masih dengan nada pelan. “Pak Lurah menjanjikan uang 150 juta untuk orang yang mau mengaku sebagai tersangka.”
“Seratus lima puluh juta, Pak?” Ucap Tejo kaget mengetahui uang yang dijanjikan itu.
“Ssst, jangan keras-keras!” Tegur Pak RT. “Tapi berat lho Mas. 150 juta untuk dipenjara selama lima tahun. Tentu ini bukan solusi yang baik” Pak RT lalu meminta Tejo untuk mempertimbangkan tawaran itu baik-baik.
Tejo berpikir sejenak. Ia menimbang-bimbang antara uang 50 juta dan waktu untuk dipenjara. Tejo menimbang-nimbang uang sebanyak itu sepertinya tidak mungkin dikumpulkannya hanya dengan menarik ojek. Tejo menghitung, uang sebanyak itu dapat membayar biaya rumah sakit dan mencukupi kebutuhan istri serta anaknya selama lima tahun dia dipenjara.
“Saya bersedia, Pak.” Kata Tejo tiba-tiba. “Telfonkan Pak Lurah sekarang Pak RT, biar saya sendiri yang berbicara.”
Kesepakatan itu terjadi. Dan Pak RT menjadi saksinya. Dalam hatinya Pak RT sebenarnya tidak bisa membenarkan transaksi semacam ini. Namun dalam hidupnya sebagai RT dia sering menjumpai persoalan ekonomi yang dihadapi warganya yang mayoritas miskin itu. Pak RT memeluk Tejo penuh arti.
***
Proses bersalin berjalan dengan lancar. Istri Tejo melahirkan bayi laki-laki yang sehat walau berat badanya lebih ringan dari bayi normal. Istri Tejo tersenyum ketika Tejo masuk dengan tangis kegembiraan yang tak dapat diungkapkan. Mereka telah menanti delapan tahun lebih untuk mendapatkan seorang anak. Dan hari ini adalah hari bahagia itu.
“Kita beri nama anak kita siapa, Mas?” Tanya istrinya lirih.
“Bagaimana kalau Wibisana.” Usul Tejo.
Istrinya mengangguk. Tejo memeluk istrinya itu penuh haru, sebab besok ia akan datang ke pengadilan mengaku sebagai pelaku tabrak lari karena pengaruh minuman keras. Dengan kejujuran yang dibuat-buat itu Tejo dipastikan hanya dihukum lima tahun. Dihukum karena cinta kepada istri dan anaknya yang baru lahir itu.
Malam telah benar-benar larut ketika Tejo menemui Pak Lurah di rumah Pak RT. Tejo menerima uang 150 juta itu dalam bentuk tunai. Pak RT sekali lagi menjadi saksi penandatangan surat transaksi gelap itu oleh kedua belah pihak.
Hari ini adalah hari yang sangat panjang sekaligus monumental bagi Tejo. Ia baru saja menerima kelahiran anak pertamanya yang telah lama dinantikannya bersama istrinya. Namun di lain sisi ia juga harus kehilangan lima tahun pertamanya menyaksikan anaknya itu tumbuh. Tejo paham akan pengorbanan itu, sebab baginya lebih baik dirinya yang menderita daripada anak dan istrinya.
Malam itu Tejo menulis surat untuk istrinya yang akan dititipkan kepada Pak RT. Tejo juga berpesan kepada Pak RT untuk menjaga dan memantau keluarga kecilnya itu selama ia di dalam penjara. Pak RT mengangguk.
“Sudah menjadi kewajiban saya sebagai RT Mas.” Kata Pak RT.
“Rahasia ini hanya kita yang tahu Pak RT. Bilang ke istri saya, kalau saya mendapat pekerjaan di luar negeri.” Kata Tejo kepada Pak RT sambil menyerahkan surat yang ditulisnya tadi. Surat itu berisi kebohongan lain, sebuah pengorbanan ayah untuk keluarga kecilnya.
(Surakarta, 2025)
Biodata Pitrus Puspito adalah guru dan penulis. Karyanya berupa puisi, cerpen dan esai pernah dimuat di media cetak maupun digital. Buku tunggalnya yakni kumpulan puisi berjudul Yang Hilang (2018) dan Menyayangi Ingatan (2019). Dapat disapa lewat akun instagram: @pitruspiet.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post