• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 3, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Di Pinggir Hindia: Ragadupa Luncurkan Single Romantisasi Teluk Bayur, Surat Cinta untuk Kota Padang — untuk Masa Lalu, Kini, dan Masa Depan

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
20 Agustus 2025
in Berita
979 51
0
Home Berita
BagikanBagikanBagikanBagikan

Padang, 20 Agustus 2025 — Ragadupa, musisi asal Padang akan menggelar Showcase Musik, sebuah persembahan isitimewa bertajuk “Di Pinggir Hindia” pada 29 Agustus 2025 mendatang, bertempat di Gedung Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat Lt 5 Pantai Padang. Showcase ini akan dimulai sore hari menjelang matahari terbenam, merangkul suasana romantis yang berpadu dengan elemen sejarah dan seni pertunjukan lintas disiplin.

Lagu ‘Di Pinggir Hindia’ dibuat untuk menjawab kegelisahan sedikitnya bahkan nyaris tidak ada, lagu musisi Sumatera Barat terbaru yang berbahasa Indonesia tentang romantisasi kota Padang. Tidak seperti lagu-lagu dari musisi di kota lain, sebut saja lagu “Sesuatu di Jogja” karya Adhitia Sofyan, atau ‘Dan Bandung’ dari Pidi Baiq. Radadupa sebagai musisi yang tumbuh di Kota Padang ingin menghadirkan nuansa serupa untuk Padang: kota yang juga memiliki lapisan romantika dan narasi historis yang tak kalah indah. Di pantik lagu popular Ernie Johan “Teluk Bayur” yang sering dinyanyikan almarhumah Ibu ragadupa tercinta diusia muda. “Di Pinggir Hindia” bukan sekadar pertunjukan musik—ia adalah upaya menghidupkan kembali cerita Teluk Bayur sebagai bagian dari identitas budaya Padang, sekaligus menjadikannya relevan untuk generasi muda, khususnya Generasi Z, serta sebuah pelabuhan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan masa lalu Kota Padang.

Dalam showcase ini, penonton akan diajak menikmati karya musik baru dengan pendekatan Teluk Bayur dalam goresan lirik Boy Candra dan Ragadupa. Lagu dengan nada yang penuh kehangatan dan penuh emosional ini, di arransment dengan Instrumen Musik modern dan tradisi oleh Tim Ragadupa (Gelvi, Hendrik, Tio, Tahmid, Ocoy, Aca), dibalut pertunjukan visual dari aktor Teater dari Komunitas Payung Sumatera, serta harmoni suara pengiring yang dipersembahkan oleh Andalaswara Choir. Perpaduan ini diharapkan mampu membawa penonton masuk dalam pengalaman multisensory-menyentuh, menggetarkan, dan membekas.

“Harapan saya, lagu dan pertunjukan ini bisa menjadi ruang kolektif untuk mengingat, merayakan, dan mencintai Kota Padang —bukan hanya sebagai kota kelahiran, tapi sebagai ruang yang penuh cerita. Saya ingin saat ini Teluk Bayur dilihat bukan lagi sekadar Pelabuhan barang atau muatan kapal saja, tapi sebagai simbol romansa dan sejarah serta kebanggaan warga kota ini,” ungkap sang musisi.

Dengan latar senja dan gunung padang sebagai panggung utama, pertunjukan ini akan menjadi pengalaman yang tidak hanya menyentuh sisi emosional, namun juga membangun kedekatan lintas generasi terhadap sejarah lokal.

Acara ini terbuka untuk umum karena didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Balai Pelestarian dan Kebudayaan Wilayah III Provinsi Sumatera Barat dan akan dilaksanakan secara terbatas demi menjaga suasana intim. Informasi lebih lanjut mengenai lokasi dan akses masuk bisa melalui kanal media sosial resmi sang musisi dalam waktu dekat.

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
  • PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
  • Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026
Tags: BudayaPelesiranSastra

Related Posts

Hari Ketiga Pekan Nan Tumpah: Ragam Penampilan dan Keseruan Terus Berlanjut

Hari Ketiga Pekan Nan Tumpah: Ragam Penampilan dan Keseruan Terus Berlanjut

Oleh Redaksi Marewai
26 Agustus 2025

Padang, 26 Agustus 2025, Pekan Nan Tumpah (PNT) 2025 telah memasuki hari ketiga penyelenggaraan, dan antusiasme penonton belum menunjukkan...

Merayakan 116 Tahun Novelis Perempuan Pertama Indonesia Selasih (Sariamin Ismail) 1909-1995

Merayakan 116 Tahun Novelis Perempuan Pertama Indonesia Selasih (Sariamin Ismail) 1909-1995

Oleh Redaksi Marewai
1 Agustus 2025

Kamis,31 Juli 2025 di Singali (Kampung Sababalik, Nagari Bahagia, Padang Gelugur,Pasaman), senja sangat berbeda. Tempat duduk dari kayu atau...

Repatriasi Suara Leluhur Nias Menggema di Jakarta: Dialog Interaktif “Suara yang Pulang” Hadirkan Warisan Budaya yang Hidup

Repatriasi Suara Leluhur Nias Menggema di Jakarta: Dialog Interaktif “Suara yang Pulang” Hadirkan Warisan Budaya yang Hidup

Oleh Redaksi Marewai
27 Juli 2025

Jakarta, 26 Juli 2025 — Sebuah momen bersejarah dan sarat makna terjadi di Double V Coffee & Eatery, Rawamangun,...

Alam Terkembang untuk Ditambang – Jaka HB | Seri Khotbah Kebudayaan Steva

Alam Terkembang untuk Ditambang – Jaka HB | Seri Khotbah Kebudayaan Steva

Oleh Redaksi Marewai
13 Juli 2025

Penulis, Jaka HB, Editor at Large Roehana Project Society of Indonesia Environmental Journalists Mongabay Indonesia Beberapa hari ini saya...

Next Post
Taklimat Peluncuran Pekan Nan Tumpah 2025: Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah, Kalau Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham

Taklimat Peluncuran Pekan Nan Tumpah 2025: Seni Murni, Seni Terapan, Seni Terserah, Kalau Kamu Paham Semua Ini, Mungkin Kamu Salah Paham

Cerpen: Menjadi Ayah – Pitrus Puspito

Cerpen: Menjadi Ayah - Pitrus Puspito

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In