
oleh Fadhillah Hayati
23 Februari 2018, tujuh tahun berlalu semenjak kepergian Zulkarnain. Seorang maestro musik yang berkiprah di Kota Bukittinggi, juga terkenal hingga Singapura dan Malaysia. Dendang den buai, dendang den buai, dendang babuai! Ada yang masih ingat dengan lagu-lagu beliau?
Ingatan sang kekasih, Yusrida Yusuf, mengisahkan perjalanan sang maestro dengan apik. Tidak hanya cerita, tetapi juga benda-benda yang memiliki rekaman ingatan akan perjalanan kesenian Zulkarnain. Perjalanan sufistik kehidupan seorang musikus multitalenta, yang telah berjuang bersama karya musiknya. Mari kita dengar nyanyian yang takkan sirna ini!

PERJALANAN PROSES KREATIF
Zulkarnain lahir pada 16 Juli 1938. Kesenangan dengan musik tampak dari keaktifan beliau merespon bunyi sejak umur setahun. Juga di masa kecil zaman dahulu, ada nyanyian kordofon dan zaman-zamannya mendengar Saluang. Anak-anak kecil sering dikasih mainan kunci, beliau suka memainkan itu dan menghasilkan bunyi tertentu. Namun ketika beliau berusia 4 tahun, baru diketahui oleh orang tuanya bahwa mata anak mereka tidak bisa melihat. Keadaan ini disadari saat Zulkarnain diberi sebuah benda oleh orang tuanya, ia malah bergerak mundur dan tidak mendekati benda tersebut. Meski demikian, keadaan ini tidak membuat orang tuanya menyerah, justru tetap berusaha hingga anak mereka tumbuh dewasa.
Proses berkarya di dunia musik, kalau menurut Zulkarnain, bermula pada tahun 1950-an. Beliau belajar main gitar dan musik dengan Pak Adnil Muis. Setelah cukup pandai bermain gitar, Zulkarnain ingin mengisi acara di RRI Bukittinggi. Beliau bergabung dengan grup orkes SETANGKAI. Sesudah beberapa waktu, beliau mengikuti pemilihan Duta Radio RRI Bukittinggi dan mendapat juara satu hingga sebelas kali.

Tahun 1959, Zulkarnain menjadi utusan dari RRI Bukittinggi untuk mengikuti audisi Bintang Radio di Jakarta. Salah seorang pesaingnya adalah Titiek Puspa, utusan dari RRI Semarang. Akan tetapi Zulkarnain tidak juara pada audisi tersebut, beliau hanya mendapat piala dari perak bakar. Perjalanan ini menjadi proses awal dikenalnya beliau sebagai musikus oleh publik Indonesia.
Kemudian, Zulkarnain memilih untuk sekolah di Bandung. Oleh karena beliau seorang tunanetra, jadi beliau belajar braille. Di Bandung, ada dua kali tingkatan sekolah yang dilaluinya. Kala itu adalah zaman-zaman PKI. Ada suatu kejadian masa akhir sekolah, beliau mendapatkan sebuah mimpi bertemu dengan seorang laki-laki tua:
“Kamu ingin sehat?” Tanya lelaki tersebut.
“Inginlah Nyiak,” jawab beliau. Dikarenakan ia tahu, orang tuanya sangat mengusahakan penyembuhan mata anak mereka satu-satunya. Kalau diibaratkan, mereka bisa membeli emas berkilo-kilo untuk pergi berobat.
“Gampang itu. Mengembaralah dari ujung Sumatra ke ujung Sumatra,” pesan lelaki tua itu di mimpinya.
Oleh karena itu, berangkatlah Zulkarnain sendirian dari Bandung dengan tujuan ke Aceh. Beliau adalah orang yang cerdik. Dengan alasan melakukan penelitian, beliau memulai pengembaraan. Di sisi lain, orang tuanya yang berada di Bukittinggi sangat cemas mendengar kabar tersebut dari pihak kampus. Orang tuanya melakukan berbagai cara untuk melacak keberadaan anak mereka. Ternyata Zulkarnain singgah ke DepSos Padang untuk mencari dan menemui tempat tinggal eteknya, karena perjalanan baru akan dilanjutkan pada hari esok. Keluarganya di Padang bersiasat untuk membawa beliau pulang ke Bukittinggi. Dengan diajak berjalan-jalan hingga sampai di Bukittinggi, sebelum beliau jadi melanjutkan perjalanan ke ujung Sumatra. (Di kemudian hari, mimpi ini ditafsirkan dengan arti yang berbeda dan makna yang tersirat oleh keluarganya. Pengembaraan ke ujung Sumatra dimaknai bahwa Zulkarnain akan mendapat istri di ujung Sumatra, yakni orang Sumatra Utara.)

Sekembalinya ke Bukittinggi, maka dimulailah karir musik Zulkarnain. Disampaikan oleh orang tuanya: daripada anak ini melarikan diri dan kabur, lebih baik fokus mambangun bakatnya pada musik. Alhasil, mereka mengirimkan contoh suara Zulkarnain ke Perusahaan Philip di Singapura. Sebab waktu itu telah berhasil Adjis Sutan Sati sebagai tukang Saluang di sana, yang membawakan lagu Randang Kopi. Hal ini diistilahkan: tanah pambungkam balam. Yang artinya, jikalau dapat Alhamdulillah, kalau tidak dapat ya bagaimana lagi kan. Rupanya beliau diterima rekaman dengan orang Singapura tersebut.
Lagu pertama Zulkarnain yang direkam berjudul Ayam Kuriak ciptaannya sendiri. Tercipta lagu Ayam Kuriak ini, dikarenakan dahulu beliau suka menyanyikan lagu Ayam den Lapeh. Pencipta lagu Ayam den Lapeh merupakan pimpinan Orkes SETANGKAI, Abdul Hamid atau dikenal dengan panggilan Pak Amik. Setelah rekaman itu, ternyata meledaklah lagu Ayam Kuriak. Bila diibaratkan dengan kacang goreng, telah laris dan dikenal orang banyak. Beliau telah membuat beberapa album di sana. Selama tujuh bulan, beliau rekaman sekaligus pertunjukan musik di Singapura dan Malaysia.
Balik lagi ke Bukittinggi, Zulkarnain diajak belajar braille membaca Al-Qur’an ke Yogyakarta. Sebelum sampai di Jogja, beliau singgah ke Jakarta di tempat Elly Kasim. Dibujuk oleh Elly Kasim: “Tidak usahlah Uda berangkat dulu ke Jogja, ngisi acara dulu sama Elly di TVRI”. Dahulu, siaran TV yang ada hanya TVRI. Sesudah acara di TVRI, beliau dikenalkan dengan pimpinan Night Club Latin Quarter yakni Pak Abul Hayat orang Madura. Setelah itu, beliau dianggap sebagai anak angkat. Jadi Pak Abdul Hayat yang mengatur segalanya, seperti manajer di zaman sekarang. Setelah beberapa kali tampil Zulkarnain melanjutkan belajar braille tiga bulan di Jogja. Beliau tinggal di Asrama Banuhampu bersama orang-orang asal Banuhampu yang juga merantau ke Jogja.

Selesai belajar di Jogja, kembali disampaikan Elly Kasim kepada beliau, “Tidak usahlah balik pulang ke Bukittinggi lagi”. Sebab banyak rekaman beliau di Jakarta, dan mereka pun baru melakukan konser yang bisa ke mana-mana, istilahnya untuk keliling Indonesia. Akhirnya, Zulkarnain memilih untuk tinggal sementara di Jakarta.
Suatu malam, diadakan donasi di Night Club Latin Quarter untuk Zulkarnain berobat ke Jepang. Sebab kasus Nagasaki Hirosima di Jepang, ada sekitar 2000 orang yang mengalami hal seperti Zulkarnain, retina yang kotor. Dari donasi yang dikumpulkan, maka beliau berangkat bersama kedua orang tuanya. Pada pengobatan tersebut, Zulkarnain diberikan vitamin-vitamin. Dengan kemajuan yang dihasilkan, beliau dapat melihat bola lampu 5 watt.
Namun ketika perjalanan pulang saat singgah di Hongkong, Zulkarnain kehilangan resep obat dan vitamin-vitamin dari Jepang. Memang tidak seperti zaman sekarang, yang mungkin bisa untuk dilakukan pencarian melalui internet. Zulkarnain berpikir, bahwa barangkali Allah belum memberinya izin untuk melihat. Akhirnya, beliau sampai di Indonesia tahun 1973.

Tahun 1976, Zulkarnain dan kedua orang tuanya mendapat undangan untuk umrah ke tanah suci Islam. Kebetulan saat itu, duta besar Arab Saudi merupakan orang Birugo Bukittinggi yang sesuku dengan beliau. Yakni Djanamar Adjam, suku Simabua.
Lalu tahun 1981, Pak Etek Zulkarnain menyuruh beliau ke Medan. Tujuannya untuk pengobatan mata di daerah Tandam Sumatra Utara. Metode pengobatannya secara gaib: biji mata dikeluarkan, dicuci, lalu dipasang lagi. Selama 41 kali, ternyata memang tidak ada perubahan. Tidak lama setelah itu, ibunya meninggal di Medan dan diboyong ke Bukittinggi.
Selanjutnya, Zulkarnain kembali rekaman langganan dengan Pemda. Terakhir kali beliau rekaman ketika anak-anaknya masih SMA, sekitar tahun 2005/2006-an. Lagu terakhirnya yaitu “Sayangilah Langit Bumi” duet bersama Adila. Lagu ciptaan Ridwan Irma yang dikenal dengan panggilan Si Dadang, seorang mantan kepala SMA 1 Padang Panjang.
Zulkarnain meninggal tanggal 23 Februari 2018 saat usianya menjelang ke-80 tahun. Ketika itu tepat pukul enam pagi di Hari Jumat. Selesai berdoa pagi, saat beliau mendengar radio. Dengan radio sebenarnya beliau ingin tahu waktu, karena jam tangan braillenya telah rusak dan belum ada orang yang menjual lagi.

KEBIASAAN YANG TAK TERPISAHKAN
Zulkarnain adalah orang yang disiplin. Mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, sudah ada jadwalnya. Beliau bangun pagi pukul tiga Subuh untuk tahajud dan membaca Al-Qur’an. Beliau membaca Al-Qur’an sebanyak tiga kali sehari: pagi Subuh, siang sesudah Dzuhur, dan nanti sudah Maghrib. Yang rutin dibacanya ialah surat Yasin, surat Ar-Rahman, dan surat Yusuf. Beliau mempunyai Al-Qur’an braille, dan kini masih tersimpan walaupun sudah agak hancur bentuk fisiknya. Untuk lomba mengaji dahulu, beliau pernah dapat juara 1 di Jakarta Timur.

Setelah Subuh, Zulkarnain berdoa sampai pukul enam. Selesai pukul enam, beliau mandi. Lalu, mendengarkan berita. Pukul setengah tujuh, beliau kembali tidur. Bangun pukul delapan, selesai shalat Dhuha dilanjutkan sarapan. Sehabis sarapan, mulailah beliau berjemur. Sesudah cukup hangat badannya, beliau kembali masuk ke rumah. Diambilnya gitar, mulailah beliau nyanyi dengan gitarnya. Beliau mengulang-ulang lagu untuk siaran di RRI. Selanjutnya pukul sebelas, beliau makan camilan. Sebelum Dzuhur pukul setengah dua belas, beliau mulai mengaji Al-Quran, bukan hafalan. Yang hafalan tu: surat Yasin, Ar-Rahman, dan Yusuf. Pukul dua belas lewat, beliau berwudhu. Setelah Dzuhur, beliau makan dan istirahat sebentar. Lalu, tidur hingga Ashar. Setelah Ashar, camilan lagi. Malam, beliau tidur pukul sepuluh. Sebelumnya, beliau golek-golek sambil mendengar radio hingga tertidur.

Di RRI Bukittinggi, Zulkarnain tampil live pada hari Rabu pukul sepuluh pagi sampai setengah sebelas. Selama setengah jam siaran, ada delapan lagu. Jadi, sudah diurutkan beliau lagu-lagu yang akan dinyanyikannya. Pertama, lagu pembukaan. Kedua, beberapa lagu tunggal. Kemudian, lagu duet. Kemudian, tunggal lagi. Sampailah terakhir, ditutup dengan saluang.
Zulkarnain rutin latihan benyanyi untuk tampil pada hari Rabu. Hari Kamis, kembali beliau persiapkan lagu untuk Rabu berikutnya. Siaran rutin selama 35 tahun sampai tahun 2015. Dari tahun 1982 sampai 1985, masih belum tetap, masih menunggu undangan. Akan tetapi sejak 04 September 1985 sampai 2015, berarti 30 tahun yang rutin setiap hari Rabu di RRI Bukittinggi. Di samping itu, beliau juga masih ada bernyanyi di acara-acara undangan. Zulkarnain sering diundang bernyanyi, jikalau ada tamu-tamu negara tiba di Bukittinggi.
CATATAN YANG TAK KALAH MENGAGUMKAN
Selain bernyani, Zulkarnain juga menciptakan banyak lagu. di antaranya Ayam Kuriak, Ganto Padati, Kesan Nan Indah, Kansirna, dan Samba Kapau. Lirik lagu-lagu ciptaannya dekat dengan kehidupan sehari-hari, juga tentang keindahan alam yang menghadirkan kedamaian. “Memang beliau disampaikan oleh orang tuanya, ‘Jangan menciptakan lagu-lagu yang melankolis, harus lagu yang gembira’. Supaya jangan sampai dia dikasihani orang. Maka dari itu, lagunya banyak yang lucu-lucu. Cuman lagu Baalah Kasudahannyo, memang agak sedih. ‘Ondeh kayu kalek, Kayu kalek madang di lurah, Iyo ka diambiak ka tunggak langkan’. Jiwanya sangat dekat dengan seni, terutama seni musik. Hari-harinya tidak bisa lepas dari musik. Bahkan artinya paling tidak mendengar radio,” nukilan saat bercengkrama dengan Ibu Yusrida.

Zulkarnain ada menulis lagu-lagu dengan tulisan braille di kertas, tetapi sudah tidak tahu letaknya sekarang. Kalau arsip rekaman lagu-lagunya, terkadang ada yang memimjam, tetapi tidak dikembalikan. Yang di piringan hitam ada, yang kaset audio ada. Bagi keluarga, tentu merasa kehilangan kenangan dan kekecewaan, karena karya-karya yang pernah dipinjam tidak dibalikkan oleh para peminjam. Semoga digerakkan hati mereka untuk mengembalikan karya-karya musik Zulkarnain kepada keluarga.
Salah satu dari para pendengar nyanyian dan penggemar Zulkarnain turut mengutarakan, “Menulislah tentang orang-orang yang suatu masa dikenal. Kita menyebut dan mengenang kembali, orang-orang yang penting pada suatu masa. Saat mendengarkan beliau bernyanyi, kita terhibur dan membangun rasa semangat. Jadi tokoh-tokoh seperti itu, jangan hilang, tetapi patut dikenang. Suatu daerah, arti sejarah dapat dimaknai dengan kehadiran tokoh-tokoh, bangunan, dengan peristiwa-peristiwa. Mengenal sejarah tentunya tidak hanya peristiwa politik saja. Pak Zulkarnain ini sangat menarik. Beliau punya bakat dan didukung penuh oleh keluarga, bahkan bisa menjadi satu kompetensi. Jikalau orang tua tidak terpelajar, barangkali akan berkata: ‘Apa guna bernyanyi, jangan bernyanyi-nyanyi juga lagi’. Sebenarnya tentang guna itu dapat dipikirkan kemudian, karena memiliki hobi tentu baik untuk kemanusiaan. Jikalau hobi dapat menjadi sumber nafkahnya, tentu ia adalah orang paling beruntung sedunia. Hanya dengan hobi, ia dapat hidup. Orang-orang yang hidup dari profesi, tentunya akan bahagia,” Ibu Rezki Khainidar.
Setelah mendengarkan kembali lagu-lagu yang dinyanyikan Zulkarnain, kita akan menemukan suatu musik yang unik. Keunikan musik dari lagu-lagu yang beliau nyanyikan menciptakan keharmonian di dalam pikiran dan perasaan. Musik beraneka ragam suara yang dibuat hanya dengan bunyi dari mulutnya. Kemampuan meniru suara drum, sexaphone, kucing, burung, ayam, dan lainnya. Disampaikan oleh Ibu Yusrida, bahwa Zulkarnain menciptakan kepiawaian tersebut secara autodidak. Di samping itu, beliau juga bisa memainkan alat musik Gitar dan Harmonika.

Keindahan lagu yang dinyanyikan Zulkarnain menyadarkan perihal kepekaan manusia dan keselarasan semesta. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan menyukai keindahan” (HR. Muslim). Sebagaimana juga dinyatakan oleh Hazrat Inayat Khan (2002: 5), bahwa musik memiliki suara lahiriah dan batiniah, bahwa musik ada di luar dan di dalam diri kita. Dengan demikian, tentu perlu pengumpulan dan pemaknaan arsip-arsip kesenian yang menggambarkan peristiwa-peristiwa budaya pada suatu masa. Hal ini dapat menjadi kekayaan seni budaya, agar menumbuhkan kearifan dalam menjalani kehidupan di masa sekarang dan yang akan datang.
MENDENGAR KEMBALI LAGU ZULKARNAIN
Ondeh… Baalah Kasudahannyo
Pencipta dan Penyanyi: Zulkarnain
Ondeh kayu kalek, kayu kalek madang di lurah
Iyo diambiak ka tunggak langkan, Iyo diambiak ka tunggak langkan
Ondeh hati lakek, hati lakek pandang lah sudah
Tagah dek pandai mahilangkan, Tagah dek pandai mahilangkan
(Tagah= karena)
Ondeh batang salak, batang salak di Pakan Satu
Ambiak sarantiang baok pulang, Ambiak sarantiang baok pulang
Ondeh haram talak, haram talak Ambo ko tahu
Baraso adiak di tangan urang, Baraso adiak di tangan urang
(Haram talak= bersumpah/sungguh-sungguh)
Ondeh sarikayo, sarikayo makan jo tapai
Taratai tumbuah di tapian, Taratai tumbuah di tapian
Ondeh bialah di dunia kasiah ndak sampai
Di akhiraik Adiak Ambo nantikan, Di akhiraik Adiak Ambo nantikan
(Tapian= tempat)
Ondeh… Baalah kasudahannyo. Ondeh… Baalah kasudahannyo.
(Sumber lagu: Youtube Esha Tegar Putra)
Versi Indonesia
Duhai… Bagaimanakah Akhirnya
Pencipta dan Penyanyi: Zulkarnain
Duhai kayu kelat, kayu kelat madang di lurah
Ialah diambil untuk tiang teras, Ialah diambil untuk tiang teras
Duhai hati lekat, hati lekat pandang pun telah selesai
Oleh karena pandai menghilangkan, Oleh karena pandai menghilangkan
Duhai batang salak, batang salak di Pasar Sabtu
Ambil seranting bawa pulang, Ambil seranting bawa pulang
Duhai sungguh, bersumpah jika Aku tahu
Bahwasanya Adik di tangan orang, Bahwasanya Adik di tangan orang
Duhai serikaya, serikaya dimakan dengan tapai
Teratai tumbuh di tepian, Teratai tumbuh di tepian
Duhai biarlah di dunia kasih tak sampai
Di akhirat Adik Ku nantikan, Di akhirat Adik Ku nantikan
Duhai… Bagaimanakah Akhirnya. Duhai… Bagaimanakah Akhirnya
(Sumber lagu: Youtube Esha Tegar Putra)
Pembacaan Ringkas
Pantun Minangkabau adalah struktur yang membangun lirik dalam lagu ini. Seperti pantun pada umumnya, terdapat isi dan sampiran. Lirik lagu ini berhipogram pada Kaba. Kaba merupakan salah satu jenis prosa dalam sastra Minangkabau, yang diartikan sebagai suatu cerita yang ditulis dalam bahasa berima. Maka dari itu, lirik lagu juga melalui tahapan pertarungan kata-kata.
Secara ringkas, lagu ini menceritakan tentang kesedihan seseorang karena kasihnya tak sampai. Ia dibuat kecewa sebab tidak tahu bahwa kekasihnya sudah menjadi kekasih orang lain. Namun karena hati yang sudah jatuh cinta, ia berharap akan pertemuan di akhirat kelak.
Meski demikian, bait ketiga tidak menghadirkan peristiwa yang setali pada bagian sampiran. Duhai serikaya, serikaya dimakan dengan tapai/ Teratai tumbuh di tepian, Teratai tumbuh di tepian. Barangkali ini adalah kesengajaan untuk melahirkan makna yang membedakan antara dua dunia yang terpisah. Di samping, juga karena keinganan penulis untuk persamaan bunyi. Duhai biarlah di dunia kasih tak sampai/ Di akhirat Adik Ku nantikan, Di akhirat Adik Ku nantikan.
Penghayatan Zulkarnain dalam lagu ini telah menyatukan musik dan kata-kata. Hazrat Inayat Khan (2002: 6) mengungkapkan bahwa sesuatu yang tidak bisa dinyatakan oleh seni lukis, akan dijelaskan oleh penyair melalui kata-kata. Namun, bila seorang penyair mengalami kesulitan menyatakannya dalam bentuk puisi, maka akan dieskpresikan lewat musik. Maka dari itu, musik melahirkan sebuah kesatuan dalam menyentuh perasaan dan pikiran. Bagaimana arti musik dalam kehidupanmu?
Penulis, Fadhillah Hayati, Alumni Sastra Indonesia, FIB, Unand. Aktif berkegiatan di Teater Langkah, Labor Penulisan Kreatif, dan Komunitas Tanah Ombak, Kota Padang. Instagram: @fdlhyti
Discussion about this post