
Judul Buku : INYIAK SANG PEJUANG
Penulis : KHAIRUL JASMI
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : Cetakan 1, Februari 2020
Tebal : vi + 269 halaman ; 15 x 23 Cm
ISBN : 978-623-7458-34-0
ISBN Book : 978-623-7458-35-7
“Wanita dimana pun adalah samudera yang dalam, yang tahu shubuh telah datang mendahului murai dan ayam jantan. Tahu, Magrib telah tiba sebelum kelelawar keluar dari sarangnya. Tahu di air yang beriak..” –Shafiyah (Istri Buya Canduang)-
Teringat janji sang suami, kemudian batin antara dua insan itu bergejolak jua, menarik diri menuju kehendak sang illahi rabbi.. (Baca lebih lanjut dibuku Novel Biografi Syech Silaiman Ar-Rasuli)
Buku ini dikemas dengan begitu apik oleh sang penulis berbentuk novel. Khairul Jasmi, beliau adalah seorang Wartawan dan Sastrawan Minangkabau. Beliau juga seorang Pimpinan Redaksi Harian Singgalang dan seorang Komisaris PT Semen Padang. Didalam buku ini terdapat percakapan antar tokoh seperti percakapan antara Syech Sulaiman dengan orang tua, istri, sang guru, teman sejawat dan teman seperjuangan, seolah-olah penulis membawa pembaca masuk ke Alam Nagari Minangkabau itu sendiri, didalamnya digambarkan juga Gunung Marapi, Kuda Bendi (alat tranportasi), Surau Minang, Adat Budaya, dan digambarkan pula bagaimana kondisi masyarakat kala itu di Nagari Minangkabau lengkap dengan lokasi tempat dan waktu. Menariknya di akhir halaman buku ini penulis menegaskan kembali inti cerita yang sebelumnya sudah dipaparkan sehingga membuat pembaca kembali bernostalgia kehalaman awal. Buku ini tidak hanya menceritakan sosok Inyiak Canduang tetapi diceritakan pula Sejarah Indonesia Sebelum dan Pasca Kemerdekaan beserta para tokoh pejuang bangsa.
Tasbih Maut..
Itulah Silek Duduak Buya Canduang (Inyiak Sulaiman Ar-Rasuli) ketika menghadapi pasukan KNIL kemudian dilain waktu disusul oleh PKI, mereka berencana untuk membunuh Buya, bahkan si Komunis Atheis ini berniat untuk meletakkan kepala Buya di depan Madrasah (MTI Canduang) yang beliau bangun. Zikir yang begitu dalam sehingga para musuh kalang kabut, seketika ketakutan mereka sampai ke puncak ubun-ubun mambuat seluruh tubuh memutih menyaksikan karomah beliau atas izin Allah Ta’ala.
Garis tangan sudah ditentukan Sang Khaliq, dilema yang menghantam batin sang Ibu “Biyai” jauh dari buah hati belahan jantung. Usia 10 tahun beliau dihantarkan oleh sang ayah dan kakek (juga seorang ulama) untuk belajar ke beberapa guru agama, hingga akhirnya tanah haram Mekkah memanggil Buya muda untuk melaksanakan Haji dan menetap disana beberapa tahun untuk menggali ilmu. Pada saat itu perjalanan Haji ke Mekkah tidak semudah dan senyaman hari ini. Dahulu orang yang naik haji butuh waktu berbulan-bulan dengan alat tranportasi berupa kapal tongkang, onta dan keledai. Orang rumah yang tinggalkan sudah diwasiatkan terlebih dahulu “mungkin saja jasad tidak akan kembali” melihat amukan ombak di samudra yang luas dan ganasnya padang pasir, belum lagi menghadapi ulah manusia yang berniat jahat, merampas barang bawaan orang berhaji diperjalanan.
Taher adalah kawan setia Buya Canduang selama perjalanan ke Mekkah, disana pula beliau bertemu dengan Sang Guru Syech Ahmad Khatib Al Mingkabawi, seorang guru yang sudah mendidik beribu jumlah murid tersebar di seluruh dunia, temasuk Indonesia. Diantara murid Syech Ahmad Khatib yang berpengaruh di Negri ini, katakanlah yang dari Pulai Jawa diantaranya: K.H Hasyim Asy ‘Ari (Pendiri NU), K.H Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), H. Abdulhalim Majalengka, dll. Sedangkan murid yang berasal dari tanah Sumatera diantaranya: Haji Agus Salim (Tokoh Politik dari Koto Gadang), Syekh DR. H. Abdul Karim Amrullah (Ayah Buya Hamka), Syech M. Djamil Djambek (Ahli Hisab), Syech M. Thaib ‘Umar (guru dari Prof. Muhammad Yunus), Syech DR. H. Abdullah Ahamd (Pendiri Sekolah Adabiyah Padang), Syech Abbas El Qadhi (Ketua Majlis Tarjih Perti, ayah Buya K.H. Sirajuddin Abbas), Syech ‘Arifin Arsyadi (Mursyid Tarekat Naqsyabandi Payakumbuh), Syech M. Jamil Jaho (Guru besar Tarbiyah Islamiyah Jaho Padang Panjang), Syech Ibrahim Musa (Guru Besar Thawalib Parabek Bukittinggi) dan masih banyak lagi.
Bekal ilmu pengetahuan dan agama telah membentuk karakter pribadi Buya Canduang ditambah harapan besar dari orang tua dan istri yang senantiasa menyokong perjuangan dakwah beliau. Ketajaman berfikir, dalamnya zikir dan kehalusan budi menggambarkan sosok pribadi beliau yang kharismatik, beliau tidak hanya dalam soalan Agama tetapi juga Adat Istiadat “Adat Basandai Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah” (ABS-SBK). Konsentrasi dan kegigihan beliau dalam mendidik umat tidak selalu berjalan mulus, menghadapai pemahaman keilmuan kaum muda yang terkadang bertolak belakang dengan pemahaman kaum tua, berhadapan dengan masyarakat yang melekat akan TBC (Tahayyul, Bid’ah, Churafat), belum lagi kemungkaran lainnya seperti Judi, Sabung Ayam, Minum Tuak yang menjadi hukum adat bahkan mengalahkan hukum tuhan pada masa itu. Akan tetapi Buya Candung tidak serta merta merasa dirinya paling benar. Beliau pandai memaknai pepatah “Dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang”.
Berakidah Ahlusunnah wal Jama’ah dan bermazhab Syafi’i sering beliau gaungkan. Ilmu Tauhid, Ilmu Hadits, Ilmu Tafsir, Ilmu Fiqih, Ilmu Tasawuf serta Ilmu Alat (Nahu, Sharaf, Balagah dll) tentu sudah beliau khatamkan dan sudah ada ijazahnya. Kajian yang semula beliau ajarkan di Surau Baru (Surau yang dbangun warga setempat) dengan sisitem khalaqah (Duduk Melingkar antara guru dan murid) kini berubah menjadi sistem Klasikal (Meja, Kursi, Papan Tulis). Singkat cerita dibangunlah Madrasah Tarbiyah Islamiyah (MTI). MTI yang beliau bangun menjalar bak cendawan tumbuh, tak sampai waktu 10 tahun 300 MTI berdiri dipanggung Sumatera, muridnya mencapak 700 orang kala itu. Akhirnya tarbiyah ini bertransformasi menjadi Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) sampai memasuki ranah politik.
Sejak kelahiran beliau tahun 1871 sampai tahun 1970 terhitung 99 tahun beliau hidup, kini Buya Canduang mutiara dari lereng Gunuang Marapi itu telah pergi “Hancua badan dikanduang tanah, budi baiaik takana juo”. Akan tetapi menurut sebagian orang berkeyakinan orang ‘Alim jasadnya tidak akan dimakan bumi. Pusara beliau dijaga oleh ilmu, dan generasi penerus. Terukir pesan dipusaramu :
“Teroeskan membina Tarbijah Islamijah ini, sesoeai dengan Peladjaran yang Koe Berikan”
–Syech Sulaiman Ar-Rasuli-
Penulis, Elvi Nasriandani, tinggal di nagari Magek Kabupaten Agam (Sumatera Barat), ikuti saya di Media Sosial : elvi_nasriandani99 (Instagram)






Discussion about this post