• Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
Jumat, Januari 16, 2026
  • Login
  • Daftar
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai
No Result
View All Result
Redaksi Marewai
No Result
View All Result

Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif

Arif P. Putra Oleh Arif P. Putra
17 Desember 2025
in Cakap Film
1k 10
0
Home Cakap Film
BagikanBagikanBagikanBagikan

Ae Dil Hai Mushkil Durasi 2 jam 37 menit (2016)

Pemeran: Ranbir Kapoor, Anushka Sharma, Aishwarya Rai Bachchan

Saiyaara Durasi 2 jam 30 menit (2025)

Dibintangi: Ahaan Panday dan Aneet Padda

Setelah Ae Dil Mushkil, rasanya saya tidak lagi menemukan pilem yang setara dengan cerita romansanya. Alur cerita dengan latar percintaan yang ironis, tentu saja pilem tersebut saya tonton sebelum status menikah, dan suasana perasaan tentu saja sedikit berbeda saat kuulang lagi setelah status menikah. Tapi, paling tidak pilem tersebut masih kuputar beberapa kali dikemudian hari hanya untuk bagian-bagian yang menurutku ikonik. Misalnya, momen pernikahan Alizeh Khan yang diperankan Anushka Sharma. Saat Ayan Sanger yang dimainkan Ranbir Kapoor dengan karakter sebagai musisi menyanyikan lagu “Channa Mereya”. Lagu dengan lirik yang dalam dan menyentuh. “Kitni dafa subah ko meri tere aangaan me baithe shaam kiya – Seringkali, aku merubah pagiku menjadi malam sambil duduk di halamanmu.” Lagu ini seolah mewakili situasi bagian adegan paling penting, babak transisi dari bahagia ke bagian kelam dan murung kisah percintaan dua tokoh.

Bagian setelahnya, mengapa Alizeh Khan seakan tak menaruh hati kepada Ayan masih menjadi misteri. Kekecewaan yang tak terjawab itu membawa petualangan penuh kemunafikan Ayan, namun sebagai musisi ia menjadi lebih sukses dan ambisius. Momen epik itu lalu dihadirkan dengan pengantar yang rapi dan padat, tentu sebelum sudah dirancang sejak awal. Bagaimana mereka menghabiskan waktu bersama ketika bertemu pada suatu malam yang gemerlap dan nyaris berbuat dosa—hanya saja Ayan belum punya pengalaman apa-apa. Banyak potongan-potongan detail yang menjadi penyambung pilem seolah direkat sedemikian rupa, sehingga membentuk satu alur cerita yang padat. Mereka berpisah setelah Alizeh menikah, tidak ada kabar sama sekali. Sampai suatu waktu Ayan tetap dihantui wanita pujaannya itu, bahkan sekelas seniman kenamaan yang diperankan Aishwarya Rai Bachchan.

Ayan prihatin, pergi ke tempat favorit Alizeh dan menunggu selama dua hari di sana, berharap dia datang. Alizeh menemuinya di sana dan memberitahu Ayan bahwa dia didiagnosis menderita kanker stadium empat dan tidak akan hidup lebih lama lagi. Bagian ini cukup membekas dan mudah diingat, entah karena backsound yang pas atau hanya karena faktor usia saya sebagai penonton saat itu. Meski begitu, momen-momen puitik dalam pilem ini masih kerap saya putar ulang.

Berbeda hal dengan Saiyaara yang mendapatkan perhatian lebih ditahun ini, disebut-sebut pilem genre roman yang bagus dan blabla. Nyaris 2 bulan pilem tersebut berada di laptop, tapi tak kunjung saya tonton. Rupanya, baru-baru ini saya sadar bahwa lagu berjudul Saiyaara yang kerap saya putar itu bukanlah soundtrack dari pilem Saiyaara, melainkan judul lagu pilem Ek Tha Tiger, Salman Khan dan Katrina Kaif, 2012. Walau begitu, Lagu “Saiyaara” dalam filem Saiyaara lumayan juga, hanya saja bila dibandingkan “Channa Mereya” dalam Ae Dil Mushkil, bagi saya secara musikalitas dan lirik memang belum apa-apa. Ditambah lagi, pilem Saiyaara terlalu banyak menampilkan adegan ciuman dan pergumulan sepasang kekasihlayaknya remaja puber. Padahal dalam pilem, tokoh tidak digambarkan sebagai kisah asmara remaja puber, melainkan kisah percintaan dua orang dewasa yang sedang berusaha mengobati hatinya yang patah. Konflik di luar tokoh utama pun nampak tempelan belaka, tidak kuat dan irisannya dengan alur cerita semacam bagian yang dipaksa. Atau mungkin saja karena saya cenderung menyukai karakter tokoh Ranbir dan Anushka Sharma, terlebih Anushka Sharma dalam pilem Ae Dil Mushkil dan Jab Harry Met Sejal (2017). Sebagian orang mungkin lebih menyukai Anushka pada pilem Rab Ne Bana Di Jodi (2008), tapi setelah menonton Jab Harry Met Sejal, rasanya Rab Ne Bana Di Jodi hanya mencolokan aktor kesayangan kita itu, Sarulkan.

Tapi Saiyaara, paling tidak berusaha memberi warna lain dari kecamuk perpileman India yang bermuatan kelam dan penuh adegan kekerasan/vulgar. Saiyaara memang serupa pilem sinetron remaja, disajikan secara terang, beberapa adegan cukup mudah ditebak, misalnya ketika tiba-tiba pada momen konser, ketika Vaani dan Krish datang demi mewujudkan mimpinya menjadi seorang superstar. Mahesh (mantan Vaani) mencoba memanfaatkan kerentanan Vaani selama episode kebingungan. Krish ikut campur, tetapi Vaani, yang tidak dapat mengenalinya, bereaksi dengan ketakutan dan menusuk lengan kanannya setelah Krish memukuli Mahesh, mengalami gangguan mental yang lebih parah. Kembali ke wisma mereka, ayah Krish berdamai dengannya, mendesaknya untuk tidak mengulangi kesalahannya. Di saat yang tenang, Krish memainkan sebuah melodi di piano. Vaani menyukainya dan menawarkan untuk menulis liriknya. Karena penyakit Alzheimer-nya semakin memburuk, ia secara keliru memanggilnya dengan nama Mahesh. Bagian ini sebenarnya cukup ironis dan dramatis, tapi entah kenapa karakter dua tokoh ini tidak begitu kuat. Sehingga hanya menyisakan adegan sepintas saja. Kemudian Krish pergi untuk sebuah pertemuan. Namun ketika dia kembali, Vaani menghilang. Dia kemudian menemukan buku harian Vaani yang berisi lirik lagu yang diberi judul “Saiyaara”. Bagian ini mudah sekali ditebak, tidak ada kejutan yang dihadirkan, misalnya dalam Ae Dil Mushkil, tokoh wanita memang kuat secara karakter, sehingga mampu memainkan perannya dengan baik. Dan alur yang dihadirkan memang agak panjang, tapi tidak membosankan, bagaimana cerita dilompatkan pada kenyataan-kenyataan lain diluar dua tokoh utama.

Rupanya baru-baru ini kuketahui bahwa pilem ini direncanakan sebagai sekuel spiritual dari Aashiqui 2 (2013). Jadi saya tidak heran bila pilem ini menjadi demikian: kisah percintaan yang tragis dan ironis. Tapi hanya meninggalkan kenaifan.

  • About
  • Latest Posts
Arif P. Putra
ikuti saya
Arif P. Putra
Penulis at Media
Pengelola & penulis di kanal Marewai, menulis Rubrik Pelesiran dan Budaya. Kami juga melakukan riset independen seputar kearifan lokal di Minangkabau, terutama Pesisir Selatan. Selain mengisi kolom di Marewai.com, saya juga menulis puisi dan cerpen dibeberapa media daring dan cetak di Indonesia. Karya-karya saya sering menggabungkan kepekaan terhadap detail kehidupan sehari-hari dengan kedalaman emosional yang membuat pembaca terhubung dengan karakter dan cerita yang diciptakan. Saya juga menulis di rubrik Pelesiran website www.marewai.com
blog;pemikiranlokal.blogspot.com,
Arif P. Putra
ikuti saya
Latest posts by Arif P. Putra (see all)
  • Cakap Pilem – Penyakit dan Drama Asmara: Naif dan Agresif - 17 Desember 2025
  • Muaro Paiti: Babak Kedua dan Memulun Ingatan Kolektif – Arif Purnama Putra - 1 November 2025
  • Cakap Film – Coolie: Bapak-bapak Berbahaya Kita Kembali, Rajinikanth. - 20 September 2025
Tags: film

Related Posts

Cakap Film – Coolie: Bapak-bapak Berbahaya Kita Kembali, Rajinikanth.

Cakap Film – Coolie: Bapak-bapak Berbahaya Kita Kembali, Rajinikanth.

Oleh Arif P. Putra
6 November 2025

Entah apa yang membuatku menyukai aktor satu ini. Jika ditonton ulang pilem-pilemnya, rasanya tidak terlalu bagus juga. Selain banyak...

Cakap Film – A Star Is F*king Born: Potret Dua Sisi dan Pengingat Zaman, Memorable atau Fenomena Belaka

Cakap Film – A Star Is F*king Born: Potret Dua Sisi dan Pengingat Zaman, Memorable atau Fenomena Belaka

Oleh Arif P. Putra
6 November 2025

Sebagaimana kebanyakan film-film Indonesia, selalu dibuka dari suasana dan satu patahan peristiwa yang kemudian jadi rajutan penokohan. Film ini...

Cakap Film: Sinners – Malam Tragis dan Penebusan Dosa

Cakap Film: Sinners – Malam Tragis dan Penebusan Dosa

Oleh Arif P. Putra
9 Agustus 2025

Sinners adalah film horor Amerika tahun 2025 yang diproduksi, ditulis, dan disutradarai oleh Ryan Coogler. Berlatar tahun 1932 di Mississippi Delta, film ini dibintangi...

Cakap Film – Bougainvillea: Sandiwara Psikopat dan Percintaan yang Kelam

Cakap Film – Bougainvillea: Sandiwara Psikopat dan Percintaan yang Kelam

Oleh Arif P. Putra
19 Maret 2025

Bougainvillea adalah film thriller psikologis berbahasa Malayalam India tahun 2024 yang disutradarai oleh Amal Neerad, yang ikut menulis naskahnya...

Next Post
CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO – Sabina Yonandar

CERMINAN KETAKUTAN WANITA YANG TERGAMBAR DALAM PUISI “DI SALON KECANTIKAN” KARYA JOKO PINURBO - Sabina Yonandar

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

PEREMPUAN: KECEMASAN GANDA DI TENGAH BENCANA | Andini Nafsika

Discussion about this post

Redaksi Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Ruang-ruang

  • Budaya
  • Sastra
  • Punago Rimbun
  • Pelesiran
  • Carito

Ikuti kami

No Result
View All Result
  • Kirim Tulisan ke Marewai
  • Budaya
  • Carito
  • Sastra
  • Berita Seni Budaya
  • Pelesiran
  • Punago Rimbun
  • Tentang Marewai

© 2024 Redaksi Marewai

Welcome Back!

Sign In with Facebook
OR

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In