
BERTAHUN-TAHUN KEMUDIAN, ketika menulis catatan ini, aku terkenang pada suatu siang tatkala mencuri buku Seratus Tahun Kesunyian terjemahan Nin Bakdi Soemanto dari suatu toko buku bekas di daerah Kopelma Darussalam. Saat itu aku masih seorang mahasiswa miskin yang mengandalkan beasiswa untuk kebutuhan sehari-hari, dan didorong oleh hasrat yang terlalu besar untuk membaca karya agung itu, aku terpaksa menjadi seorang pencuri karena tidak ingin mengorbankan jatah makanku selama sepekan. Baru-baru ini aku juga pernah membaca sebuah kisah tentang seorang penjual buku di Baghdad yang membiarkan bukunya tidak dijaga saat dia sedang melaksanakan salat. Ketika ditanya mengapa dia melakukan hal itu, dengan simpelnya si penjual buku berkata: “Seorang pembaca tidak akan mencuri, dan seorang pencuri tidak akan membaca.” Sayangnya, petuah bijak dari si penjual buku itu tidak berlaku padaku; karena, saat itu aku tidak bisa menghindar dari dualisme kontradiktif sebagai seorang pembaca yang mencuri (bukan sebaliknya!).
Bertahun-tahun kemudian, setelah kasus pencurian yang sukses itu, aku kembali membaca bukunya dari versi terjemahan Gregory Rabassa. Jelas buku itu bukan yang paling aku suka dari Gabo, karena entah bagaimana bagiku kisah cinta yang dungu dalam Love in the Time of Cholera terasa lebih asyik. Seharusnya film puitis yang dibintangi oleh Javier Bardem itulah yang aku bahas di sini, tapi karena film One Hundred Years of Solitude jauh lebih bagus dibanding semua film yang diadaptasi dari karya Gabo―terlebih lagi berkat adaptasi gagal dari buku yang aku suka itulah dia mengharamkan semua bukunya untuk diadaptasi oleh Hollywood dalam bentuk visual apa pun―maka pembahasan tentang kisah cinta antara Florentino Ariza dan Fermina Daza itu, untuk sementara aku cukupkan sampai di sini.
Memang tidak sia-sia anak-anak Gabo menjual hak adaptasi buku ini ke Netflix; sebab mereka mampu menerjemahkan kegariban realisme magis ke dalam media film tanpa terkesan konyol dan dibuat-buat. Bagiku realisme magis itu sederhana: hal-hal lazim menjadi aneh (seperti penjelasan fungsi magnet, es, astrolabe atau teleskop) dan hal-hal aneh menjadi lazim (arwah gentayangan, keranjang bayi yang melayang, botol kaca yang membesar, tetesan darah yang menuju ke suatu rumah). Definisi itu pula yang dipakai Eka Kurniawan ketika menolak Cantik Itu Luka disebut sebagai realisme magis; karena secara sederhana ya memang begitu. Nah, mengikuti kisah keluarga Buendia yang terkutuk tentu bukan tugas gampang, mengingat betapa kaya alur yang ditulis oleh Gabo dalam 22 bab bukunya; dengan mengikat kisah tujuh keturunan keluarga Buendia di Macondo yang terisolasi dalam jangka waktu 100 tahun.
Atas dasar kompleksitas tersebut, tidak ada satu karakter pun yang bisa disebut sebagai tokoh utama karena hanya Ursula Iguaran yang medekati itu dan sulit juga untuk menentukan mana kisah yang layak disebut sebagai cerita paling utama. Meskipun demikian, menurutku bagian perang saudara antara pendukung Partai Konservatif dan Partai Liberal di Kolombia―atau secara historis lazim disebut sebagai Perang Seribu Hari yang berlangsung antara 1899-1902―yang juga berefek ke Macondo adalah bagian terbaik; yang mana Kolonel Aureliano Buendia adalah pusat dari cerita. Ketertarikanku tidak terlepas dari pelajaran singkat yang didengar Aureliano Buendia, yang belum jadi kolonel, dari mertuanya Don Apolinar Moscote selaku dedengkot pihak konservatif di Macondo:
“Golongan Liberal, katanya, adalah orang-orang Freemason. Mereka ingin menggantung pastor, untuk melembagakan perkawinan sipil dan perceraian, mengakui hak anak-anak haram sama dengan anak-anak sah, dan membagi-bagi negara jadi sistem federal yang akan mengambil kekuasaan dari pemerintah pusat. Sebaliknya, Golongan Konservatif menerima kekuasaan langsung dari Tuhan, mendorong adanya pemerintahan dari rakyat dan mendukung peningkatan moralitas keluarga. Mereka adalah pembela iman terhadap Kristus, prinsip otoritas dan tidak akan membiarkan negara terpecah menjadi daerah otonom. Karena perikemanusiaannya, Aureliano cenderung lebih menyukai Golongan Liberal yang menghormati hak anak-anak haram…”
Begitulah ketertarikan Aureliano pada politik terbentuk, mengingat sebelumnya dia hanya seorang penyendiri apolitis yang menghabiskan masa mudanya di laboratorium kimia ayahnya; sehingga ketika dia melihat ayah mertuanya mengganti jumlah surat suara sebelum dikirim ke ibu kota untuk memenangkan pemilu di Macondo, dia mulai bimbang; sehingga dengan ketegasan penuh dia berkata: “Kalau aku harus memilih, maka aku akan menjadi seorang Liberal. Sebab orang Konservatif itu licik!” Kebimbangan itu bertambah ketika dia melihat kelakuan tentara-tentara Konservatif yang menyiksa penduduk Macondo, dan saat itulah dia mulai bersekongkol dengan Gerakan Liberal di Macondo sehingga akhirnya menjadi tokoh gerilyawan paling ditakuti di seantero negeri dengan memimpin 32 pemberontakan yang semuanya gagal. Dan dalam pemberontakan gagalnya yang terakhir, dia ditangkap dan dibawa ke Macondo untuk dieksekusi; dan saat berada di hadapan regu tembak itulah adegan yang diceritakan terkait dengan kalimat pertama yang legendaris dari buku ini, tepat di pertengahan cerita, dimulai:
“Bertahun-tahun kemudian, ketika menghadapi pasukan regu tembak yang akan mengeksekusinya, Kolonel Aureliano Buendia mengenang kembali suatu senja, dulu sekali, ketika diajak ayahnya untuk melihat es.”
Konon, kalimat ini lahir setelah Gabo tergila-gila dengan kalimat pertama buku Metamorphosis karya Franz Kafka; tapi, entah bagaimana, kalimat ini jauh lebih menggetarkan ketimbang kalimat pertama mana pun yang pernah aku baca; terlebih lagi ditambah suara berat dari narator (Jesus Reyes) yang membacakan kalimat itu dengan intonasi yang menyentuh. Adaptasi episode pertama dalam versi Netflix, yang disutradarai oleh Alex Garcia Lopez, memang tidak langsung dimulai dari adegan ini; melainkan adegan kolase di tengah kehancuran Macondo, yang mana Aureliano Babilonia () sedang membaca perkamen yan ditulis oleh Melquiades (Moreno Borja). Namun pada adegan selanjutnya aku sendiri begitu bergetar ketika melihat Kolonel Aureliano Buendia (Claudio Catano) memikirkan masa lalunya di hadapan regu tembak; dan getaran itu semakin terasa ketika adegan itu diulang kembali pada paruh pertama episode delapan. Saat Claudio Catano memejamkan matanya mengingat dia yang masih kecil (diperankan Jeronimo Baron Lyentsova) menyentuh es; sementara ayahnya, Jose Arcadio Buendia muda (Diego Vasquez) menatapnya dengan binar mata penuh kekaguman.
Sudah jelas bukan hanya Claudio Catano yang punya akting luar biasa dalam film ini, tapi yang perlu diperhatikan lebih adalah kedua pemeran Ursula Iguaran (Susana Morales Canas dan Marleyda Soto). Mereka mampu membuat kita percaya bahwa mereka sudah membaca bukunya, setidaknya sekali, demi mendalami peran sebagai sosok seorang ibu yang tabah dan luar biasa yang menyaksikan kutukan dari enam generasi keluarganya itu… ya, hanya kemalangan Aureliano terakhir yang dimakan semut itu saja yang tidak sempat dia lihat. Di sisi lain, penggunaan aktor dan kru asli dari Kolombia juga patut untuk diapresiasi― termasuk versi Macondo dibuat lebih dari satu dan dirancang sedemikian elok dan penggunaan Bahasa Spanyol―mengingat produksi film ini mampu menyumbang perekonomian negara tersebut sekitar lima puluh satu juta dolar.
Pada mulanya memang banyak yang meramal Netflix akan gagal dalam mengadaptasi buku ini, tapi setelah melihat adaptasi One Piece yang menurutku juga sangat memuaskan aku yakin mereka mampu membuat lebih. Setidaknya setelah ini, aku percaya: selama masih punya alur, buku apa pun dapat dibuat film (terlepas dari bagus atau tidak) karena yang mustahil untuk diadaptasi hanya buku sejenis Finnegans Wake karya James Joyce atau Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya. Mengabaikan beberapa detail kecil dalam film One Hundred Years of Solitude, jelas dari segi cerita mereka mampu merangkai alunan alur di buku menjadi visualisasi yang mengagumkan. Beberapa detail yang aku maksud misalnya penggambaran rumah-rumah di Macondo pada masa awal yang sama sekali tidak mirip dengan telur-telur prasejarah atau pemilihan yang terbalik dengan deskripsi buku antara Amaranta dan Rebeca. Untuk yang disebutkan terakhir, barangkali standar mereka adalah eksotisme, dan aku tidak mempermasalahkan itu. Adapun pemilihan beberapa aktor, selain Ursula Iguaran, yang sudah sesuai dengan yang aku bayangkan adalah Melquiades, Pietro Crespi (Ruggero Pasquarelli), dan tentu saja Pilar Ternera (Vina Machado). Selebihnya, para aktor itu bukan tidak layak; hanya saja belum sesuai dengan apa yang aku bayangkan.
Untuk mengakali adegan yang mengadaptasi sudut pandang narator maha tahu, kedua sutradara, Alex Garcia Lopez dan Laura Mora maksudnya, memang punya cara jitu: kamera benar-benar dibuat terbang berkeliling tanpa henti, detik demi detik. Itu adalah keajaiban lain di samping genre realisme magis yang memang sudah ajaib; sehingga bisa dibilang adaptasi ini sudah memenuhi apa yang ingin ditonton oleh orang-orang yang sudah tuntas membaca bukunya. Misalnya adegan Jose Arcadio kecil yang berlari-larian sambil telanjang di Macondo versi awal, itu jelas sudah mewakili deskripsi penggambaran Macondo tanpa harus ada penjelasan dari Jesus Reyes selaku narator. Beberapa adegan menyimpang yang memang ada di buku cukup diperhalus dalam versi film, misalnya inses dan pedofilia. Sebagian besar narasi dalam buku memang minim dialog, tapi dengan tekad yang begitu kuat; para penulis naskah mencoba menyampaikan narasi tersebut dengan mengambil langsung potongan dari teks buku.
Ya, kita tahu Macondo adalah tempat yang begitu damai dan tentram sebelum dua unsur paling dipuja sekaligus dibenci dalam sejarah manusia ‘merusak’ kedamaian itu layaknya sampar. Unsur yang aku maksud adalah politik dan agama, dan secara keseluruhan film ini juga lebih condong untuk mendukung Golongan Liberal sehingga beberapa penonton yang berkomentar di Reddit mencapnya sebagai bentuk penghinaan terselubung pada Golongan Konservatif. Untungnya, balutan nuansa realisme magis lewat adegan-adegan yang menakjubkan beserta segala keanehannya membuat hal tersebut diabaikan oleh banyak orang. Meskipun demikian, keberpihakan Gabo juga bisa kita lihat juga di buku, saat lonceng gereja dihancurkan oleh meriam tentara konservatif dan dibangun kembali oleh pasukan Kolonel Aureliano Buendia sehingga Pastor Nicanor berkata: “Sungguh tolol; para pembela iman Kristus merusak gereja, dan golongan Mason membangunnya kembali.”
Terlepas dari perdebatan ihwal konteks historis tersebut, One Hundred Years of Solitude memang layak disebut sebagai karya sastra berbahasa Spanyol terbesar setelah Don Quixote karya Cervantes, sebagaimana yang disebut oleh Pablo Neruda. Meski terpaut lebih dari tiga abad, buku yang terbit pada 1967 ini memang telah menjadi karya kanonik dalam dunia kesusastraan berbahasa Spanyol. Memang pada dedade 1960-1970-an, Amerika Latin dikenal karena dua hal, yakni Revolusi Kuba dan El Boom; dan bersama dengan buku-buku Carlos Fuentes, Julio Cortazar, dan Mario Vargas Llosa, buku-buku awal Gabo memang layak disebut sebagai karya puncak dalam fenomena El Boom.
Sebelum tulisan ini dibuat, setidaknya aku sudah menonton empat film dari buku Gabo: Chronicle of a Deatf Foretold (1987), No One Writes to the Colonel (1999), Love in the Time of Cholera (2007), dan Of Love and Other Demons (2009). Kecintaanku pada kisah Florentino Ariza dan Fermina Daza membuatku nyaris membahas film besutan Mike Newell tersebut dalam buku ini; tapi keelokan tak terbendung dari One Hundred Years of Solitude mengurungkan niat suci itu. Maka dari itu, bertahun-tahun kemudian, ketika kau membaca tulisan ini, cobalah untuk membuka mata bahwa hanya One Hundred Years of Solitude satu-satunya adaptasi buku Gabo yang paling bagus!
Jadi sudah benar Rodrigo Garcia, salah seorang anak Gabo yang juga seorang sineas, mengambil jarak atas keterlibatannya dalam produksi, karena dia bilang: “Aku pikir banyak adaptasi yang telah dibuat atas karya ayahku kurang mendapat perhatian karena terlalu banyak rasa hormat atas buku-bukunya dan terlalu kagum kepada penulisnya.”
Penulis, Nanda Winar Sagita adalah penulis dan pengajar sejarah yang berasal dari Aceh Tengah. Karyanya berupa telah dimuat di berbagai media.
- BUKA TAHUN 2026, BAND STEVUNK DARI PADANG RILIS DUA LAGU BERNUANSA PROTES! - 23 Januari 2026
- PELESIRAN – Sebuah Catatan: Setelah UWRF, Apalagi yang Kau Cari? | Hasbunallah Haris - 10 Januari 2026
- Resensi: Antara Kota dan Kampung, Pecundang di Negeri Orang, dan Narator yang Berpetuah | Dandri Hendika - 8 Januari 2026






Discussion about this post