
Apakah anda tahu bahwa tradisi masyarakat Minangkabau sangat beragam? Tradisi masyarakat yang ada di Minangkabau tidak hanya berupa acara-acara besar seperti Pacu Jawi (balap sapi) yang ada di daerah Lima Puluh Kota, ataupun tari-tari tradisional seperti tari piring, tari pasambahan, tari payung, dan lainnya. Namun di kabupaten Tanah Datar, tepatnya di desa Galogandang ada tradisi yang unik, yaitu sebuah kerajinan gerabah bernama Balango yang dibuat oleh masyarakatnya.
Balango merupakan salah satu jenis warisan budaya Minangkabau berbentuk benda. Balango bukan hanya sebagai alat memasak, namun ada jejak sejarah, nilai estetika, dan simbolisme yang sangat berkaitan dengan kehidupan masyarakat desa Galogandang. Balango menunjukkan kreativitas lokal dan nilai-nilai budaya yang diturunkan secara turun-temurun. Inilah yang disebut dengan Folklor bukan lisan, yaitu bentuk kebudayaan tradisional yang diwariskan secara fisik atau tindakan, bukan secara lisan. Berbeda dengan cerita rakyat atau dongeng yang diwariskan oleh nenek moyang secara lisan.
Desa Galogandang adalah pusat penghasil kerajinan balango. Dalam proses pembuatannya, masyarakat Galogandang masih menggunakan cara dan alat-alat yang masih tradisional. Mula-mula pengrajin menggali tanah bekas menanam padi kurang lebih sedalam setengah sampai satu meter, hingga menemukan tanah liat. Setelah itu, tanah liat dicampur dengan pasir halus dari bukit di sekitar. Selama proses pencampuran, para pengrajin menggunakan kaki karena mereka percaya bahwa tanah akan tercampur dengan baik jika dicampur menggunakan kaki.
Tanah liat dan pasir yang telah tercampur rata, lalu dibentuk dengan cetakan rotan yang berbentuk lingkaran. Rotan tersebut didapat dari bukit-bukit yang ada di sekitar Galogandang. Untuk menghaluskan bentuknya, balango dipukul-pukul menggunakan kayu pipih di bagian luar, dan di bagian dalam menggunakan batu. Proses pemukulan ini disebut dengan malangiah (memukul-mukul). Suara pukulan dalam pembuatan balango yang bersaut-sautan (batalu-talu) inilah yang dipercaya mengapa desa ini dinamakan Galogandang.
Setelah proses memukul, mulailah proses mambibia yaitu membuat bibir bagian atas balango dengan menggunakan seng tipis dan lapiak pandan (tikar) kurang lebih berukuran 20 x 10 cm untuk membuatnya halus dan rapi. Setelah selesai dibentuk, balango dijemur di bawah sinar matahari. Jika sudah setengah kering, balango disusun lalu dibakar dengan jerami, tempurung kelapa, dan kayu. Proses pembakaran ini akan menghasilkan balango yang terbaik. Balango akan pecah selama proses pembakaran jika tanah liat dan pasir tidak tercampur secara merata. Oleh karena itu, pengrajin harus memiliki kesabaran dan ketelitian selama proses pembuatan balango.
Masyarakat desa Galogandang percaya pada cerita tentang bagaimana balango ini pertama kali muncul. Pada zaman dahulu, di daerah bukit nenek moyang memiliki keinginan untuk memasak. Meskipun ada hasil panen seperti beras dan bahan masakan lainnya, tidak ada alat untuk memasaknya. Kemudian, mereka menggali tanah setelah panen dan menemukan tanah liat. Tanah liat dibentuk menggunakan tangannya sendiri, dibentuk-bentuk dengan rasa dan perasaannya sehingga jadilah sebuah periuk yang bisa digunakan untuk memasak.
Tradisi ini akhirnya menjadi kewajiban bagi anak gadis. Dalam masyarakat galogandang di zaman dahulu, setiap anak gadis di desa ini harus pandai membuat balango (batampo). Ada pandangan bahwa jika tidak bisa membuat balango, tidak ada yang mau menikah dengannya. Ini menunjukkan bahwa keterampilan membuat balango dianggap tidak hanya penting secara fungsional, tetapi juga dianggap sebagai simbol kedewasaan dan kesiapan perempuan untuk menjalani kehidupan berumah tangga.
Tidak hanya sebagai alat memasak, Balango dipercaya bisa menambah cita rasa pada makanan. Hingga saat ini, masyarakat Galogandang masih menggunakan balango untuk memasak. Makanan yang biasa dimasak menggunakan balango ini ada gulai jariang (jengkol), maabuh kacang padi (merebus kacang hijau), mambuek lapek (makanan tradisional Minangkabau yang terbuat dari tepung beras), maabuh dagiang (merebus daging), hasilnya akan lebih empuk daripada menggunakan panci presto zaman sekarang. Maabuh ubek (merebus obat) tradisional juga harus menggunakan balango, karena aroma pariuak itu akan meresap ke racikan obatnya, sehingga khasiat dari obat akan terjaga.
Balango ada tidak hanya sebagai alat memasak yang ditinggalkan nenek moyang. Balango ada sebagai identitas dan hasil kebudayaan masyarakat Galogandang. Balango dan desa Galogandang adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Masyarakat masih melestarikan balango hingga saat ini. Ini dapat dilihat dari pemakaian alat makan yang digunakan saat acara-acara adat. Selain untuk tempat membuat makanan, dalam masyarakat balango ini sebagai mata pencaharian masyarakat desa Galogandang, untuk menarik wisatawan, juga sebagai arsip kebudayaan Galogandang.
Vara Madina Yazikra adalah mahasiswa Sastra Indonesia di Universitas Andalas. lahir di Jakarta, 19 Juli 2004. Selain aktif dalam kegiatan akademik, ia sekarang ia aktif bergiat di Labor Penulisan Kreatif (LPK) Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Saat ini sedang menaruh minat pada kajian sastra dan budaya.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post