• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Selasa, Februari 24, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang

Redaksi Marewai Oleh Redaksi Marewai
23 Februari 2026
in Artikel, Budaya
972 51
0
Home Budaya Artikel
BagikanBagikanBagikanBagikan

Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari rumah ke rumah. Salah satu kebiaasaan yang masih dijalankan oleh Muslim keturunan India di Kota Padang; Mendoa Puriang

Di Kota Padang, terdapat komunitas Muslim keturunan India, yang dikenal dengan sebutan India Muhammadan. Masyarakat Muslim keturunan India di Kota Padang dikenal sebagai salah satu kelompok yang masih konsisten menjalankan tradisi-tradisi budayanya. Bagi mereka, tradisi bukan hanya warisan turun temurun, melainkan cara untuk menjaga diri agar tetap berada di jalan Allah.

Tradisi yang dilakukan mulai dari memperingati hari-hari besar Islam, ritual-ritual doa, dan berbagai praktik spiritual lainnya. Tujuannya adalah untuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT sekaligus mempertahankan adab di tengah perubahan zaman. Meskipun, tidak semua tradisi selalu dijelaskan maknanya, namun masyarakat muslim keturunan India tetap menjalani dengan kesadaran dan rasa hormat pada warisan orang tua dan leluhurnya.

Salah satu tradisi yang dilakukan pada bulan Rajab menjelang masuknya bulan puasa, yaitu Mendoa Puriang. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk doa atas nama Imam Ja’far Ash Shadiq yang dikenal sebagai salah satu sumber utama ajaran keilmuan dan spiritual dalam Islam. Kalau ditarik ke konteks Muslim di wilayah India, hubungan Imam Ja’far Ash-Shadiq sebenarnya tidak terjalin secara langsung. Beliau tidak pernah datang ke India. Namun, pengaruhnya sampai ke sana lewat jalur ilmu dan spiritualitas yang diwariskan dari generasi ke generasi, terutama melalui tradisi tasawuf dan tarekat.

Kegiatan memakan puriang seusai mendoa puriang

Mendoa puriang merupakan ritual doa dengan bacaan-bacaan khusus di bulan Rajab yang dilakukan dengan menyiapkan kue puriang, sebuah kue suci yang diletakkan dalam kunda dan dihiasi dengan bunga melati. Kue puriang dibuat tiga hari atau seminggu sebelum dilakukan prosesi doa pada 22 Rajab.

Proses pembuatan kue puriang memiliki aturan yang masih dijaga hingga saat ini. Kue suci ini hanya boleh dibuat oleh orang yang berada dalam keadaan suci, baik secara fisik maupun ritual (tidak dalam keadaan berhalangan), dan terlebih dahulu berwuduk. Selain itu, dapur pembuatan juga harus dalam kondisi bersih. Proses pembuatan pun juga beragam, ada yang dilakukan secara kolektif antar keluarga ada juga dilakukan secara mandiri.

Bahan kue puriang terdiri dari tepung yang digunakan untuk membuat kulit kue puriang, lalu diisi dengan yang manis seperti kelapa, gula batu, kacang tanah, kacang mete, dan kismis. Seluruh bahan tersebut ditumis dan dicampur dengan berbagai rempah khas India seperti, karda bumbu india, adas manis, kayu manis, dan cengkeh. Setelah itu digoreng lalu ditiriskan. Selanjutnya kue puriang dimasukkan ke dalam kunda, yaitu periuk yang berasal dari tanah liat, dalam bahasa Minang dikenal sebagai balango. Kunda yang digunakan harus diberi cap cendana terlebih dahulu dan dihias dengan bunga melati.

Kue puriang tidak boleh dikonsumsi sebelum prosesi mendoa dilakukan. Setelah doa selesai, barulah kue suci tersebut boleh dicicipi dengan sejumlah pantangan tertentu. Kue puriang yang diambil dari kunda harus dimakan di dalam rumah tempat kue tersebut disediakan. Selain itu, kue puriang tidak boleh tumpah saat dimakan. Apabila kue tersebut terjatuh, maka harus segera dipungut dan dimakan kembali.

“Kue tidak boleh tumpah saat dimakan, apabila tumpah, harus dipungut dan dimakan kembali,” ujar Hanita. Hanita menegaskan bahwa pantangan-pantangan tersebut tidak memiliki makna khusus yang dijelaskan secara simbolik. Ia menjalankan seluruh rangkaian aturan tersebut semata-mata karena mengikuti apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya sejak dahulu. Tradisi ini dijalani sebagai bentuk keberlanjutan kebiasaan keluarga dan penghormatan terhadap warisan yang telah diterima secara turun-temurun, tanpa adanya upaya penafsiran makna yang lebih jauh.

Kue puriang yang telah didoakan kemudian boleh dibagikan kepada saudara-saudara terdekat. Tradisi ini menjadi bukti keberagaman praktik Islam yang hidup dan berkembang di Sumatera Barat.


Anjali Sabna merupakan seorang Research Assistant yang konsen pada isu religious studies. Ia juga aktif dalam komunitas PELITA PADANG, sebuah komunitas anak muda yang berfokus pada isu keberagaman dengan perhatian khusus pada Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB).

  • About
  • Latest Posts
Redaksi Marewai
ikuti saya
Redaksi Marewai
Redaksi Marewai at Padang
Redaksi Marewai (Komunitas Serikat Budaya Marewai) adalah Komunitas Independen yang menyediakan ruang bagi siapa saja yang mau mempublikasi tulisannya, sebuah media alternatif untuk para penulis. Kami juga banyak berkegiatan diarsip manuskrip dan video/film dokumenter, mengangkat sejarah dan budaya Minangkabau. Bebebapa dari karya tsb sudah kami tayangkan di Youtube Marewai TV.
Silakan kirim karyamu ke; [email protected]
Redaksi Marewai
ikuti saya
Latest posts by Redaksi Marewai (see all)
  • Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang - 23 Februari 2026
  • Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026
  • Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026
Tags: Budaya

Related Posts

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya

Oleh Redaksi Marewai
15 Februari 2026

Sebanyak 61 siswa Kelas Nan Tumpah Akhir Pekan (Kelana Akhir Pekan) menggelar karya hasil pembelajaran Semester II (September–Desember 2025)...

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Ke Rumah Nan Tumpah #10: Pameran Silotigo “Rukun Paksa/ Berakit-rakit ke Hulu Tinggal di Genangan” dan dan Gelar Karya Kelana Akhir Pekan

Oleh Redaksi Marewai
5 Februari 2026

Dua bulan setelah banjir bandang dan galodo melanda 16 kabupaten kota di Sumatera Barat, Komunitas Seni Nan Tumpah menggelar...

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES!

Oleh Redaksi Marewai
23 Januari 2026

Marewai—Kota Padang, 23 Januari 2025 STEVUNK berdiri pertengahan tahun 2025 di Padang. Memperkenalkan diri dengan lagu pertama berjudul ‘Batu...

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

SERI – AJI MANTROLOT | Penggalan X: KABAU GADANG (Bagian VIII) | Dewang Kara Sutowano

Oleh Dewang Kara Sutowano
9 Januari 2026

Sebuah Cerita Panjang yang Sengaja Dicerai-Berai Namanya Bukit Atar, terletak tak jauh dari Batang Sinamar. Dari bukit itu terlihat...

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In