
Memasuki bulan Rajab, dapur-dapur rumah mulai dipenuhi aroma rempah, kunda pun siap dihidangkan. Sementara lantunan kalimat-kalimat Allah terdengar dari rumah ke rumah. Salah satu kebiaasaan yang masih dijalankan oleh Muslim keturunan India di Kota Padang; Mendoa Puriang
Di Kota Padang, terdapat komunitas Muslim keturunan India, yang dikenal dengan sebutan India Muhammadan. Masyarakat Muslim keturunan India di Kota Padang dikenal sebagai salah satu kelompok yang masih konsisten menjalankan tradisi-tradisi budayanya. Bagi mereka, tradisi bukan hanya warisan turun temurun, melainkan cara untuk menjaga diri agar tetap berada di jalan Allah.
Tradisi yang dilakukan mulai dari memperingati hari-hari besar Islam, ritual-ritual doa, dan berbagai praktik spiritual lainnya. Tujuannya adalah untuk menjaga kedekatan dengan Allah SWT sekaligus mempertahankan adab di tengah perubahan zaman. Meskipun, tidak semua tradisi selalu dijelaskan maknanya, namun masyarakat muslim keturunan India tetap menjalani dengan kesadaran dan rasa hormat pada warisan orang tua dan leluhurnya.
Salah satu tradisi yang dilakukan pada bulan Rajab menjelang masuknya bulan puasa, yaitu Mendoa Puriang. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk doa atas nama Imam Ja’far Ash Shadiq yang dikenal sebagai salah satu sumber utama ajaran keilmuan dan spiritual dalam Islam. Kalau ditarik ke konteks Muslim di wilayah India, hubungan Imam Ja’far Ash-Shadiq sebenarnya tidak terjalin secara langsung. Beliau tidak pernah datang ke India. Namun, pengaruhnya sampai ke sana lewat jalur ilmu dan spiritualitas yang diwariskan dari generasi ke generasi, terutama melalui tradisi tasawuf dan tarekat.

Kegiatan memakan puriang seusai mendoa puriang
Mendoa puriang merupakan ritual doa dengan bacaan-bacaan khusus di bulan Rajab yang dilakukan dengan menyiapkan kue puriang, sebuah kue suci yang diletakkan dalam kunda dan dihiasi dengan bunga melati. Kue puriang dibuat tiga hari atau seminggu sebelum dilakukan prosesi doa pada 22 Rajab.
Proses pembuatan kue puriang memiliki aturan yang masih dijaga hingga saat ini. Kue suci ini hanya boleh dibuat oleh orang yang berada dalam keadaan suci, baik secara fisik maupun ritual (tidak dalam keadaan berhalangan), dan terlebih dahulu berwuduk. Selain itu, dapur pembuatan juga harus dalam kondisi bersih. Proses pembuatan pun juga beragam, ada yang dilakukan secara kolektif antar keluarga ada juga dilakukan secara mandiri.
Bahan kue puriang terdiri dari tepung yang digunakan untuk membuat kulit kue puriang, lalu diisi dengan yang manis seperti kelapa, gula batu, kacang tanah, kacang mete, dan kismis. Seluruh bahan tersebut ditumis dan dicampur dengan berbagai rempah khas India seperti, karda bumbu india, adas manis, kayu manis, dan cengkeh. Setelah itu digoreng lalu ditiriskan. Selanjutnya kue puriang dimasukkan ke dalam kunda, yaitu periuk yang berasal dari tanah liat, dalam bahasa Minang dikenal sebagai balango. Kunda yang digunakan harus diberi cap cendana terlebih dahulu dan dihias dengan bunga melati.
Kue puriang tidak boleh dikonsumsi sebelum prosesi mendoa dilakukan. Setelah doa selesai, barulah kue suci tersebut boleh dicicipi dengan sejumlah pantangan tertentu. Kue puriang yang diambil dari kunda harus dimakan di dalam rumah tempat kue tersebut disediakan. Selain itu, kue puriang tidak boleh tumpah saat dimakan. Apabila kue tersebut terjatuh, maka harus segera dipungut dan dimakan kembali.
“Kue tidak boleh tumpah saat dimakan, apabila tumpah, harus dipungut dan dimakan kembali,” ujar Hanita. Hanita menegaskan bahwa pantangan-pantangan tersebut tidak memiliki makna khusus yang dijelaskan secara simbolik. Ia menjalankan seluruh rangkaian aturan tersebut semata-mata karena mengikuti apa yang telah dilakukan oleh orang tuanya sejak dahulu. Tradisi ini dijalani sebagai bentuk keberlanjutan kebiasaan keluarga dan penghormatan terhadap warisan yang telah diterima secara turun-temurun, tanpa adanya upaya penafsiran makna yang lebih jauh.
Kue puriang yang telah didoakan kemudian boleh dibagikan kepada saudara-saudara terdekat. Tradisi ini menjadi bukti keberagaman praktik Islam yang hidup dan berkembang di Sumatera Barat.
Anjali Sabna merupakan seorang Research Assistant yang konsen pada isu religious studies. Ia juga aktif dalam komunitas PELITA PADANG, sebuah komunitas anak muda yang berfokus pada isu keberagaman dengan perhatian khusus pada Kebebasan Beragama atau Berkeyakinan (KBB).
- Mendoa Puriang: Kue Suci di Bulan Rajab ala Muslim Keturunan India di Padang - 23 Februari 2026
- Seni Tak Selalu Soal Kompetisi: Di Tengah Situasi Banjir 61 Siswa Kelana Gelar Karya - 15 Februari 2026
- Cerpen Kapiturunan – Risnandar Tjia - 8 Februari 2026




Discussion about this post