
Padang, 20 Agustus 2025 — Ragadupa, musisi asal Padang akan menggelar Showcase Musik, sebuah persembahan isitimewa bertajuk “Di Pinggir Hindia” pada 29 Agustus 2025 mendatang, bertempat di Gedung Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Lt 5 Pantai Padang. Showcase ini akan dimulai sore hari menjelang matahari terbenam, merangkul suasana romantis yang berpadu dengan elemen sejarah dan seni pertunjukan lintas disiplin.
Lagu ‘Di Pinggir Hindia’ dibuat untuk menjawab kegelisahan sedikitnya bahkan nyaris tidak ada, lagu musisi Sumatera Barat terbaru yang berbahasa Indonesia tentang romantisasi kota Padang. Tidak seperti lagu-lagu dari musisi di kota lain, sebut saja lagu “Sesuatu di Jogja” karya Adhitia Sofyan, atau ‘Dan Bandung’ dari Pidi Baiq. Radadupa sebagai musisi yang tumbuh di Kota Padang ingin menghadirkan nuansa serupa untuk Padang: kota yang juga memiliki lapisan romantika dan narasi historis yang tak kalah indah. Di pantik lagu popular Ernie Johan “Teluk Bayur” yang sering dinyanyikan almarhumah Ibu ragadupa tercinta diusia muda. “Di Pinggir Hindia” bukan sekadar pertunjukan musik—ia adalah upaya menghidupkan kembali cerita Teluk Bayur sebagai bagian dari identitas budaya Padang, sekaligus menjadikannya relevan untuk generasi muda, khususnya Generasi Z, serta sebuah pelabuhan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan masa lalu Kota Padang.
Dalam showcase ini, penonton akan diajak menikmati karya musik baru dengan pendekatan Teluk Bayur dalam goresan lirik Boy Candra dan Ragadupa. Lagu dengan nada yang penuh kehangatan dan penuh emosional ini, di arransment dengan Instrumen Musik modern dan tradisi oleh Tim Ragadupa (Gelvi, Hendrik, Tio, Tahmid, Ocoy, Aca), dibalut pertunjukan visual dari aktor Teater dari Komunitas Payung Sumatera, serta harmoni suara pengiring yang dipersembahkan oleh Andalaswara Choir. Perpaduan ini diharapkan mampu membawa penonton masuk dalam pengalaman multisensory-menyentuh, menggetarkan, dan membekas.
“Harapan saya, lagu dan pertunjukan ini bisa menjadi ruang kolektif untuk mengingat, merayakan, dan mencintai Kota Padang —bukan hanya sebagai kota kelahiran, tapi sebagai ruang yang penuh cerita. Saya ingin saat ini Teluk Bayur dilihat bukan lagi sekadar Pelabuhan barang atau muatan kapal saja, tapi sebagai simbol romansa dan sejarah serta kebanggaan warga kota ini,” ungkap sang musisi.
Dengan latar senja dan gunung padang sebagai panggung utama, pertunjukan ini akan menjadi pengalaman yang tidak hanya menyentuh sisi emosional, namun juga membangun kedekatan lintas generasi terhadap sejarah lokal.
Acara ini terbuka untuk umum karena didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian dan Kebudayaan Wilayah III Provinsi Sumatera Barat dan akan dilaksanakan secara terbatas demi menjaga suasana intim. Informasi lebih lanjut mengenai lokasi dan akses masuk bisa melalui kanal media sosial resmi sang musisi dalam waktu dekat.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post